TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
sambungan ke 2


__ADS_3

Adrian memperhatikan Laura melihat Laura berdoa, Adrian mengikuti berdoa juga. Mereka kemudian makan dengan lahap.


"Elu mau nambah nggak?" tanya Adrian saat melihat Laura hampir menghabiskan satu porsi sate dengan lontong yang banyak.


"Alhamdulillah, enak banget. Gue minta bungkus aja ya, satu bungkus. Untuk makan malam gue," ujar Laura.


"Boleh. Di sini nggak nambah?" tanya Adrian.


"Enggak, deh. Entar gue gemuk. Gue nggak mau makan terlalu banyak. Kecuali pengen banget seperti sekarang," jelas Laura.


"Kenapa? Perasaan gue elu udah kurus banget, Ra. Nggak kelihatan kayak orang hamil, apalagi baju elu lebar gini," ucap Adrian bingung.


"Karena gue mau sekolah, gue nggak mau bayinya terlalu besar. Gue takut ketahuan," jujur Laura.


Adrian terdiam, Laura membuatnya merasa bersalah.


"Kalo elu berhenti sekolah dan fokus urus bayi lu gimana? Daripada nanti ketahuan semua orang di sekolah. Entar elu malu?" tanya Adrian hati-hati.


"Gue butuh ijazah untuk melanjutkan kerja, Rian. Udah ya, gue balik ke mobil elu," ucap Laura berdiri dan langsung pergi.


Adrian mengangguk dan segera menghampiri penjual sate. Meminta dibungkus satu.


Tak menunggu lama, Adrian akhirnya kembali ke mobil.


"Nih, sate lu," Adrian memberikan sate ke tangan Laura. Lalu Adrian mulai menyalakan mobilnya.


"Makasih. Gue mau pulang," sahut Laura.


"Kita ke dokter dulu ya. Kita cek kandungan elu," ucap Adrian.


"Hah, untuk apa? Gue males cek kandungan. Kadang dilihat orang. Gue malu," jujur Laura.


"Malu? Kenapa mesti malu?" Adrian bingung.


"Orang-orang tuh lihat gue muda gitu kan, kok bisa sudah hamil. Mungkin gue yang terlalu baper, gue merasa mereka seperti ngomong ke gue, elu hamil di luar nikah ya?" ucap Laura dengan wajah sendu.


"Gue salah banget ya sama lu! Seharusnya gue nggak ikut taruhan dulu kalo bakal begini jadinya!" sesal Adrian.


"Iya, lu nggak pake mikir panjang. Elu nggak dewasa banget, Rian. Kurang apa sih hidup lu? Duit lu sudah banyak, nggak mungkin lu nggak bisa beli barang yang lu mau!" gerutuk Laura.


"Iya, gue akui gue salah. Gue cuma pengen kelihatan keren, kelihatan hebat bisa menaklukkan lu ," lirih Adrian.


"Oh begitu! Iya sih keren banget lu! Gue akui lu lebih dari keren. Nih buktinya di perut gue sekarang ada kehidupan," cecar Laura yang hatinya terasa sakit mendengar kejujuran Adrian.


"Itu di luar kemauan gue, Laura. Serius, gue cuma niat pacaran sama lu selama empat puluh hari. Sesuai kesepakatan kami bertiga, setelah itu gue bakal mutusin lu. Gue nggak tahu Dedi melakukan hal itu. Dia memasukkan obat ke botol minum yang gue minum," papar Adrian.


"Cukup! Gue nggak mau dengar lagi penjelasan lu. Gue berasa sampah banget tahu nggak! Seperti gue tuh nggak ada harganya di mata kalian. Apa seperti ini cara kalian menghargai sesama manusia? Atau karena gue yatim piatu?" lirih Laura yang matanya mulai berkaca.


Sungguh sakit saat mendengar kebenaran dari seseorang yang dicintai di masa lalu. Meski sekarang rasa benci lebih dominan menguasai hati Laura.


"Elu banyak mengubah gue, Gue jadi banyak merenung soal kehidupan. Mungkin apa yang terjadi dengan keluarga gue, itu karena Allah sedang menegur gue," papar Adrian yang tetap fokus menyetir.


