
Papa Angel baru saja tiba di rumah sakit. Dia segera ke ruangan Angel.
"Angel, ikut papa!" seru papa Angel saat datang. Wajah sang papa terlihat marah.
"Ada apa, Pa? Angel masih sakit. Mana bisa ikut papa," tutur Angel.
"Kamu ini gimana sih! Kamu bilang Shabila itu anak panti asuhan, ternyata dia anaknya pak Albirru. Habis kita Angel, habis kita!" geram sang papa yang berjalan mondar mandir di ruang rawat Angel.
Angel tampak mengernyitkan kening tak mengerti. Kenapa papanya terlihat sangat gusar.
"Maksud papa apa sih? Angel nggak ngerti," tutur Angel lagi.
"Laura itu anak pak Birru. Pewaris perusahaan Albirru. Perusahaan mereka lebih besar dari perusahaan kita. Bahkan usaha kita sangat bergantung dari modal yang mereka tanam. Paham kamu!" bentak papanya.
Angel terdiam dia tak mengerti soal perusahaan.
"Papa kan tinggal cari penanam modal lainnya? Apa susahnya sih, Pa? Lagipula masak sih Laura anak pengusaha?" ucap Angel tak yakin.
"Kamu ini dibilangin papa! Perusahaan kita bisa bangkrut tahun ini juga. Kalo mereka menarik modal mereka, perusahaan lain juga pasti ikut menarik modal. Kita akan kehilangan rasa percaya dari para pengusaha!" sembur papanya.
Angel diam. Mencoba mencerna ucapan papanya.
"Kata lainnya, kamu nggak akan bisa membeli berlian, tas branded, baju branded atau jalan-jalan ke luar negeri lagi. Paham kamu!" cecar papanya.
"Apa?" jerit Angel yang baru mengerti maksud papanya.
"Ikut Papa. Kita harus minta maaf pada mereka. Jangan sampai juga kamu di laporkan balik oleh keluarga Laura, Bisa-bisa kamu di penjara," tutur Papanya.
Angel akhirnya merasa ketakutan, dia baru merasakan cemas luar biasa.
"Pa, Angel nggak mau di penjara ‚" ucap Angel histeris.
"Ayo, temui mereka. Kita minta maaf," ajak papa Angel.
"I-iya, Pa," sahut Angel setuju.
Angel akhirnya ikut papanya. Mereka akan ke kantor polisi.
Sementara di kantor polisi, suasana canda tawa justru terdengar sungguh di luar bayangan Laura.
Tadinya, saat tiba di kantor polisi Laura sampai menahan nafasnya sangking tegang luar biasa pikirannya.
Namun, saat memasuki pintu. Sambutan hangat dari semua petugas. Disana sudah ada pengacara keluarga mereka dan Om Leon.
__ADS_1
Laura bahkan tidak ditanya apapun, dia diajak ke salah satu ruangan. Begitu juga Athan. Disana ada Papanya dan Om Leon. Sekarang, sedang jam istirahat.
Rupanya salah satu petinggi adalah sahabat om Leon. Petinggi itu justru mengajak makan siang. Mereka tertawa bertiga sambil mengenang masa muda.
"Nona jangan khawatir, pihak pelapor sudah menarik kembali laporannya," bisik kepala pengawal.
"Benarkah, Paman? Alhamdulillah. Jadi saya bebas kan?" tanya Laura meyakinkan diri.
"Iya, nona. Semua sudah dibawah kendali kita," jelas kepala pengawal itu.
"Apa kita sudah melapor balik, Paman?" tanya Athan.
"Sudah, Athan. Pengacara kita sudah mengurus semuanya. Mereka salah pilih lawan kali ini," tutur kepala pengawal.
Laura hanya diam, dia tak mengerti hukum sama sekali. Dia akan menyerahkan semuanya ke Papanya Laura merasa sangat bersyukur.
Andai saat ini dia belum bertemu keluarganya, mungkin saat ini dia akan berada dibalik jeruji besi. Terpisah dari Dayyan. Entah siapa yang akan mengasuh Dayyan. Atau, bahkan dia harus membawa Dayyan di dalam penjara. Tidak, dia tidak mau!
Tak lama, seorang petugas mengetuk pintu. Dia mengatakan ada Papa Angel dan Angel yang datang ingin bertemu.
"Bagaimana, apa kalian mau bertemu mereka? Ini jam istirahat saya, bebas," ujar petinggi itu.
"Biarkan mereka masuk, Birru. Kita lihat apa mau mereka," usul Om Leon.
"Baiklah, suruh saja mereka masuk," putus papa Birru akhirnya.
Angel terlihat terkejut. Padahal belum lama mereka tak bertemu. Tapi, Laura sungguh berbeda, Laura seperti bertransformasi dari upik abu jadi putri Cinderella.
Angel memperhatikan Laura dari atas sampai bawah. Aura gadis panti asuhan itu berubah di mata Angel. Tak ada lagi kacamata buram dan jelek. Tak ada lagi baju lusuh dan sepatu harga cuma puluhan ribu.
