TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
002


__ADS_3

"Saya juga ya pesen bakso satu, Mang. Lengkap pake semua," seru Revan pada mamang tukang bakso.


"Gue mie ayam aja deh Lagi pengen mie ayam," celetuk Adrian ikut duduk dekat Revan.


Mereka bertiga kemudian mengobrol sambil menunggu pesanannya.


"Kita bolos nih," celetuk Revan.


"Iya, bolos sampe jam istirahat aja. Males gue habis ini fisika. Entar habis istirahat aja masuk kelas. Pas pelajaran santai," papar Dedi.


"Terus ngapain elu berdua nyalin tugas gue tadi," omel Adrian.


"Lah iya, ngapain kita capek nyalin tugas ya," sahut Revan.


Ketiga remaja tanggung itu kemudian tertawa. Merasa lucu dengan kegiatan mereka pagi ini.


"Tuh kan bener firasat gue. Kalo kalian bertiga tuh disini!" celetuk Angel yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Ngapain lu disini?" tanya Adrian tak suka.


"Ketemu elu doang ,Gue tadi pura-pura izin ke toilet," jawab Angel yang duduk didekat Adrian lalu memesan makanan yang sama seperti Adrian.


"Sana lu. Nggak usah terlalu dekat sama gue. Males gue," tolak Adrian saat Angel mendekatinya.


"Elu kenapa sih? Gue tuh sengaja kesini. Pengen tahu, masalah elu apa? Kenapa elu menghindari gue ," tanya Angel yang penasaran dengan sikap Adrian.


Sementara Dedi dan Revan tampak diam. Mereka menekuri bakso yang sedang mereka makan.


Sementara Adrian ikut diam. Memilih menuangkan kecap dan jeruk ke dalam kuah mie ayamnya.


"Rian, elu denger nggak sih gue ngomong! Dijawab dong! Gue tuh cewek lu," seru Angel yang merasa diabaikan Adrian.


"Gue mau makan. Bisa diem nggak lu!" hardik Adrian.


"Kok lu kasar banget jadi cowok. Elu sayang nggak sih sama gue?" tanya Angel penuh harapan.


"Enggak! Elu tuh banyak ngaturnya kayak emak-emak. Banyak maunya. Elu pikir gue ajudan elu yang bisa elu perintah sesuka hati!" ungkap Adrian akhirnya.


"Apa? Maksud lu apa ngomong gitu! Oh, gue tahu. Ini semua pasti gara-gara si Cupu kan! Elu suka sama Cupu, hah? Karena itu elu cari alasan kayak gitu," marah Angel. Matanya mulai berkaca.


Angel sebenarnya malu, dilihat Dedi dan Revan. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia sangat jarang ada kesempatan berbicara dengan Adrian. Adrian selalu menghindar dari Angel.


"Kenapa lu bawa bawa Laura Nggak ada hubungannya!" rutuk Adrian.


"Elu tiap hari sama dia. Anter jemput cupu. Nggak mungkin kalo lu nggak ada rasa sampe segitunya perhatian ke dia," papar Angel menyeka air matanya.


"Apaan sih lu! Bikin mie ayam gue jadi terasa pahit aja. Sifat lu yang bikin gue nggak nyaman," rutuk Adrian yang urung memakan mie ayamnya.

__ADS_1


"Alesan banget lu! Tega banget sih lu, lebih milih si Cupu yang jelek itu ketimbang gue," cecar Angel masih menangis.


"Mau lu apa? Udah sana, gue mau makan dengan tenang!" ketus Adrian.


"Angel, mending lu ke meja lain deh. Makan dengan tenang. Jangan berisik. Entar ada guru yang lewat," sergah Dedi akhirnya. Dedi melihat Adrian sudah tak nyaman dengan tingkah Angel.


"Gue belum selesai, Di. Gue minta Adrian menjauhi si Cupu. Gue mau elu tiap hari anter jemput gue aja. Kalo lu nggak mau menuruti mau gue. Kita putus!" ancam Angel pura-pura.


Angel berharap Adrian mau mempertimbangkan ucapannya setelah diancam dengan kata putus.


"Oke, kita putus! Selesai kan?! Udah pergi lu sana!" ucap Adrian cepat dan santai tanpa beban.


Jawaban yang sama sekali tak terduga oleh Angel. Dia sampai membelalakkan mata dan ternganga, tak percaya dengan apa yang diucapkan Adrian barusan.


"Apa? Apa kata lu?" tanya Angel tak percaya.


"Kita Putus! Putus! Udah denger kan lu," jawab Adrian enteng lalu melanjutkan makan mie ayamnya.


Angel terpaku ditempat. Rasanya pasokan udara disekitarnya terasa menipis. Tak menyangka sama sekali dengan apa yang dia dengar. Sementara Revan dan Dedi juga hanya saling menatap lalu sama-sama menggedikkan bahu. Mereka tak mau ikut campur masalah asmara Adrian.


"Gampang banget lu ngomong. Kayak gue tuh nggak ada artinya bagi lu. Atau selama ini memang gue nggak ada artinya ya buat lu?" tanya Angel meminta penjelasan.


"Gue udah bilang kita putus, Ya udah, elu pergi sana. Nggak ada yang perlu dijelasin lagi," jawab Adrian.


"Gue nggak terima. Gue yakin semua gara-gara si Cupu. Gue bakal buat perhitungan!" ancam Angel.


