TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Tanpa Judul 2


__ADS_3

"Loh, kenapa?" Tiara mengernyitkan kening. Tiara membuka bungkusan sate dan menyodorkan pada Laura


Laura segera menikmati sate yang disuguhkan. Entah lapar atau dia mengidam. Rasanya sate itu enak sekali.


"Gue nggak mau, perut gue terlihat membuncit, Ra. Sebisa mungkin gue harus mengurangi makan biar perut gue nggak cepat besar," jawab Laura.


"Tapi, ibu hamil pasti lebih sering berasa laparnya, Ra," jelas Tiara.


"Gue tahu! Karena itu gue bakal nahan diri buat nggak makan berlebih," Laura bertekad.


Adrian hanya mendengarkan. Dia makin merasa bersalah. Tapi, dia tak berdaya untuk menolong Laura. Adrian menunduk dan tersenyum getir. Mengingat sate adalah makanan favoritnya. Apa anak yang di kandung Lauraa akan menyukai makanan yang sama dengan makanan yang dia sukai juga?


Laura akhirnya selesai makan. Dia tersenyum senang bisa menghabiskan satu porsi sate.


"Udah, lu tidur lagi ya! Gue bakal jagain lu dari manusia yang nggak tahu diri," sindir Tiara yang membesarkan suaranya.


Adrian hanya diam, pura-pura tak mendengar. Dia merebahkan diri di atas sofa lalu tidur. Besok pagi mereka harus sekolah.


Sementara Tiara memilih merebahkan diri di atas brankar kosong di sebelah Laura. Tak lama, Tiara sudah berlayar ke mimpinya.


Sementara Laura hanya pura-pura tidur. Dia sebenarnya tak bisa tidur. Pikirannya menerawang jauh. Memikirkan masa depannya yang tak tahu bagaimana.


Entah bagaimana nasibnya dan nasib bayinya. Tanpa orang tua yang bersamanya. Saat sendirian seperti ini, Laura selalu mengingat orang tuanya. Apakah orang tuanya mengingatnya juga?


Laura mengelus perutnya yang masih rata. Dia bertekad tidak akan meninggalkan bayinya apapun yang terjadi. Meski di masa depan dia tidak punya uang sekali pun.


Cukup dirinya yang sendiri. Jangan sampai dia melakukan hal yang sama. "Kamu tenang sayang, Bunda nggak akan ninggalin kamu. Walau awalnya Bunda nggak menginginkan kamu ada, tapi Bunda bakal berusaha menerima keadaan kita." lirih Laura berbicara sendiri pada janin dalam kandungannya.


Laura berusaha untuk tegar. Perjalanan ke depan masih panjang.Laura tetap nekad sekolah. Dia butuh ijazah. Minimal dia bisa mencari kerja dengan ijazah SMA untuk menghidupi dirinya dan bayinya.


Laura sudah merancang hidupnya. Setelah lulus nanti, dia akan pergi jauh dari kota ini dan Memulai kehidupan baru di tempat lain. Berdua bersama bayinya.


Toh, dia sekolah hanya tersisa delapan bulan lagi. Dia bisa melahirkan setelah kelulusan.


Laura berharap tidak akan ada yang tahu dengan kehamilannya. Dia akan diet ketat, memakai seragam longgar dan hijab lebar dari bahan yang tak membentuk tubuh.


Tak terasa, Laura akhirnya terlelap juga. Dia lelah luar biasa.


***


Pagi ini, Laura sudah merasa lebih sehat. Tubuhnya sudah kembali berenergi. Dokter banyak memberikan wejangan. Beberapa vitamin di tebus Adrian di apotek.


"Gue anter lu ke panti ya," ucap Adrian saat mereka sudah keluar dari klinik.

__ADS_1


"Nggak usah! Gue pulang ikut Tiara aja," ketus Laura


"Tiara naik motor, gue bawa mobil. Lu lebih aman ikut gue," cetus Adrian.


"Lebih aman? Kalo gue lebih aman sama lu nggak mungkin gue sampe hamil!" cibir Laura menahan emosi yang kembali membuncah.


"Elu nggak usah sok perhatian, Rian! Kalo kenyataannya lu tetap nggak mau tanggung jawab!" hardik Tiara.


Adrian tak lagi menjawab. Klinik mulai ramai. Adrian memilih mengalah. Membiarkan Laura pulang dengan Tiara.


" Laura, gue sebenernya sebel banget dengan Adrian sama dua sahabat gilanya. Gue siap kalo lu mau laporin mereka ke polisi," geram Tiara.


"Gue pernah di ancam Adrian. Keluarga mereka akan menghentikan aliran dana ke panti kalo gue berani lapor. Lagipula apa laporan gue bakal di proses? Elu tahu mereka punya kuasa, gue bahkan nggak berdaya. Nasib adik-adik panti gue gimana, makan dan sekolah mereka? Gue nggak boleh egois, Ra," lirih Laura


Tiara tak lagi bicara. Dia fokus membawa motor ke panti asuhan. Laura harus segera bersiap-siap. Mereka akan pergi sekolah pagi ini.


Ibu panti hanya tahu Laura tidur di rumah Tiara. Rasanya Laura tak tega kalau harus menceritakan masalahnya pada ibu pantinya. Ada puluhan anak di panti yang harus di perhatikan ibu panti.


