
Sungguh Allah memang penjamin rezeki setiap mahluk yang bernyawa. Allah sudah menjanjikan
hal itu dalam surat At-talaq ayat 3.
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ٣
3. dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
jadi gak perlu risau dengan rezeki. Bahkan ulat di pohon kayu tua, Allah jamin rezekinya.
Setelah beberapa puluh menit, Laura akhirnya sampai di sekolah. Belum terlalu ramai. Melewati parkiran, motor Tiara belum ada. Ah, sahabatnya ternyata belum sampai sekolah.
Laura segera melangkah menuju kelasnya. Hanya ada beberapa murid yang sedang duduk santai di kelas. Tak ada yang peduli padanya.
Baju sekolah ukuran besar, rok panjang dengan warna abu lusuh, hijab lebar panjang, kacamata tebal, sungguh memang tak bisa disandingkan dengan penampilan teman-temannya.
Laura duduk di kursinya. Meletakkan tas di laci meja belajarnya. Lalu mulai membuka bungkus roti dan memakannya. Tak lupa membaca doa makan.
"Enak banget nih, pagi-pagi makan roti," tegur Ikhwan. Teman yang pernah menolongnya bersama Tiara.
Ikhwan memang sudah lama menyukai Tiara, karena itu dia tidak pernah ikut merundung Laura Bahkan sering ikut menolong Laura, meski Tiara terlihat tak membalas perasaannya.
"Iya, belum sempat sarapan tadi, Wan," sahut Laura mengangguk dan tersenyum.
"Oh, gitu. Kalo lu masih lapar ke kantin aja. Entar gue traktir," tawar Ikhwan yang melihat Laura sangat lahap makan.
"Makasih, Wan. Nggak usah, ini dua roti cukup. Soalnya besar banget rotinya," tolak Laura.
"Iya, deh. Tiara tumben ya belum datang? Padahal hari ini kita ulangan harian," cetus Ikhwan yang matanya mengedar ke seluruh sudut ruangan kelas.
"Tuh, Tiara. Panjang umur baru aja di omongin," tunjuk Laura ke pintu. Tiara baru saja datang.
Ikhwan segera menoleh. Dia tersenyum manis pada Tiara, meski senyumnya tak dibalas oleh Tiara.
Di belakang Tiara, ternyata Adrian juga baru tiba di kelas. Adrian melengos tak suka melihat Ikhwan yang duduk di bangku sebelah Laura. Padahal bangku yang di duduki Ikhwan berjarak antar meja.
__ADS_1
"Assalamualaikum, bestie," sapa Tiara pada Laura Dia mendekatkan pipinya ke pipi Laura. Merangkul sahabatnya.
"Wa'alaikumsalam, bestie gue," sahut Laura tersenyum.
"Gue nggak disapa nih?" sindir Ikhwan terkekeh.
"Oh iya, pagi Awan. Hari ini menurut prediksi awannya bakal cerah atau hujan?" canda Tiara.
"Ikhwan, bukan Awan. Potong kambing lu ganti nama gue," sahut Ikhwan pura-pura ngambek.
"Iya, deh. Ikhwan berawan-awan," canda Tiara yang duduk di depan Laura
Ikhwan hanya terkekeh. Sementara Adrian memperhatikan dari tempat duduknya yang berada di pojok dekat dinding ujung. Adrian memperhatikan Laura yang masih bisa tersenyum padahal dia sedang dalam masalah.
Sementara dirinya, bahkan tersenyum pun sulit. Hati dan pikirannya dipenuhi rasa takut dan cemas. Kok bisa Laura tersenyum? Atau jangan-jangan dia tidak hamil? Hanya membohongi dirinya agar mau bertanggung jawab? Bagaimana kalau dokter di klinik waktu itu salah mendiagnosa?
Adrian mendengus kesal. Merutuki kebodohan dirinya. Mungkin saja dia di bohongi Laura selama ini. Ah, Adrian jadi merasa manusia bodoh karena percaya begitu saja pada Laura
"laura elu jadi berhenti dari toko bunga?" celetuk Tiara sambil membolak balikkan buku pelajaran yang malas dia pelajari. Toh, bel masuk sekolah masih dua puluh menit lagi.
