TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

"Apa imbalannya kalo gue mencabut laporan gue?" tanya Farida yang masih berusaha mengambil keuntungan.


"Wow, elu berani juga ya disaat terdesak seperti ini. Elu tau nggak tanpa kita kesini pun kita bisa memutar balikkan fakta. Semua bukti penipuan elu ada di kita. Mau lihat?" ucap Dedi menyunggingkan senyum dengan dengki.


Farida terkejut, tubuhnya menegang saat Dedi memperlihatkan bukti-bukti yang mereka punya termasuk video yang direkam Adrian dan Laura diam-diam. Banyak aib Farida yang ditunjukkan Dedi termasuk bukti-bukti dari hape Farida.


"Elu nggak dalam posisi negoisasi dengan kita! Posisi elu tidak aman. Kartu AS elu ada di tangan kita. Ngerti lu perempuan murahan!" tekan Dedi dengan mata penuh amarah. Rahang Dedi kembali mengeras. Melihat perempuan didepannya ini, darahnya sungguh mendidih.


"Gue minta maaf. Gue nggak bakal ganggu keluarga kalian lagi," ucap Farida dengan suara gemetar.


"Sayangnya kita nggak percaya kata-kata. Elu tandatangan di kertas ini," cetus Dedi yang menyiapkan sebuah kertas pernyataan.


Dedi sempat menyelinap di ruang kerja Papanya sebelum berangkat tadi. Dia mengetik sebuah surat pernyataan agar Fsrida tak bisa berkutik.


"Su... surat pernyataan apa?" Farida semakin gugup. Dia masih terbayang saat dipukul Dedi Remaja dihadapannya ini sungguh kejam dan tak memandang bahwa dia perempuan.


"Elu tinggal tandatangan. Disitu menyatakan kalo lu setuju untuk mencabut laporan dan tidak akan menuntut apapun. Jika tidak elu siap menerima resikonya," jelas Dedi engan wajah mengerikan.


Farida sebenarnya ingin menolak. Sudah pasti surat pernyataan itu akan sangat merugikannya. Tapi saat Farida menatap ketiga pemuda tanggung yang ada dihadapannya.


nyali Farida pun menciut


"Ayo, tandatangan!" tekan Dedi mengambil sebuah pulpen dan menyerahkan pada Farida.


Farida yang terdesak, hanya menurut. Dia menandatangani dengan gemetar sebuah kertas yang menggunakan materai. Itu artinya surat tersebut memiliki kekuatan hukum.


Dedi tak lupa memfoto saat Farida menandatangani surat pernyataan.


"Gue minta bukti yang ada di kalian sebagai imbalannya," pinta Farida dengan rasa takut.


"Oh, tentu! Elu cabut dulu laporannya. Nanti orang gue ada yang mengirimkan buktinya ke elu," sahut Dedi tersenyum dengki.


"Gimana gue bisa percaya kalian ?" tanya Fsrida kesal.


"Sekali lagi elu tidak dalam posisi bisa bernegosiasi. Paham lu!" tekan Dedi lagi.


Farida memundurkan kepalanya saat Dedi memajukan kepalanya yang terlihat sangat marah.


"Perempuan murahan kayak elu sebenarnya nggak pantes hidup. Sampah seharusnya tinggal di tempat pembuangan sampah. Gue tunggu elu pagi ini untuk menarik laporan di kepolisian. Jika tidak elu nggak akan menghirup udara 24 jam dari sekarang!" papar Dedi tetap dengan pandangan mengintimidasi.


"Selamat tidur, perempuan sampah. Semoga elu mimpi buruk!" ucap Adrian mencibirkan bibirnya. Dia sungguh jijik dengan perempuan yang ada di hadapannya ini. Percuma tubuh molek kalau kenyataannya bisa dipakai siapapun.


"Semoga elu bertobat sebelum ajal menjemput, mbak obralan," celetuk Revan yang ikut kesal.


"Ayo," ajak Dedi pada teman-temannya. Mereka bertiga segera keluar ruangan Farida.


