TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
TAK SENGAJA BERTEMU ATHAN


__ADS_3

Setelah ulangan kimia, Adrian bukannya menunggu pelajaran berikutnya. Dia malah melangkah ke parkiran. Menghidupkan mesin mobil dan melesat pergi tanpa izin dengan satpam sekolah.


"Ck... ck... dasar anak zaman sekarang, keluar nggak bilang-bilang ," decak kesal pak satpam yang menggelengkan kepalanya.


Adrian memanfaatkan kesempatan, saat pagar gerbang sekolah dibuka satpam karena ada mobil wali murid yang mau keluar sekolah. Adrian langsung melesat mencuri kesempatan tersebut untuk keluar dari sekolah Adrian penasaran dan tiba-tiba dia meragukan Laura. Dia akan kembali ke klinik tempat kemarin Laura sempat di rawat. Dia akan bertanya lagi pada dokter yang waktu itu memeriksa Laura. Apa benar Laura hamil?


Sepanjang perjalanan menuju klinik, Adrian berkali-kali menghembuskan nafas membuang perasaan yang mengganjal di hatinya.


Hingga dia sampai di klinik, Adrian memarkirkan mobilnya. Dia duduk terdiam dibalik kemudi, berpikir dalam-dalam mempersiapkan dirinya akan jawaban dokter.


Adrian berharap, dokter salah mendiagnosa. Dia belum siap jika Laura suatu hari berkeras menuntut sebuah tanggung jawab.


Akhirnya, Adrian turun dari mobil. Dia melangkah dengan ragu, terasa beban berat ada di hatinya.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis klinik yang berdiri dari duduknya menyambut Adrian.


"Ehem... sa... saya mau bertemu dengan dokter," ucap Adrian ragu.


"Iya, dokter siapa? Udah buat janji sebelumnya?" tanya resepsionis yang tersenyum sopan.


"Namanya saya nggak tahu, tapi dokternya waktu itu perempuan pakai hijab coklat," jawab Adrian.


"Oh, yang pakai hijab dokter Alya ," sahut resepsionis tersebut.


"Iya mbak, saya mau bertem denganu dokter Alya," ucap Adrian.


"Dokter Alya shift siang, satu jam lagi sampai. Bisa ditunggu dulu ya. Namanya siapa biar dicatat?" papar resepsionis.


"Adrian," jawab Adrian singkat.


"Iya, baik. Silahkan duduk dulu ya," kata resepsionis mempersilahkan Adrian duduk.


Adrian mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia kemudian memilih duduk di sebuah kursi tunggu dekat pintu masuk klinik.


Mata Adrian hanya memandang kosong ke arah depan. Lagi-lagi pikirannya berkecamuk. Melihat Laura yang dapat tersenyum saat mengobrol dengan Tiara dan Ikhwan


Kok bisa...


Kenapa gadis itu masih bisa tersenyum di saat dirundung masalah. Sedangkan dia, bahkan harus meminum obat tidur untuk bisa tertidur dengan lelap.


"Sendirian saja, Nak?" seorang bapak tua tiba-tiba menyapa Adrian. Bapak itu memilih duduk di sebelah Adrian.


Adrian terkesiap dan langsung menoleh ke samping kanan. Melihat seorang bapak berusia mungkin sekitar 50 tahun, dengan rambut yang ditumbuhi penuh dengan uban.


"I-iya, Pak. Saya sendirian," jawab Adrian tergagap tak menyangka ada yang menegurnya.

__ADS_1


"Kamu sakit? Atau menemani mamamu berobat? Sepertinya darurat ya, kamu datang masih pakai seragam SMA?" ujar bapak tersebut sambil melirik penampilan Adrian.


Adrian segera menunduk, melihat pakaiannya. Karena kalut, dia bahkan lupa mengganti seragamnya dengan pakaian biasa


"Iya, Pak. Saya sakit," sahut Adrian berbohong.


"Oh... begitu. Lihat seragam kamu bapak jadi ingat anak bapak," ucap si bapak yang matanya jauh memandang ke depan.


Adrian hanya diam dan mendengarkan cerita si bapak tua.


"Lima tahun yang lalu, anak gadis saya bunuh diri. Dia di hamili pacarnya yang tak bertanggung jawab


Saya terlambat mengetahui, karena saya bekerja jauh di luar pulau. Saya akhirnya pulang, saat tetangga mengabarkan putri saya sudah tiada," suara si bapak tercekat. Matanya berkaca mengingat sang anak.


"Saya mengetahui kalo putri saya mengandung dan pacarnya tidak tanggung jawab dari surat yang dia tinggalkan. Hati saya sungguh hancur. Saya pergi merantau karena ekonomi kami yang buruk, istri saya sudah meninggal, anak gadis saya meyakinkan saya, dia baik-baik saja jika saya tinggalkan. Tapi, sungguh saya sangat menyesal hingga saat ini," bapak tua tersebut menunduk, wajahnya terlihat sendu.


Hati Adrian tercubit. Beginikah perasaan orang tua saat mengetahui anaknya telah kehilangan masa depan? Tapi, Laura sendirian. Tak punya ayah dan ibu, siapa yang akan menangisinya?


"Maafkan bapak, seragam kamu mengingatkan kenangan yang lalu. Rasanya seumur hidup bapak tidak akan pernah lupa. Sampai hari ini bapak masih mencari keberadaan laki-laki itu!" tekan bapak tua.


"Apa yang akan bapak lakukan, jika bertemu laki-laki itu?" tanya Adrian yang pertanyaannya mengalir begitu saja.


"Saya ingin bertanya mengapa dia begitu tega pada putri saya. Saya ingin tahu bagaimana kehidupannya setelah menghancurkan masa depan putri saya. Apakah dia baik-baik saja atau hancur!" ucap si bapak emosional.


