
Meja belajarnya pas sekali berhadapan dengan kaca jendela. Laura hanya bisa memandang rembulan yang sedang menerangi bumi dengan cahayanya dan di hiasi oleh bintang-bintang.
Di mana pun Ayah dan Ibu berada, kita memandang langit yang sama. Menghirup oksigen di bumi yang sama. Andai suatu saat kita berjumpa, Laura hanya ingin memeluk dan tertawa. Jangan ada air mata antara kita.
Ayah, Ibu, kalian di mana? Laura tersenyum bahagia, membayangkan bertemu orang tua nya. Laura lalu membuka buku pelajaran dan mulai belajar. Tak lama lagi ujian.
Hingga hampir pukul sepuluh, Laura sudah sangat mengantuk. Laura menarik tirai jendela agar tertutup. Mengecek kembali kunci jendela. Lalu melihat pintu kamar. Laura baru sadar pintu kamarnya tak memiliki kunci.
Laura bergidik sendiri, mengingat kejadian di mobil bersama Adrian. Tidak, dia tidak mau. Dia takut melihat om Herman yang badannya besar dan tinggi.
Laura berpikir sejenak. Akhirnya dia memutuskan menarik kasur dari ranjang. Membentangkan melintang di depan pintu. Setidaknya orang tidak akan bisa masuk, karena terhalang oleh tubuhnya.
Besok dia akan membeli kunci pintu dan paku. Laura segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menarik selimut tipis yang dia bawa dari panti asuhan Selimut yang hanya berharga tiga puluh ribu.
Laura membaca doa dan mulai memejamkan mata. Hingga tengah malam, gagang pintu seperti ditarik seseorang. Seperti akan ada orang yang mau masuk Laura terbangun.
Laura segera terduduk dan menyandarkan tubuhnya ke pintu. Mendorong pintu dengan punggungnya agar tak terbuka. Memusatkan seluruh tenaganya ke punggung belakang. Telapak kaki Laura menekan lantai sebagai tumpuan dorongan. Sementara tangan berpegangan pada dinding di pinggir pintu.
Entah siapa di balik pintu kamar, Laura tak tahu. Sungguh Laura takut. Bibir Laura komat kamit sedari tadi melafalkan doa Dzun nun. Meminta pertolongan pada Allah. Hingga beberapa menit kemudian, dorongan dari luar berhenti. Nafas Laura tersengal. Bulir-bulir keringat dingin keluar dari tubuhnya.
Sepertinya orang di luar sudah menyerah untuk masuk. Laura menarik nafas lega. Mengucap Hamdalah berkali-kali.
Laura melirik jam di ponsel, sudah pukul dua dini hari. Laura sudah tak bisa lagi tidur. Sisa malam ini, Laura hanya membaca Alquran hingga pagi.
Pukul empat subuh, Laura pelan-pelan membuka pintu kamar. Mengintip ke arah luar, kiri dan kanan. Sepi, tak terlihat siapa pun.
Laura melangkah ke belakang, melihat seisi dapur. Ada pakaian kotor menumpuk di keranjang, banyak barang-barang yang diletakkan sembarangan.
Laura akhirnya memilih memasak lebih dulu. Laura memilih memasak nasi goreng dan telur ceplok. Sambil memasak, Laura memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Beruntung, tante Sri punya mesin cuci. Setidaknya, pekerjaan Laura lebih ringan.
Selesai masak Laura meletakkan nasi goreng di meja makan, Laura memandang sebentar nasi goreng buatannya. Wangi harum khas nasi goreng menggugah selera Laura. Dia menelan ludahnya. Perutnya lapar, tapi dia tak berani makan.
Laura menggelengkan kepala. Biarlah, dia akan sarapan pagi di sekolah saja. Laura melanjutkan pekerjaannya, dia membersihkan rumah. Menyapu, mengepel dan mengelap perabot. Debu di mana-mana. Sepertinya lama tak dibersihkan.
__ADS_1
Suara adzan subuh berkumandang dari masjid di dekat rumah. Laura segera ke kamar mandi, dia mandi lalu mengambil wudhu dan sholat di kamarnya. Setelah sholat Laura lanjutkan dengan berdoa. Bermunajat masih dengan doa yang sama. Doa yang dia panjatkan selama belasan tahun. Bertemu orang tuanya.
Selesai sholat, Laura kembali ke belakang, dia menjemur pakaian di belakang.
