
"Nanti dong, soal yang lain belom gue kerjain nih. Makin ke bawah makin sulit. Mana gue ngerti," tolak Adrian yang tak mau kembali ke kursinya.
"Au ah gelap," gerutu Laura mencebikkan bibirnya.
Hingga pelajaran fisika selesai, barulah Adrian kembali ke kursinya. Dilanjutkan pelajaran berikutnya. laura juga tak mau lagi tunjuk tangan jika ada soal.
Hingga bel istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas. Pelajaran fisika lalu dilanjut matematika sungguh membuat perut lapar.
"Ra, elu nggak ke kantin?" tanya Tiara mendekati Laura yang tak bergeming dari tempat duduknya.
"Enggak. Elu aja deh," tolak Laura
"Mau nitip apa? Entar gue belikan," tawar Tiara.
"Apa ya? Bakwan goreng aja dua ," cetus Laura tersenyum.
"Oke, kalo nggak ada bakwan goreng, bakwan rebus nggak apa-apa ya," canda Tiara terkekeh.
"Serah lu, bestie," Laura ikut terkekeh. Tiara kemudian keluar dari kelas.
Tak lama, Adrian yang mendengar percakapan Laura dan Tiara ikut keluar kelas.
Sesampainya di kantin, Adrian memesan dua mangkuk bakso.
"Sayang, baik banget sih. Pesen dua mangkuk, pasti satunya untuk gue kan?" Angel tiba-tiba berdiri di samping Adrian saat Adrian antri membeli bakso.
"Enggak, bukan untuk elu! Beli aja sendiri. Elu kan punya duit," ucap Adrian cuek.
"Hah... kok lu gitu sih? Kecewa banget gue. Terus untuk siapa? Itu Dedi dan Revan udah makan," sahut Angel sambil menunjuk Dedi dan Revan yang makan sambil mengobrol.
"Bukan urusan lu," jawab Adrian sambil membawa dua mangkuk bakso panas di atas baki lalu pergi.
Angel menghentakkan kakinya ke lantai. Kesal dengan sikap Adrian. Dia urung membeli makanan, malah menguntit Adrian.
Adrian berjalan ke kelas. Meletakkan semangkuk bakso di atas meja Laura. Melihat bakso, Laura langsung mendongak melihat Adrian.
"Buat lu, Ra. Ini ucapan makasih gue karena elu sudah bantu gue belajar tadi," cetus Adrian yang berdiri di samping meja Laura
"Makasih, gue makan ya," ucap Laura yang sebenarnya memang lapar. Dia menahan rasa laparnya sambil menunggu Tiara datang.
"Sama-sama. Gue makan di meja gue aja," sahut Adrian kikuk.
"Iya," jawab Laura ingkat. Dia mulai mengaduk kuah baksonya, membaca doa dan makan.
Tanpa mereka tahu, dari balik jendela ada Angel yang mengepalkan tangan karena kesal.
"Awas lu, Ra Beraninya elu merebut perhatian cowok gue!" rutuk Angel dalam hati. Angel kemudian kembali ke kantin, melampiaskan rasa kesalnya pada makanan. Siomay dua mangkuk.
Tiara yang kembali ke kelas, tampak terkejut melihat Laura makan bakso. Laura hanya memberi kode kalau Adrian yang membelikan.
Sangking laparnya Laura, bakwan goreng yang dibawa Tiara di cemplungkan ke dalam kuah bakso.
__ADS_1
"Apa rasanya, Ra?" seru Tiara terkejut.
"Enak loh. Bakwan campur kuah bakso, serius," sahut Laura.
"Serah lu dah, aneh selera lu! Cepetan makan, entar lagi bel masuk bunyi," ujar Tiara.
"Iya, bawel ih," Shabila terkekeh.
Tak lama, Laura akhirnya selesai makan. Adrian terlihat menghampiri dan mengambil mangkuk yang sudah kosong. Lalu keluar kelas dan menuju kantin.
laura dan Tiara hanya saling tatap Laura hanya menggedikkan bahu. Sikap Adrian yang kadang penuh perhatian tapi terkadang tak peduli dengan nasib Laura di masa depan sungguh membingungkan Laura
Hingga bel masuk berbunyi. Angel masuk kelas dengan tatapan tajam ke arah Laura. Membuat Shabila mengernyit heran, tapi Laura berusaha cuek.
Guru selanjutnya akhirnya masuk kelas. Pelajaran kembali dimulai. Melalui beberapa jam hingga akhirnya bel pulang berbunyi.
"Rian, ayo pulang," ajak Dedi dan Rvan.
"Elu berdua duluan aja. Gue entar deh," tolak Adrian.
"Ya, udah. Kita duluan. Kita ada rencana berdua," sahut Dedi
"Oke, hati-hati di jalan, Bro," ucap Adrian.
Dedi dan Revan akhirnya pulang duluan. Angel memperhatikan Adrian, pulang sekolah kali ini, Angel akan mencoba tak menegur Adrian. Dia mau tahu sepeka apa Adrian padanya.
Tapi, hingga kaki Angel melangkah keluar kelas. Tak ada satu kata pun keluar dari mulut Adrian.
laura dan Tiara masih menunggu di kelas. Mereka menunggu semua murid pulang. Adrian juga masih menunggu. Dia memahami situasi yang terjadi.
