
"Biar gue aja sendiri. Elu tungguin motor gue di sini," sahut Tiara yang segera membuka pintu mobil Adrian.
Adrian hanya mengangguk setuju. Adrian membantu menahan pintu mobil agar terbuka lebar.
"Ra, bangun Ra. Kita udah sampai," panggil Tiara sambil menepuk-nepuk pelan pipinya Laura.
Pelan-pelan mata Laura membuka. Laura berdiam diri untuk beberapa saat. Lalu setelah kesadarannya pulih, Laura mulai bangun dari tidurnya dibantu Tiara.
Tiara memapah Shabila pelan. Sementara Adrian hanya melihat dari kejauhan.
"Loh, Ra kenapa kamu, Nak?" tanya ibu panti panik.
"laura sakit, Bu," Tiara yang menjawab.
"Oalah, ayo masuk. Tolong bantu ibu ya, Tiara," ucap ibu panti ikut memapah Laura ke kamarnya.
Kamar yang dimaksud sebenarnya kamar untuk beramai-ramai.
Anak-anak panti tak punya kamar sendiri. Satu kamar diisi orang empat sampai lima.
Ibu panti dan Tiara merebahkan tubuh Laura di atas ranjang tua ukuran singel. Tiara lalu menarik selimut untuk Laura.
Setelah itu, ibu panti dan Tiara keluar kamar. Laura sudah kembali tertidur setelah meminum obat dari dokter.
"Nak Tiara, terima kasih ya sudah mengantarkan Laura pulang," ucap ibu panti.
"Sama-sama, Bu. Saya pamit pulang dulu," ucap Tiara menyalami ibu panti.
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya," sahut ibu panti tersenyum.
"Iya, Bu. Assalamualaikum," pamit Tiara.
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu panti lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Tiara kemudian berjalan keluar lorong. Melihat Adrian masih menunggu di depan mobilnya.
"Makasih ya, udah jagain motor gue," ucap Tiara.
"Sama-sama. Gimana Laura tadi? Dia udah minum obat?" ucap Adrian khawatir.
Tiara sedikit mengernyitkan kening, melihat perhatian Adrian.
"Baik, udah minum obat tadi. Gue pulang dulu," sahut Tiara.
"Okey, gue pulang juga!" ucap Adrian melangkah ke mobilnya lalu pulang.
__ADS_1
***
Dua hari Laura tidak masuk sekolah. Dia hanya tiduran di kamarnya. Tubuhnya benar-benar terasa lemah.
Tiara setiap hari datang ke panti asuhan, memberikan Laura catatan pelajaran dan tugas PR dari sekolah.
Bersyukur, Laura anak yang cerdas. Hanya dengan melihat contoh di buku pelajaran, Laura langsung mengerti.
Dengan belajar, Laura bisa melupakan masalah yang dia hadapi.
Di sekolah, Adrian selalu menghindar dari Dedi. Adrian sudah tak sejalan dengan temannya satu itu.
"Rian!" seru Revan saat Adrian berjalan menuju kantin.
Adrian menoleh sekilas, tapi kembali berjalan kembali.
"Hei, tunggu gue!" ucap Revan menyusul langkah kaki Adrian.
"mau apa lu?" tanya Adrian malas.
"lu masih marah sama gue? Maafin gue ya. Gue terlalu mengikuti ucapan Dedi," sesal Revan.
Adrian hanya menggedikkan bahunya. Berbelok arah ke arah kantin. Memesan bakso dan duduk di kursi kosong. Revan masih mengikuti dan ikut juga memesan bakso.
"Rian, gue beneran minta maaf. Ohya, gimana kabar Laura? Kita jenguk yuk udah dua hari dia nggak masuk sekolah," kata Revan masih berusaha mendekati Adrian.
Revan tampak diam. Dia juga tak tahu apa harus dilakukan. Seharusnya dia tidak menyetujui rencana Dedi waktu itu. Sekarang hanya tinggal penyesalan.
"Rian, gue takut Laura membocorkan rahasia kita," lirih Revan dengan suara pelan.
Adrian menghembuskan nafasnya. Beban pikirannya terasa berat. Setiap hari dia dibayangi rasa ketakutan dan rasa bersalah.
"Gue udah pasrah. Gue emang salah. Gue tertekan karena masalah ini," balas Adrian dengan suara lemah.
"Gue juga, Rian! Gue dibayangi rasa bersalah. Apa yang harus kita lakukan?" Ivan menunduk. Dia sebenarnya juga dipenuhi rasa bersalah.
"Gue nggak tahu! Laura bahkan nggak mau ketemu gue," sahut Adrian.
