
Mereka bertiga kompak keluar. Mengintip dari celah pintu. Diluar sepertinya sepi. Dedi memberi kode dengan tangannya untuk mengikuti langkah kakinya.
Mereka bertiga mengendap turun ke bawah. Namun saat di pertengahan undakan tangga.
"Kalian siapa?" tanya sang pembantu terkejut. Dia berdiri kaku dan takut melihat ada tiga pemuda yang masuk ke dalam rumah bahkan membawa barang.
Dedi tak banyak bicara dia meletakkan tas kopernya. Mengambil tali di tangan Revan. Berlari dalam hitungan detik ke arah pembantu tersebut.
"Kalian pencu.." sang pembantu tak bisa lagi melanjutkan katanya. Mulutnya dibekap Dedi Sementara tangannya dilipat kebelakang.
"Bro, cepet bantu gue!" seru Dedi.
Revan dan Adrian yang tadinya bengong, langsung tersadar. Adrian segera meletakkan tas kain dan membantu Dedi mengikat pembantu rumah. Sementara Revan melihat sebuah lakban diatas meja. Dia langsung mengambil lakban dan melakban mulut si pembantu.
Pembantu tersebut hanya menggeleng takut dan menangis. Tangannya sudah terikat kencang di kursi.
"Kita nggak mencuri. Cuma mengambil kembali barang yang majikan lu curi dari orang tua kami!" tekan Adrian pada pembantu yang tak tahu apa-apa.
Tanpa mereka sadari, ada mobil yang masuk ke pekarangan halaman. Farida masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
Dia harus bersiap-siap tadinya dia akan bersenang-senang dengan sang adik. Setelah makan mereka akan pergi ke sebuah club malam. Tapi, pak Basuki, Papa Dedi menelepon. Minta ditemani selama perjalanan dinas.
Jadilah, kedua saudara penipu itu urung bersenang-senang. Farida harus kembali dan mempersiapkan dirinya.
"Hei, apa yang kalian lakukan!" seru Farida terkejut saat melihat tiga orang pemuda di rumahnya. Kakinya mundur satu langkah. Seharusnya dia tadi lari bukan berseru.
"Oh, ini dia. Nona rumah yang kami tunggu sedari tadi," sergah Dedi yang mulai melangkah maju. Dia menekan jari jemarinya hingga berbunyi krek. Lalu memiringkan kepala ke kiri dan kanan hingga berbunyi krek juga. Pemanasan dimulai!
"Kamu nggak kenal kita,heh! Dasar perempuan murahan!" sembur Dedi langsung menerjang Farida tepat di perutnya. Farida terpelanting. Dedidengan cepat melangkah lalu kembali memukul pipi Farida dengan keras. Semua amarah dia salurkan.
Dibayangannya ada tangis airmata Mamanya yang dikhianati papanya. Ada tawa Papanya dan Farida yang bersenang-senang diatas penderitaan Mamanya.
Farida menjerit-jerit memohon ampun tapi tak di dengarkan Dedi.
__ADS_1
"Perempuan hina, perempuan jahat, nggak punya harga diri lu. Elu nggak pantes hidup..." jerit Dedi meluapkan emosinya hingga semua nama hewan di kebun binatang dia sebutkan.
Adrian dan Revan meringis melihat Dedi seperti orang tak sadarkan diri. Menarik rambut Farida, memukul berkali-kali hingga darah keluar dari mulut Farida.
"Hei, elu apain kakak gue!" jerit Niko yang baru datang.
Dengan gerakan cepat, Niko menerjang Dedi. Dedi yang tak siap, tersungkur ke lantai. Revan dengan cepat menolong Dedi. Sementara Adrian dengan cepat mengumpulkan tas-tas hasil jarahan mereka tadi.
"Kalian siapa? Dasar pencuri," hardik Niko yang segera ingin menerjang Dedi agi. Tapi, dengan gerakan cepat Dedi menarik kaki Niko hingga Niko hilang keseimbangan dan terjatuh ke lantai.
"Aarkkhh," jerit Niko yang kepalanya terjatuh duluan di lantai dengan suara keras.
"Niko..." jerit Farida parau. Dia hanya bisa menangis tapi tak bisa menolong adiknya. Tubuhnya sudah tak kuat bahkan untuk berdiri. Tulang tulangnya terasa remuk. Sepertinya tulangnya ada yang patah.
Dedi dengan cepat naik ke atas badan Niko. Memukul wajah laki-laki yang usianya tak jauh dari mereka.
