
Untungnya tubuh Laura kurus, tubuhnya pas dengan ukuran ventilasi. Laura menahan teriakan saat tubuhnya melompat ke rerumputan di luar. Wajahnya meringis menahan sakitnya kaki. Laura mengambil sandal rumah yang dia lempar, lalu segera memakainya.
Laura berlari secepat dia bisa. Walau kakinya terasa begitu nyeri. Handuk tetap dia bawa. Mungkin saja dia butuh untuk membalut luka kakinya.
Malam semakin pekat, hanya ada deru nafas laura yang terdengar. Lolong suara anjing terdengar saling bersahutan. Laura tetap berlari menuju kota.
Laura mengingat semua jalan yang dilaluinya bersama Adrian tadi. Tujuannya adalah pos polisi terdekat.
Di lain tempat, Adrian yang lelah mencari Laura, memutuskan kembali ke kota. Dia berharap Laura tersesat dan tidak akan kembali ke kota.
Adrian berkali-kali berteriak sendiri sambil menyetir mobil. Merutuki kebodohannya. Dia masih mengingat suara Laura yang memohon, bahkan wajah Laura yang penuh genangan air mata. Satu hal yang disadari Adrian, Laura terlihat cantik tanpa kaca mata tebalnya.
"Bego, bego banget, Aaarkhhh!!!" rutuk Adrian sambil memukul-mukul setir mobilnya.
"Gue kenapa sih, kayak orang nggak sadar diri tadi! Tunggu dulu, gue mulai merasa tubuh gue beda setelah minum kopi susu dari Dedi. Mereka ngasih gue minum apaan?" Adrian masih berbicara sendiri. Dia masih menyetir menuju kota.
Adrian berniat malam ini langsung ke rumah Dedi. Dia akan bertanya langsung. Adrian benar-benar marah.
Sementara Laura memilih jalan setapak, tidak melewati jalan raya. Dia takut ada mobil tante Laila yang mencarinya.
Laura menunduk dan bersembunyi di balik pepohonan setiap melihat silau mobil melewati jalanan. Laura berdoa sepanjang perjalanan. Hingga dua jam perjalanan, Laura akhirnya melihat ada pos polisi dari kejauhan.
"Alhamdulillah, ada pos polisi," ucap Shabila lega. Laura segera berjalan tertatih ke arah pos polisi.
Tiba-tiba tangan Laura di tarik paksa. "Ayo ikut tante," seru tante Laila menarik Laura menuju mobil. Wajah tante Laila tak lagi ramah tapi sangar. Melotot marah pada Laura.
"Tolong... tolong..." teriak Laura sekencang mungkin. Laura berusaha melawan, mendorong tante Laila hingga terjatuh. Laura mempercepat larinya sambil berteriak lagi.
"Laura!" seru om Sutris yang marah. Tenaga om Sutris lebih kuat, dia berusaha menarik Laura ke mobil.
Kaki Laura kembali berdarah. Tapi, Laura tak peduli. Laura berusaha menerjang om Sutris dengan kakinya, meski tangannya di pegang kuat om Sutris.
"Heh, gadis tak tahu diri. Kamu sudah kami tolong tadi! Saatnya kamu balas budi!" hardik om Sutris.
"Saya nggak mau ikut, Om. Lepasin saya Om, jangan jual saya," mohon Laura yang mulai terisak.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu sudah tahu kalo kamu mau di jual! Bagus, ayo ikut Om. Tenang saja, kamu bakal punya banyak uang setelah ini," Om Sutris menyunggingkan senyum seram.
"Tolong... tolong..." Laura terus berteriak dan melawan. Tante Laila sudah kembali berdiri dan berusaha mendekati Laura. Dia hendak membantu suaminya.
"Heh Laura, kamu tuh bakal dikasih kerjaan yang enak, kamu bakal punya banyak duit. Dasar gadis bodoh!" sembur tante Laila.
"Ayo sayang, kita bawa dia," ajak om Sutris.
"Ayo," sahut tante Laila yang ikut menarik tangan Shabila ke mobil.
"Tolong... tolong... tolong saya!" teriak Laura lagi. Dia masih tetap berusaha melawan.
Prittttt!
Suara peluit terdengar nyaring. Sebuah motor berhenti di depan mereka. Mereka bertiga langsung menoleh.
