
Tak lama, Tiara keluar dari kamarnya. Dia membawa sebuah kotak perhiasan berisi seperangkat perhiasan berlian.
"MasyaaAllah, Pa. Coba lihat ini," seru sang mama sampai melongo.
"Ya Allah, Papa jadi gemetar. Ini asli berlian. Berapa harganya. Baik banget mereka," celetuk papanya.
"Emang mereka tuh kaya banget ya?" tanya mamanya bengong.
"Banget, Ma. Nih ya waktu Tiara diantar pulang dari rumah sakit. tiara dianter pake mobil mewah. Kabarnya perusahaan mereka tuh ada di mana-mana. Ada di benua Asia, Amerika sama beberapa di Eropa gitu," ucap Tiara.
"MasyaaAllah. Mama dari Sukabumi cuma bawa oleh-oleh ini untuk mereka," cetus sang mama yang jadi merasa tak enak.
"Emang mama bawa apa?" tanya Tiara melihat isi kantong paper bag yang dipegang mamanya.
"Oleh-oleh dari Sukabumi. Ada Mochi, bolu pisang, kue jahe, sama sagon bakar," ungkap mamanya.
"Tak apalah, Ma. Mereka pasti suka," sahut Tiara.
"Tapi, mama jadi malu. Mereka kasih kita banyak banget, bagusnya bales apa ya?" tanya mamanya bingung.
"Ya udah, makanan aja. Itu aja cukup, Ma. Orang tua Laura selama ini tinggal di luar negeri. Mereka pasti senang banget bisa makan makanan khas dari daerah di Indonesia," ungkap Tiara.
"Gitu, ya. Ya sudah nanti temenin mama dan Papa ketemu orang tua Laura ya," sahut mamanya.
"Siap, Ma," ucap Tiara.
***
Sementara itu, di hari ketiga saat pagi hari.
"Pak, kaki kursi kita patah loh," seru istri penjaga sekolah pada suaminya.
"Walah, patah lagi. Ya sudah, bapak ke gudang sekolah saja. Kali aja ada kursi kayu yang masih bagus buat kaki kursi kita," putus sang penjaga sekolah.
"Iya, Pak. Buruan, kalo besok sekolah sudah ramai. Anak-anak sudah mulai masuk sekolah. Ibu juga perlu kursinya untuk jualan di kantin ," cetus sang istri.
"Iya, Bu. Bapak ke gudang dulu," pamit sang suami.
Klaim
"Iya, Pak. Hati-hati," seru sang istri.
Pak penjaga sekolah segera berjalan menuju gudang sekolah yang cukup jauh dan berada di ujung sekolah. Melewati padang rumput yang luas.
"Loh, kenapa ada palang besi disini?" tanya pak penjaga sendiri. Bingung melihat sebuah palang besi melintang di pintu gudang sekolah.
__ADS_1
Pak penjaga segera menyingkirkan palang besi. Lalu dengan anak kunci segera membuka gembok. Namun, gembok tak terbuka.
"Loh, ini gemboknya beda. Siapa yang menggantinya?" pak penjaga sekolah tampak bingung sendiri.
Penjaga sekolah itu menggelengkan kepala. Karena dia butuh kayu untuk kursinya. Akhirnya penjaga sekolah itu, menggunakan palang besi tadi untuk membongkar gembok.
"Ya Allah, kok ada orang!" seru penjaga sekolah terkejut.
Dia melihat seorang gadis tergeletak di lantai. Tak sadarkan diri.
"Ini masih hidup nggak ya? Neng . neng, bangun neng," panggil pak penjaga sekolah.
Namun, Angel, gadis yang ditemukan penjaga sekolah tak bergeming. Dia tak sadarkan diri.
"Ya Allah, ada-ada saja kejadian di sekolah. Lusa kemarin tiga pemuda berkelahi, hari ini gadis ini ada di gudang," rutuk Penjaga sekolah yang berlari keluar memanggil pak RT.
Tak lama, pak RT dan beberapa warga datang. Mereka membawa Angel ke rumah sakit.
Penjaga sekolah segera menghubungi pihak sekolah. Dia menunjukkan wajah Angel di video. Pihak sekolah mengkonfirmasi kalau itu adalah Angel yang dilaporkan hilang oleh orang tuanya.
Tak lama, akhirnya pihak sekolah, Polisi dan orang tua Angel sampai di rumah sakit.
Kondisi Angel masih belum sadarkan diri. Infus terpasang di tangannya. Dia masih dirawat insentif di ruang UGD. angel mengalami dehidrasi dan ketosis, karena tanpa makan dan minum selama tiga hari.
