TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
002


__ADS_3

"Terima kasih, dokter. Kami akan berusaha sebaik mungkin," ucap Papa Birru yang kemudian pamit keluar dari ruangan dokter dengan langkah lemah.


Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nak?


Di koridor rumah sakit, Papa Birru bertemu Om Leon, Tante Chacha, Tiara dan Athan.


"Pa, laura sudah sadar?" tanya Athan penuh harap.


Koridor sepi hanya ada keluarga mereka dan penjaga di setiap sudut. Membuat mereka bisa bebas bercerita.


"Sudah, tapi Laura mengalami depresi Postpartum. Dia tak mau berada di dekat bayinya," ungkap sang Papa.


"Astaghfirullah," kompak Athan, Tiara, Om dan Tante.


"Kamu pasti sahabat nya Laura ya? Maaf, saya belum mengucapkan terima kasih. Bahkan saya sekarang mau minta tolong sama kamu, Nak," pinta Papa Birru.


"Minta tolong apa, Pak? Saya siap membantu," sahut Tiara sungguh-sungguh.


"Bantu kami menghibur Laura. Ayo, ikut ke ruangan Laura. Dia sudah sadar dan boleh dijenguk," ajak Papa Birru.


Tiara mengangguk mengerti Mereka semua akhirnya berjalan menuju ruangan Laura.


"Assalamualaikum," kompak mereka saat membuka pintu ruangan Laura. Semua menampakkan wajah ceria dan bahagia.


"Wa'alaikumsalam," sahut Mama Runi dan Laura berbarengan.


"Tiara," seru Laura senang. Diantara semua yang hadir, hanya Tiara yang sangat Laura kenal.


Tiara segera berjalan ke arah Laura nemeluk sahabatnya. Laura kembali menangis mengingat kejadian belum lama ini.


Masih kuat di ingatan Laura, pengapnya gudang sekolah. Gelapnya gudang sekolah. Sungguh mengerikan, dengan keadaan tubuhnya yang terasa sakit dan tak bisa bergerak.


Dalam benak Laura kala itu, dia tidak akan selamat. Sungguh sakit luar biasa. Dia sudah berada diambang antara hidup dan mati. Rasanya dia takkan selamat. Dengan darah yang menggenang dan tubuh lemah. Ah, kuasa Allah diatas segalanya.


Tiba-tiba dia sudah di rumah sakit dan keluarganya sudah mengelilinginya. Duka itu berubah jadi bahagia. Luka itu tertutup obat bernama keluarga.


"Terima kasih, Tiara. Tanpa elu gue pasti sudah nggak ada," ucap Laura diantara tangisannya.


"Allah maha pelindung. Sekarang jangan sedih lagi. Keluarga lu semuanya sudah disini, Ra Elu harus bahagia ya," sahut Tiara yang juga menangis bahagia.


Laura mengangguk setuju. Maka, nikmat Tuhan manalagi yang harus kita dustakan?


Laura merenggangkan pelukannya melihat wajah-wajah asing yang tersenyum padanya.


Athan maju ke depan senyumnya bermekaran indah membuat Laura ikut tersenyum.


"Halo, adik gue yang cantik," celetuk Athan yang langsung refleks memeluk Laura Sementara Laura tak membalas memeluk. Dia masih bingung. Ini siapa?


"Ini kakak Laura. Namanya kk Athan Mama melahirkan anak kembar, Nak. Laura dan Athan," jelas sang mama yang menangkap kebingungan wajah Laura.


Mendengar ucapan Mamanya, Laura akhirnya membalas pelukan kakaknya.


"Sekarang Laura nggak sendiri lagi. Berita tahu kakak, apapun ya," pinta Athan.


Laura hanya mengangguk dan tersenyum dia sungguh terharu. Ternyata dia punya keluarga. Bukan hanya Papa dan Mama. Dia juga punya kakak. Terima kasih, Rabb.


" Laura, saya tante Chacha," ucap Tante Chacha memperkenalkan dirinya dan bergantian memeluk Laura.


Di samping tante Chacha, ada Om Leon berdiri dan tersenyum.


"Hai, Ponakan om yang cantik. Kalo Om namanya Om Leon," sapa Om Leon.


Laura tersenyum dan mengangguk senang. Alhamdulillah, bahkan dia punya Om dan Tante.


Laura bahkan kembali menitikkan airmata sangking bahagianya.


"Terima kasih. Apa semua ini nyata?" tanya Laura yang tiba-tiba ragu. Jangan-jangan dia masih di alam mimpi. Ini sangat indah, bisa bertemu semua keluarga.


Keluarga Laura terkekeh, sepertinya Laura benar-benar masih kebingungan.


"Nyata dong, Ra Percaya sama gue," cetus Tiara tersenyum.


Laura kembali memeluk sahabatnya.


"Makasih banget ya, Ra. Gue bisa ketemu keluarga gue, juga pasti berkat bantuan lu," ucap Laura

__ADS_1


"Semua kehendak Allah. Alhamdulillah Bila. Semoga setelah ini, hanya ada kebahagiaan untuk lu," ucap Tiara tersenyum.