"Elu yang pencuri kita hanya mengambil apa yang menjadi milik kami. Dasar kurang ajar kalian berdua. Kalian sudah menghancurkan keluarga kami," jerit Dedi marah.
Niko tergeletak tak berdaya. Tubuhnya sakit semua. Matanya nyeri dan tertutup rapat. Darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya.
"Kalian berdua jangan coba-coba lagi mengganggu keluarga kami. Jika tidak, kami akan bertindak lebih dari ini!" ancam Dedi pada Farida dan Niko yang entah masih mendengar atau tidak.
"Bro, ambil hape mereka. Mungkin saja mereka menyimpan data penting di hape," seru Dedi.
"Oke, Bro!" sahut Adrian. Dedi segera mengambil hape dari tas Farida.
Sementara Adrian mengambil hape dari saku Niko.
Dedi melihat kunci mobil yang menyembul dari saku celana Niko. Dedi segera menyambar kunci itu dan memasukkan ke sakunya.
Farida maupun Niko sudah tak berdaya. Hanya pembantu rumah yang menyaksikan segalanya dengan berderai air mata. Dia masih terikat kencang di kursi. Tubuh pembantu itu gemetar hebat karena ketakutan.
"Mbok tenang saja. Kami nggak akan menyakiti mbok. Kami hanya membalas perbuatan mereka yang menghancurkan keluarga kami. Mereka berdua adalah penipu dan pelakor kalo mbok mau tahu," papar Revan.
__ADS_1
Pembantu tersebut tampak terkejut. Dia sudah menduga sejak lama, kalo pekerjaan majikannya bukannya halal tapi dia tak benar-benar tahu.
"Ini untuk mbok, berhenti dari sini. Uang mereka haram!" lanjut Revan berbisik lalu menyerahkan sebuah cek yang sering dia simpan di dompet. Dia kasihan pada pembantu yang tak tahu apa-apa itu.
Revan menyelipkan cek tersebut ke genggaman tangan pembantu tersebut.
"Ayo, kita pergi," ajak Dedi yang sudah merasa puas menghajar kedua penipu.
Mereka bertiga kemudian memungut kembali tas kain yang mereka bawa tadi. Dengan cepat mereka keluar dari pintu belakang.
"Dit, elu bawa semua barang ini dulu. Nanti kita bertemu di tempat lain," seru Adrian sambil berlari.
"Oke, bro!" Dedi mengambil tas dari tangan Adrian. Mereka berpisah setelah berada di depan jalan sempit.
Mereka bertiga berusaha berjalan senormal mungkin. Namun, saat melewati rumah depan Farida, Dedi berpikir lain. Apalagi suasana sepi.
"Van, ayo cepat ke mobil kita. Letakkan semua barang di mobil. Elu bawa mobil kita. Gue mau bawa mobil sport itu ke rumah orang tua Adrian sebagai kejutan," usul Dedi dengan menyunggingkan senyum mengerikan.
Ivan tak banyak bicara. Dia hanya mengangguk. Segera mereka membuka pintu mobil. Melempar koper dan tas kain. Ivan dengan cepat berlari memutari mobil dan masuk ke dalam mobil. Mulai menghidupkan mesin dan melaju ke jalanan.
Sementara Dedi dengan cepat kembali ke halaman rumah. Dia segera masuk kedalam mobil sport dan meluncur ke jalanan. Dia tersenyum puas. Sangat puas.
Adrian juga sudah sampai sedari tadi di mobilnya. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil dan langsung menyalakan mesin mobil dan pergi.
Shabila menatap Adrian dengan keheranan. Adrian tampak gugup dan gemetaran.
Tubuh Adrian basah oleh keringat. Rambutnya juga basah. Adrian melajukan dengan cepat mobilnya. Berharap bisa pergi sejauh mungkin.
Adrian berpikir dia tidak jadi pulang malam ini. Dia akan bersembunyi terlebih dahulu.
"Adrian, elu kenapa? Elu seperti orang ketakutan, apa kalian ketahuan mengintai mereka?" tanya Laura penasaran. Setelah keluar dari komplek perumahan tersebut, Laura mulai berani bertanya.
Apalagi Adrian menghembuskan nafas leganya setelah keluar komplek.
__ADS_1
"Gue nggak apa-apa. Semua akan baik-baik saja setelah ini," ucap Adrian.
"Maksud lu? Baik-baik aja gimana? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Laura yang makin kebingungan dengan jawaban Adrian.