
Sekolah jadi heboh dengan banyaknya orang-orang berseragam hitam di sekolah mereka. Banyak siswa yang mengintip dari jendela kelas. Tak ada yang berani keluar.
Suasana tegang sangat kentara. Shabila yang melihat pemandangan disekitarnya merasa ikut tegang luar biasa. Tangan kanannya langsung memegang tangan kakaknya yang menggamit lengan kirinya.
Athan yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, tampak lebih tenang. Dia hanya fokus melindungi adiknya.
Sementara polisi yang melihat kartu identitas kepala pengawal langsung memberi hormat.
"Komandan, maaf kami tidak mengenali komandan!" suara tegas petugas itu.
Kepala pengawal tersenyum. Mereka benar polisi. Kebetulan polisi yang bertugas saat ini dulunya adalah bawahannya sebelum dia memilih pensiun dini karena kondisi kakinya yang pernah terkena tembakan.
"Saya pengawal pribadi nona Laura sekarang," jelas kepala pengawal.
"Siap. Kami mendapat tugas untuk menjemput yang bernama Laura untuk dimintai keterangan," jelas polisi tersebut.
"Mana suratnya?" tanya kepala pengawal lagi.
Polisi tersebut akhirnya menyerahkan sebuah surat tugas yang dia miliki. Kepala pengawal segera membaca dan mengangguk mengerti.
"Biarkan saya yang membawa nona Laura ke kantor polisi. Kami akan datang dan memberikan keterangan. Nona Laura juga berhak didampingi pengacara keluarga," papar kepala pengawal.
Polisi tersebut akhirnya setuju. Dia akhirnya pergi menuju mobilnya. Kepala pengawal segera mengabarkan ke semua tim kalau keadaan aman dan di dalam kendali.
Kepala pengawal segera menelepon Om Leon dan menjelaskan situasinya. Om Leon segera bertindak. Dia memerintahkan bagian IT untuk mencari informasi tentang Angel dan keluarga Angel.
Tak lupa menghubungi pengacara keluarga yang merupakan pengacara paling kondang di negeri ini.
Sementara itu, Athan segera menuntun Laura kembali ke mobil. Kali ini, yang membawa mobil langsung kepala pengawal.
"Kak, Laura takut," lirih Laura saat mereka sudah didalam mobil dan mobil segera melaju mengikuti mobil polisi.
"Tenang saja, sesampainya disana pengacara kita pasti sudah ada. Semua akan baik-baik saja, dik," ucap Athan menghibur Laura.
"Apa Laura akan masuk penjara? Angel yang mengurung Laura," ungkap Laura.
"Angel yang akan masuk penjara. Lihat saja nanti," ujar Athan yang sebenarnya sangat marah.
"Entah apa salah Laura? Hanya karena dia suka dengan Adrian, Angel menghalalkan segala cara agar Laura bisa dikeluarkan dari sekolah tutur Laura.
"Tenanglah, Laura. om Leon dan Papa tidak akan tinggal diam. Jika cara baik-baik tidak bisa membuat mereka bungkam. Mungkin kita perlu sedikit kekuatan dan kekuasaan untuk melumpuhkan lawan!" ucap Athan yang sudah semakin marah.
__ADS_1
Laura mengangguk lemah. Dia berusaha tenang. Tapi, hatinya semakin berdegup kencang. Dia tidak pernah berurusan dengan polisi. Apalagi sampai datang ke kantor polisi.
Terakhir dia ke kantor polisi hanya sebagai saksi saat kasus di luar kota saat itu. Pikiran Laura penuh tanda tanya. Apa yang akan ditanyakan petugas? Apa yang harus dia jawab? Apa petugasnya galak? Apa dia akan di marah-marah seperti di film?
Tiba-tiba kelebat bayangan Dayyan muncul di pikiran Laura. Bagaimana Dayyan saat ini? Apa dia akan terpisah dengan Dayyan? Berbagai macam pikiran hadir di kepala Laura.
Tanpa Laura tahu, di rumah sakit, bayi mungil itu merasakan apa yang dirasakan bundanya. Dia menangis tak henti, meski sudah diberi susu.
Dokter sampai datang dan memeriksa Dayyan. Takut terjadi sesuatu pada tubuh Dayyan. Namun, hasil pemeriksaan menyatakan Dayyan dalam kondisi baik-baik saja.
Mama Runi mengelus tangan Dayyan, sementara Dayyan yang terisak tampak melihat neneknya dengan mata sendu. Bibir kecilnya komat kamit seperti ingin bercerita sesuatu.
"Dayyan, kenapa sayang? Rindu bunda ya? Sebentar lagi bunda pulang ya. Bunda sekolah sebentar aja," hibur mama Runi.
Setelahnya sang nenek segera melantunkan sholawat badar untuk menenangkan Dayyan.
"Shalaatullah salaamullah..." Mama Runi mulai bersholawat. Lamat laun, Dayyan akhirnya tenang dan tertidur.
***
Di kantor polisi, pengacara Angel dengan percaya diri datang. Dia yakin akan memenangkan kasus dengan mudah. Lawannya hanya seorang anak remaja yatim piatu. Siapa yang akan menolong gadis bernama Laura itu? Tidak ada.
Tapi, matanya terbelalak sempurna saat melihat seorang pengacara kondang dan paling disegani di negeri ini dengan penampilan nyentrik sedang duduk manis di kursi tunggu milik kantor polisi.