"Ra, gue lihat situasi dulu ya," celetuk Tiara.
"Iya, gue tunggu," sahut Laura yang mulai memasukkan bukunya ke dalam tas.
Adrian ikut keluar kelas. Menunggu di koridor kelas. Melihat sudah banyak murid yang pulang. Hanya tersisa beberapa orang saja.
Mereka masih menunggu hingga setengah jam, hingga guru-guru pun sudah pulang.
"Ra, ayo. Sudah aman," ajak Tiara yang kembali masuk kelas.
Laura mengangguk. Merapikan baju dan jilbabnya. Dia menutup sisi tubuh kanannya dengan tas selempang. Sementara sisi kiri ada Tiara yang mendampingi.
Sesampainya di depan kelas, mereka masih melihat kiri dan kanan.
Laura keluar dengan perasaan was-was. Adrian berjalan di depan Laura. Secara tidak langsung, Adrian sudah menutupi tubuh Laura dari pandangan orang jika saja berpapasan dengan orang di depan mereka. Mereka melangkah menuju parkiran.
"Ya Allah, deg degan banget gue," celetuk Tiara. Mereka semua akhirnya sudah berada di dalam mobil Adrian saat ini.
"Makasih ya, Ra. Gue apalagi. Asli jantung gue berdebar hebat. Takut ketahuan," sahut Laura
Adrian segera menyalakan mesin mobilnya. Keluar dari kawasan sekolah.
__ADS_1
"Rian, elu harus cari cara biar Laura tetap bisa sekolah tanpa ketahuan kalo lagi hamil. Bisa gempar sekolah, kalo sampe ketahuan," rutuk Tiara.
"Iya, entar gue pikirin," ucap Adrian mengalah. Dia hanya melirik sekilas wajah Laura dari kaca spion Wajah Laura masih terlihat cemas.
"Makin hari kandungan gue akan makin besar. Padahal gue udah berusaha maksimal biar makan nggak banyak," keluh Laura dengan wajah sedih dan cemas.
"Sabar ya, Ra. Gue juga bakal cari cara biar elu bisa tetap sekolah," janji Tiara.
"Hmm, jangan banyak pikiran ya, Ra. Ohya kita beli aja makan siang. Gue traktir deh," cetus Adrian.
"Wah, lumayan nih. Bisa hemat duit saku, hahahaha," ucap Tiara terkekeh.
Laura hanya diam. Tak lama, Adrian berhenti di rumah makan. Tak lama dia keluar dan membawa sekantong besar makanan.
"Banyak banget kayaknya," celetuk Shabila saat melihat Adrian masuk dan meletakkan kantong plastik di kursi depan.
"Sekalian gue beli lauk untuk kalian entar malam. Biar nggak repot lagi, tinggal makan," jelas Adrian.
"Cakep, akhirnya kita bisa istirahat hari ini, Bila," sahut Tiara tersenyum senang.
"Tapi, gue habis ini harus ke rumah Soni. Tadi Mama Soni telepon gue. Katanya mau kasih gaji. Jadi, sekalian aja gue hari ini mau ngomong ke Mama Soni untuk les via online," papar Laura.
"Oh, gitu. Elu kuat nggak?" tanya Tiara.
"InsyaaAllah kuat, kok. Gue naik angkot aja, entar elu capek kalo anter gue," sahut Laura pada Tiara.
"Sorry, biar gue aja yang anter lu, Ra. Gue khawatir kalo lu naik angkot," tawar Adrian.
"Gue udah biasa kali naik angkot. Nggak apa-apa, kok. Gue nggak mau ngerepotin siapa-siapa," tolak Laura.
"Enggak merepotkan. Gue yang memang menawarkan diri, Laura. Kalo bisa elu berhenti aja dari sana. Gue aja jadi murid elu. Tawaran gue masih sama, gue bayar lima kali lipat dari gaji elu di sana," papar Adrian.
"Entar gue pikirin, Rian. Tawaran untuk mengajari elu pelajaran sekolah," sahut Laura
"Gue harap elu mau. Banyak banget pelajaran yang gue ketinggalan," harap Adrian.
"Kenapa elu nggak pakai jasa guru privat profesional?" tanya Laura.
"Karena dia nggak tahu, apa saja pelajaran yang sudah gue lewatkan. Kalo elu kan beda, elu tahu mana pelajaran yang gue lewatkan," jelas Adrian. Laura hanya mengangguk mengerti.
Tak lama mereka sudah sampai di kost Tiara. Mereka bertiga memilih makan di teras rumah.
"Nggak nyangka gue, kita bisa makan bertiga gini," celetuk Tiara yang mengambil nasi bagiannya.
"Sama. Gue seneng bisa makan rame gini. Elu tau nggak, makan rame tuh jarang banget di keluarga gue. Di rumah, gue biasanya makan sendiri. Sepi banget pokoknya," sahut Adrian sambil mengambil sambalado.
"Ternyata jadi orang kaya raya, ada sisi nggak enaknya juga ya. Kesepian," ucap Laura
"Iya, gitu deh. Kesepian," setuju Adrian.
Mereka bertiga makan dengan lahap hingga Tiara menambah makan. Sementara Laura menahan diri, tak ingin makan terlalu banyak.
__ADS_1