Sementara Farida menghela nafasnya. Dia mulai menangis terisak-isak. Tak menyangka jika akan terjadi hal seperti ini. Semua impiannya hancur. Dia bahkan sudah tak punya muka. Wajahnya terpampang di setiap sosial media sebagai perempuan tak baik.


Wajahnya ditandai oleh semua istri di seluruh penjuru negeri. Habislah dia, tak bersisa. Ke mana setelah ini dia harus melangkah?


Sementara Dedi, Revan dan Adrian mereka masuk ke ruangan Niko. Mereka melakukan hal yang sama. Memegang kaki Niko dan memegang tangan Niko.


Perlawanan lebih kuat dilakukan oleh Niko. Tapi, pada akhirnya dia menyerah saat tahu, tiga sekawan punya bukti yang begitu banyak. Semua aib dirinya dan kakaknya ada di tangan tiga sekawan.


Niko akhirnya dengan terpaksa menandatangani surat pernyataan disamping tanda tangan kakaknya.


"Inget, kita tunggu kabar dari kalian berdua. Pagi ini laporan harus sudah dicabut. Atau elu akan menyesal melihat kakak lu sudah nggak ada lagi. Paham lu," ancam Dedi pada Niko.


"Iya, gue paham," sahut Niko tak berdaya.


"Bagus. Setelah ini jangan coba-coba ganggu keluarga kita ataupun keluarga orang lain lagi. Kalo nggak mau menanggung resiko. Nyawa melayang misalnya," ucap Dedi menakuti.


Niko hanya diam dan menunduk. Percuma dia melawan. Dia sendirian dan tubuhnya sedang tidak berdaya.


"Lebih baik elu tobat. Jualan cireng kek di jalan. Kan lebih halal," celetuk Revan yang menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir dengan orang-orang yang mengambil jalan pintas agar bisa hidup mewah.


"Hidup lu nggak bakal pernah tenang selama elu pake jalan nggak bener!" ujar Adrian.


"Ayo, Bro! Kita pergi aja," ajak Dedi


Mereka bertiga kemudian keluar dari ruangan. Berjalan dengan senyuman lega. Hanya tinggal menunggu pagi.

__ADS_1


"Makasih, Pak. Kita udah kelar. Ayo," ucap Dedi pada perawat yang tadi menolong mereka.


Perawat itu mengangguk lalu kembali mengajak mereka bertiga ke tempat semula.


Mereka bertiga berjalan cepat kembali ke ruangan yang tak ingin didatangi Revan.


Saat tiba di ruangan jenazah, Revan dengan gemetar memakai bajunya kembali.


Mereka bertiga meletakkan pakaian perawat diatas meja. Lalu buru-buru pamit dan melangkah cepat keluar dari rumah sakit lewat pintu belakang.


Tak ada suara dari ketiga nya Revan bahkan menahan nafas saat melewati area kuburan. Kakinya terasa lemas bagai jeli apalagi suara burung hantu kembali terdengar.


Revan akhirnya bisa bernafas lega setelah berada jauh dari area kuburan. Mereka hampir sampai di jalan besar.


"Gue nggak mau lagi ke sini. Gue beneran takut, Bro. Ini baju yang gue pakai bakal gue buang. Takut gue mana disimpan di ruangan jenazah. Padahal jaket gue belinya pas kemarin jalan-jalan keluar negeri," rutuk Revan di jalan.


"Gue juga. Baju ini mau gue buang. Kok rasanya nggak nyaman lagi di badan gue. Ohya, CCTV rumah sakit gimana, Dit?" tanya Adrian yang tiba-tiba mengingat kalau kasus mereka pun bermula dari CCTV di rumah Farida.


"Elu tenang aja, CCTV di matikan satu jam tadi. Mereka nggak punya bukti apapun saat ini," tutur Dedi


"Ya udah. Sekarang gimana?"tanya Revan.


"Ya udah kita pulang. Kita tunggu aja berita pagi ini dari pengacara kita," sahut Dedi


Mereka bertiga akhirnya berpisah, Naik ke mobil masing-masing dan pulang.