"Gue nggak lihat perubahan dari lu! Elu tetap nggak dewasa seperti dulu," cibir Laura.


"Gue bakal sekolah mulai besok. Gue janji!" lanjut Adrian.


"Terserah lu, sih. Hidup lu, elu yang nentuin. Mungkin karena elu merasa orang tua lu kaya dan punya kuasa, lu jadi tak terlalu menganggap sekolah itu penting," ucap Laura.

__ADS_1


Adrian hanya diam dan sibuk menyetir.


"Sementara gue, cuma sekolah dan lulus dengan nilai baik yang gue harapkan. Setidaknya gue bisa memperbaiki kehidupan gue di masa depan kalo gue udah dapat ijazah sekolah," jelas Laura


"Ra,gimana kalo gue siapin rumah dan pengasuh bayi. Biar elu bisa tinggal di rumah itu, terus bisa lanjut kuliah. Elu kan pintar, sayang kalo nggak lanjut kuliah," usul Adrian.


"Masalahnya gue benci dengan elu. Gue benci bantuan lu, seperti gue perempuan simpanan aja!" tolak Laura yang tersinggung.


"Jangan tersinggung. Gue cuma nggak mau lu capek. Apalagi elu pasti bisa sukses di masa depan dengan kecerdasan lu itu," jelas Adrian.


"Gue udah hancur semenjak hari di mana lu merebut hal yang paling berharga dari hidup gue. Jangan hina gue lagi dengan pemberian elu. Gue tahu lu kaya, tapi harga diri gue nggak bisa lu beli!" ucap Laura setetes air mata jatuh ke pipinya.


"Gue cuma mau nolong elu. Bentuk tanggung jawab gue seperti ini, Ra!" tekan Adrian yang menghentikan mobilnya di jalan.


"Apa! Tanggung jawab? Kalo elu mau tanggung jawab, kita nikah!" tegas Laura


"Gue nggak bisa. Elu lihat keluarga gue berantakan, gue harus mengurusi masalah ini dulu. Setelah itu baru gue mikirin masalah kita," tolak Adrian.


"Kenapa? Elu bilang mau tanggung jawab kan?" tuntut Laura yang menahan laju air matanya.


"Gue nggak bisa ambil keputusan sekarang! Gue masih muda, masa depan gue masih panjang! Tolong ngertiin gue, Ra. " jawab Adrian yang merasa tertekan.


"Gue harus ngertiin lu? Terus elu kapan ngertiin posisi gue, hah?" lirih Laura dengan suara bergetar.


"Maafin gue. Elu boleh membenci gue seumur hidup lu," tutur Adrian lemah.


"Oh, pasti! Gue bakal membenci lu seumur hidup gue, di setiap ruas tulang gue dan di setiap detak jantung gue cuma kebencian yang ada buat lu!" erang Laura


"Kita selalu berdebat hal nggak penting setiap bertemu, kita nggak cocok, Ra! Gue suka sama karakter elu yang dulu. Selalu nurut sama gue !" papar Adrian.


"Sayangnya gue bukan yang dulu! Gue nggak bakal mau jadi gadis bego kayak dulu lagi. Karena kebodohan gue, akhirnya gue jadi seperti ini!" sesal Laura.


Adrian akhirnya hanya diam. Dia kembali melajukan mobilnya.


"Ayo, turun," ajak Adrian saat tiba di sebuah mall.


"Ngapain?" tanya Laura.


bingung.


"Elu butuh baju yang lebih besar lagi nanti. Makin bulan kehamilan lu bakal makin besar," papar Adrian.


"Gue bakal nabung, dan beli sendiri baju," tolak Laura.


"Gue juga mau beli baju. Gue minggat dari rumah, nggak bawa apa pun," ucap Adrian memberi alasan.


Laura tak bergeming. Dia tetap tak mau turun.


"Gue mau pulang!" tegas Laura


"Please, temanin gue hari ini. Habis dari mall kita ke dokter kandungan ya," pinta Adrian.