Adrian menelan ludahnya. Dia merasa seperti laki-laki yang ada di cerita si bapak. Persis! Bedanya Laura tidak bunuh diri. Apa dia akan mendapat balasan dari perbuatannya pada Laura?


"Iya," sahut Adrian.


"Segera ke ruangan dokter Alya ya," ucap resepsionis.


Adrian hanya mengangguk. Lalu mengucapkan permisi pada bapak tua.


Adrian melangkah ke ruangan dokter. Tertulis dokter Alya, SpOg pada pintu ruangan.


Adrian mengetuk dan masuk ke ruangan.


"Silahkan duduk," ucap dokter berhijab itu ramah. Dia sedikit mengernyitkan kening, seorang anak laki-laki SMA ke ruangan poli Obygn.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya sang dokter saat Adrian sudah duduk di hadapan sang dokter.


"Hmm, saya ingin bertanya, Dok ," ucap Adrian ragu dan malu.


"Iya, boleh. Mau tanya apa?" sahut sang dokter.


"Beberapa hari yang lalu ada pasien perempuan bernama Laura dirawat di klinik ini. Saya ingin tahu apakah hasil diagnosanya sudah betul?" tanya Adrian.

__ADS_1


" Laura? Sebentar saya cek," ucap dokter berhijab tersebut langsung berdiri dan mengambil sebuah folder dari lemarinya.


Hening beberapa saat. Dokter tersebut sibuk mencari di antara tumpukan dokumen beberapa hari kemarin.


"Oh, ini ada. Laura dinyatakan positif hamil," ucap dokter.


"Iya, Dok. Saya ingin bertanya apa mungkin hasil pemeriksaan bisa salah kemarin?" tanya Adrian ragu.


"Saya sudah memeriksa saudari Laura sesuai prosedur. Laura memang positif hamil. Jika kurang yakin bisa kembali diperiksa di tempat lain," papar sang dokter.


"Iya, Dok. Maaf," lirih Adrian lemah.


"Usia Laura juga sangat muda. Sebenarnya di usia remaja nya belum siap untuk hamil. Kehamilannya terlalu berisiko," lanjut sang dokter.


"Maksud dokter?" Adrian mengernyitkan kening. Dia bingung.


"Kehamilan saat usia remaja berisiko untuk bayi, misal kelahiran prematur, terus berat badan bayi bisa saja rendah. Atau bisa pendarahan saat persalinan. Tingkat kematian ibu dan bayi termasuk tinggi di usia ini," jelas sang dokter panjang lebar.


Adrian terdiam. Dia tak menyangka resiko yang akan dihadapi Laura begitu tinggi. Adrian meraup wajahnya frustasi. Apa yang harus dia lakukan?


"Ada lagi yang bisa saya bantu? Saya harap kandungan dijaga dengan benar ya. Jangan sampai stress atau tertekan karena masalah. Juga jangan terlalu capek untuk meminimalisir resiko yang akan terjadi," lanjut sang dokter.


Adrian mengangguk lemah." Terima kasih, Dok. Saya pamit dulu," sahut Adrian yang kemudian berdiri dari duduknya.


"Sama-sama," jawab sang dokter menggelengkan kepala saat Adrian keluar dari ruangannya. Dokter Alya seperti sudah memahami masalah apa yang dihadapi Adrian.


Adrian pulang dengan langkah terasa berat. Dia menyesali keputusannya datang ke klinik tadi. Bukannya mendapat kabar sesuai keinginannya. Justru dia menambah beban pikiran dengan penjelasan sang dokter dan cerita si bapak tua.


"Aarkhhhh." Adrian berteriak histeris saat sudah di dalam mobil. Rasanya dia ingin menghilang saja ke tempat di mana tak ada orang yang mengenalinya.


"Kenapa harus gue, sih! Kenapa lu harus hamil Laura!" jerit Adrian sendiri.


Adrian menyalakan mesin mobilnya. Dia melajukan mobilnya pulang. Pikirannya berkecamuk. Andai Laura mau menerima uang yang dia berikan setidaknya dia bisa lega. Bisa mengurangi rasa bersalahnya.


Tapi, Laura menolak uangnya. Adrian tak mungkin menikahi Laura. Apa kata keluarganya yang ningrat? Habis... dia akan dicela habis-habisan. Keluarganya akan membuangnya. Dia tidak akan punya masa depan lagi. Semua fasilitas yang dia punya pasti ditarik kembali.


Adrian hampir saja menabrak motor di depannya karena tidak fokus saat di jalan raya. Untungnya, dia cepat mengerem.


Pengendara motor tadi mengetuk pintu kaca mobil Adrian saat di lampu merah. Meminta Adrian menepi di jalan depan yang bebas parkir. Adrian mengangguk.


Adrian menghela nafas dan melanjutkan perjalanan setelah lampu menjadi hijau. Dia menepi di tempat yang ditunjuk pengendara motor tadi.


"Dik, ini gimana? Spakbor belakang motor saya pecah," ucap pengendara motor tadi menghampiri Adrian yang masih di dalam mobil.


Adrian kemudian turun dan melihat memang spakbor motor tersebut menjadi pecah. Untung dia mengerem tadi, jika tidak kejadian pasti lebih parah dari tadi.

__ADS_1


"Saya minta maaf, Pak. Saya akan mengganti kerugian. Bapak bisa membawa motor bapak ke bengkel," ucap Adrian yang mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan uang ke bapak pemilik motor.


Si bapak nampak mengangguk." Terima kasih. Lain kali hati-hati berkendara," nasihat bapak tersebut yang kemudian pergi dan kembali menghidupkan motornya.


__ADS_2