"Aamiin," kompak semua yang ada dalam ruangan.


Hari itu, adalah hari yang paling membahagiakan bagi Laura. Dia tertawa bahagia, bisa merasakan pelukan keluarganya.


Sementara seorang bayi mungil, dia sendirian di ruangan khusus. Dijaga seorang perawat. Ayahnya tak mengakuinya. Sementara bundanya, mengalami ketakutan dan menolak kehadirannya.


Disisi lain, Adrian semenjak siang sedari selesai sekolah, mengalami sakit perut. Dia sudah bolak balik kamar mandi tapi tak ada apapun.


Adrian sampai meminum obat sakit perut tapi tetap tak kunjung reda. Wajahnya sudah memucat. Dia sudah sangat lemas. Keringat bercucuran dari tubuhnya.


"Elu salah makan kali," celetuk Dedi.


Mereka saat ini sedang berkumpul di rumah Dedi yang sederhana. Ruang tamunya bahkan sangat sempit. Tapi, persahabatan mereka tetap langgeng meski keluarga Dedi yang paling jatuh diantara mereka bertiga.


"Sssss, nggak tahu. Perih melilit banget. Apa gue punya maag ya?" Adrian berdesis. Wajahnya meringis kesakitan.


"Waduh, kalo punya maag gawat, dong. Mana cukup sama obat, kalo udah kumat parah gini, kita ke dokter aja," usul Revan.


"Bener, tuh. Ayolah kita anter," putus Dedi.


"Gue nggak kuat berdiri. Udah lemes banget ini," keluh Adrian.


"Ya, udah. Ivan ayo kita papah aja," ajak Dedi.


Ivan mengangguk setuju. Dia mematikan televisi. Mencangklong tas kecilnya lalu membantu Dedi memapah Adrian. Mereka segera naik mobil Revan dan membawa Adrian ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Revan segera mendaftar ke bagian administrasi.


"Silahkan naik ke lantai empat ya. Ruangan dokternya pindah ada di lantai empat. Jadi, jangan menekan tombol lift lantai tiga. Karena sudah dibooking satu keluarga," jelas bagian administrasi itu.


"Baik, mbak. Terima kasih," sahut Revan yang kemudian melangkah mendekati Adrian dan Dedi yang duduk di kursi tunggu.


"Gimana?" tanya Dedi


"Katanya dokternya pindah lantai sekarang di lantai empat. Nggak boleh ke lantai tiga," jelas Revan yang kembali memapah Adrian.


Dedi ikut memapah Adrian, mereka berjalan menuju lift.


"Katanya udah di booking satu keluarga. Gue tadi denger juga dari pasien disitu pas gue lewat. Katanya ada orang super kaya yang anaknya lahiran. Sewa satu lantai," papar Revan.


"Wih, gila. Tajir banget sampe sewa satu lantai, lahiran doang. Gue jadi penasaran," celetuk Dedi menyunggingkan senyumnya.


"Anak sultan kali ya. Keluarga gue aja nggak bakal sanggup kalo sampe sewa satu lantai gitu," cetus Revan terkekeh.


"Gue rasa iya. Duitnya nggak berseri. Kalo ada anaknya cewek boleh tuh di dekati, hahaha," Dedi terkekeh.


Mereka sudah sampai didalam lift. Ivan segera menekan tombol lantai empat. Tapi, Dedi menggelengkan kepala.


"Kita iseng ke lantai tiga bentar. Kalo ada yang nanya, bilang aja kita salah pencet tombol," cetus Dedi yang jahil.


Revan hanya mengangguk malas berdebat dengan Dedi Akhirnya, Dedi menekan tombol angka tiga. Sementara Adrian hanya diam. Dia mengikuti saja kemauan temannya. Tubuhnya sudah terlalu lemah. Dia berdiri ditengah, dipapah Dedi dan Revan di kiri dan kanannya.


Tring!


Pintu lift terbuka di lantai tiga.


Saat pintu lift terbuka, dengan sangat kebetulan seorang perawat lewat sedang mendorong inkubator yang berisi seorang bayi.


Wajah bayi itu kebetulan menghadap ke sebelah kanan. Tepat berhadapan dengan tatapan mata Adrian.


Adrian terpaku. Wajah bayi itu seperti wajahnya. Persis. Hidungnya, matanya yang sedang tertutup, bibirnya bahkan alisnya.


Hanya beberapa detik, inkubator itu melewati mereka. Tapi, membekas di hati Adrian.


Detik berikutnya, beberapa pria berpakaian hitam dan berperawakan tinggi besar menghalangi pandangan mereka. Mereka berbaris membentuk sebuah pagar. Bahkan mereka siaga dengan membawa senjata.


Adrian, Revan dan Dedi terkejut. Mereka refleks mengangkat kedua tangannya keatas.


Salah seorang bodyguard langsung menekan tombol ke lantai bawah. Dia masuk ke dalam lift.


