
Tubuh Dayyan yang mungil. Jari-jemari Dayyan yang teramat kecil membuat Laura takut menyentuh Dayyan.
Cepatlah besar Dayyan, semua keluarga merindukanmu Semua ingin menggendong mu.
Laura akhirnya turun ke bawah dengan lift setelah mencium tangan sang mama dan papanya.
lauramulai terbiasa dengan pengawalan yang dilakukan keluarganya. Mulai dari dia keluar ruangan hingga nanti sampai di sekolah.
"Tumben kakak belajar," cibir Shabila terkekeh saat masuk ke dalam mobil.
Shabila melihat sang kakak sedang membuka buku. Athalla tampak fokus menghafal.
"Aneh ya lihat kakak belajar?" Athalla terkekeh.
"Iya, biasanya di mobil nonton pencak silat atau ilmu bela diri lain," ungkap Shabila.
"Hari ini ujian juga," ucap Athalla.
"Oh, ujian apa kak?" tanya Shabila antusias.
__ADS_1
"Hari ini ustad datang. Hafalan juz dua puluh tujuh," ungkap Athalla.
Sementara mobil sudah mulai meluncur ke jalanan. Shabila menoleh ke kakaknya dengan mata melotot tak percaya.
Shabila memang belum banyak tahu. Kakaknya yang terlihat keren di matanya. Seperti wajah-wajah Casanova sangking tampannya sang kakak. Ternyata justru penghafal Alquran. Shabila jadi iri.
"Kakak hafal Alquran?" tanya Shabila takjub.
"Belum semuanya. Masih suka lupa. Kalo lagi cari Shabila dulu, sering absen. Beruntung semua guru kakak baik dan mau menutupi jejak kakak," ucap Athalla terkekeh mengingat masa dulu saat dia sering badung meninggalkan kelas.
"Nanti Shabila ajari juga ya cara menghafal Alquran. Mau juga, kak," pinta Shabila.
Shabila mengangguk setuju. Mobil semakin melaju menuju sekolah. Hingga akhirnya mereka sampai di sekolah.
Shabila segera ke kelas seperti biasa diantar Athalla. Tak lama bel masuk sekolah berbunyi. Athalla kembali ke mobil. Menunggu di parkiran.
Beberapa belas menit kemudian, sebuah mobil masuk ke dalam sekolah. Beberapa polisi berpakaian dinas datang. Mereka sudah mendatangi panti asuhan, tapi karena panti asuhan pindah akhirnya mereka datang ke sekolah.
Petugas itu menghadap ke kepala sekolah. Meminta izin selesai ujian untuk membawa Shabila, murid sekolah mereka. Shabila akan dimintai keterangan. Karena menurut korban Angel, Shabila banyak mengetahui soal penculikan yang terjadi.
__ADS_1
Kepala sekolah menyetujui. Bagaimanapun dia tak bisa apa-apa. Hingga pukul sepuluh, Athalla keluar dari mobilnya. Seperti biasa, dia duduk didepan mobil. Memandang kelas adiknya dari kejauhan.
Tak lama, Shabila keluar, tapi dari kejauhan terlihat Shabila digandeng kepala sekolah. Lalu ada beberapa orang berpakaian polisi dan berpakaian biasa dibelakang Shabila.
Mata Athalla melebar. Alarm tanda bahaya menyala di pikirannya. Dia takut itu komplotan penjahat yang menyamar.
Athalla segera menekan tombol angka satu di hapenya. Angka darurat yang langsung terhubung ke kepala pengawal bawahan Om Leon yang berjaga di sekolah.
Athalla dengan sigap berlari kencang setelah menekan tombol angka satu. Tujuannya hanya satu, adiknya. Sementara pengawal yang lain mulai membentuk formasi. Menutup gerbang sekolah dan mulai mendekati target.
Shabila yang tadinya tegang setelah diberitahu kepala sekolah bahwa dia harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan, mulai merasa tenang saat melihat kakaknya menuju ke arahnya.
"Stop! Kalian siapa?" tanya Athalla. Tangannya dengan cekatan menarik adiknya hingga ke belakang tubuhnya.
"Kami polisi. Kamu bisa lihat dari seragam kami," sahut polisi tersebut..
"Tunjukkan surat tugas kalian!" ucap satu suara tegas yang datang. Kepala pengawal om Leon datang. Berdiri didepan para polisi.
Kepala pengawal menunjukkan sebuah kartu identitas. Bahwa kepala pengawal itu bukan orang biasa. Dia adalah veteran yang pernah berada di dunia militer.
__ADS_1
Sementara Athalla dan Shabila berada dibelakang kepala pengawal. Athalla menggamit lengan adiknya. Matanya awas melihat sekeliling. Untunglah semua pengawal sudah ada di sekeliling mereka.