"Alhamdulillah, kelar semua." ucap Laura menghembuskan nafas lega. Dia mengelus perutnya, mengucapkan terima kasih karena sang janin tidak rewel dan tidak membuatnya kerepotan.
Laura kembali ke kamarnya. Sudah pukul enam pagi. Dia harus siap-siap berangkat sekolah.
"Nak, jangan besar badannya di dalam perut Bunda. Karena Bunda harus sekolah. Kamu harus pandai bersembunyi ya." ucap Laura sendiri sambil mengelus perutnya. Sesaat setelah memakai pakaian sekolah di kamar.
Laura menggunakan hijab lebar yang menutupi perutnya. Usia kandungannya baru beberapa minggu, perutnya masih terlihat rata. Tapi, Laura mulai membiasakan memakai hijab panjang agar orang-orang tak curiga nantinya.
"Udah bangun kamu?" tanya tante Sri yang baru bangun tidur. Rambutnya masih berantakan dan wajah bantalnya sungguh kentara.
"Sudah, Tante. Laura izin berangkat sekolah dulu," pamit Laura yang baru keluar dari kamarnya. Tasnya sudah disampirkan di bahu.
Tante Sri melihat sekeliling rumah nya yang terlihat Bersih dan rapi. Dia mengangguk puas.
"Sudah, Tante," jawab Laura.
"Kamu nggak diam-diam ambil makanan buat sarapan kan?" tanya Tante sri menyelidik. Matanya memicing curiga.
Laura menggeleng cepat. Nggak, Tante. Laura nggak makan tadi," jawab Shabila.
"Bagus! Kamu jangan menghabiskan duit kami. Masih untung kamu ditampung di sini." ucap tante Sri
Lampu di kamar itu gratis, kamu nggak keluar duit. Kamu mandi biaya airnya, kami juga yang nanggung! Tuh udah baik banget saya ini," cerocos tante Sri yang melangkah ke meja makan.
Tante Sri membuka tudung saji dan mengangguk puas. Laura hanya diam tak menjawab ucapan tante Sri tadi.
" Laura pamit ya, Tante?" ucap Laura lagi mengulurkan tangannya untuk salim.
Tante Sri menerima uluran tangan Laura, Laura salim tangan ke tante Sri dengan penuh khidmat. Bagaimanapun, dia akan tetap hormat kepada orang yang lebih tua seperti nasihat ibu pantinya.
__ADS_1
"Jangan lupa bersihkan lantai dua saat pulang sekolah nanti," seru tante Sri yang melihat Laura sudah melangkah keluar rumah.
"Iya, Tante," sahut Laura menoleh ke belakang lalu melanjutkan langkah kakinya keluar rumah.
Bersyukur saat Laura keluar,
angkot jurusan ke sekolahnya lewat. Laura segera memberhentikan angkot tersebut dan masuk ke dalam angkot itu.
Angkot terasa sepi. Hanya ada tiga orang penumpang. Dua orang lainnya berpakaian baju kerja.
"Orang baru di daerah sini, dik? Nggak pernah kelihatan," sapa pak supir tua, ramah.
"Iya, Pak. Saya baru di sini," sahut Laura.
"Oh, pantas. Soalnya tadi kan kawasan rumah elit. Hampir nggak ada yang menyetop angkot di kawasan situ," papar pak supir.
"Iya, Pak. Saya tinggal di rumah Tante," jawab Shabila beralasan.
"Emang sekolah di mana, Dik?" tanya penumpang yang lain.
"Di sekolah Internasional," jawab Laura lagi.
"Wah jauh, pantas pagi-pagi udah berangkat," celetuk penumpang satunya. Laura hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Udah sarapan belum, Dik? Ini saya bawa roti dan susu. Untuk kamu aja," ucap penumpang yang tadi bertanya sekolahnya. Penumpang tadi memberikan dua roti besar dengan bungkus nama Bakery ternama, juga susu UHT kotak. Sungguh menggoda selera Laura
"Makasih, Kak. Saya ambil ya," ucap Laura malu-malu. Laura lapar dan dia sampai harus menelan air liur sangking tergoda nya dengan harum dan bentuk roti yang membangkitkan seleranya.
"Sama-sama," sahut penumpang tadi tersenyum. Laura mengucap Hamdalah berkali-kali dalam hati. Kemarin dia dapat rezeki makan mi Aceh, pagi ini rezekinya berupa roti dari orang yang bahkan tidak dia kenal.
*bersambung.......
jgn lupa like, komen, dan follow nya biar semangat ngetiknya*
__ADS_1