TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

Sebagian wajah mereka terlihat penuh beban jika harus menghadapi ujian.


Akhirnya, semua murid menyelesaikan tugas dari guruny hingga bel istirahat berbunyi.


Adrian tampak bergegas keluar dari kelas dengan cepat. Dia tak betah berada di kelas. Hatinya masih bergemuruh marah pada Laura.


"Rian, tunggu!" seru Angel yang berlari menyusul Adrian.


Angel segera menarik tangan Adrian saat sampai di koridor kelas.


"Apaan sih, Angel! Gue mau ke kantin nyusul Dedi dan Revan!" rutuk Adrian tak suka.


"Tunggu dulu. Ikut gue ke taman sekolah," ajak Angel dengan paksa. Angel menarik tangan Adrian agar mengikutinya. Sementara Adrian setengah hati mengikuti langkah Angel.


"Mau lu apa? Kita udah sampai nih di taman!" hardik Adrian.


"Jangan marah, dong. Gue cuma mau elu tahu, gue masih sayang sama elu sama seperti dulu. Elu mau kan balik lagi sama gue?" ucap Angel penuh harap.


"Hah, jadi elu ngajak gue ke sini cuma ngomongin hal nggak penting," rutuk Adrian tak suka.


"Ini penting bagi gue, Adrian. Gue sudah ungkapin semua keburukan si Cupu sama elu. Seharusnya elu bisa pertimbangkan dong, buat balikan sama gue," cecar Angel resah.


"Apa hubungannya dengan si Cupu. Gue males pacaran. Gue juga nggak suka sama lu. Udah elu cari cowok lain aja, gue laper. Mau ke kantin!" putus Adrian.


"Oh, pasti si Cupu mengelak semua omongan gue kan. Padahal foto dan video bukti sudah terpampang nyata. Elu lebih milih si Cupu dari gue, Rian!" marah Angel. Wajah Angel sudah merah padam.


"Serah lu. Terserah apa yang elu pikirin. Gue nggak peduli! Jangan ganggu gue lagi. Minggir lu," hardik Adrian yang melangkah pergi ke kantin sekolah.


Sementara Angel ditinggal sendirian di taman sekolah.


"Awas lu Cupu! Gue bakal bikin perhitungan sama lu hari ini. Akting lu pura-pura kecelakaan bakal selesai hari ini!" tekad Angel yang sudah sangat marah.


***


Athan mencuri dengar suara Mamanya ditelepon kemarin saat Mamanya menelpon Tante Chacha.


Mamanya akan pulang ke Indonesia dan tiba hari ini, karena perasaannya yang tak nyaman. Mamanya merasakan Laura ada di Indonesia padahal belum ada yang berani memberikan perkembangan informasi terkini. Karena takut hasilnya nihil dan hanya akan mengecewakan sang Mama.


Athan kembali kabur hari ini dari rumah Om Leon, dia ingin mencari Laura, Athan berharap dia bisa bertemu Laura sebelum Mamanya tiba di Indonesia beberapa jam lagi.


Apalagi Athan sudah berhasil menelepon supir angkot yang waktu itu. Setelah cukup lama, akhirnya sang supir angkot mengingatnya.


Menurut sang supir, Laura turun disebuah lorong besar bernama lorong Bahagia.


Athan siang ini sudah sampai di sebuah lorong seperti petunjuk supir angkot. Dia menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Lorong tampak sepi. Mungkin karena banyak orang bekerja dan tak di rumah.


"Permisi Pak, saya mau tanya. Pernah lihat gadis di lukisan ini?" tanya Athan pada seorang bapak pejalan kaki.


"Oh, nggak pernah. Saya hanya mengunjungi saudara disini. Coba tanya ke warung, Dik," usul si bapak.


"Oh iya, terima kasih, Pak," sahut Athan.


Athan kemudian menyusuri jalan, mencari warung sekitar.


"Permisi, Bu. Mau numpang tanya. Ibu pernah lihat gadis seperti di lukisan ini?" tanya Athan pada seorang pemilik warung kecil.

