
Dedi terkesiap mendengar ucapan orang diseberang telepon. Sementara Revan dan Adrian saling melirik. Suara volume hape Dedi yang diperbesar, membuat mereka berdua juga bisa ikut mendengarkan.
"Kurang ajar lu! Sini lu kalo berani ge tantang lu!" tantang Dedi marah.
Tapi, diseberang telepon hanya derai tawa mengejek yang terdengar. Membuat Dedi semakin geram sementara Revan justru ketakutan dan Adrian berdebar hebat.
"Tentu. Pertunjukan akan segera kita mulai!" putus suara diseberang.
Setelahnya, sambungan telepon terputus. Orang diseberang telepon menutup teleponnya. Membuat ketiga sekawan ini semakin penasaran.
"Suara siapa itu?" tanya Revan dengan tatapan cemas pada kedua temannya.
Namun, keduanya menggeleng.
"Sial! Kalian ngerasa familiar nggak dengan suara orang ini?" tanya Dedi pada kedua temannya.
Adrian dan Revan menggeleng mereka bertiga masih merenung didalam mobil, masih terpaku di
parkiran rumah sakit.
Mencoba mengingat-ingat kira-kira suara siapa yang tadi menelepon. Hasilnya mereka bertiga tetap sama-sama menggeleng.
"Apa mungkin Niko adiknya Farida?" ucap Revan.
"Kayaknya nggak mungkin deh, dia kan lagi di penjara. Setahu gue, disana tahanan nggak boleh bawa hape," papar Adrian.
"Kalo pun dia yang telepon kita, gimana caranya dia mau balas dendam. Sementara dia dibalik jeruji besi?" jelas Dedi.
"Bener juga, terus siapa dong musuh kita?" tanya Revan lagi.
"Hanya Niko dan Farida yang membuat nama kita sampe viral," sahut Adrian.
"Pastinya nggak mungkin si Cupu. Suara tadi, suara laki-laki. Sementara Cupu, mana berani dia membalas kita," remeh Dedi.
Mereka bertiga kemudian kembali terdiam. Sama-sama berpikir keras. Mata Dedi menjelajahi lapangan parkiran dari kaca jendela mobil. Menatap tajam ke segala arah.
"Kenapa, Di?" tanya Adrian.
"Orang ditelepon itu tahu kita disini. Berarti dia ada disekitar sini. Tunggu gue turun," putus Dedi.
Dedi keluar dari mobil berjalan ke sana kemari. Sementara Adrian dan Revan menunggu di mobil. Mereka berdua memperhatikan gerakan Dedi diluar mobil.
"Nggak ada orang yang mencurigakan," ucap Dedi saat kembali ke mobil.
"Tuh kan! Apa ini cuma orang iseng? Lagian tahu dari mana dia nomor hape kita?" sahut Adrian gusar.
"Diluar cuma ada satpam dan tukang parkir. Terus beberapa keluarga pasien yang pulang dan datang anggap aja orang iseng," gumam Dedi
"Tapi, gue takut. Gimana kalo dia serius?" seru Revan dengan rasa cemas
__ADS_1
"Kita ini laki-laki. Kita bertiga, dia pasti sendirian. Mana berani dia," remeh Dedi.
"Ayo, pulang. Gue mau istirahat. Pikiran gue rasanya berat banget," ajak Adrian yang memijit kepalanya pelan.
Terlalu banyak masalah yang mereka hadapi akhir-akhir ini. Membuat Adrian tertekan.
"Ya, sudah. Ayo, Van," putus Dedi.
Revan mengangguk dan akhirnya mulai menyalakan mesin mobil. Mereka meluncur ke jalanan.
Tanpa mereka sadari, mobil Revan sudah diikuti sedari keluar dari rumah sakit tadi.
Revan membawa mobil ke rumah Dedi setelah sampai, Revan dan Adrian pamit pulang dengan mobil masing-masing.
***
"Tuan muda, kami sudah tahu dimana saja tempat tinggal mereka," telepon seorang anak buah.
"Makasih, Paman. Kerja bagus, segera pulang sebelum Om dan Tante menyadari kalian keluar," balas sang tuan muda.
"Baik, tuan muda," sahut anak buahnya.
Telepon sudah dimatikan oleh sang tuan muda. Tinggal kedua anak buahnya yang segera melaju pulang dengan motor.
"Kita pasti di hukum kalau ketahuan tuan besar," ucap anak buah yang berkepala botak saat mereka sudah tiba di rumah besar dan berada di dapur pegawai.
"Tuan muda itu sungguh menggemaskan dan baik hati. Mana tega permintaannya tidak kita ikuti," celetuk salah satu asisten rumah tangga.
"Ah, ngomong aja kamu suka sama wajahnya yang ganteng," cibir yang berkepala botak.
"Iya, emang ganteng nggak kayak kamu, kepalanya gundul," sahutnya terkekeh.
Tak lama, sebuah pesan masuk. Meminta kedua anak buah itu bersiap-siap nanti malam!
