
Laura dan Ibu panti sampai di depan sebuah rumah. Mata Laura melihat rumah dan sekelilingnya.
Rumah bertingkat dua dengan desain minimalis, terletak di pinggir jalan raya. Rumah tampak sepi, sepertinya pemilik rumah adalah orang yang sibuk. Tak ada tanaman di depan rumah. Hanya ditumbuhi rumput liar di beberapa sudut.
Tangan Laura digenggam oleh ibu pantinya. "Kamu tenang saja, ibu yakin saudara ibu orang baik. Tadi ibu sudah menelepon mereka dan mereka setuju kamu tinggal di sini, nak" ibu panti menenangkan Laura
"Iya, Bu. Laura mengerti," ucap Laura mengangguk.
Ibu panti menekan tombol bel yang ada di pagar rumah. Tak lama seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan keluar. Dengan menggunakan baju daster dan rambut ikal sebahu yang terikat karet gelang.
"Eh, bude Tejo. Masuk bude," wanita pemilik rumah tampak ramah menyambut ibu panti. Matanya melirik ke arah Laura yang membawa tas besar. Melihat sekilas penampilan Laura dari atas sampai bawah.
"Iya, ini Bude. Maaf ya, Bude bakal merepotkan kamu. Apalagi datang mendadak seperti ini," ucap ibu panti merasa tak enak hati.
"Tak apa apa , Bude. Saya mengerti, kok," senyum wanita pemilik rumah yang membuka lebar pagar rumahnya.
"Ayo, nak Laura. Kita masuk," ucap ibu panti yang merangkul pinggang Laura.
Laura hanya mengangguk dan tersenyum. Laura berharap pemilik rumah adalah orang yang baik.
"Duduk, Bude! Sama siapa namanya tadi?" tanya wanita tersebut yang bertanya pada Laura. Mereka sudah di ruang tamu minimalis.
"Laura, Tante," sahut Laura mengangguk sopan.
"Ah iya, Laura. Perkenalkan Tante namanya sri Ningsih. Panggil saja Tante sri" ucap tante sri menyodorkan tangannya bersalaman dengan Laura. Tangan Laura terulur menyambut salam tangan Tante Sri.
"Terima kasih, sri," sahut ibu panti yang kemudian duduk di sofa panjang bersama Laura
"Sebentar ya Bude, saya buatkan minum dulu. Harap maklum, asisten rumah kami baru bulan kemarin berhenti kerja. Dia pulang ke kampung halaman," jelas Tante Sri.
"Tak usah repot, Sri. Kami tak haus," tolak ibu panti.
"Ah, perjalanan bude jauh, tak mungkin tak haus," kilah Tante Sri yang langsung berjalan ke belakang.
Laura hanya diam duduk di sofa. Matanya memandang sekeliling. Ada setumpuk baju dalam keranjang yang belum dilipat di ujung tangga. Ada lukisan di dinding yang agak miring. Sepertinya belum sempat dibenahi. Meja tamu di hadapan Laura sedikit berdebu.
Lauraa berpikir mungkin pemilik rumah adalah orang yang sangat sibuk. Sampai tak sempat membereskan rumah. Lagi pula pembantu di rumah ini sudah berhenti.
"Di minum Bude dan Laura juga," ucap Tante Sri yang membawa dua gelas air sirup berwarna merah dan satu toples keripik singkong pedas.
__ADS_1
"Aduh, kamu ini repot-repot banget," ucap ibu panti makin merasa tak enak.
"Ah, Bude. Jarang banget loh Bude ke sini. Ini bukan apa-apa," ucap tante Sri yang kemudian duduk di sofa seberang sofa yang Laura dan ibu panti duduki.
"Kalo begitu, bude minum dulu," ujar ibu panti tersenyum lalu mengambil gelas dan minum. Laura hanya mengikuti ibu panti, dia ikut minum juga.
Tante Sri hanya mengangguk dan tersenyum. Memperhatikan tamu di depannya yang meminum sirup.
"sri, seperti kata bude di telepon tadi. Bude mau minta tolong sama kamu," ucap ibu panti memulai pembicaraan setelah meletakkan kembali gelas minuman yang tersisa.
"Pasti menerimanya Bude. Kami ini sudah sejak lama menginginkan momongan. Tapi kang Permana inginnya punya anak kandung," cerita tante Sri. Seperti ada beban yang mengganjal di hati tante Sri saat bercerita.
Laura jadi menunduk. Tante Sri dan suaminya sudah menikah sekian lama, tapi belum juga dikaruniai keturunan. Sementara dirinya yang melakukan kesalahan satu kali, tapi hasilnya dia begitu dengan mudah hamil.
Kenapa tidak di balik saja nasib mereka? Agar tante Sri bisa bahagia bersama suaminya. Sementara Laura masih tetap bisa melanjutkan sekolah.
