
"Bentar, Bro. Gue ambilin lu minum," ucap Dedi yang kemudian keluar kamar.
Tak lama Dedi kembali membawa air mineral. Menyerahkan pada Adrian.
"Minum dulu, Bro. Gue tahu lu lagi nggak bisa berpikir tenang. Biar kita berdua yang bicara dengan Laura besok," ucap Dedi berusaha menenangkan Adrian.
Adrian segera meminum air hingga tandas. Nafasnya mulai kembali teratur.
"Gue nggak yakin, Laura bakal sekolah besok," ujar Adrian yang kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding. Matanya jauh menerawang ke atas.
"Maksud lu?" tanya Revan bingung.
"Setelah kejadian itu, Laura mukul gue. Terus dia lari keluar mobil. Gue udah berusaha cari dia, tapi nggak ketemu. Gue malah berharap dia nggak kembali lagi ke kota," ucap Adrian dengan tatapan kosong.
"Hah? Lu ninggalin dia di mana, Rian?" Dedi terkejut.
"Kalo dia kenapa-kenapa gimana? Polisi bisa saja melacak keberadaan kita," Revan tampak cemas.
"Lalu apa yang harus gue lakuin? Ini semua gara-gara lu berdua tau nggak!" rutuk Adrian benar-benar kesal.
"Maaf, Bro. Kita beneran nyesel, kita gak tau kalau bakalan begini jadi nya" ucap Revan. Sementara Dedi tampak berpikir.
"Aaargghhh!" jerit Adrian lagi.
"Bro, tenang! Gini aja, lu sama gue pagi ini telusuri lagi pinggiran kota. Semoga aja ketemu sama Laura. Terus Revan ke sekolah, memantau situasi di sekolah. Kalo Laura ternyata sekolah, lu cepat kabari kita, Van!" usul Dedi.
"Oke, gue setuju aja!" Revan mengangguk setuju.
"Gue ngikut aja. Gue nggak tahu harus ngapain lagi," ucap Adrian lemah.
"Ya, udah. Lu mandi dulu bro," ucap Dedi menyerahkan sebuah handuk pada Adrian.
Adrian segera berdiri dan melangkah ke kamar mandi.
Sementara Ivan dan Dedi hanya saling pandang. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Dedi sama sekali tidak menyangka hal ini terjadi. Semua diluar rencananya.
__ADS_1
***
Laura dan Tiara pagi ini baru saja sampai di kos Tiara.
"Ikhwan, makasih ya. Kami berdua kayaknya nggak sekolah dulu hari ini," ucap Tiara saat turun dari mobil
"Iya, gue ngerti kok. Ini aja udah jam berapa. Gue tadi udah sempat minta tolong teman buat nulis surat sakit untuk kita bertiga," jelas Ikhwan.
"Makasih banget ya, ikhwan," ucap Laura yang tak enak hati
"Santai aja, La. Kita kan teman. Gue balik dulu ya. Ngantuk banget. Nggak sanggup juga mau langsung sekolah," ujar Ikhwan pamit.
Laura dan Tiara mengangguk mengerti. Setelah mengucapkan salam, mobil Ikhwan akhirnya pergi.
"Ya Allah, kenapa kakinya Neng ?" tanya mbok Darti, penjaga kos Tiara. Kosan Tiara termasuk besar. Mama Tiara sebenarnya pemilik kosan. Tapi, karena Tiara tidak mau sekolah di daerah. Tiara memilih sekolah di Jakarta.
Kebetulan mamanya punya banyak kost kosan. Jadilah Tiara dititipkan pada mbok Darti, penjaga kosan di sini.
"Laura kena belingn kaca, Mbok. Ini sampai di jahit di klinik," jelas Tiara.
Laura kembali meringis. Padahal dari halaman ke kost tidak jauh. Tapi, karena kakinya yang sakit, kost Tiara terasa jauh.
"Mbok, tolong siapin air panas ya. Laura pasti ingin mandi," titah Tiara.
"Oh iya, Non. Mbok, siapin dulu," ujar mbok Darti yang segera beringsut ke belakang.
Laura memperhatikan mbok Darti sampai menghilang dari balik dinding.
Laura meluruskan kakinya di atas tempat tidur, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding belakang.
"Maafin gue ya, Ra. Gue pasti udah ngerepotin lu banget," lirih Laura yang menunduk lemah.
"Elu kayak gue siapa aja. Lu mandi dulu ya, terus cerita ada apa," sahut Tiara lembut.
"Gue nggak kuat Tiara. Adrian sudah menghancurkan masa depan gue," ungkap Shabila yang kembali menangis histeris.
"Maksud lu gimana, La? Elu cerita pelan-pelan ya. Bentar gue tutup pintu," ucap Tiara yang kemudian berdiri lalu menutup pintu dan menguncinya.
__ADS_1
Tiara sempat melirik arah luar.
Sepi tak ada orang. Penghuni kost lain pasti sudah pada pergi. Setelah mengunci pintu, Tiara segera duduk di atas tempat tidur di sebelah Laura. Menyerahkan satu kotak tisu pada Laura.
"Sekarang lu bisa cerita dari awal sampai akhirnya gue nemuin lu di klinik," ucap Tiara pelan.
Laura lalu menceritakan dengan jujur apa yang terjadi pada dirinya dengan berderai air mata. Sementara Tiara terlihat mengepalkan tangan. Dia sungguh marah dengan Adrian.
"Gue bakal labrak dia! Dia harus tanggung jawab, La!" seru Tiara saat Laura telah selesai bercerita. Nafas Tiara naik turun menahan kekesalan.
"Gue takut, Ra. Dia mengancam gue. Jangan sampe adik-adik panti gue kena imbasnya karena kebodohan gue," lirih Laura.
"Tapi La... gimana kalo ternyata lu hamil?" ucap Tiara hati-hati.
Laura langsung terdiam. Matanya memandang Tiara lekat. Laura tak pernah terpikir akan hal itu.
"Ra, please. Jangan ngomong itu, semoga gue nggak hamil," Laura cemas.
"Okey... okey... maafin gue! Anggap lu nggak bakal hamil. Tapi, tetap aja masa depan lu udah di hancurkan oleh Adrian. Dia tetap harus tanggung jawab," tekan Tiara.
"Gue nggak yakin dia mau tanggung jawab, Ra. Dia pasti berkelit dan mengancam lagi. Apalagi ada Dedi dan Revan temannya.
Mereka bertiga keluarganya punya pengaruh di sekolah," sahut Laura menghela nafas. Dia lelah, rasanya dia ingin menyerah.
Tidak ada hal baik yang datang pada Laura. Sedari kecil dia di panti asuhan. Setiap orang yang datang berpasangan ke panti, Laura harap itu adalah orang tuanya. Datang menjemput dan membawanya pulang ke rumah yang hangat.
Dia tidak akan mempertanyakan kenapa dia berada di panti. Dia tidak akan menuntut ataupun marah. Dia hanya ingin dipeluk oleh wanita yang bernama mamak dan laki-laki yang bernama bapak. Doa Laura setiap hari minta dipertemukan dengan kedua orang tuanya.
Tapi hingga remaja, doanya belum diperkenankan oleh yang maha kuasa. Pasti ada hikmah dibalik semua yang terjadi. Begitulah pikiran positif Laura. Hingga hari ini terjadi, Laura benar-benar sudah putus asa.
mama, bapak... kalian dimana? Apa kalian masih di dunia atau sudah tiada? Bisakah kalian bawa Laura juga? ujarnya.
jangan lupa follow and komen nya🥰
Bantu follow instagram saya
ig : sasafebry5
__ADS_1