TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
sambungan


__ADS_3

"Iya, lumayanlah. Elu punya usaha sekarang, hahaha," gumam Niko sambil meminum kopinya.


"Iya, deh. Ayo, makan," ajak Farida yang kemudian mengembalikan berkas ke dalam tas dan mulai makan.


Sementara itu, melihat makanan perut Laura jadi berbunyi. Krukkk... kruukk...


Laura menunduk, mengelus perutnya yang lapar. Adrian ikut menoleh ke perut Laura. Dia mematikan ponselnya dan bertanya dengan gerakan mulut tanpa suara.


"Elu lapar?" tanya Adrian tanpa suara.


Laura hanya mengangguk dengan wajah meringis kelaparan. Adrian mengangguk pelan dan tanpa sadar mengelus perut Laura.


Laura terkesiap, dia menahan nafas sangking terkejutnya dengan gerakan refleks Adrian. Tak lama, Adrian menarik tangannya. Dia merasa kikuk sendiri.


Mereka jadi sama-sama salah tingkah.


Adrian bahkan menunduk tak enak. Lalu mengalihkan pandangan matanya kembali ke teras belakang.


Mereka tak bisa pergi dari situ, karena harus melewati pagar belakang rumah untuk keluar.


Tak lama, Adrian mengetik di ponselnya.


[Ra, maafin gue ya. Elu harus kejebak di sini. Tunggu ya, paling bentar lagi mereka pergi. Nanti gue traktir sate dua porsi untuk lu]


Adrian menyerahkan ponsel ke Laura lalu Laura membacanya. Laura hanya mengangguk menyetujui, kehamilannya memang kerap membuatnya lapar.


Menunggu sekitar setengah jam, akhirnya Farida dan Niko masuk ke dalam rumah. Si Bibi segera membereskan meja belakang. Membawa piring dan cangkir ke dalam rumah.


Adrian mengintip dan menunggu dengan sabar. Setelah si Bibi menutup pintu belakang. Adrian memberi kode ke Laura untuk mengikuti langkahnya.


Mereka berdua mengendap-endap tanpa suara dengan perasaan was-was keluar dari pagar belakang. Setelah itu melewati jalan penuh rumput dan tanaman liar.


Sesampainya di pinggir jalan, Adrian menoleh ke pagar rumah milik Farida yang masih tertutup rapat. Adrian benar-benar emosi, Tapi melihat Laurayang sudah kelaparan, Adrian memilih keluar dulu dari tempat Farida.


Laura dan Adrian akhirnya menyeberang jalan. Masuk dengan cepat ke dalam mobil.


"Ya Allah, Rian. Capek banget tahu, lagi hamil gini elu ajak mengintai. Tapi jujur, gue nggak nyangka sama apa yang gue lihat dan gue dengar," ucap Laura yang menghela nafas lega. Akhirnya mereka bisa keluar tanpa ketahuan.


"Sorry, gue bikin lu terlibat dengan masalah gue. Nggak nyangka perempuan itu nggak hamil dan ternyata brondong mama gue adalah adik si Farida!" sahut Adrian.


Segera merasa emosinya sudah lebih reda, Adrian menyalakan mesin mobilnya. Dia akan mencari tempat makan.

__ADS_1


"Mungkin elu harus tunjukkan ke bokap dan nyokap lu, rekaman tadi, Rian," ucap Laura memberi usul.


"Iya, nanti. Gue bakal menyusun rencana dulu. Gila sih, licik banget mereka," gerutu Adrian.


"Ada ya orang yang mengambil jalan pintas seperti itu biar hidupnya enak," balas Laura.


"Iya, gue juga nggak habis pikir. Btw, elu punya tempat makan sate favorit mungkin. Kita bisa ke sana?" tanya Adrian.


"Nggak ada. Orang seperti gue mah yang penting bisa makan untuk hidup," lirih Laura.


"Tapi gue bisa menjamin hidup lu, kalo lu mau. Biarkan gue membiayai hidup elu," ujar Adrian sambil tetap fokus menyetir.


"Gue nggak mau. Elu bukan siapa-siapa gue! Ngapain elu membiayai hidup gue?" cibir Laura.


"Iya, gue bakal tanggung jawab sama kehidupan elu dan anak lu kok," jelas Adrian.


