
Kedua sahabat itu akhirnya ke dapur. Tiara membuat sambal rujak sementara Laura mengupas mangga.
Di lain tempat, Adrian baru saja sampai di depan sebuah hotel. Dia sudah beberapa bulan tinggal di sini. Tapi karena kartu ATM dia dibekukan, sepertinya dia tidak bisa melanjutkan tidur di hotel ke depannya.
Dia harus pulang dan berbicara dengan kedua orang tuanya. Adrian dengan langkah lemah masuk ke kamarnya. Segera mandi, menghilangkan penat dan pikiran yang begitu berat.
"Apa yang harus gue lakuin? Masalah datang bertubi-tubi." ucap Adrian bicara sendiri.
Adrian berendam cukup lama, tapi bayangan Laura Papa dan Mamanya silih berganti mengganggu pikirannya.
"Aaarghhh, gue pusing." jerit Adrian di kamar mandi.
Hingga selesai mandi, Adrian tertidur masih dengan handuknya. Hingga tengah malam terbangun. Dia kembali terduduk di tempat tidur. Pikirannya kembali penuh oleh beban.
Untuk kesekian kalinya, Adrian mengambil sebuah sajadah, sarung dan peci. Dia sholat tahajud untuk menenangkan pikiran yang kusut.
***
Pagi ini, Tiara dan Laura sudah berpakaian rapi dan sudah sarapan pagi. Mereka berdua dengan riang masak bersama. Hanya masak nasi goreng dan telur ceplok. Tapi, derai tawa kedua sahabat itu membuat pagi ini terasa ceria.
"Ra, perut gue nggak kelihatan kan?" ucap Laura sambil memandang dirinya di kaca.
"Hmm, nggak sih menurut gue. Tapi makin minggu bakal makin kelihatan, Ra. Kita harus cari cara untuk menutupi kehamilan elu," jawab Tiara yang ikut memandang Laura dari kaca.
"Elu benar. Gue mulai khawatir Takut pihak sekolah tahu, mau jadi apa gue," cemas Laura dengan wajah meringis.
"Tetap tenang bestie, kita bakal cari jalan keluarnya. Supaya elu tetap bisa sekolah tanpa ketahuan siapa pun kalo elu sebenarnya hamil," sahut Tiara menenangkan Laura.
"Oke, gue bakal berusaha tetap tenang. Coba elu lihat gue jalan gimana?" tanya Laura sambil berjalan ke sana kemari di dalam kamar.
"Bagus. Belum kelihatan. Anak lu pintar main petak umpet," celetuk Tiara terkekeh.
"Iya, dia pengertian banget kan," Laura ikut terkekeh dan mengelus perutnya.
Tin... Tin..
Suara klakson mobil terdengar dari luar.
"Siapa tuh pagi-pagi?" celetuk Tiara heran. Dia segera mengintip dari jendela kamar.
"Siapa, Ra?" tanya Laura ikut penasaran.
"Busyet, mobil Adrian. Dia sepertinya jemput elu deh," celetuk Tiara menoleh pada Laura
"Hah... ogah gue! Gue mau ikut elu aja bestie. Naik motor aja," tolak Laura mengerucutkan bibirnya.
"Ayo, bawa tas elu," ajak Tiara keluar. Mereka berdua segera mencangklong tas mereka masing-masing.
"Hai, pagi Bila, Tiara," sapa Adrian keluar dari mobilnya.
"Ngapain lu pagi-pagi kemari?" tanya Tiara jutek. Padahal baru semalam dia kasihan dengan nasib Adrian.
"Gue mau jemput kalian. Elu lihat kan gue udah pake baju sekolah ," jelas Adrian.
"Dih, tumben sekolah. Kerasukan jin apa lu akhirnya inget sekolah," cibir Tiara yang sebal melihat Adrian. Apalagi saat mendengar cerita Laura Adrian mendoakan Laura mendapat jodoh laki-laki lebih baik dari dirinya.
"Gue pengen belajar dan lulus. Laura menyadarkan gue kalo sekolah itu penting," papar Adrian.
"Owww... seperti itu!" ketus Tiara sambil bersedekap dada.