"Sayang lari, ada Polisi," teriak Om Sutris pada sang istri
"Iya, ayo!" sahut Tante Laila. Mereka berdua kompak melepaskan tangan Laura dan lari ke mobil.
Satu orang polisi menghampiri Laura. Polisi satunya lagi mengejar mobil Om Sutris yang melaju kencang.
"Tolong saya, Pak. Mereka tadi mau menjual saya atau perdagangan wanita," ucap Laura yang menangis tergugu. Setidaknya Laura sudah lega.
Laki-laki yang ada di hadapannya ini menggunakan seragam polisi.
Polisi tadi segera menelepon seseorang, mungkin meminta bantuan.
"Ini minum dulu," ucap polisi menyodorkan minuman dan berjongkok dihadapan Laura yang terduduk di aspal. Tubuhnya hilang keseimbangan saat Om Sutris dan Tante Laila melepas tangannya tadi.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Laura masih menangis. laura segera meminum air mineral tersebut hingga tandas satu botol.
Tak lama, sebuah mobil polisi datang. laura dibantu polisi tadi masuk ke dalam mobil.
"Bawa ke bidan terdekat dulu," ucap polisi yang tadi menolong Laura.
__ADS_1
"Siap laksanakan, Pak," jawab polisi yang menyetir mobil.
Sesampainya di sebuah klinik bidan,
laura di bantu polisi tadi untuk berjalan. Ternyata luka kaki Laura cukup dalam. Ada luka sobek yang harus di jahit.
Setelah di jahit, Laura diminta istirahat di klinik. Laura hanya mengangguk, menghela nafas lega bersyukur karena sudah selamat.
Tapi, Laura tetap merasa sangat sedih. Adrian... laki-laki itu entah di mana dia sekarang. Laki-laki yang dengan kejamnya merenggut hal yang paling berharga bagi Laura.
"Dik, boleh bapak minta keterangan dari kamu?" seorang polisi menghampiri brankar pasien tempat Laura istirahat.
"Iya, pak," sahut Laura dengan suara lemah.
"Kedua tersangka sudah tertangkap. Mereka berdua adalah buronan kami. Sudah lama kami mencari mereka. Karena itu kami butuh tambahan keterangan dari adik untuk melengkapi berkas," papar pak polisi yang mungkin berusia 40 tahun lebih.
"Iya, saya akan memberikan keterangan yang dibutuhkan, Pak," ucap Laura. Setelah itu, Shabila menceritakan kronologis pertemuan dia dan kedua suami istri itu.
Laura tak berani menceritakan tentang Adrian pada polisi. Apa yang sudah dilakukan Adrian padanya. Laura takut dana yang biasa disalurkan untuk panti asuhan tempatnya tinggal terhenti. Kasihan adik-adik pantinya. Hanya karena kebodohannya akan banyak korban.
Laura hanya menceritakan tentang Om Sutris dan Tante Laila. Setelah mendapat keterangan, polisi tadi keluar lagi dari klinik. Polisi tadi sempat meminta nomor telepon keluarga Laura. Tapi, Laura hanya memberikan nomor telepon Tiara, sahabatnya.
Karena kelelahan, Laura akhirnya tertidur pulas. Hingga pukul tiga pagi, tubuh Laura seperti ada yang menggoyangkan. Ada suara yang memanggil Laura.
"Ra, bangun. Ini gue Tiara," panggil Tiara.
Laura membuka matanya pelan-pelan. Ada sahabatnya Tiara yang berdiri di samping brankar. Tiara tampak khawatir.
"Ra, elu datang. Sama siapa?" tanya Laura.
"Sama ikhwan. Tuh anak nunggu di depan," jawab Tiara.
ikhwan adalah teman sekolah mereka. ikhwan, cowok kalem yang menjadi ketua ekstrakurikuler rohis.
Tiara memang tinggal di kosan, kebetulan kosan Tiara tidak jauh dari rumah ikhwan.
__ADS_1
"Ra... maafin gue! Elu benar semua tentang Adrian," Laura menangis tergugu, tubuhnya bangkit dari tempat tidur dan segera memeluk Tiara.
"La, elu nggak di apa-apain kan? Jujur sama gue," tanya Tiara yang khawatir melihat Laura.