
"Sabar ya, Bro," Revan berusaha menenangkan Adrian.
"Gue udah nawarin bantuan ke elu. Kalo lu mau, gue jalankan ide gue," celetuk Dedi.
"Emang ide elu bisa menjamin nyokap bokap gue balikan lagi?" tanya Adrian ragu.
"Iya... setidaknya kita berusaha. Biar bokap nyokap elu matanya melek, kebuka pikirannya," jawab Adrian.
Adrian tampak diam. Apa harus dia menjalankan ide Dedi
"Bro... orang tua tuh terkadang seperti anak kecil yang terperangkap dalam tubuh tua. Mereka egois tanpa sadar. Tapi mereka selalu merasa benar," papar Dedi yang mendesah lalu bersandar pada sandaran kursi sofa.
"Mereka tahunya apa yang mereka putuskan itu terbaik buat kita. Tanpa bertanya dengan kita, apa kita terima keputusan mereka," Revan menimpali.
"Iya lu berdua bener. Gue merasa bokap gue sama sekali tak merasa bersalah. Mereka sibuk cari kebahagiaan diri mereka sendiri. Terus kita anak dipaksa harus terima dan bahagia," cetus Adrian yang matanya menerawang ke langit-langit kamar.
"Makanya gue lebih suka main kekerasan dan duit. Percuma nasihat, Bro! Nggak guna. Mending jotos sekalian, biasanya kalo udah jotos otaknya bisa jadi mikir yang benar," jelas Dedi.
"Lu berdua tahu nggak? Gue kadang iri sama kaum bawah. Mereka tuh nggak punya apa-apa tapi kok bisa tertawa?" Adrian tersenyum getir mengingat seorang bapak yang membawa bakul yang ditemuinya di angkot.
"Kebahagiaan mereka tuh receh, Bro! Cuma mandi di kali doang bisa ketawa bebas tanpa beban," tambah Revan yang mengambil sebuah kacang dan memakannya.
"Iya, benar. Kita berenang mah buat gaya'an doang! Terus upload di sosmed biar orang lain iri. Naik pesawat lalu upload di sosmed biar orang berdecak kagum. Mereka nggak tahu dibalik kekayaan, ada waktu keluarga yang hilang," Dedi berkata lirih.
Mereka bertiga adalah anak orang kaya tapi kesepian. Dibesarkan oleh asisten rumah tangga. Mereka bahkan lebih dekat dengan pengasuhnya.
"Iya, gue mah menganggap mbok Nah nyokap gue. Mbok Nah malah lebih sayang gue. Nggak pernah membentak gue, nggak pernah maksa gue ini itu," papar Revan.
Mereka bertiga kemudian terdiam. Merenung masing-masing tentang arti keluarga mereka.
Sejatinya tempat berpulang paling nyaman dari penatnya dunia adalah kehangatan keluarga. Rumah yang berisi orang-orang bernama keluarga yang tersenyum senang saat kita pulang.
Tertawa dan berkumpul bersama setelah bekerja. Saling mengingatkan di kala salah dan tak lupa beribadah kepada sang pemberi kehidupan.
"Bro, gue pernah dengar ceramah di masjid sekolah kita. Kata pak ustad kalo mau memperbaiki hidup, harus dimulai dari memperbaiki sholat. Nah, entar Allah yang bantu memperbaiki hidup kita," papar Revan.
__ADS_1
"Maksudnya gimana, Bro? Apa hubungannya sholat dengan memperbaiki hidup? Nggak nyambung gue. Nggak nalar sama sekali dengan maksud lu, Bro!" Dedi mengernyitkan kening.
"Gue juga nggak tahu! Apa kita tanya ustad aja?" usul Revan.
"Lagak lu mau tanya sama ustad. Tuh orang nggak mampu alias KISMIN banyak yang sholat tapi nggak kaya!" Dedi kembali menimpali.
"Nah, kalo itu pernah juga gue dengar dari ustad. Nggak ada orang miskin. Dalam Al-Qur'an surat An-najm ayat 48 kata ustad, intinya Allah memberi kita tuh kekayaan dan kecukupan gitu!" jelas Revan.
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ
Arab-Latin: Wa annahụ huwa agnā wa aqnā
Artinya: Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,
"Wah, bakal jadi anak rohis nih temen kita!" celetuk Dedi.
