TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Berita Masalah Viral


__ADS_3

Malam itu, setelah diyakinkan oleh pengacara. Adrian, Dedi dan Revan akhirnya pulang ikut orang tua mereka.


Hanya hening selama perjalanan pulang.


"Besok Papa dipanggil oleh dewan kehormatan. Kasus ini membuat orang banyak berspekulasi kalau harta kita dari uang korupsii. Setelah melihat kehidupan kita yang wah," ucap Papa Dedi resah saat di perjalanan pulang.


"Itu akibatnya kalau terlalu dibutakan sama perempuan itu. Kalo kamu nggak melakukan kecurangan kenapa mesti takut?" cibir sang istri.


Papa Deditampak menghela nafas berat. Dia cemas luar biasa.


"Malam ini, kita harus pindahkan sebagian surat menyurat tanah, mobil, villa, Rumah dan harta lainnya atas nama orang kepercayaan kita," papar Papa Dedi semakin cemas.


"Terserah kamu, saya nggak tahu apa-apa," sahut Mama Dedi


Sementara Dedi yang duduk di kursi belakang, hanya mendengarkan. Dia sibuk memikirkan jalan keluar dari masalah yang dihadapi saat ini.


Dedi menarik hape dari celananya. Lalu mulai mengetik pesan ke Revan dan Adrian.


[Bro, nanti tengah malam kita keluar dari rumah. Kita ke rumah sakit tempat dua penipu itu di rawat]


Pesan terkirim pada Revan dan Adrian. Setelah itu, balasan dari kedua sahabatnya adalah oke.


Mobil terus melaju hingga sampai rumah. Adrian yang lebih dulu sampai di rumah. Untuk pertamakalinya setelah sekian lama, Adrian tidur satu rumah dengan mama dan papanya.


Hingga tengah malam menjelang, tiga sekawan sudah sampai di titik pertemuan. Mobil mereka bertiga sudah parkir disebuah halaman ruko kosong.


"Bro, gimana kita bisa masuk rumah sakit tengah malem gini? Jam besuk udah habis?" tanya Revan yang malam itu memakai jaket kulit hitam dan celana levis hitam. Kulitnya yang putih sangat kontras dengan warna pakaian yang dia pakai.


"Elu yakin bro dengan tindakan kita ini?" tanya Adrian ragu. Adrian juga menggunakan jaketnya. Malam ini memang terasa lebih dingin.


"Bro, kita harus bisa membuat penipu itu menarik kembali laporannya. Kasus kita sudah kadung viral, Bro. Jalan satu-satunya memaksa dua penipu ini menarik laporan," papar Dedi.


"Terus duplikat foto dan segala macem video ini untuk apa?" tanya Revan yang diminta Dedi untuk menyiapkan semua duplikat bukti.


"Untuk mengancam mereka, Bro. Ayo, gue ada kenal kok orang dalam. Dia menunggu kita di pintu belakang dekat parkiran mobil dokter," ajak Dedi pada teman-temannya.


Mereka bertiga akhirnya berjalan mengikuti langkah kaki Dedi. Mereka berjalan cukup jauh melewati jalan sempit yang berbatasan langsung dengan tembok tinggi dan begitu panjang milik rumah sakit.


Revan bergidik ngeri sendiri, melihat begitu sepinya suasana malam ini. Bahkan hanya suara


burung hantu yang menemani langkah kaki mereka.


"Dit, masih jauh ya jalannya?" rutuk Revan yang sudah ketakutan.


"Baru setengah perjalanan, Bro. Rumah sakit ini luas, Bro. Wajar aja kita jalan agak jauh," cetus Dedi


"Mana nggak ada orang lewat lagi ya. Btw, ini malem apaan ya?" celetuk Adrian berusaha tetap tenang.


"Ya ampun. Malam Jumat lagi. Bro, besok aja ya kita kesini lagi. Bawa asisten rumah kek biar rame. Jangan bertiga doang, takut yang keempatnya hiii..." Revan ketakutan sendiri. Ivan segera merapatkan tubuhnya ke Adrian yang berjalan disampingnya.


"Apaan sih, Van? Nggak ada apa-apa. Risih gue elu pegang-pegang. Elu sih kebanyakan nonton pilem Suzanna," protes Adrian sambil terus berjalan mengikuti langkah kaki Dedi yang berada didepan mereka.


"Pelit amat lu. Eh, tunggu, Bro. Jangan bilang didepan sana kuburan ya?" Revan semakin ketakutan. Wajahnya pias melihat pemandangan di depannya.


Adrian memperhatikan yang ditunjuk oleh Ivan. Sementara Dedi menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Berisik banget sih lu! Didepan memang kuburan. Biarin aja, nggak bakal orang yang sudah tiada gangguin kita," rutuk Dedi yang mendengus kesal karena kelakuan Revan yang memang paling penakut diantara mereka.