"Apaan sih lu. Nggak ada hubungannya sama laura. Awas kalo lu macem-macem. Gue nggak bakal tinggal diam!" Adrian mengancam balik.


"Loh, kenapa pada disini? Bukannya belajar," tegur sang guru yang kemudian melangkah ke kantin.


Mereka berempat diam. Angel dengan cepat menyeka air matanya. Menunduk agar tak terlihat oleh sang guru jika dia habis menangis.


"Ayo, ikut ibu ke ruangan BP. Kalian berempat ya. Sekarang!" perintah sang guru tegas.


Mereka berempat kemudian berdiri. Membayar makanan lalu ikut gurunya. Di ruang BP mereka diceramahi habis-habisan.


Lalu dihukum berdiri dua jam dibawah tiang bendera. Sambil memberi hormat pada bendera negara.


"Apes bener gue hari ini," celetuk Revan.


"Angel sih, berisik banget. Ketahuan kita," omel Adrian. Sementara Angel yang merasa namanya disebut hanya mendengus kesal.


"Mentang-mentang bokap gue udah nggak sehebat dulu lagi. Guru pada berani menghukum gue. Baru kali ini gue dihukum," rutuk Dedi kesal.


"Di, elu mau nggak bantu gue?" bisik Angel yang berdiri sebelah Dedi. Sementara Adrian dan Ivan berdiri lebih jauh dari mereka.


"Bantu apaan?" tanya Dedi.

__ADS_1


"Bantu gue biar Adrian jauh dari Laura. Gue sakit hati banget sama Laura," ungkap Angel.


Dedi diam sejenak Dedi sangat tahu, mengapa Adrian dekat dengan Laura. Itu semua karena rasa tanggung jawab Adrian pada Laura


Lagi pula, Dedi juga tak mau orang-orang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia takkan mau mencari perkara lagi. Apalagi saat ini keluarganya masih di sorot oleh publik.


"Sorry, Angel! Gue nggak bisa bantu lu. Gue saranin elu nggak usah macem-macem deh," sahut Dedi.


"Ah, payah lu. Biasanya lu gercep banget kalo masalah si Cupu. Kok lu sekarang melempem?" Angel tampak mengernyit heran. Dedi tak segarang dulu lagi.


"Elu lihat dong. Masalah keluarga gue aja belum beres sampe sekarang. Gue nggak mau nambah masalah lagi," jelas Dedi mencari alasan.


"Ih, kesel gue. Nggak ada yang mau bantuin gue. Gue beneran sakit hati sama Laura," rutuk Angel.


"Gue saranin elu jangan bertindak macem-macem. Kalo lu nggak mau berhadapan dengan Adrian. Elu kan cantik, cari aja cowok lain," usul Dedi asal.


"Ngomong gampang banget, lu. Perasaan gue gimana? Gue suka nya sama Adrian!" rutuk Angel kesal.


Mereka berempat kemudian terdiam. Cuaca terik mulai menyapa kulit mereka.


"Aduh, panas banget," keluh Angel.


Sementara Dedi, Revan dan Adrian hanya menyeka keringatnya. Mereka tak banyak lagi bicara.


Di kelas, semua murid belajar dengan baik. Mereka tak tahu kalau teman mereka sedang dihukum di lapangan.


" Laura, bagaimana kakinya? Apa kata dokter?" tanya sang guru saat menghampiri meja Laura yang asyik menulis tugasnya.


Laura merapatkan tasnya ke perutnya. Adrian bahkan membelikan Laura tas baru yang lebar dan besar untuk menutupi perutnya. Jantung Laura selalu berdetak hebat jika ada teman atau guru yang menghampiri mejanya.


"Hmm... belum ada perkembangan, Bu. Kata dokter belum bisa dilepas gips nya," ucap Laura berbohong. Tubuhnya sudah bergetar hebat, tegang karena sang guru tak kunjung pergi dari samping mejanya.


Perut Laura terasa berdenyut nyeri karena perasaannya yang tak karuan. Tubuh yang menegang dan pikiran yang cemas.


"Bu, ini soal nomor dua saya nggak ngerti," seru Tiara asal sambil menunjuk tangannya. Dia hanya bertanya asal saja, yang terpenting sang guru pergi dari samping Laura.


"Ya sudah. Ibu doakan kamu cepet sembuh ya, nak" ucap sang guru akhirnya lalu beranjak pergi mendekati Tiara. Sementara Laura hanya mengangguk.


Laura menghembuskan nafas lega, saat sang guru pergi. Bersyukur sekali, Tiara sigap menolongnya.


"Apanya yang membuat kamu bingung, Tiara?" tanya sang guru saat sampai di meja Tiara.


"Ini, Bu. Perasaan tadi kabur tulisannya," jawab Tiara asal.


"Itu kan jelas tulisannya. Aduh, kamu ini, Tiara. Mata kamu baik-baik aja kan?" sang guru justru khawatir dengan muridnya yang mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Ba- baik, Bu. Maaf bu, salah lihat tadi," ucap Tiara gugup.

__ADS_1


"Ya, sudah. Ibu kembali ke meja ibu," ucap sang guru melangkah ke mejanya.


Satu jam kemudian, Adrian,Dedi, Revan dan Angel baru kembali ke kelas mereka. Beruntung, guru sudah keluar dari kelas. Mereka sedang menunggu guru berikutnya.


__ADS_2