"Berani sekali kalian ini. Keluar dari sini dan jangan lagi naik ke lantai tiga," hardik pria berpakaian hitam itu.


Ketiga sekawan hanya mengangguk pasrah. Tak lama, pintu lift terbuka. Mereka dipaksa keluar dari lift. Sementara pria tadi kembali menekan tombol lift dan naik keatas.

__ADS_1


Tiga sekawan sampai menelan ludahnya. Lutut mereka gemetar. Mereka saling menoleh. Takut.


"Di, lain kali jangan punya ide yang aneh lagi ya," ucap Revan dengan suara bergetar.


"Ayo, cari rumah sakit lain," kelit Dedi yang sebenarnya juga gemetar.


"Gue tiba-tiba sembuh, setelah melihat bayi tadi," celetuk Adrian bengong.


Kedua temannya memandang Adrian dengan bingung.


"Serius?" tanya Dedi menatap Adrian. Kedua sahabatnya mengajak Adrian duduk terlebih dahulu.


Adrian mengangguk pasti. Dia bahkan tak perlu dipapah kedua sahabatnya.


"Iya nih. Elu bahkan nggak perlu kita papah lagi," ucap Revan heran.


"Kok bisa? Atau lu syok ya waktu di lantai tiga tadi?" tanya Dedi ikut heran.


"Sakit perut gue tiba-tiba hilang. Setelah melihat bayi yang lewat pas di lantai tiga," ungkap Adrian.


"Oh iya, gue inget. Gue juga lihat wajah bayi itu mirip lu," cetus Revan.


"Iya, gue juga lihat. Meski cuma beberapa detik," timpal Dedi


Adrian mengangguk. Berarti bukan hanya dirinya yang melihat bayi yang mirip dirinya.


"Apa mungkin itu anak lu dan Laura? Soalnya plek ketiplek dengan wajah lu?" tanya Revan polos.


Dedi segera menoyor pelan kepala Revan dengan tangannya.


"Elu pikir si Cupu anak sultan? Darimana dia duit, sewa rumah sakit satu lantai. Belum minum obat cacing lu," sewot Dedi yang menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan pemikiran Revan.


"Laura kan belum saatnya melahirkan. Nggak mungkin dia, Van ," sahut Adrian.


"Eh, iya. Kandungan Laura kan belum sembilan bulan ya," ucap Revan baru ingat.


"Ayolah kita balik ke mobil. Adrian juga udah sembuh sendiri," ajak Dedi yang berdiri dari duduknya.


Kedua temannya mengangguk setuju. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit. Menuju parkiran.


"Rian, lu yakin nggak sakit lagi? Coba lu tekan dikit perut lu. Kalo ternyata masih sakit, kita langsung ke rumah sakit lain," usul Revan saat mereka sudah didalam mobil.


Adrian segera menurut. Dia mencoba menekan perutnya beberapa kali.


"Beneran nggak sakit lagi. Tubuh gue juga nggak lemas," sahut Adrian.


"Wah, aneh. Kok bisa gitu ya," ucap Dedi bingung.


"Iya, gue juga bingung," rutuk Adrian yang merasa aneh dengan tubuhnya sendiri.


"Apa mungkin elu kena ilmu hitam gitu kayak di pilem?" ungkap Revan asal.


"Van, ini udah tahun berapa. Masih percaya aja lu yang kayak gitu. Mangkanya orang luar negeri udah sampe ke bulan kita masih disini aja," rutuk Dedi.


"Iya, Maaf," cebik Revan.


Tiba-tiba, hape mereka bertiga berbunyi bersamaan. Mereka bertiga kompak membuka hapenya. Sebuah pesan yang sama masuk ke hape mereka. Pesan dari nomor yang tak dikenal.


[KALIAN PASTI AKAN MENERIMA PEMBALASAN ATAS APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN! TUNGGU KEHANCURAN KALIAN. OHYA, KALIAN BOLEH PILIH MAU TERTIDUR DAN KOMA BERAPA LAMA DI RUMAH SAKIT YANG SEKARANG ADA DIHADAPAN KALIAN!]


Adrian, Revan dan Dedi saling pandang.


"Gue nerima pesan ancaman," celetuk Adrian.


"Gue juga. Dia bahkan tahu kita ada dimana," sahut Revan ketakutan.


"Sama, ini juga," kata Dedi.


Mereka bertiga mendekatkan hape mereka.


"Pesannya sama dan nomornya sama!" seru mereka bertiga berbarengan. Wajah Revan memucat. Sementara Adrian tiba-tiba tegang luar biasa.


Sementara Dedi berinisiatif menelepon nomor yang mengirim pesan ke mereka.


"Halo! Heh, siapa lu!" teriak Dedi marah ditelepon.

__ADS_1


"Gue adalah orang yang akan membalas perbuatan kalian. Kalian siap gue hancurkan?!" balas suara dari seberang telepon dengan derai tawa menyeramkan.


__ADS_2