TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
003


__ADS_3

"Den, kemana lagi ini?" tanya asistennya saat mereka sudah keluar dari sebuah kantor polisi.


Adrian tampak duduk di pagar semen parkiran. Dia berusaha berpikir arah selanjutnya. Meski kepalanya berdenyut hebat. Nyeri dan pusing luar biasa.


"Mang, kita ke panti asuhan. Ibu panti mungkin tahu, Laura di kantor polisi mana," usul Adrian akhirnya.


"Ayo, den," sahut asisten tersebut.


Motor tua milik asisten rumah itu kembali menyala. Adrian dengan sisa-sisa tenaga kembali naik ke boncengan motor.


Adrian memberi petunjuk arah ke asistennya. Hingga akhirnya setengah jam kemudian mereka sampai di panti asuhan.


Rumah panti asuhan itu tampak sedang di renovasi. Hanya ada tukang bangunan yang sedang mengecat ulang bangunan. Bahkan plang nama panti asuhan sudah tak ada.


Berbagai mainan di halaman juga sudah hilang. Tak ada lagi ayunan bahkan permainan jungkat jungkit. Suara riang dan tawa anak panti juga tak terdengar.


"Maaf, Pak. Apa pantinya sedang renovasi ya? Kalo boleh tahu mereka pindah ke mana?" tanya Adrian pada salah satu tukang bangunan.


"Wah, setahu saya ini bukan panti lagi. Sudah dijual ke orang lain. Kalo pantinya pindah ke mana. Saya juga kurang tahu," tutur tukang bangunan itu.


"Oh, gitu ya Pak. Terima kasih kalo begitu," balas Adrian.


"Sama-sama," ucap tukang bangunan tersebut yang meneruskan pekerjaannya.


Adrian melangkah pergi dengan lemas. Ke mana lagi dia harus pergi? Dia harus tetap berpikir meski kepalanya nyeri luar biasa. Bahkan perutnya terasa dicengkeram tangan kuat yang tak kasat mata.


Membayangkan wajah mungil bayi di inkubator yang pasti menunggu Laura pulang, membuat Adrian kembali semangat. Entah energi darimana, tapi tubuhnya kembali memiliki tenaga.


"Tunggu ya, Nak. Pasti kamu haus atau lapar. Entah dengan siapa kamu sekarang, pasti ada orang baik berhati malaikat yang sedang menjagamu." batin Adrian.


"Gimana den?" tanya asisten rumah Adrian.


Adrian menggeleng. Dia kembali berpikir.


"Ditelepon aja den," usul asisten rumah tersebut.


"Telepon saya di blokir. Pakai nomor lain juga nggak bisa. Sepertinya dia ganti nomor, mang," ungkap Adrian.


"Gini aja, den. Wajah aden sudah pucat. Kita kembali ke rumah sakit aja ya. Biar saya yang cari. Nanti saya kabari aden," usul asisten rumah tersebut.


Adrian menggeleng lemah. Dia tak puas jika cuma menunggu. Dia ingin menemui Laura langsung. Dia akan membantu sebisanya bila perlu menggunakan pengacara keluarganya.


"Mang, saya ingat. Kita ke rumah Tiara," putus Adrian.

__ADS_1


"Siap, den," sahut asisten tersebut.


Mereka akhirnya kembali naik motor. Melajukan motor ke rumah Tiara.


Tak lama, akhirnya Adrian sampai di rumah Tiara. Rumah kost itu tampak sepi. Jam segini, anak kost belum pulang kuliah atau pun bekerja. Pagar hitam itu tampak terkunci.


Adrian turun dari motor. Menyeret langkah ke depan pagar. Menekan bel beberapa kali hingga seorang asisten rumah keluar.


"Eh, den Adrian. Ada apa den?" tanya mbok yang memang mengenal Adrian yang sering datang ke kost.


"Mbok, Laura ada?" tanya Adrian penuh harap.


"Oh, nggak ada," jawab mbok jujur.


"Kalo Tiara ada kan mbok?" tanya Adrian penuh harap.


"Nggak ada juga. Belum balik dari tadi, Den. Nggak tahu kemana," ungkap mbok.


Adrian menghela nafasnya yabg terasa berat. Ke mana lagi dia harus mencari?


"Jadi mbok nggak tahu dimana Tiara dan Lauraa sekarang?" tanya Adrian lagi meyakinkan diri.


"Enggak tahu, den. Coba ditelepon aja Non Tiara," usul mbok.


"Ya, Allah. Nomor gue juga diblokir Tiara." batin Adrian.