__ADS_1


Sang ibu tampak diam dan memperhatikan layar hape Athan, foto sebuah lukisan seorang gadis.


"Rasanya nggak asing ya. Tapi, siapa? Coba deh masuk lagi ke dalam lorong. Ada toko besar. Nah tanya disana. Kalo disana banyak orang belanja, dek," ucap ibu warung memberi petunjuk.


"Makasih ya, Bu," cetus Athan. Mendengar kata foto Laura tidak asing saja, sudah membuat letupan rasa bahagia di hati Athan


Di setiap langkah kakinya, penuh doa dan pengharapan agar bisa bertemu Laura hari ini. Sebelum sang Mama sampai di Indonesia.


Hingga Athan sampai disebuah toko besar yang menjual berbagai kebutuhan pokok.


"Maaf Tante, boleh saya numpang bertanya?" tanya Athan pada pemilik toko yang masih terlihat muda.


"Oh iya, mau tanya apa dik?" jawab pemilik toko ramah.


"Hmm, pernah lihat gadis seperti di lukisan ini?" tanya Athan menunjukkan sebuah foto lukisan di hapenya.


"Oh, ini yang kost di rumah itu," tunjuk sang pemilik toko pada sebuah rumah kost besar tepat berada diseberang toko.


"Jadi, benar. Gadis ini tinggal di situ, Tante?" tanya Athan meyakinkan diri.


"Iya, Laura kan namanya?" ucap pemilik toko.


"Iya, bener, Tante. Makasih ya, Tante," tutur Athan penuh haru. Hatinya sungguh bahagia. Seperti ada kembang api yang tak henti henti meletup dihatinya merayakan kebahagiaan.


"Sama-sama," sahut pemilik toko tersenyum melihat Athan begitu gembira.


Athan berlari cepat ke seberang toko. Memencet bel pagar berulang kali. Tak sabar bertemu Laura Hari ini dia akan membawa pulang saudara kembarnya.


Hingga mbok Darti yang menjaga kost muncul tergopoh-gopoh. Berusaha berjalan cepat ke arah pagar depan.


"Cari siapa, Den?" tanya mbok Darti yang enggan membuka pagar sesuai instruksi Mamanya Tiara. Jangan membuka pagar kecuali keluarga anak kost.


"Oh, neng Laura. Jam segini masih di sekolah. Aden siapanya neng Laura?" sahut mbok Darti.


"Saya saudaranya, Mbok. Boleh tahu dimana sekolahnya?" tanya Athan penuh harap.


"Oh, bukannya neng Bila anak panti ya. Ini saudara darimana?" tanya mbok Darti menyelidik.


"Iya, betul Mbok. Saya saudaranya yang hilang. Tolong Mbok, beritahu saya dimana sekolahnya?" tanya Athan penuh harap. Matanya sudah berkaca-kaca memohon dengan sangat.


Melihat wajah Athan yang memelas, membuat mbok Darti kasihan. "Di SMA Internasional School" jawab mbok Darti akhirnya.


"Terima kasih banyak, Mbok," tutur Athan cepat. Dia segera berlari menuju mobilnya.


"Tapi, sebentar lagi sekolah usai, Den," seru mbok Darti. Tapi, Athan tak mendengar lagi.


Athan segera mengecek maps di hapenya. Mencari rute sekolah SMA internasional. Setelah dapat, dia segera meluncur pergi dengan mobilnya.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Angel sudah bersiap dengan rencananya. Tadi jam istirahat, dia memberi uang pada Nurul. Meminta Nurul mengajak Tiara pergi ke perpustakaan.


Nurul tak lagi bertanya apalagi curiga. Dia tak berpikir kenapa Angel memintanya mengajak Tiara. Melihat beberapa lembar uang merah di genggaman tangan. Lumayan!


"Tiara, kita diminta guru membantu membersihkan perpustakaan dan menyusun buku," ucap Nurul menghampiri Tiara saat semua teman lainnya sudah berhamburan keluar dari kelas.

__ADS_1


"Hah, yang bener aja. Udah jam pulang gini," rutuk Tiara kesal.


"Ya, gitu deh!" Nurul menggedikkan bahunya.