"Ayo, elu berdua ikut gue semua ya. Mulai hari ini Tiara nggak perlu capek juga naik motor, gue yang bakal antar jemput kalian berdua," jelas Adrian sambil membukakan pintu mobil.
__ADS_1
Laura dan Tiara saling pandang kedua sahabat itu berkomunikasi lewat tatapan mata.
"Ayo, deh. Anggap aja naik taksi, Ra," putus Tiara akhirnya. Tiara melangkah lebih dulu ke mobil Adrian, lalu Laura menyusul. Mereka berdua sama-sama duduk di belakang.
Adrian segera masuk ke mobil dan menyalakan mesin mobilnya.
"Btw, kita ada tugas sekolah nggak?" tanya Adrian saat mereka sudah di jalan.
"Nggak ada. Tapi hari ini ada kuis gitu," jelas Laura.
"Gawat! Gue nggak belajar. Pasti nilai gue nol ini," rutuk Adrian.
"Salah elu, nggak masuk sekolah lama banget. Teman elu yang dua itu gimana? Masih nggak masuk sekolah juga?" tanya Tiara.
"InsyaaAllah masuk sih mereka berdua hari ini. Kita udah janji buat masuk sekolah hari ini," papar Adrian.
"Busyet. Nggak masuk sekolah kompak, terus masuk sekolah juga kompak. Salut sama persahabatan kalian. Sayang kompaknya dalam hal yang nggak baik," sindir Tiara.
Adrian tak menjawab. Dia tak mau cari perkara dengan Tiara yang kalau bicara suka berbicara pedas dan menohok.
Hingga tak terasa, mereka sampai di sekolah. Adrian segera mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.
Adrian yang pertama keluar dari mobil.
"Sayang, akhirnya elu sekolah," seru Angel yang baru juga keluar dari mobilnya. Dia terlihat sumringah saat melihat Adrian sekolah. Sementara Adrian terlihat diam dan cuek.
Tapi, senyum Angel luntur seketika saat melihat Tiara dan Laura keluar dari mobil Adrian. Ada hubungan apa mereka?
"Sayang, kok mereka ikut elu? Ada apa?" tanya Angel mengernyitkan keningnya.
"Makasih ya, Rian. Kita duluan," celetuk Tiara sambil menggandeng tangan Laura Tiara terlihat cuek dan membuang muka saat berpapasan dengan Angel. Musuh bebuyutan!
Laura ho menatap tempat lain, berusaha tidak balik menatap mata Angel yang menatap tajam pada dia dan Tiara.
"Gue emang harus jawab apaan sih, Angel! Gue emang jemput mereka berdua, hanya itu kok!" papar Adrian yang mencangklong tasnya dan menutup pintu mobilnya.
"Ck, gue cewek elu nggak dijemput! Giliran si cupu sama temannya elu jemput. Gimana sih lu ?" seru Angel kesal mengikuti langkah kaki Adrian.
"Elu kan punya mobil. Bisa dong, elu ke sekolah sendiri," ketus Adrian.
"Ih, bukan gitu dong! Ini bukan masalah gue punya mobil atau enggak! Tapi, elu jemput cupu, dia tuh bukan cewek elu, apa nanti kata orang!" rutuk Angel.
"Udah deh! Gue pusing nih! Masih pagi elu udah berkicau seperti beo!" sungut Adrian.
Angel menganga tak percaya. Adrian begitu cuek dan berubah padanya.
"Apa yang terjadi sama elu sih? Kok elu berubah jadi gini sama gue?" tanya Angel kesal. Mereka berdua masih berjalan menuju kelas.
"Perasaan biasa aja. Mau gimana lagi? Dari dulu gue begini!" kelit Adrian.
"Enggak! Dulu elu nggak begini. Elu nggak pernah perhatian dengan cupu. Elu berubah, Rian," jerit Angel di parkiran.
"Busyet nih cewek! Elu nggak malu apa dilihat orang-orang! Malu tahu suara lu pake jerit-jerit lagi. Nyesel gue sekolah hari ini," rutuk Adrian yang menoleh kiri kanan. Untung suasana sekolah masih belum ramai. Tak banyak murid yang memperhatikan mereka.