Laura yang dia lihat sekarang aadalah Laura yang lain. Seperti putri konglomerat sesungguhnya. Tampilan elegan, kharismatik dan cantik. Angel akui itu dalam hati.
Athan menatap tajam Angel yang memperhatikan adiknya. Dia sungguh tak suka melihat cara Angel yang seperti menilai adiknya.
Merasa ditatap Athan dengan tatapan penuh intimidasi, membuat Angel mengalihkan pandangannya. Dia tak berani melawan orang yang lebih kuasa dari papanya.
Demi berlian, tas branded, baju branded dan jalan-jalan ke luar negeri. Angel hari ini akan melakukan hal yang tak dia suka. Bersimpuh dan mohon maaf.
"Maafin gue, Ra. Gue nggak sengaja. Gue khilaf, maafin gue ya," ucap Angel memohon. Dia langsung bersimpuh di lantai didepan kaki Laura.
Laura sungguh terkejut. Mimpi apa dia semalam? Angel yang sombong dan angkuh bersimpuh di kakinya. Sampai Laura pun menggeser duduknya lebih dekat ke kakaknya, sangking terkejutnya Laura.
Sementara papa Angel juga melakukan hal yang sama. Dia bersimpuh didepan papa Birru.
__ADS_1
"Saya minta maaf Pak Birru, Kami benar-benar tak tahu kalo Laura anak bapak. Andai kami tahu tentu kami tak berani melapor," tutur papa Angel memohon.
"Jadi, kalo bukan anak Albirru, hanya orang biasa. Bebas ya dilaporkan?" sindir Om Leon.
"Saya salah. Maafkan saya, Pak. Tolong jangan tarik modal dari perusahaan kami, Pak. Saya mohon," pinta papa Angel lagi.
"Kamu menggunakan kekuasaan untuk memenjarakan putri saya. Maka, saya akan melakukan hal yang sama. Supaya kamu tahu, tidak selamanya orang diam itu bisa kamu tindas. Putri kamu sudah kelewatan, dia salah satu yang sering merundung putri saya. Bahkan putri kamu yang mengurung putri saya. Bersyukur, atas kuasa Allah, teman putri saya menemukannya," jelas Papa Birru.
"Tolong kasihani kami, Pak. Saya berjanji saya akan menghukum putri saya di rumah. Dia juga sudah terkurung di gudang sekolah tiga hari sampai masuk rumah sakit. Tolong, pertimbangkan itu. Jangan laporkan putri saya, dan mari kembali bekerjasama perusahaan kita," mohon papa Angel dengan penuh harap.
"Saya tipe pengusaha yang tidak plin plan. Jika saya sudah memutuskan sesuatu, itu artinya saya tidak akan menarik kembali laporan saya. Semua sudah saya pertimbangkan masak-masak!" putus papa Birru yang tak mau mengubah keputusan.
"Pak, tolong Pak. Tolong maafkan kami dan kasihanilah kami," mohon papa Angel lagi.
Angel yang melihat papanya tak berhasil membujuk papanya Laura, jadi risau luar biasa.
"Laura, please bantu gue. Kita berteman habis ini ya. Please, bujuk bokap lu biar mau menarik laporannya dan kembali kerjasama bareng Papa gue," mohon Angel.
Laura menggeleng dia hanya akan ikut keputusan papanya.
"Gue nggak bisa memutuskan apapun. Semua keputusan di Papa gue. Kalo papa gue sudah memutuskan, gue ikut aja," ucap Laura.
"Selamat ya, bentar lagi pake baju orange," cibir Athan.
Angel menggeleng dan menangis. Dia takut luar biasa. Dia tak mau di penjara.
"Papa, tolong Angel," raung Angel.
"Pak, tolong anak saya. Minimal kasihanilah kami. Tolong tarik kembali laporannya, Pak. Kami benar-benar mohon maaf," pinta Papa Angel memohon.
"Untuk memaafkan tentu kami memaafkan. Allah maha pengampun, siapa lah kami hanya manusia biasa. Tapi, hukum tetap harus berjalan. Kalian yang memulai bukan kami!" putus Papa Birru.
Angel makin meraung-raung. Dia menjerit. Dia tak mau di penjara. Pikirannya jadi kacau. Ketakutan luar biasa dan bayangan masa depan yang suram.
Athan mengajak adiknya menyingkir. Bahkan meja dan kursi di pinggirkan ke dinding. Angel dibiarkan mengamuk. Papa Angel berusaha menenangkan anaknya.
Tapi, Angel tetap menjerit.
Hingga dua orang polisi masuk dan mengamankan Angel. Sementara Papanya mengikuti langkah kedua polisi yang membawa Angel keluar dari ruangan.
***
Adrian masih belum menemukan Laura, Sudah beberapa kantor polisi yang dia datangi, tapi tak ada Laura.
__ADS_1
Dia sudah berkeliling beberapa jam. Bahkan motor tadi sudah harus isi bensin lagi. Sangking jauhnya mereka berputar dengan motor.
Tubuh Adrian semakin melemah. Matanya mulai berkunang. Dia bersyukur, tidak nekat pergi sendiri. Ada asisten rumahnya yang ikut.