
Athan kembali menyelinap keluar dari rumah Om Leon dibantu anak buah Om Leon.
Setelah mendapat informasi pemilik kendaraan angkot yang ditumpangi laura, Athan segera meluncur ke rumah pemilik mobil.
Sesampainya di rumah pemilik mobil, Athan baru tahu ternyata, angkot yang dinaiki laura adalah angkot sewaan.
"Wah, kalo yang hari minggu kemarin yang bawa angkot si bang jupri. Emang ada apa, Dik?" tanya pemilik angkot.
"Saya ingin bertemu dengan bang Jupri, Bang. Saya kemarin melihat saudara saya di angkot abang. Saya mau tanya, berhentinya di daerah mana saudara saya itu," jelas Athan.
"Wah, masak tempat saudara sendiri nggak tahu," celetuk pemilik angkot yang jadi curiga.
Athan yang merasa di curigai, akhirnya bercerita jujur tentang saudara kembarnya yang hilang belasan tahun yang lalu.
"Ya, Allah. Jadi begitu ceritanya Sedih abang dengernya. Ya udah, abang kasih nomor telepon bang Jupri ya. Cuma tadi pagi, bang Jupri balik kampung. Mungkin sekitar seminggu. Biasanya susah sinyal kalo di kampung. Tapi, coba aja di telepon," jelas pemilik angkot.
Athan hanya mengangguk dan menyimpan nomor telepon bang Jupri. Athan kemudian berpamitan. Dia harus segera pulang ke rumah Om nya sebelum Tante dan Om nya menyadari kalau dia kembali bolos home schooling.
Sesampainya di rumah, Athan langsung masuk lewat pagar belakang yang sudah ditunggu mbok yang baik hati.
"Cepet, Athan. Tante sama Om Mu sudah pulang," ucap mbok cemas.
"Makasih ya, Mbok. Love you full, Mbok," seru Athan yang berlari kencang ke arah perpustakaan lalu meloncat dari jendela dan duduk santai di depan gurunya.
"Ealah, bocah. Lap lop lap lop apa itu artinya," gerutu si Mbok terkekeh. Athan sudah diasuh si mbok dari semenjak Athan ikut Om dan Tantenya. Segala tabiat Athan, Mbok sudah sangat paham.
Sementara di ruang perpustakaan, guru Athan pun sudah paham kenapa Athan pergi. Dia ikut menutupi jejak Athan. Remaja tampan satu ini, memang pintar membuat orang lain bersimpati padanya. Hingga orang-orang di rumah Om nya bersedia membantunya.
Tantenya sempat menengok ke perpustakaan. Melihat Athan belajar, tantenya kembali keluar dari perpustakaan. Sementara Athan hanya tersenyum dikulum.
Selesai belajar, Athan kembali ke kamarnya. Dia berusaha menelpon bang Jupri. Tapi, beberapa kali tetap tak tersambung.
"Ck, kampung mana sih. Susah banget sinyalnya," rutuk Athan.
Hingga belasan kali, Athan menelepon. Tetap tak tersambung. Athan kembali berpikir.
Besok, jika tak ada kabar dari bang Jupri, Athan akan menyusuri rute yang dilalui angkot. Dia akan bertanya pada orang-orang sambil menunjukkan foto laura remaja yang di lukis Mamanya.
***
Sudah beberapa hari ini Adrian tampak diam di sekolah, Dia sama sekali tak memperdulikan laura.
Tiara beberapa kali mengajak Adrian bicara. Tapi, Adrian hanya diam dan berlalu pergi.
Pagi ini, Tiara dan laura sudah sampai di sekolah seperti biasa. Mereka naik mobil taksi sudah beberapa hari ini.
__ADS_1
"Hari ini tepat tujuh bulan kandungan gue," cetus Laura saat sampai di kelasnya yang kosong.
"Seharusnya kita mengadakan syukuran ya. Tapi, sayang keberadaan janin ini harus dirahasiakan," sahut Tiara.
Laura hanya tersenyum getir, erusaha tetap kuat dengan segala cobaan hidupnya.
Sementara Adrian, tadinya tak mau berangkat pagi. Tapi, karena melihat pertengkaran orang tuanya, dia akhirnya lebih memilih pergi ke sekolah.
Alhasil, dia sekarang sudah di sekolah sangat pagi. Emosinya sedang memuncak. Orang tuanya lagi dan lagi bertengkar.
Kali ini bukan karena orang ketiga. Tapi, jumlah kekayaan mereka yang turun drastis pasca masalah kemarin. Banyak kolega bisnis yang hilang kepercayaan pada Papa dan Mamanya.
"Rian, tumben lu datang pagi lagi," sindir Tiara saat Adrian masuk kelas.
Adrian hanya mendengus kesal. Dia segera meletakkan tasnya di meja dan hendak keluar kelas.
"Rian, tunggu! Gue mau ngomong!" seru Laura mendorong kursi rodanya ke arah Adrian.
"Ck, ngomong apa sih! Gue males ngomong sama lu!" decak kesal Adrian.
"Kok lu gitu? Elu tuh kenapa? Kenapa elu berubah jadi begini?" tanya Laura bingung.
"Gue berubah? Gue enggak berubah cuma gue sadar aja dari kebodohan gue selama ini," tekan Adrian yang berdiri dihadapan Laura.
"Akting lu emang keren pakai ke wajah polos segala. Siapa bapak dari bayi yang lu kandung?" tanya Adrian dengan tatapan mata tak suka.
"Pertanyaan lu aneh. Ngapain lu nanya hal yang lu sendiri tahu jawabannya!" erang Laura dengan kecewa.