Penjaga sekolah dimintai keterangan oleh polisi. Dia hanya menceritakan apa yang dia tahu. Tapi, bagaimana Angel bisa di gudang tak ada yang tahu.
Angel berteriak dan menjerit kencang. Dia masih merasa berada di gudang sekolah. Mama dan Papanya menangis melihat kondisi anaknya yang tak stabil.
Dokter bahkan menyuntikkan obat penenang. Angel cenderung melukai dirinya sendiri. Halusinasi nya bahkan menganggap
orang tuanya adalah mahluk halus.
***
Sementara itu, Ibu panti dan adik-adik panti Laura sudah pindah di rumah baru.
Rumah yang lebih besar. Dua tingkat. Semua perabotan baru. Bahkan halaman depan luas dengan taman bermain dan halaman belakang ada taman bermain juga dan kolam renang yang aman untuk anak-anak.
"MasyaaAllah, kami sangat berterima kasih pak Birru. Ini lebih dari bayangan saya," ucap ibu Panti terharu.
"Sama-sama, Bu. Semoga betah dengan tempat yang baru. Ini suratnya silahkan dipegang," ucap Papa Birru.
"Kami sungguh sangat berterima kasih sekali. Sungguh kami tak bisa membalas budi bapak dan ibu," tutur ibu panti.
"Kami juga sudah menyiapkan pendanaan untuk panti asuhan. Semua akan berada di bawah yayasan perusahaan kami untuk pendanaan pendidikan dan kebutuhan sehari-hari panti asuhan," papar Papa Birru.
__ADS_1
"Kalau ada yang kurang, ibu ngomong saja sama saya. InsyaaAllah akan kami siapkan," tutur Mama Runi.
"MasyaaAllah, Bu. Ini sudah sangat lebih dari cukup. Rumahnya luas banget. Anak-anak pasti sangat gembira," tutur ibu panti terharu.
"Untuk sekolah anak-anak, kami juga sudah menyiapkan transportasi. Jadi, ibu nggak perlu keluar biaya transport anak-anak lagi," jelas Papa Birru.
Ibu Panti tampak tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya mengangguk dan menyeka airmata bahagianya.
Riuh suara anak-anak panti terdengar. Mereka asyik melihat rumah baru mereka.
"Ayo anak-anak ucapkan terima kasih pada bapak dan ibunya kak Laura," ucap Ibu panti.
"Terima kasih bapak dan ibu," kompak mereka.
"Pak, kak Laura mana? Kami kangen," celetuk salah satu anak panti asuhan.
"Oh, kak Laura lagi di rawat di luar negeri. Belum bisa ke sini. Nanti kapan-kapan kak Laura ke sini ya," sahut Mama Runi. Pesan Laura dia tak mau orang-orang tahu dulu apa yang terjadi padanya.
"Kak Laura sakit apa?" tanya anak-anak panti lagi.
Mama Runi melirik Papa Birru. Dia bingung harus menjawab apa.
"Oh, tidak sakit. Hanya saja harus mengecek kesehatan," sahut papa Birru menjawab pertanyaan anak-anak.
Hari itu, Mama Runi dan Papa Birru sangat senang melihat tawa riang anak-anak panti asuhan. Apalagi mereka didoakan oleh anak-anak panti asuhan.
Sementara rumah panti asuhan yang lama sudah kosong. Saat Mama dan Papa Dedi datang membawa pembeli rumah tersebut.
"Syukurlah, rumah itu sudah laku. Entah ke mana anak-anak panti itu. Cepat juga mereka dapat tempat baru," celetuk mama Dedi saat dia dan suaminya di jalan pulang.
Sebenarnya dalam hatinya ada perasaan tak tega pada anak-anak panti asuhan. Tapi, Dedi anaknya butuh biaya yang lebih besar. Dedi koma, sudah tiga hari belum sadarkan diri.
"Entahlah, yang penting kita ada biaya sekarang untuk pengobatan Dedi" sahut Papa Dedi.
"Iya, ayo ke rumah sakit. Semoga anak kita sudah bangun," harap mama Dedi.
"Iya, ayo!" setuju sang suami. Mereka akhirnya naik motor matic milik Dedi menuju rumah sakit.
***
Di rumah sakit lain, Laura sedang asyik bercerita dengan Athan. Dua saudara itu seperti tak pernah habis bahan obrolan.
Mereka menceritakan keseruan masa kecilnya masing-masing.
bersambung.......
__ADS_1
mau tau kisah selanjutnya jangan lupa like komen dan follow ya biar makin semangat nulis nya jgn pelit² lo follow komen dan like nya.