Tadi istirahat dia sudah bicara dengan pengurus perpustakaan. Menawarkan dirinya untuk membersihkan perpustakaan dan membantu menyusun buku-buku baru yang baru datang. Tentu saja, pengurus perpustakaan sangat senang.


"Gimana nih, Laura?" tanya Tiara bingung.


"Ya, udah. Elu ke perpustakaan dulu, deh. Lagian kita kan nunggu sepi baru bisa pulang," jawab Laura berbisik.


"Ya, udah. Tunggu disini bentar ya," putus Tiara akhirnya.


Tiara ikut melangkah bersama Nurul keluar dari kelas. Tinggal Laura sendirian di kelas.


Laura membuka kancing bajunya dari balik hijab. Mengoles perutnya dengan minyak kayu putih. Semenjak pertengkarannya dengan Adrian tadi pagi, perut Laura terasa nyeri dan kencang.


Rasa tegang, rasa cemas, rasa sedih, tertekan batin dan sakit hati berkombinasi jadi satu. Hingga berdampak pada janinnya. Mungkin sang janin sedih, saat tahu dirinya tidak diakui sang ayah!


Angel yang berada di koridor sekolah sedari tadi, melihat keadaan diluar sudah sepi. Dia tersenyum dengki Kembali ke kelas dengan langkah santai.


"Hohoho... lihat. Siapa yang saat ini ada di kelas! Sendirian lagi, mana pengawal lu?!" sindir Tiara.


"Kok elu belum balik, Angel?" tanya Laura dengan cemas.


"Suka-suka gue dong! Mau balik atau belum bukan urusan elu!" ketus Angel yang tiba-tiba sudah berada di balik kursi roda Laura


Angel memegang pegangan dibelakang kursi roda, lalu menjalankan cepat kursi roda keluar dari kelas.


"Angel... jangan ngebut bawa kursi roda. Gue mau turun!" jerit Laura di koridor sekolah.


Laura berusaha mengerem kursi roda, tapi selalu dihalangi Angel. Perut Laura yang nyeri semakin nyeri. Sementara kursi roda semakin meluncur di koridor sekolah.


"Rasain lu ya! Dasar perempuan murahan lu. Pura-pura kecelakaan. Biar Adrian perhatian kan sama lu!" cecar Angel marah.


"Berhenti, Angel! Biarin gue jalan aja. mau ke mana kita," jerit Laura dengan panik.


Kursi roda meluncur ke belakang sekolah yang sepi. Jauh dari bangunan utama.


Laura memegang erat tas yang ada didepan perutnya. Menahan nyeri yang semakin menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.


"Ayo, ikut gue!" teriak Angel menarik tangan Laura Kursi roda sudah berada di jalanan yang berumput tebal. Sulit dijalankan cepat.


Angel menarik paksa tangan Laura. Sementara Laura tak bisa lagi melawan, tubuhnya sudah tak punya energi, matanya sudah berkunang-kunang. Lemas tak berdaya.


Laura hanya masih sanggup menutupi perutnya dengan tas besarnya.


"Ayo, jangan akting lu! Pura-pura mau pingsan lu ya!" hardik Angel.


Angel tetap menarik laura meski laura sudah jatuh tersungkur di rerumputan. Tubuh Laura masih ditarik oleh Angel. Dia meyakini kalau Laura hanya pura-pura tidak berdaya.


Sandal Laura sampai terlepas di rerumputan. Angel menarik Laura hingga ke gudang sekolah. Membiarkan Laura tergeletak di gudang yang banyak debu, kursi tak terpakai dan matras olahraga tua.


"Tidur lu disini sampe besok pagi! Besok elu pasti ketahuan sama pihak sekolah kalo cuma pura-pura kecelakaan doang!" cibir Angel saat melihat mata Laura terpejam.


Angel segera keluar dari gudang sekolah. Mengunci gudang dan pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Sementara di perpustakaan, Tiara dan Nurul akhirnya selesai menyelesaikan tugasnya.


"Akhirnya, kelar juga. Ayolah pulang," ajak Tiara menyeka keringatnya.


__ADS_2