***
Hari menjelang sore, Laura sudah kembali tertidur. Kali ini tidurnya begitu tenang, Papanya melantunkan surat-surat Al-Qur'an hingga Laura bisa tertidur nyenyak.
Mama Runi tetap berada disamping brankar Laura, menggantikan Papa Birru melantunkan surat-surat Al-Qur'an.
Athan yang baru saja masuk ruangan segera diajak Papa keluar ruangan lagi bersama Tiara.
"Tiara, kami sangat berterima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan. Mulai sekarang, kami akan membiayai semua biaya sekolah sampai kamu lulus kuliah Tiara. Juga jaminan kerja langsung di perusahaan kami jika Tiara mau," papar papa Birru diluar ruangan. Mereka bertiga duduk di bangku tunggu.
"Masyaah Allah, terima kasih Om," ucap Tiara terkejut dan sangat senang.
"Semua yang kami beri, tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan untuk anak kami, Nak. Sebentar," sahut Papa Birru lalu memanggil salah seorang anak buah Om Leon.
Anak buah Om Leon menghampiri, menyerahkan sebuah paper bag kecil.
__ADS_1
Nah, ini untuk Tiara. Tadi Mama Runi sempat menghubungi pemilik toko. Memesan ini untuk Tiara. Semoga suka, Nak," ucap Papa Birru menyerahkan paper bag pada Tiara.
"Hah, i-ini apa, Om?" tanya Tiara bengong sambil melihat tampilan luar paper bag cantik itu.
Papa Birru terkekeh melihat reaksi polos teman anaknya. Papa Birru jadi membayangkan reaksi Laura jika mendapat hadiah. Pasti lucu dan menggemaskan. Ah, begitu banyak memori indah yang seharusnya tercipta bersama buah hati. Tapi, hanya bayang dan sepi yang mengisi memori selama ini.
"Nanti dibuka saja di rumah ya Oh ya, Athan tolong antar Tiara ya. Ajak mbok aja biar nggak berdua dalam mobil. Itu mbok sudah datang ," papar sang Papa sambil melihat mbok pengasuh Athan yang sudah datang.
"Oh siap, Pa. Assalamualaikum," pamit Athan mencium tangan Papa Birru, sementara Papa Birru menangkupkan kedua tangan didepan dada saat Tiara hendak salim.
Tiara mengangguk mengerti keluarga Laura ternyata termasuk keluarga yang memegang teguh agama.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati," sahut Papa Birru.
Tiara kemudian berjalan disamping mbok. Sementara Athan dibelakang. Beberapa anak buah Om Leon mengiring dibelakang.
"Kak Athan, emang prosedurnya selalu gini ya?" tanya Tiara pelan saat mereka sudah berada di mobil.
Mobil sedan mewah itu meluncur di jalanan. Athan duduk disamping pak supir, sementara Tiara duduk dibelakang bersama mbok pengasuh.
"Maksudnya prosedur apa?" Athan bertanya balik.
"Itu loh, yang menggiring kita sampe dua mobil. Dari di rumah sakit aja udah pake pengawalan. Gue berasa ikut rombongan mobil presiden," celetuk Tiara.
"Oh, santai aja Ini memang prosedur dari Om Leon. Selama ketua kelompok penjahat yang menculik Laura belum tertangkap lagi. Kita bakal seperti ini terus kalo kemana-mana," jelas Athan.
"Iya, kecuali kemarin-kemarin. Aden bolos home schooling, keluar tanpa pengawalan. Jangan lagi ya, Den. Jantung mbok mau copot. Doa terus sampe aden pulang selamat," cetus mbok pengasuh yang mengelus-elus dadanya.
Mbok pengasuh masih setia dengan pakaian tempo dulunya. Memakai kebaya dan kain. Tak lupa rambutnya di cepol kebelakang. Hidupnya didedikasikan untuk Athan.
"Hehehe... maaf mbok sayang. Nggak lagi deh, kan Laura udah ketemu. Athan tuh kemarin yakin banget kalo bakal ketemu sama Laura" papar Athan.
"Alhamdulillah, neng Laut sudah ketemu. Mbok ikut seneng," ucap mbok sumringah.
Tiara tampak memperhatikan paper bag kecil yang ada ditangannya. Dia penasaran kira-kira apa isinya.
"Kayaknya itu perhiasan, Neng," ucap mbok tersenyum.
"Hah, perhiasan?" tanya Tiara terkejut.
"Biasanya Mama tuh suka kasih hadiah seperangkat perhiasan," celetuk Athan membeberkan kebiasaan Mamanya.
"Waduh, mahal dong. Emas ya?" ucap Tiara terkejut.
"Biasa nya berlian sih, apalagi elu sudah bantu jaga dan nyelamatin nyawa adik gue.mungkin diatas satu milyar kali nilainya," jelas Athan.
"Hah... sa-satu Milyar? Itu duit kan? Aduh, serius gue takut kalo nerima yang mahal gini," ucap Tiara kikuk. Tangannya sampai gemetar memegang paper bag.
Tadinya Tiara pikir dia mendapatkan souvernir cantik seperti di tempat pernikahan ternyata seperangkat perhiasan.
__ADS_1