"Tau gini, gue nggak mau ikut. Gue wakilkan sama lu berdua aja," protes Revan mencebikkan bibirnya.


"Sini lu. Kita tuh cuma melewati jalan depannya aja, nggak bakal ada apa-apa," ucap Dedi menarik tangan Revan hingga berjalan sejajar dengan dirinya. Sementara Adrian jadi jalan sendirian dibelakang mereka.

__ADS_1


Revan berjalan sambil memicingkan matanya. Sesekali menutup sempurna matanya. Dia hanya mengikuti langkah kaki Dedi yang terburu-buru.


"Loh, itu apa putih-putih deket pintu pagar?" seru Revan saat membuka mata.


"Ck, besok pagi kita ke optik, Van. Mata lu sepertinya mulai rabun," timpal Dedi.


"Malam, Mas Dedi," sapa orang yang berbaju putih yang ternyata perawat laki-laki.


"Malam, Pak," jawab Dedi mengangguk.


"Oh, manusia ya. Syukurlah," ucap Revan menghela nafas dalam. Revan sampai memperhatikan dari atas sampai bawah penampilan perawat yang ada di hadapannya.


"Tenang, Bro. Kakinya menginjak bumi," bisik Adrian yang mengulum senyum. Sementara Revan mengangguk setuju dan kembali menghembuskan nafas lega.


"Ayo, Mas. Ikuti saya cepat. Kita ke ruangan saya. Ganti baju dulu ya," pinta sang perawat yang segera berjalan didepan mereka sambil menoleh kiri dan kanan.


"Bro, kita mau dibawa kemana?" bisik Revan pada Adrian. Revan kembali mundur ke belakang dan berjalan bersisian dengan Adrian. Sementara Dedi memilih menyamai langkah kaki perawat tersebut. Adrian hanya menggelengkan kepala, karena diapun tak tahu.


Tak berapa lama, mereka tiba disebuah ruangan. Ivan segera menarik tangan Adrian ke belakang. Hingga langkah kaki Adrian terhenti.


"Kenapa?" tanya Adrian heran melihat wajah Ivan yang pucat dan menggelengkan kepala.


"Ssttt, Bro. Baca itu tulisan diatas pintu ruangan," ucap Revan menunjuk sebuah tulisan diatas pintu.


Adrian sampai melotot membaca tulisan diatas pintu.


"Maaf, cuma disini tempat paling aman. Jauh dari ruangan lain dan saya pastikan tidak ada yang berani kesini kecuali saya," ucap perawat tersebut saat mereka sampai didepan ruangan.


"Bapak manusia kan?" tanya Revan meringis. Bulu kuduknya sudah berdiri sedari tadi. Tulisan kamar Jenazah didepan pintu sukses membuat Ivan ingin ke kamar mandi.


"Hehehe... saya manusia, Mas. Kebetulan saya memang penjaga ruangan ini," jawab penjaga tersebut terkekeh.


"Ayo, masuk nggak apa-apa, cuma sebentar doang aja kok," ajak Dedi menggandeng tangan Revan. Sementara tangan Revan yang satunya menarik lengan Adrian.


"Ya ampun, Bro. Gini amat nasib kita. Apes banget," rutuk Revan lemas.


"Udah, jangan banyak omong. Diem aja, Van. Entar mereka bangun ," sahut Adrian yang sebenarnya juga mulai merinding. Tapi, karena gengsi dia tetap berusaha bersikap biasa saja.


"Elu malah nakutin gue kalo ngomong gitu, ih... elu mah!" rutuk Revan mencebikkan bibirnya, takut.


"Silahkan mas, dipakai bajunya," ucap perawat itu menyerahkan baju seragam perawat tiga setel.


Adrian, Revan dan Dedi mengambil masing-masing satu setel baju dari tangan perawat itu.


"Ini baju siapa?" tanya Ivan sambil membolak balik baju perawat yang ada di tangannya.


"Ini baju perawat saya ambil dari laundry rumah sakit. Bersih kok, Mas. Punya teman-teman saya. Kebetulan mereka ambil libur hari ini," ucap si perawat.


Revan tampak mengangguk pasrah. Sementara Dedi dan Revan sudah mulai membuka jaket mereka.


"Udah, jangan banyak tanya. Cepetan pake. Misi kita nggak lama kok," seru Dedi.


"Iya cepet, Bro. Makin lu diem makin lama kita di ruangan ini," sambung Adrian yang sudah mulai memakai baju perawat.


"Iya... demi kalian berdua nih," ucap Revan pasrah. Dia mulai membuka jaketnya dengan cepat agar tak ketinggalan teman-temannya.


Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah kelihatan gagah dengan pakaian perawat.


"Wah, gantengnya mas-mas ini. Cocok jadi perawat," celetuk si perawat mengacungkan jempolnya.