Hidup memang terkadang tak selalu sesuai dengan harapan.
"Laura ini kelas berapa?" tanya Tante TlSri yang membuyarkan lamunan Laura.
"Kelas dua belas, Tante," jawab Laura mengangguk sopan. Tante sri tampak mengangguk mengerti.
"Ooohh, anak hebat," puji Tante Sri mengacungkan kedua jempolnya.
"Saya tidak perlu banyak memikirkan biaya sekolah Laura, dari kecil dia selalu mendapatkan beasiswa, bahkan dua kali loncat kelas," jelas ibu panti.
"waaaahhhh... hebat banget. Berarti usia Laura sekarang baru enam belas tahun?" tanya Tante Sri berdecak kagum.
"Saya bulan depan genap delapan belas tahun, Tante," ucap Laura tersenyum.
"Saya terlambat memasukkan Shabila ke sekolah, sri. Waktu itu keadaan keuangan panti sedang tidak baik. Laura terlambat dua tahun masuk sekolah. Tapi, saat kelas satu Laura sudah bisa membaca bahkan menyelesaikan hitungan untuk anak kelas empat," kenang ibu panti.
Laura menjadi salah satu anak asuhnya yang penurut sekaligus tak pernah merepotkan. Laura sering membantu ibu panti mengajari adik-adiknya belajar.
"Wah, prestasi kamu pasti luar biasa di sekolah ya, Laura. Bude pasti sangat merasa kehilangan, kamu nggak di panti lagi," ujar Tante sri
Laura hanya tersenyum dan mengangguk.
"Nanti kapan-kapan Laura main ke panti ya, adik-adik pasti kangen dengan kamu," ujar ibu panti menatap Laura
__ADS_1
"Iya, Bu. pasti nanti Laura main ke panti," sahut Laura.
"Kamu tenang aja, Laura. Angkutan umum lewat terus di sini. Karena rumah tante kan di pinggir jalan besar," papar tante sri.
"Iya, tante," ucap Laura.
Setelah itu, Tante sri dan ibu panti lebih banyak mengobrol berdua, hingga tak terasa satu jam berlalu.
Ibu panti akhirnya pamit, memeluk Laura dan menguatkan Laura bahwa semua akan baik-baik saja.
Laura mengangguk dan melambaikan tangan saat ibu pantinya sudah naik ke mobil angkutan umum.
"Ayo masuk, Laura," ajak tante sri setelah mobil yang membawa ibu panti sudah tak terlihat.
Tante sri sudah duluan masuk ke rumah, sementara Laura masih melihat jalan. Rasanya jalan ini sudah tak asing. "Oh iya, bukannya ini searah dengan jalan ke rumah mama Soni, salah satu pelanggan toko bunga tempatnya bekerja.
Masih ada waktu, Laura sudah berpikir panjang. Dia akan berhenti sementara dari toko Bunga. Dia mau mencoba mengajar les anak-anak SD.
Laura akhirnya masuk ke dalam rumah. Saat masuk terlihat tante sri yang sedang menonton televisi sambil makan cemilan.
"Laura itu kamar kamu, bawa tas kamu ke sana," tunjuk tante sri ke sebuah kamar di sebelah dapur.
"Iya, Tante," Laura hanya mengangguk dan tersenyum.
Laura segera membawa tasnya ke belakang. Kamar dengan ukuran 2, 5 meter x 3 meter rasanya cukup buat Laura. Dia melangkah masuk ke dalam kamar, melihat ranjang dengan ukuran single. Satu buah lemari plastik dan satu meja kecil.
Laura menghembuskan nafas lega, tetap bersyukur dia punya tempat tinggal. Hanya saja dia harus membersihkan kamarnya, penuh debu. Sepertinya ini tempat pembantu sebelumnya.
" Ra, tolong ruang tamu depan kamu bersihkan ya. Bawa ke belakang cangkir bekas minum tadi. Ohya, bersihkan kamar ini juga," ucap Tante Sri yang muncul dari pintu.
"Iya, Tante. Laura bersihkan nanti," jawab Laura.
"Sekalian piring di belakang di cuci! Kamu tahu kan nggak ada yang gratis di dunia ini," tegas tante Sri.
Senyum yang tadi tante Sri di tebarkan saat ibu panti ada di rumah, sudah tak terlihat lagi, Wajahnya terlihat ketus dan ara bicaranya berubah. Seperti memberi perintah pada asisten rumah tangga.
Laura segera beranjak. Mengganti jilbabnya dengan jilbab instan untuk di rumah. Menggunakan daster panjang. Lalu segera keluar menuju ruang tamu. Laura mulai membersihkan rumah.
Setelah itu, dia kembali ke kamarnya. Membawa sapu dan pel. Membuka jendela kamar agar udara bisa berganti. Laura mulai membersihkan kamarnya.
__ADS_1
bersambung.....