"Bang, kenapa abang ada disini? Wah, pasti ada kasus besar dan hebat kalo abang sudah sampai disini," decak kagum pengacara Angel.
"Eh, kau pengacara Angel ya?" tanya pengacara hebat itu dengan logat bahasa daerahnya yang khas.
"Iya, bang. Abang ke sini kasus siapa?" tanya pengacara Angel lagi.
"Kasus kau lah. Kau berhadapan dengan ku sekarang. Perkenalkan aku pengacara Laura." ungkap pengacara hebat itu.
"Hah, jangan bercanda, bang. Laura itu hanya anak yatim piatu. Bagaimana bisa abang yang jadi pengacaranya?" Pengacara Angel tampak terkesiap. Dadanya tiba-tiba berdebar hebat. Berharap yang dia dengar hanya candaan.
"Buat apa aku bercanda? Kau ingat tidak kasus yang hampir delapan belas tahun yang lalu. Keluarga konglomerat Albirru kehilangan anak perempuan!" papar pengacara Shabila lagi.
"Ah, iya.. iya... bang. Saya ingat, dulu gempar sekali. Sampai dicari ke luar negeri juga," sahut pengacara Angel.
"Nah, Laura ini anaknya pak Albirru. Mereka akhirnya menemukan anak mereka. Laura adalah sang pewaris Albirru Corporation. Perusahaan raksasa yang usahanya menggurita di berbagai negara," jelas pengacara Laura lagi.
"Alamak jang! Sama saja bunuh diri saya melawan abang. Tamat karir saya, Bang," raung pengacara itu. Dia langsung menepuk dahinya sangking kagetnya.
__ADS_1
Pengacara itu lemas seketika. Rasa percaya dirinya sirna. Dia yakin seratus persen akan kalah. Dia tahu kasus yang dia tangani tidak memiliki bukti yang kuat. Dia mau menangani kasus ini karena tahu yang dia hadapi hanya anak yatim piatu.
"Kita akan bertemu di persidangan. Siap-siap saja kau! Siapkan diri kau, kalau kau kalah, jangan pingsan ya," ledek pengacara Laura.
Pengacara Angel meringis. Lututnya gemetar. Tubuhnya terasa lemas membayangkan karirnya akan habis di persidangan kali ini.
Akhirnya, dia permisi ke belakang. Di halaman belakang kantor polisi, pengacara Angel itu segera menelepon papa Angel.
"Pak, aduh gawat Pak! Saya mundur jadi pengacara anak bapak. Silahkan cari pengacara yang lain.
Saya nggak sanggup," cerocos pengacara itu saat panggilan telepon tersambung.
"Loh... loh... memangnya ada apa? Bukankah kemarin kamu bilang kita pasti bisa memenangkan kasus? Kamu bilang ini kasus kecil, lawan kita lemah nggak mungkin bisa melawan?" tanya Papa Angel bingung.
"Bapak bilang kan dia anak yatim piatu. Nggak punya siapa-siapa yang bisa bantu dia. Makanya saya ambil kasus ini," jawab pengacara tersebut.
"Iya, kenyataannya memang seperti itu. Anak saya sendiri yang bicara seperti itu. Nggak mungkin anak saya bohong," papar papa Angel.
"Aduh, Pak! laura itu anaknya pak Albirru. Lawan kita pengacara hebat. Saya pastikan kita akan kalah. Kemungkinan besar mereka pasti menuntut balik anak bapak. Siap-siap saja, bapak atau anak bapak bakal tidur di hotel prodeo!" ungkap pengacara itu setengah putus asa.
Bayangan karir yang hancur didepan mata.
"Apa! Bagaimana bisa, anak yang tinggal di panti asuhan itu ternyata anak pak Birru. Hari ini bahkan saya akan bertemu pak Birru. Dia akan menjadi investor utama di perusahaan kami," papar papa Angel tak percaya.
"Kalau begitu, tunggu saja. Pihak mereka pasti membatalkan kerjasama dengan perusahaan bapak ," cetus pengacara itu.
"Ah, tak mungkin. Perusahaan mereka perusahaan besar dan profesional. Lagi pula tidak mungkin dia anak pak Birru," kelit Papa Angel.
Papa Angel mematikan telepon dan berusaha menenangkan diri.
Siapa pengacara yang mau membantunya untuk kasus ini kalau pengacara keluarganya sudah tak mau. Papa Angel tampak kesal, karena pengacara mereka yang sangat mudah menyerah.
***
Dilain pihak, Om Leon sudah mendapatkan data-data tentang Angel dan keluarganya. Dia segera menghubungi Papa Birru.
Papa Birru yang tadinya akan berangkat untuk bertemu papa Angel tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia mengambil hape nya di saku celana. Hapenya berbunyi.
"Assalamualaikum," sapa Papa Birru saat melihat dilayar hapenya tertulis nama Leon. Pasti telepon penting, pikir Papa Birru.
"Wa'alaikumsalam. Birru ada kabar penting. Laura dilaporkan oleh Angel untuk kasus gudang sekolah kemarin. Laura sedang menuju kantor polisi. Tapi, tenang saja pengacara kita sudah sampai duluan di kantor polisi," tutur Om Leon di telepon.
__ADS_1