"Makasih ya, Pak. Tenang aja, habis misi nanti, bonus akan saya tambahkan," ucap Dedi

__ADS_1


"Siap, Mas Bos. Saya tunggu, hehehe," sahut si perawat tersenyum sumringah.


"Pak, baju kita jangan di letak di brankar ya. Taruh di tempat yang lain," pinta Revan pada perawat.


"Iya, Mas. Nanti saya simpan di laci meja saya," ucap perawat tersebut segera mengambil baju tiga sekawan dan memasukkan ke dalam laci meja kerjanya.


"Van, jalannya biasa aja. Jangan sampai ada orang yang curiga sama kita. Jangan lupa berkas itu," pinta Dedi pada Revan yang terlihat ketakutan sedari tadi.


"Iya, gue usahain," sahut Revan pasrah.


"Ayo, Pak," ajak Dedi pada perawat itu.


"Ayo, ikuti saya," sahut perawat itu yang berjalan duluan didepan. Sementara Dedi Revan dan Adrian mengikuti dari belakang.


Suasana rumah sakit tampak sepi. Hanya ada dokter jaga dan perawat yang terlihat mengantuk di kursinya.


Mereka berempat terus berjalan hingga masuk ke dalam lift. Dedi berusaha mengingat detail setiap jalan yang dia lewati. Hingga pintu lift terbuka dan mereka kembali berjalan melewati beberapa lorong.


Suasana dilantai ini lebih sepi lagi. Tak ada perawat lain yang lewat Suasana yang membuat bulu kuduk Ivan semakin berdiri apalagi aroma obat-obatan menyeruak di penciuman.


"Pak, ada orang nggak di ruangan ini?" bisik Revan pada perawat yang berjalan didepannya.


"Ada, Mas. Tapi memang beberapa ruangan kosong tak ada pasien," sahut perawat itu.


Ivan hanya mengangguk dan menelan ludahnya. Memperhatikan sekeliling koridor rumah sakit yang berdinding putih.


"Mas, ini ruangan Farida. Kalau Niko ruangannya yang itu," tunjuk perawat pada satu kamar di seberang ruangan Farida.


"Oke, terima kasih! Bapak, bisa tunggu kami didepan ruangan aja," sahut Dedi.


"Baik, Mas," ucap perawat itu mengangguk.


Adrian, Dedi dan Revan segera masuk dengan pelan ke ruangan Farida. Tampak Farida tertidur pulas. Pipinya tampak lebam-lebam. Begitu juga tangannya tampak ada bagian yang membiru. Sementara bagian tubuhnya yang lain tak terlihat karena tertutup selimut. Infus terpasang di tangannya.


Ketiga sahabat itu tampak saling melirik, Dedi memberi perintah tanpa suara.


"Van, pegang kedua kakinya," perintah Dedi tanpa suara hanya gerakan mulut dan gerakan tangan menunjuk kaki.


Revan hanya mengangguk mengerti "Rian, elu pegang tangannya," perintah Dedi lagi tanpa suara dan kode gerakan tangan pada Adrian.


Adrian pun mengangguk dan bersiap-siap memegang tangan Farida.


Sementara Dodit menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai membangunkan Farida. Dedi menggoyangkan bahu Farida agar perempuan itu terbangun.


Farida membuka pelan matanya. Saat dia melihat wajah siapa yang ada dihadapannya, Farida terkesiap. Matanya melotot dan hendak berteriak.


"To..." jeritan Farida terhenti mulutnya dibekap Dedi Tubuhnya juga tak bisa bergerak Revan dan Adrian memegang kuat kaki dan tangannya.


Farida meringis dan mulai ketakutan.


"Elu diem kalo mau nyawa lu malem ini selamat!" ancam Dedi sambil memasang wajah seram. Matanya melotot tajam pada aFrida.


Farida yang merasa sendirian dan terdesak hanya mengangguk pasrah. Bagaimanapun dia takkan bisa apa-apa jika berhadapan dengan tiga orang laki-laki.


"Mau apa kalian?" tanya Farida ketakutan dengan suara gemetar saat Dedi melepaskan bekapan mulutnya.


"Kita mau elu cabut laporan elu di kepolisian tentang kita bertiga," jawab Dedi tegas.


"Kalo gue nggak mau?" Farida berusaha memberanikan dirinya.


"Maka elu nggak bakal melihat matahari pagi besok hari. Gue nggak akan bunuh lu dengan pisau karena itu terlalu kelihatan. Elu tau nggak ada bahan kimia yang bisa membunuh orang tanpa meninggalkan jejak," papar Dedi mengintimidasi Farida dengan kata-katanya dan tatapan mata tajam.

__ADS_1


Rean dan Adrian masih memegang kuat kaki dan tangan Farida. Sementara Farida menelan ludahnya. Dia berusaha berpikir cepat jangan sampai terjadi hal-hal yang tak dia inginkan.


__ADS_2