TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
RIAN FRUSTASI


__ADS_3

"Gue nggak bisa cerita di sini. Bawa gue pulang ya, Ra. Tapi boleh nggak gue nginep di rumah lu aja," pinta Laura.


"Boleh dong, Bestie. Ayo kita pulang," ujar Tiara yang langsung membantu Laura turun dari brankar.


Laura berjalan tertatih dengan satu kaki. Kaki kanannya terbalut perban, masih terasa nyeri setelah di jahit tadi.


"Wan, ayo kita pulang," seru Tiara pada ikhwan yang menunggu di kursi tunggu depan klinik.


"Ya Allah, elu kenapa, ra?" ikhwan terkejut saat menghampiri Laura dan Tiara.


"Dah, gercep deh. Bukain pintu mobil. Kasihan Laura," ucap Tiara yang merangkul pinggang Laura. Membantu Laura melangkah sampai ke mobil.


Setelah Laura masuk ke kursi tengah mobil, Tiara ikut masuk ke kursi tengah. Sementara Ikhwan segera menyalakan mesin mobil.


"Ohya, aman nggak kita pulang ke kota jam segini?" tanya Laura cemas.


"InsyaaAllah aman. Kita tadi berangkat jam sepuluh malam dari kota. Alhamdulillah aman aja," jawab ikhwan sambil tetap menyetir.


"Makasih ya teman-teman, maaf merepotkan kalian berdua," ucap Laura yang tak enak hati.


"Sama-sama. Btw, gimana ceritanya ra, sampe lu di klinik tadi?" tanya Ikhwan yang sangat penasaran.


Laura memandang Tiara lebih dulu. Tiara hanya mengangguk. Memberi kode untuk Laura bercerita. Akhirnya pun Laura bercerita, tapi ceritanya sama seperti apa yang dia ceritakan pada polisi. Laura tidak menceritakan tentang Adrian.


***


Adrian sampai tengah malam tadi. Dia tidak pulang ke rumah tapi langsung ke rumah Dedi.


Adrian mengetuk pintu rumah. Seorang asisten rumah tangga membukanya.


"Den Rian, ada apa malam-malam?" tanya asisten rumah tersebut heran.


"Mbok, ada siapa aja di rumah?" tanya Adrian. Amarahnya sudah berada di ubun-ubun.

__ADS_1


Adrian tahu biasanya orang tua Dedi tidak di rumah. Mereka sering kali pergi ke luar kota.


"Cuma ada Den Dedi, Tuan. Den Revan juga menginap di sini. Tuan dan nyonya lagi di Bengkulu, ada proyek," papar asisten rumah tangga itu.


"Makasih, Bi," sahut Adrian yang langsung berjalan cepat menuju ke arah tangga.


Asisten rumah segera mengunci kembali pintu depan. Adrian dan Revan memang sudah terbiasa menginap di rumah Dedi kalau mereka sedang asyik bermain game. Asisten rumah tangga itu tidak terkejut lagi.


Hanya saja kali ini, kedatangan Adrian tengah malam membuat heran asisten rumah tersebut.


Adrian segera mengetuk pintu kamar Dedi. Terdengar dari dalam, suara Dedi dan Revan belum tidur. Mereka masih asyik main game. Adrian mengetuk lebih kencang. Nafasnya sudah memburu. Amarahnya sudah di ubun-ubun.


"Siapa sih! Ganggu banget!" rutuk Dedi dari dalam.


Adrian tak menjawab. Dia makin mengetuk pintu dengan kuat. Dedi jadi kesal dan segera melangkah ke arah pintu.


Buukk!


Suara pukulan tangan Adrian tepat mengenai pipi Dedi, saat Dedi membuka pintu. Dedi yang tak siap, langsung terhuyung ke belakang. Terjatuh hingga ke lantai.


"Lu apa-apain sih main hajar hajar gue begini?!" geram Dedi yang sangat kesal. Dia memegang pipinya yang sakit. Darah segar keluar dari bibirnya.