Bukan cuma Laura yang memblokirnya, tapi juga Tiara ikut-ikutan memblokir nomornya.


"Gimana den?" tanya mbok.


"Nggak tersambung, mbok. Makasih ya mbok. Saya cari tempat lain aja," putus Adrian.


"Ya sudah. Hati-hati,den. Wajahnya kok pucat banget," ucap mbok.


Adrian hanya mengangguk lemah. Namun, perutnya tiba-tiba terasa di aduk-aduk. Adrian melangkah ke selokan dengan cepat. Dia muntah.


Kepalanya semakin pusing luar biasa. Perutnya sakit seperti dicengkram kuat.


"Waduh, den. Sebaiknya istirahat dulu. Sebentar saya ambilkan minyak kayu putih," seru mbok yang masuk ke dalam rumah.


Tak lama, mbok menyerahkan minyak kayu putih pada asisten Adrian. Sang asisten dengan cekatan mengoleskan minyak kayu putih pada tubuh Adrian.


"Den, kita balik rumah sakit aja ya," usul asisten rumah itu.

__ADS_1


Adrian menggeleng. Dia tiba-tiba mengingat ada satu kantor polisi lagi yang belum dia datangi.


"Ayo, mang. Ada satu lagi kantor polisi yang saya inget. Saya sudah lebih baik. Makasih mbok minyak kayu putihnya," ucap Adrian.


Mbok hanya mengangguk dan menatap kasihan pada Adrian. Dia hanya menatap Adrian yang dengan susah payah naik ke atas motor.


Asisten Adrian segera melajukan motor, setelah pamit dengan mbok. Hingga beberapa belas menit kemudian, Adrian sampai diluar pagar kantor polisi.


Motor mereka tak bisa masuk, karena banyaknya orang-orang berpakaian hitam dan banyak mobil yang terparkir.


Adrian bisa melihat dari luar pagar, walau agak jauh karena halaman kantor polisi yang luas.


" Laura, itu pasti Laura" batin Adrian. Wajahnya berseri senang saat melihat Laura keluar dari kantor polisi.


Tapi, senyum Adrian memudar saat melihat Laura tidak sendiri. Dia bersama seorang laki-laki tampan. Laki-laki itu menggamit tangan Laura. Sementara Laura sungguh tampak tak menolak.


Adrian terpaku diluar pagar, bibirnya tiba-tiba terasa keluh.


Suaranya tercekat, pemandangan didepannya sungguh menghujam kalbu.


Laki-laki itu mengelus sayang hijab di kepala Laura. Tatapan matanya dari kejauhan terlihat seperti tatapan penuh sayang dan senyum manis pada Laura. Sementara Laura tampak menyambut riang. Tatapan Laura dan laki-laki itu bertemu.


Ah, sakitnya hati. Kenapa harus bertemu disaat seperti ini? Bisakah menawar waktu agar dia saja yang berada disamping Laura? Bukan laki-laki itu.


"Laura..." lirih Adrian saat melihat laki-laki itu dengan sopannya membuka pintu mobil untuk Laura. Lalu Laura masuk ke dalam mobil.


Adrian tersadar dari lamunannya saat mobil yang membawa Laura mulai bergerak pergi.


Dia maju ke depan, hendak ke depan gerbang yang terbuka.


"Laura... Ra... Laura....ini gue Adrian. Laura...," jerit Adrian.


Namun, langkahnya terhenti. Tubuhnya terhalangi oleh barisan laki-laki berpakaian hitam seperti bodyguard yang membentuk barisan pagar agar barisan mobil yang membawa Laura bisa keluar.


"Laura..." jerit Adrian lagi saat mobil itu melintasi gerbang. Namun, mobil itu terus melaju, suara Adrian tak terdengar.


Tangan Adrian berusaha melepaskan brigade barisan laki-laki berpakaian hitam. Namun, tubuhnya terlalu lemah.


Sementara, mobil yang membawa Laura sudah pergi menjauh.


"Laura gue datang," lirih Adrian dengan suara parau. Detik berikutnya, dunia terasa gelap. Adrian jatuh ke jalan. Hilang kesadaran.


Hanya lembayung senja menjadi saksi Adrian sore ini. Perjuangannya mencari Laura. Duhai cahaya di kala senja, bisakah kau membasuh luka?

__ADS_1


Burung camar yang berpulang ke sarang, dapatkah kau bantu sampaikan pesan? Aku masih disini, menunggu di maafkan dan di terima kembali.


__ADS_2