"Makasih, nggak usah! Suatu hari nanti kalo ada laki-laki baik yang menjadi jodoh gue, dia yang bakal nikahi gue dan bertanggung jawab dengan kehidupan kami berdua," balas Laura sambil mengelus perutnya dan tersenyum getir menatap jalanan.


Hati Adrian tercubit mendengar ucapan Laura. Akan ada laki-laki lain yang akan menikahi Laura? Entah mengapa hatinya terasa gusar.


"Emang ada laki-laki yang mau sama lu, hahaha," ejek Adrian tertawa menutupi kegusarannya.


"Hmm, dengan penampilan elu seperti ini. Gue rasa sulit ya, cowok jatuh cinta sama lu," jujur Adrian.


Laura mendengus kesal. Adrian benar-benar menyebalkan.


"Gue sebel sama lu. Kerjaan elu cuma meremehkan orang lain," sungut Laura


"Coba elu ke salon. Ubah penampilan elu, pasti elu kelihatan lebih cantik deh. Satu lagi, kacamata tebal lu yang ketinggalan mode. Enggak banget, deh," papar Adrian.


Laura tak menjawab. Dia sungguh lapar, tak ada energi untuk membalas Adrian. Bibir Laura sudah mengerucut. Dia sungguh dongkol dengan Adrian.


"Awas lu! Tunggu aja pembalasan gue!" batin Laura


Tak lama, Adrian menghentikan mobilnya di depan sebuah warung sate. Laura dan Adrian masuk ke dalam.


"Elu mau sate ayam atau kambing?" tanya Adrian saat mereka sudah duduk di kursi.


"Hmm... sate ayam aja. Banyakin lontong dan bumbunya. Jangan pedas ya," pinta Laura.


"Okey, minumnya elu mau apa?" tanya Adrian lagi.

__ADS_1


"Es jeruk kayaknya enak," jawab Laura


"Okey. Elu tunggu di sini. Gue pesan dulu," putus Adrian, Laura hanya mengangguk setuju.


Adrian segera berdiri dan memesan makanan di depan. Setelah itu, Adrian kembali ke tempat duduknya.


"Rian, ponsel lu bunyi. Sepertinya ada pesan masuk," celetuk Laura saat Adrian kembali.


Adrian segera mengambil ponselnya yang tergeletak di meja lalu membaca sebuah pesan.


"Oh, si Dedi kirim pesan ke gue. Katanya dia pulang ke rumah dulu, Nyokap dia sakit. Revan juga pulang dulu, kangen Mbok yang mengasuhnya. Mboknya semalam sampe nelpon nangis-nangis menyuruh Revan pulang," jelas Adrian.


"Kalian jadi bertiga kompak sembunyi gitu dari keluarga?" tanya Laura bingung dengan tindakan Adrian, Dedi dan Revan.


"Hmm... gimana ya, kita tuh nggak betah dengan keluarga kita. Bokap nyokap kita tuh terlalu sibuk, ketemu aja jarang. Sekalinya ketemu kayak gue, eh... malah mau cerai. Siapa yang nggak kesel?" Adrian menumpahkan keluh kesahnya.


"Setidaknya elu punya keluarga. Ada Bokap dan Nyokap yang bisa lu lihat, ada rumah hangat tempat elu berteduh," jelas Laura.


"Emang kehidupan elu di panti gimana?" tanya Adrian.


"Kita tidur rame-rame terus makan juga rame-rame. Setiap hari kita berbagi kebahagiaan sama-sama. Paling sedih kalo ada teman kita yang di adops, seperti kehilangan keluarga gitu," ujar Laura


"Gue jadi pengen seminggu aja tinggal di panti asuhan. Seru kayaknya ya, rame gitu?" Adrian terkekeh.


"Gue sekarang tinggal di rumah tante sri, saudara jauh ibu panti," ucap Laura


"Elu nggak tinggal di panti lagi?" tanya Adrian.


"Enggak. Makanya sekarang gue dijemput Tiara terus. Soalnya jauh dari sekolah," jawab Laura yang tak menceritakan kelakuan Dedi.


"Permisi, ini satenya," ucap seorang pelayan menghampiri.


"Oh iya, Mas. Letakkan aja di meja," ucap Adrian.


Melihat sate yang menebar aroma menggoda selera. Laura meneguk ludahnya. Dia benar-benar lapar.


"Ayo makan, Ra," ajak Adrian saat pelayan tadi sudah pergi.


Laura hanya mengangguk lalu mengangkat tangan dan berdoa lebih dahulu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2