*******


Laura dan Tiara datang paling pagi ke sekolah. Mereka selalu berusaha menghindar dari keramaian. Usia kandungan Laura yang makin menua membuat Laura semakin was-was.


"Busyet, pagi terus nih kalian berdua. Gue curiga kerja di kantin sekolah kalian nih," celetuk Ikhwan terkekeh yang baru datang setelah sekolah agak ramai.


"Kita males macet ya kan, Ra?" ucap Tiara.


"Iya, males banget kalo macet. Apalagi kalo ketemu motor yang banyak asap dari knalpotnya. Bikin batuk," sahut Laura berusaha meyakinkan.


"Bener juga sih omongan lu. Ada tugas rumah nggak ya?" sahut Ikhwan.


"Ra, kok Adrian nggak sekolah lagi ya? Apa mereka bertiga bakal dikeluarkan dari sekolah karena kasus ini?" tanya Ikhwan.


"Gue nggak tahu. Kok elu nanya gue, sih!" rutuk Laura


"Iya, kali aja lu tahu. Kayaknya dia dekat sama lu," celetuk Ikhwan.


"Dih, enggak tuh!" kelit Laura


Tak lama, Adrian, Dedi dan Revan muncul. Semua murid sampai terkejut. Tiga sekawan tampak santai berjalan dari koridor sekolah sampai ke kelas.


"Busyet! Emang bener-bener badboy. Nggak ada wajah takutnya ya mereka. Kalo gue jadi mereka, udah tekanan batin deh. Mungkin nggak makan sebulan gue, boro-boro sekolah," cerocos Nurul saat melihat Adrian, Dedi dan Revan masuk kelas bahkan dengan kacamata hitamnya.


"Setuju. Gue mungkin sudah ke psikolog sangking stresnya gue menghadapi masalah. Gila Bro, satu negara ngegosip tentang mereka," celetuk Ikhwan.


"Mau gimana lagi? Mereka punya kekuasaan. Paling orang tua mereka sudah bicara dengan pihak sekolah. Coba orang biasa kayak kita udah habis deh. Dikeluarkan dari sekolah pasti itu," sahut Tiara.


Sementara Laura hanya diam di kursi belajarnya. Pura-pura membaca buku pelajaran. Sedang tasnya diletakkan disamping perutnya agar tak ada yang melihat.


"Hai, elu udah sarapan belum?" tanya Adrian tiba-tiba yang menghampiri meja Laura


Laura terkejut tak menyangka Adrian menghampirinya.


"Hmm... sudah. Elu sudah sarapan?" Laura balik bertanya.


"Udah tadi di rumah Oh ya ada PR enggak?" tanya Adrian.


"Hari ini enggak ada," sahut Laura.


Sementara teman-teman yang lain hanya saling melirik. Melihat Adrian yang terlihat ramah pada Laura.


"Entar istirahat siang mau makan apa?" tanya Adrian.


"Mau makan soto dong," celetuk Angel yang tiba-tiba muncul dibelakang Adrian. Angel bahkan masih memegang tasnya.

__ADS_1


"Angel, kapan lu dateng?" tanya Adrian terkejut.


"Kenapa? Cemas ketahuan sama gue, elu perhatian sama cewek lain. Mana si Cupu lagi yang lu perhatiin. Nggak satu level sama gue," cerocos Angel yang kesal.


"Apaan sih lu! Minggir gue mau ke meja gue," kelit Adrian yang segera berjalan ke mejanya.


Angel menyentakkan kakinya. Dia mengikuti langkah kaki Adrian.


"Cinta segitiga nih," celetuk Ikhwan mengulum senyumnya.


"Huss... didengar Angel habis lu," sungut Nurul.


Sementara Laura hanya diam. Dia tak mau ambil pusing. Bagaimanapun dia harus tetap rileks jangan sampai tegang. Terkadang perutnya terasa sakit jika Laura sedang cemas atau ketakutan.


Hingga bel masuk sekolah berbunyi. Mereka memulai pelajaran yang sudah di kasih guru.