"InsyaaAllah jadi, Ra. Balik sekolah ini gue mau ke toko bunga dulu. Mau ngomong sama ibu Laksmi ," sahut Laura
"Alhamdulillah, udah dapat. Kemarin gue ke rumah mama Soni. Alhamdulillah bisa mengajar privat untuk anaknya. Beberapa teman Soni juga akan ikut belajar," terang Laura sambil membuka buku pelajaran kimia.
"Loh, elu ke sana nggak kasihtau gue. Kalo gue tahu bisa gue antar, bestie!" seru Tiara mencebikkan bibirnya. Dia terlambat tahu informasi tentang sahabatnya.
"Sorry, Ra. Pertama gue nggak ada kuota, kedua gue tinggal jalan sampe deh ke rumah Soni," jelas Laura
"Hah, gimana? Kok jalan nyampe?" tanya Tiara mengernyitkan dahinya.
"Gue nggak bisa cerita di sini. Soalnya berhubungan dengan Dodit," bisik Laura.
Tiara menganggukkan kepala mengerti. "Oke, entar pulang sekolah cerita ya," pinta Tiara.
"Iya, entar gue cerita," Laura mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Kalian ngomong apa sih? Kok nggak ajak gue?" ucap Ikhwan melihat Tiara dan Shabila bergantian.
"Ngomongin rumus kimia, elu ngerti nggak?" ceplos Tiara asal.
"Enggak! Kalo rumus cinta gue ngerti," kelakar Ikhwan.
"Huh!" sungut Tiara yang langsung kembali ke bangkunya. Bel masuk kelas telah berbunyi.
"Pindah lu ke tempat duduk gue!" Angel yang baru datang langsung berdiri di hadapan Laura.
Laura mendongak melihat Angel yang berwajah ketus. Mengernyit heran, mengapa Angel tiba-tiba meminta dia pindah ke depan.
"Nggak usah sok imut lu! Pindah sana, duduk di depan, cepetan! Mau ulangan nih!" usir Angel pada Laura
Laura hanya menghembuskan nafas. Daripada bertengkar, lebih baik dia pindah saja. Apalagi, suara sepatu guru sudah terdengar di koridor kelas.
Laura segera berdiri, mengemas buku dan tasnya. Segera melangkah ke depan. Duduk di bangku Angel yang tepat berada di hadapan meja guru.
Adrian hanya memperhatikan. Dia masih kesal dengan Laura. Menganggap rasa bersalah dan ketakutannya selama ini sia-sia, Laura pasti sudah berbohong soal kehamilan dirinya.
Sementara Angel, bernafas lega. Dia sengaja pindah duduk di belakang. Dia tidak belajar sama sekali. Angel tidak siap ulangan. Sehabis subuh tadi, jalan ninja sudah ditentukan. Memilih duduk di belakang adalah tempat strategis untuk menyontek.
Tak lama guru masuk. Ketua kelas memimpin memberi salam. Setelah selesai, semua murid kembali duduk "Anak-anak, kumpulkan semua buku kimia dan ponsel kalian ke depan!" perintah ibu guru saat masuk ke ruang kelas.
Semua murid dengan patuh meletakkan barang mereka ke depan kelas. Ada yang berwajah santai bagi yang belajar, ada yang berwajah penuh beban karena tidak belajar.
"Kertas ulangan ibu bagikan! Jangan ada yang menyontek. Nilai kalian langsung ibu buat nol kalo menyontek!" ancam ibu guru yang terlihat galak.
"Iya, Bu," sahut murid-murid.
Ibu guru membagikan ,kertas ujian dari murid yang duduk paling depan. Lalu murid paling depan membagikan ke murid di belakangnya. Begitu seterusnya.
Angel tersenyum saat kertas ulangan sudah dibagikan. Rumus kimia sudah ada di tangan dan diselipkan di kaos kaki. Bahkan teori kimia sudah ditulis kecil-kecil dan dilipat dibalik ikat pinggang.
Ujian pertama hari ini kimia. Ulangan harian yang membuat banyak siswa ketar ketir. Hanya sepuluh soal, tapi banyak yang meringis, merasa tak sanggup mengerjakannya.
__ADS_1
Laura melafazkan doa, agar Allah memberikan pertolongan padanya. Bisa mengisi ulangan dengan benar.
bersambung......