Ibu pantinya sudah terlalu banyak yang harus diurus. Masalah biaya makan, biaya listrik, biaya sekolah. Ah, Laura merasa sungguh tak tahu diri. Hanya karena cinta buta, dia harus berakhir dengan masalah.


Ayat-ayat Al-Quran memang tidak pernah salah. Sudah diperingatkan untuk tak mendekati zina, tapi Laura melanggarnya. Ah, kenapa dia harus berpacaran? Laura memohon ampunan di setiap sholatnya.


Selesai memakai pakaian dan mencangklong tas sekolah, Laura pamit pada ibu pantinya. Tiara dan Laura kembali mengendarai motor, meluncur ke sekolah.


Sementara Adrian sudah sampai di sekolah lebih dulu. Angel terlihat menunggunya di gerbang sekolah dengan wajah masam.


Angel berlari kecil menyusul Adrian di parkiran. Dia kesal akhir-akhir ini Adrian terlihat cuek padanya.


"Adrian!" seru Angel saat Adrian keluar dari mobilnya.


Adrian hanya menoleh sebentar. Lalu melanjutkan langkah kakinya.


"Tunggu!" pekik Angel menarik tangan Adrian.


"Apa sih, Angel! Gue mau ke kelas!" rutuk Adrian.


"Lu Kenapa sih? Gue ada salah sama lu? Kok lu cuek banget. Atau benar gosip yang gue denger kalo lu pernah pacaran sama Cupu?" Angel memberondong pertanyaan.


" Apa apaan sih lu! Pertanyaan lu aneh dan nggak penting!" decak kesal Adrian tak suka.


"Nggak penting menurut lu? Helow, penting banget bagi gue!" kesal Angel yang mengibaskan rambut panjangnya. Gadis berkulit putih ini merasa tak terima saat pacarnya di gosipkan dengan gadis lain yang tak lebih baik dari dirinya.


Adrian menghempaskan tangan Angel yang mencengkram tangannya. Beban Pikirannya terasa penuh, sudah tak muat kalau harus ditambah Angel yang selalu merengek padanya.

__ADS_1


"Adrian!" Angel kembali berlari kecil mengejar langkah kaki Adrian yang lebar.


Mendekati kelas mereka, Tiara dan Laura tampak berjalan dari arah parkiran motor.


Laura tampak cuek melihat Adrian yang di kejar Angel di koridor sekolah. Tapi, mendekati koridor ruang kelasnya, Laura hampir terjatuh di undakan tangga.


Adrian yang berada di situ, refleks menolong Laura agar tak terjatuh.


" Laura ! Awas hati-hati," seru Adrian yang langsung menarik tangan Laura ke atas.


Tiara segera menghampiri Laura yang tampak terkejut karena hampir jatuh.


"Nggak apa-apa. Gue baik kok, Ra," ucap Laut yang kembali berdiri dan tubuhnya sudah kembali seimbang.


"Sengaja lu, ya! Cari perhatian sama pacar orang!" sindir Angel pada Laura. Angel segera menarik tangan Adrian yang memegang lengan tangan Laura.


"Gue nggak minta perhatian pacar lu! Ambil tuh pacar lu!" cibir Laura


"Eh, udah berani lu Cupu! Hebat banget lu udah berani menjawab, ck... ck...ck..." decak kesal Angel.


Laura segera berlalu, tak memperdulikan Angel maupun Adrian. Tiara hanya mencibirkan bibirnya dan ikut berlalu bersama Laura.


"Apaan sih, Angel! Norak banget lu, gue cuma nolongin doang," rutuk Adrian kesal.


"Rian, elu tuh perhatian banget dengan si Cupu!" protes Angel.


"Masa bodoh! Serah lu, gue mau ke kelas," ujar Adrian yang melangkah ke kelas.


Angel mendengus kesal. Dia di tinggal begitu saja oleh Adrian di koridor kelas.


"Angel," seru Dedi yang memperhatikan interaksi Angel, Adrian dan Laura tadi.


"Apa?" ketus Angel yang masih kesal.


"Elu kesal ya dengan Laura? Gue juga sama. Gimana kalo kita bekerjasama?" tawar Dedi menyunggingkan senyum mengerikan.


DedDedi kesal, kemarin Adrian dan Revan tak mendukung idenya. Padahal dia mengajak Laura ke klinik, untuk melindungi mereka semua.


Dedi ingin menghapus jejak kejahatan mereka. Jika Laura hamil lalu nantinya melahirkan, semua masalah akan lebih rumit kedepannya.


"Kerjasama? Elu mau kita kerjasama apa? Kalo menguntungkan juga bagi gue. Gue mau bantu lu," ucap Angel penasaran.


"Tentu menguntungkan bagi lu. Elu bisa bersama Adrian tanpa harus takut di rebut si Cupu," tawar Adrian agar Angel makin tertarik.

__ADS_1


Terbukti, Angel terlihat antusias. "Apa rencana lu?" tanya Angel.


"Ikut gue, entar gue jelasin di tempat lain!" ajak Dedi yang melangkah ke belakang laboratorium yang di ikuti oleh angel.


__ADS_2