*****


mata pelajaran pun selesai dan akhirnya mereka jam istirahat.


" Rian loe gak ke kantin? " tanya dedi yang sambil keluar bersama Revan.


" lu luan aja. " sahut Adrian.


Sementara Adrian segera menghampiri Laura yang duduk sendirian.


"Elu nggak ke kantin?" tanya Adrian.


"Elu tau jawabannya. Ngapain nanya?" jawab Laura heran.


"Maaf. Masalah gue akhir-akhir ini agak berat. Jadi, gue lupa kenapa elu nggak bisa kemana-mana. Gue juga nggak nyangka hari ini bisa ke sekolah. Tadinya mau melarikan diri. Tapi, pengacara keluarga kita meyakinkan kalo semua aman, kita bisa sekolah," papar Adrian.


"Oh, gitu. Gue nggak nyangka kasus kali ini bisa sampai viral, Rian. Gue ikut tegang lihat berita tentang kalian," ujar Laura.


"Sama, tapi kita punya bukti banyak kok buat memenjarakan dua penipu itu. Ohya, gue ke kantin dulu ya. Entar gue beliin makanan," putus Adrian.


"Eh, enggak usah gue udah nitip roti sama Tiara. Bentar lagi pasti Tiara balik sini kok," tolak Laura dengan halus.


"Nggak kenyang dong, Bila. Kalo lu cuma makan roti. Pokoknya gue beliin makanan. Tunggu ya," ucap Adrian tak mau dibantah.


Laura hanya menghela nafasnya Adrian sudah keburu pergi jauh. Sekarang, Laura hanya tinggal sendirian di kelas.


Saat sendirian seperti ini, pikiran Laura kadang berkelana kemana-mana. Dia menunduk melihat perutnya.


Tidak terlalu kelihatan asal dia menegakkan punggungnya dengan benar.


Entah bagaimana kedepannya,Laura tak tahu. Kadang cemas mendera hati dan pikirannya. Setiap berada di sekolah dia cemas takut ketahuan.


Tak lama, Adrian datang kembali membawa dua mangkuk siomay.


"Nih, buat lu. Habisin ya," ucap Adrian.


"Makasih. Elu kayaknya seneng banget?" tanya Laura heran.


"Bentar. Coba lu lihat berita di hape ini," sahut Adrian sambil menunjukkan sebuah tayangan video dari sebuah TV nasional.


Perempuan berinisial F diwawancara oleh wartawan. Perempuan bernama F dan laki-laki bernama N telah menarik kembali laporan mereka terhadap tiga anak muda.


Laura terkejut sekaligus ikut senang. "Kok bisa?" tanya Laura dengan heran.


"Bisa, dong. Tadi Dedi juga sudah menelepon pengacara dan mengkonfirmasi kebenarannya. Ternyata benar mereka menarik laporannya," ucap Adrian tersenyum.


"Alhamdulillah. Tapi, setelah ini jangan buat ulah lagi lu," kata Laura yang mulai makan.


"Enggak. Tapi, ini semua belum kelar," ungkap Adrian yang juga ikut makan di meja sebelah Laura Mereka hanya berjarak jalan antar meja.


"Maksudnya gimana?" tanya Laura bingung. Laura tetap menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Papa Dedi terseret dalam masalah ini. Beliau sampai dipanggil badan kehormatan gitu. Kabarnya Papa Dedi akan mengundurkan diri. Namanya sudah tercemar. Kita juga pengen menuntut balik dua penipu itu, tapi ya kita bakal rembukan dulu sama pengacara," ungkap Adrian sambil makan.


"Oh, gitu. Semoga masalah kalian cepat kelar deh. Gue nggak bisa bantu apa-apa. Secara masalah gue aja yang elu ciptain sudah ada," ucap Laura.

__ADS_1


Adrian menoleh ke arah Laura Dia melirik perut Laura yang tertutup tas disampingnya. Tak terlihat untuk saat ini. Tapi bagaimana bulan depan dan bulan depannya lagi.


__ADS_2