"Enggak, gue nggak malu! Gue kesel cowok gue direbut cupu. Gue cinta sama elu Adrian. Please, jangan sakiti hati gue," lirih Angel.
"Lebai lu!" cibir Adrian yang mempercepat langkahnya menuju kelas. Sementara Angel berusaha mengimbangi langkah kaki Adrian.
Sesampainya di kelas, Adrian menyapu pandangan ke seluruh isi kelas. Dedi dan Revan belum terlihat.
Adrian berdecak kesal kedua sahabatnya telat datang. Adrian segera meletakkan tasnya di atas meja. Lalu keluar kelas dan mengambil ponsel dari saku celana.
__ADS_1
"Halo, Di. Elu di mana?" tanya Adrian saat telepon sudah tersambung.
"Gue baru sampe sekolah," sahut Dedi di telepon.
"Revan sama elu?" tanya Adrian.
"Iya, nih kita berdua bareng satu mobil. Gue jadi penasaran sama berita dari elu!" celetuk Dedi
"Iya, penting banget soalnya. Gue tunggu di belakang sekolah," putus Adrian.
"Oke, kita udah di parkiran nih," sahut Dedi.
Adrian segera mematikan teleponnya. Dia segera berjalan menuju belakang.
"Rian, elu mau ke mana?" tanya Angel yang berdiri di depan pintu kelas.
"Ada urusan! Enggak usah ikut campur lu!" omel Adrian.
"Ikut dong, masak gue nggak boleh ikut!" cebik Angel.
"Enggak! Awas lu ikut gue," ancam Adrian.
Angel hanya mendengus kesal. Dia merasa diabaikan oleh Adrian. Dari kejauhan terlihat Dedi dan Revan sudah berjalan. Adrian segera melangkah cepat.
Klaim
Hingga sampai di belakang. Mereka bertiga akhirnya saling berkumpul dan menepuk bahu saling menguatkan.
"Bro, ada apaan?" tanya Dedi penasaran.
"Iya, kayaknya penting banget ya?" tanya Revan yang juga penasaran.
"Penting banget. Terutama buat gue dan elu, Di!" tekan Adrian.
"Apaan?" Dedi makin penasaran.
Adrian menoleh ke kiri dan ke kanan. Memastikan tak ada yang mengikuti mereka.
"Nggak ada apa-apa! Hayo cepetan!" ucap Dedi tak sabar.
"Gue mau memperlihatkan sebuah video ke elu berdua. Gue harap elu bisa mengendalikan diri elu, Di.Karena video ini bisa bikin elu sangat marah," tekan Adrian sebelum dia menunjukkan video.
"Ck, tergantung dong, bro! Masak gue tertawa kalo video itu bikin gue kesal!" rutuk Dedi.
"Iya, maksud gue setelah melihat video ini kita jangan mengambil tindakan sembarangan. Kita harus bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin," papar Adrian.
"Ah, kebanyakan bacot lu! Ya udah serah lu, mau dingin mau panas serah deh. Mana videonya?" pinta Dedi yang semakin tak sabar.
Melihat Dedi yang sudah tak sabaran, Adrian mengalah. Dia mengeluarkan ponsel dan headset, agar Dedi dan Revan bisa mendengarkan suara di video lewat headset. Takut ada orang yang tiba-tiba mengintip. Bagaimanapun keluarga mereka adalah keluarga terpandang.
Beberapa belas menit menonton. Wajah Dedi berubah menjadi merah padam. Tergambar jelas emosi yang meluap-luap dari wajahnya. Nafasnya sudah memburu. Tangannya sudah mengepal keras.
"Bro, sabar ya. Gue tahu banget perasaan elu," ucap Revan menepuk pelan bahu Dedi.
Nafas Dedi makin memburu. Dadanya turun naik.
"Aarkkhhh!" jerit Dedi
Tangannya menghantam tanah yang berada di bawah kakinya.
"Dedi, please tenang dulu," ucap Adrian.
__ADS_1
"Kurang ajar mereka berdua! Gue nggak bakal tinggal diam! Gue pasti balas!" berang Dedi dengan mata memerah dan emosi yang membuncah.
Tangannya kali ini memukul dinding belakang sekolah menyalurkan amarah dalam dada.