"Nggak bisa jawab kan lu! Gue udah tahu siapa lu. Dasar perempuan murahan!" cibir Adrian.
Deg!
Kata-kata Adrian sungguh menyakiti hati Laura. Sebegitu hina kah dirinya? Sebegitu rendah kah dirinya?
"Jaga mulut lu, Adrian! Tega banget lu ngomong seperti itu!" jerit Laura yang bibirnya sudah gemetar. Tubuhnya melemas seperti tak bertulang.
Laki-laki dihadapannya ini, seperti mengajaknya naik rollercoaster. Terkadang dia merasa tersanjung dengan perhatian yang diberikan Adrian tapi terkadang dia disakiti dan dihempaskan ke bawah oleh Adrian.
"Oh, kenapa? Elu nggak suka? Atau elu kecewa akhirnya gue tahu siapa elu? Belum tentu kok gue bapak biologis dari bayi yang elu kandung. Perempuan murahan kayak elu yang bisa dipeluk siapapun dan mau sama siapapun enggak pantes sih gue kasihani lagi," sembur Adrian dengan wajah benci nya pada Laura.
Plakkk!
Laura dengan gemetar, berdiri dari duduknya. Lalu dengan sekuat tenaga, menampar Adrian. Tak ada kata yang bisa mewakili sakitnya hati Laura saat ini. Hanya tamparan ini yang bisa mewakili betapa hancurnya perasaan Laura.
"Gue udah tahu semuanya. Lihat foto dan video ini!" bentak Adrian menunjukkan foto dan video dari hapenya.
__ADS_1
Laura tampak terkejut dan tak menyangka Adrian mendapatkan foto itu. Demikian juga Tiara yang menyaksikan pertengkaran Laura dan Adrian.
"Sekarang puas lu! Udah puas belum nampar gue? Kalo belum ayo tampar lagi," jerit Adrian marah, urat-urat dilehernya sampai menyembul keluar. Emosinya sudah tak terkendali. Wajahnya sudah memerah marah.
Plakk!
Plakk!
Kali ini dua tamparan dari Tiara. Pipi kiri dan pipi kanan Adrian terasa pedas dengan tamparan Tiara.
Dari tadi, Tiara diam. Dia membiarkan Laura menyelesaikan masalahnya. Tapi, Tiara sudah tak tahan lagi.
"Mulut lu kayak tumpukan sampah, Adrian. Elu lahir dari batu ya! Enggak punya hati banget lu. Nggak mengakui darah daging lu sendiri!" hardik Tiara menunjuk Adrian berkali-kali dengan jarinya.
"Mulai hari ini, gue nggak mau kenal lagi sama lu. Sudah cukup hinaan lu. Baik, kalo lu nggak mau mengakui bayi ini. Sampai kapanpun jangan pernah elu menyesal. Jangan pernah mencari bayi lu. Jangan pernah memohon minta bertemu suatu hari nanti! Mulai hari ini, anggap kita tidak pernah saling mengenal!" putus Laura dengan suara bergetar dan tekad yang kuat.
Tangan Laura mengepal kuat ia sudah bertekad, Dia akan menghapus kata maaf dan menghapus nama Adrian dari hatinya, dari pikirannya dan dari hidupnya. Tak pernah ada laki-laki bernama Adrian selama hidupnya. Tak pernah ada!
"Oh, bagus! Gue sangat setuju gue yakin kan sama elu gue nggak akan pernah menyesal. Jangan pernah temui gue, apalagi minta pertanggung jawaban suatu hari nanti. Minta pertanggung jawaban sama bapak bayi lu langsung," cibir Adrian marah dan langsung pergi meninggalkan kelas.
Laura gemetaran airr matanya luruh ke pipi. Dia menghempaskan pelan tubuhnya ke kursi roda. Tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan Laura saat ini.
Tiara mendorong kursi roda Laura kembali ke meja belakang, sementara Laura masih termenung. Rasanya segala ruang waktu terhenti tiba-tiba seperti berada di ruang hampa udara. Hanya hening, sepi dan sendiri.
Pikiran laura berkelana andai bisa masuk ke pusaran bumi ,Laura lebih memilih menghilangkan dirinya ke dalam pusaran bumi. Agar tak ada lagi rasa sakit ini.
"Laura sabar ya. Gue bakal beri nasihat ke Adrian," ucap Tiara.
Laura menggeleng lemah.' Jangan, Ra. Gue sudah bilang kalo kami tidak akan saling mengenal. Cukup, Ra. Gue akan berjuang sendiri untuk bayi ini. Gue benci Adrian, selamanya!" tekat Laura dengan yakin.
Tiara hanya mengangguk mengerti berusaha memahami maksud sahabatnya.
Hingga bel masuk berbunyi Semua murid tampak sudah datang ke kelas,tak lama guru mereka masuk.
"Anak-anak, buka buku halaman seratus dua puluh. Kerjakan soal satu sampai sepuluh," perintah sang guru.
"Ohya ibu ada pengumuman mulai besok kita libur tiga hari. Senin masuk kita langsung ulangan harian. Kisi-kisi soal beberapa tahun belakangan akan dijabarkan di ulangan harian nanti. Semua wajib ikut agar bisa lulus ujian akhir dua bulan lagi," jelas sang guru lagi.
Semua murid tampak mengangguk dan menjawab iya.
bersambung......
ayo dong teman teman follow novel ni biar makin semangat ngetik nya dan trs jgn lupa ulasan komen dan juga like nya.
happy reading and happy enjoy
__ADS_1