"Tapi, Di. Mungkin itu jawaban kenapa orang nggak mampu masih bisa tersenyum. Allah kasih kecukupan ke mereka dalam bentuk kebahagiaan kali terus tetap bisa makan meski nggak ada kelebihan harta. Jadi hidup ini sawang sinawang, dong! Nggak ada yang sempurna, semua diuji," analisa Adrian.
Mereka bertiga kembali diam. Kembali merenungi arti kehidupan.
"Kita punya segalanya, tapi nggak bahagia ya?" Dedi tersenyum getir.
"Gue jadi ingat, pernah ikut ke masjid gara-gara pak Tio guru agama menghukum gue. Katanya orang kaya itu lebih lama hinsabnya. Karena pertanyaan di akhirat bertambah kemana hartamu kau gunakan? Dari mana sumbernya. Sedang orang nggak mampu, mereka lebih cepat hisabnya karena pertanyaan dan jawaban nggak seribet orang berduit," ucap Adrian.
"Bro, yang jelas Allah itu nggak lihat kita dari harta, cuma lihat kita dari takwa. Cuma kadang manusia sendiri yang memberi label perbedaan berdasarkan harta," timpal Revan.
"Eh, bentar! Kok jadi kajian gini sih! Ribet lu berdua. Ayolah kita jalan," potong Dedi.
"Ya, udah. Ayo," sahut Revan.
"Tunggu, gue ganti baju dulu," ucap Adrian. Dia berdiri dan berjalan ke lemari. Mengambil pakaian dan melangkah ke kamar mandi berganti pakaian.
Setelah itu, mereka bertiga keluar dari kamar Adrian. Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan pemandangan yang ada di depan mata Adrian sungguh membuatnya tercengang.
"Mama..." lirih Adrian yang hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Sang Mama menggandeng mesra laki-laki lain yang usianya bahkan tak jauh beda dari Adrian. Dedi dan Revan juga terlihat terkejut. Melihat kelakuan Mama Adrian.
"Sayang, dia siapa? Berondong kamu yang lain?" tanya sang laki-laki sambil memeluk pinggang mama Adrian.
Mama Adrian segera menyingkirkan tangan sang laki-laki karena tak enak dilihat anaknya.
Mata Adrian sudah berkaca. Hatinya remuk redam melihat kelakuan orang tuanya. Kemarin dia menangkap basah Papanya di telepon wanita yang menjadi kekasih gelap Papanya.
Hari ini, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Mamanya bersama laki-laki lain bahkan tak jauh beda dengan usia Adrian.
"Adrian... Mama bisa jelaskan ini ," ucap Mamanya. Mereka berdiri di koridor hotel. Untung tak ada orang yang lewat. Hanya ada mereka "Mau jelasin apalagi, Ma? Semua sudah jelas!" lirih Adrian lemah. Dia bahkan tak mampu lagi untuk marah.
Adrian lelah dengan tingkah orang tuanya. Seharusnya dia tak usah dilahirkan di dunia. Untuk apa, kalau hanya untuk menyaksikan perpisahan orang tuanya.
"Sayang, dengarkan Mama. Papa kamu duluan yang mengkhianati Mama. Sekarang Mama hanya membalas," sang Mama membela diri. Mama Adrian berusaha mengambil tangan Adrian.
Adrian yang sudah marah, menyingkirkan tangan Mamanya.
"Terus menurut Mama, cara Mama ini betul, iya Ma?" raung Adrian. Matanya sudah kabur oleh air mata.
Mamanya terdiam beberapa saat.
"Kalian egois. Kalian hanya mencari kebahagiaan kalian tanpa memikirkan perasaan Adrian! Papa egois, Mama egois!" raung Adrian.
"Sayang, Mama minta maaf ya. Mama tetaplah Mama Adrian apa pun yang terjadi," Mama Adrian berusaha menenangkan Adrian.
"Jangan cari Adrian lagi setelah ini! Anggap Mama tidak pernah melahirkan Adrian!" erang Adrian yang langsung berlari kencang.
"Adrian..." Jerit Mamanya berusaha mengejar Adrian. Mamanya takut terjadi sesuatu pada Adrian.
Takut jika anaknya mengambil jalan pintas.
Sayang, pintu lift sudah tertutup. Sang Mama sempat melihat Adrian yang matanya sudah sembab oleh air mata. Dia sudah melukai perasaan buah hatinya.
Luka yang tak bisa disembuhkan. Luka yang menyakiti sang pemilik hati di setiap kenangan.
__ADS_1
"Adrian, Maafkan Mama..." lirih sang Mama meski lift sudah tertutup rapat. Setetes air mata jatuh ke pipinya.
bersambung.....