Tak lama, dua mangkuk bakso yang kuahnya masih mengepul asap terhidang. Mereka berdua segera makan meski kurang berselera.
"Rian! Ih, kok lu nggak nunggu gue sih!" Angel datang dan bercakak pinggang. Kesal Adrian pergi dari kelas tanpa mengajaknya.
"Elu kan punya kaki. Jalan sendiri aja," ketus Adrian cuek sambil menyuapkan mi bakso ke dalam mulutnya.
"Ih, kok lu gitu sih! Eh, pulang sekolah jalan yuk," ajak Angel tersenyum.
__ADS_1
Adrian menggeleng. "Nggak, deh.Gue mau pulang ke rumah, capek gue!" jawab Adrian.
"Ih, elu nggak asyik jadi cowok!" cebik Angel yang mengerucutkan bibirnya kesal.
Angel meninggalkan Adrian dan Revan. Dia memilih pergi ke taman. Mendesah kesal lalu duduk di bangku taman.
"Kenapa lu?" tanya Dedi yang tadinya mau ke kantin tapi urung saat melihat Angel ada di taman.
"Gue lagi kesel dengan Adrian! Dia cuek banget sekarang sama gue. Diajak jalan aja dia ogah," rutuk Angel.
"Elu tenang aja. Hari ini gue menjalankan misi gue," Dedi tersenyum sumringah.
"Gue penasaran. Apaan sih?" Angel mengernyitkan keningnya.
"Udah, lu tenang aja. Ayolah ke kantin, gue lapar," ajak Dedi. Angel hanya mengangguk dan mereka berdua akhirnya berjalan ke kantin.
Sementara itu, di panti asuhan sudah ada dua orang yang sedang bertamu. Mereka adalah kedua orang tua Dedi. Rumah yang menjadi panti asuhan ini adalah rumah peninggalan kakek Dedi yang dipinjamkan untuk panti asuhan sejak puluhan tahun yang lalu.
Hingga saat ini, keluarga Dedi tak terlalu menghiraukan rumah tersebut. Karena menganggap tak ada nilainya. "Udah, lu tenang aja. Ayolah ke kantin, gue lapar," ajak Dedi. Angel hanya mengangguk dan mereka berdua akhirnya berjalan ke kantin.
"Saya merasa senang sekali, yang menjadi panti asuhan sudah sangat tua dan belum pernah di renovasi.
"Saya merasa senang sekali, bapak dan ibu sudi datang ke sini," sambut ibu panti di antara sela obrolan.
"Iya, kami baru sempat datang menengok. Kami juga akan menambah sumbangan setiap bulan untuk panti asuhan ini," jelas mama Dedi.
"Alhamdulillah. Semoga Allah membalas semua kebaikan ibu dan bapak," ucap ibu panti terharu.
"Aamiin," sahut papa Dedi. Mereka duduk di sofa tua. Mama Dedi tampak berpenampilan glamor. Dengan kalung emas besar, beberapa gelang emas, anting yang besar serta jari jemarinya penuh dengan emas.
Sementara papa Dedi tampak gagah dengan baju jas dan dasi merah. Penampilan mereka sudah menunjukkan dari kalangan mana mereka berasal.
"Tapi, ada syaratnya agar panti ini tetap berdiri di sini dan sumbangan untuk anak-anak panti tetap mengalir," ucap Mama Dedi seketika yang membuat ibu panti mematung bingung.
Semalam, Dedi mengarang cerita pada mama dan papanya kalau ada yang mencuri ponsel temannya di sekolah. Setelah diselidiki ternyata salah satu anak panti asuhan. Karena itu, Dedi meminta orang tuanya datang dan mengambil tindakan. Dedi beralasan merasa tak nyaman di sekolah karena ada pencuri.
Orang tua Dedi yang selalu sibuk, pulang ke rumah mungkin hanya sebulan sekali. Setor muka dan melihat anak-anaknya hanya mempercayai saja ucapan anaknya.
"Maksud ibu, syarat apa ya?" ucap ibu panti kebingungan.
Mama Dedi menghela nafas. Lalu menaikkan kaca mata yang melorot dari hidungnya yang tak mancung.
"Saya dengar, salah satu anak panti asuhan sini telah melakukan pencurian di sekolah. Saya ingin anak tersebut keluar dari panti ini, agar nama panti ini tidak tercoreng. Jika tidak mau mengeluarkan anak tersebut, maka silahkan tinggalkan rumah ini!" ancam mama Dedi.
*Bersambung..........
__ADS_1
jgn lupa follow, komen, dan like nya
follow instagram saya @sasafebry5*