"Elu banyak maunya. Gue tuh benci sama lu, pake acara minta ditemenin lagi lu!" rutuk Laura.


Adrian tak mau mendengarkan, dia segera turun dan membuka pintu mobil untuk Laura Mau tak mau Laura turun dan berdecak kesal.


"Sebentar aja ya," ucap Adrian tak mau ditolak.

__ADS_1


Mau tak mau Laura ikut melangkah masuk ke dalam mall. Dia tidak mungkin berdebat di parkiran, sementara banyak orang yang berlalu lalang.


Laura hanya mengikuti langkah kaki Adrian. Ternyata Adrian mengajak Laura ke sebuah toko pakaian muslim.


"Elu pilih aja pakaian yang elu suka," ucap Adrian saat mereka sudah berada di deretan pakaian.


"Tapi, gue beneran nggak mau!" rutuk Laura dengan suara kecil. Dia sudah benar-benar badmood.


"Gue juga bakal beli pakaian, kok! Atau elu mau gue pilihkan aja?" tanya Adrian.


"Serah lu! Gue mau duduk, capek!" ucap Laura yang langsung berjalan dan duduk di sebuah sofa.


Kehamilannya membuat Laura sangat mudah capek, mudah bad mood dan mudah lapar. Walau untuk makan, Laura berusaha mengontrol agar tak banyak makan.


Adrian akhirnya memilih sendiri pakaian untuk Laura Memilih pakaian yang longgar bahkan memilih pakaian sekolah baru yang lebih lebar untuk Laura. Adrian hanya memilih satu setel pakaian untuk dirinya.


"Ayo, gue udah selesai! Kita ke kasir!" ajak Adrian.


"Banyak banget lu beli baju," ucap Laura terkejut Adrian belik baju banyak banget.


"Iya, untuk lu. Nggak apa-apa ya, sekali-kali doang, kok," Adrian tersenyum.


Laura hanya mengangguk. Malas berdebat. Dia mengikuti langkah kaki Adrian ke kasir.


"Mbak, ini semuanya. Tolong hitung ya," ucap Adrian meletakkan semua pakaian di atas meja kasir.


"Oke, Mas. Tunggu ya," sahut kasir yang segera bekerja.


Adrian hanya mengangguk dan menunggu. Sesekali dia melirik Laura yang meluruskan kaki duduk di sofa, Laura terlihat memijat kakinya yang letih.


"Apa secapek itu ya, kalo lagi hamil?" tanya Adrian dalam hati.


"Mas, total belanjaan lima juta lima ratus ribu rupiah," ucap kasir.


"Oh, oke. Ini mbak, kartu saya," sahut Adrian menyerahkan kartunya.


Kasir segera menggesekkan kartu di mesin, namun tak juga bisa.


"Mas, maaf. Ada kartu lain? Yang ini nggak bisa dipakai?" tanya kasir.


"Masak sih mbak? Coba yang ini ?" cetus Adrian heran. Adrian segera mengeluarkan kartu dari dompetnya satu lagi.


"Iya, nggak bisa yang tadi. Saya coba yang ini ya," ucap kasir tetap ramah.


"Iya, coba aja. Tadi pagi masih bisa," sahut Adrian.


"Maaf, Mas. Kartu ini juga nggak bisa," terang kasir.


"Kok nggak bisa? Kenapa ya?"Adrian mengernyitkan kening.


"Mungkin dananya dibekukan. Ini kartu ATM punya mas sendiri?" tanya kasir hati-hati.


"Ini punya orang tua saya, Mbak." jawab Adrian.


"Oh, begitu. Kalo begitu, Mas bisa telepon dulu orang tuanya. Silahkan Mas, antrian masih ada belakang," usul kasir.


"Iya, tunggu ya," ucap Adrian menyingkir dari antrian di kasir. Dia segera ke sudut toko. Menimang keputusan, siapa yang harus dia telepon.

__ADS_1


Sementara Laura masih menunggu dan bertanya-tanya mengapa Adrian berada di sudut dinding.


__ADS_2