"Lu kerasukan, Rian! Datang-datang nonjok orang lu," Revan tak kalah kesal. Kepalanya terasa sakit, pipinya juga nyeri luar biasa. Di pukul Adrian tiba-tiba.


"Puas lu! Puas kalian, hah!" teriak Adrian. Matanya sudah menyalang merah. Urat-urat dilehernya sudah mengencang. Adrian benar-benar marah.


"Oww, sabar dong bro! Elu kenapa?" Dedi mulai memahami situasi. Dedi menurunkan intonasi bicaranya.


"Sabar? Sabar kata lu! Gue baru aja ngancurin masa depan Laura gara-gara lu berdua! Ngaku lu, minuman apa yang lu kasih ke gue!" sembur Adrian sambil menunjukkan botol minum kosong yang dia simpan dalam kantong celana.


Dedi dan Revan saling menoleh. Mereka sama-sama terkejut.


"Ma-maksud lu apa Rian? Kita nggak ngerti, " Revan Pura-pura gak tau.

__ADS_1


"Nggak usah pura-pura bego lu berdua. Kalo gue bawa sisa air beberapa tetes ini ke lab, pasti ketahuan kan!" berang Adrian sambil menunjuk Dedi dan Revan.


"Bro, santai! Kita beneran nggak ada maksud jelek sebenarnya. Kita cuma mau jahil doang ke Laura, nggak ada maksud sampe mencelakakan kalian," papar Dedi gugup.


"Apa! Jahil doang! Cuma doang kata lu? Lu tau nggak, gue yang minum ini dan gue nggak bisa mengendalikan diri gue setelah minum ini. Lu berdua gila!" pekik Adrian yang terlihat kacau.


Adrian meremas rambutnya frustasi. Dia sekarang diliputi rasa bersalah, tapi juga dia enggan kalau harus bertanggung jawab. Dia masih terlalu muda, dan Laura bukan gadis yang dia suka.


"Rian, maafin kita ya! Kita ngaku kita salah. Ide awalnya dari Dedi" ucap Revan membela diri.


"Eh, lu juga setuju ide gue. Berarti kita berdua salah semua," kelit Dedi yang kesal disalahkan.


"DIAM!" jerit Adrian yang kalut. Adrian meraup wajahnya berkali-kali. Dia sungguh frustasi.


Dedi dan Revan terdiam. Mereka tak berani bicara apa pun. Amarah Adrian sedang di luar kendali.


"Apa yang harus gue lakukan, Aaargghhh," raung Adrian yang terduduk di lantai.


"Rian... gue punya ide," usul Dedi memberanikan diri buka suara.


Adrian mendongakkan kepala saat Dodit berbicara. Mata Adrian menyipit. Tak terlalu percaya dengan Dedi


"Gue serius. Gimana kalo kita ancam dan beri dia uang yang banyak. Lagi pula nggak ada yang peduli sama dia. Orang-orang nggak akan percaya, kalo pun dia cerita, Rian," usul Dedi


"Gue tadi udah coba kasih dia uang yang ada di dompet gue. Gue juga sempat ancam dia, tapi gue nggak tahu. Dia bakal diam atau nggak," Adrian tertunduk dan kembali meremas rambutnya.


"Mungkin duit yang lu kasih nggak banyak. Tenang bro, kita pasti tanggung jawab. Kita bakal bantu lu ganti rugi ke si Cupu. Berapapun yang dia mau, kita bakal patungan. Asal dia tutup mulut," ucap Dedi menenangkan.


"Iya, gue setuju. Berapa pun yang di minta si cupu kita sanggupi aja. Yang penting dia nggak cerita pada siapa pun," Revan menimpali.


Mereka bertiga saling pandang. Adrian kembali menunduk. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Adrian takut Laura melaporkannya ke sekolah. Mempermalukan dirinya.


"Gue nggak tahu. Gue nggak bisa berpikir jernih," ucap Adrian kembali menghela nafas panjang.

__ADS_1


jgn lupa like dan komen nya


__ADS_2