
"Kita kerjain aja ya" ucap salah satunya.
"Apa?" tanya temannya.
"Nih, pake rekaman suara kuntilanak," bisiknya.
Temannya tampak senang dan mengangguk setuju.
"Hi... hi... hi... "suara kuntilanak terdengar.
Tak lama suara lolong anjing juga terdengar.
"Aarkhhhh," jerit Angel dari dalam dia ketakutan luar biasa.
Angel masih menjerit-jerit berkali-kali. Tapi, tak ada yang mendengar. Gudang sekolah berada jauh di ujung.
Tak ada rumah penduduk dibelakang sekolah.
"Sstt... ini saya udah bawa mukena. Kita kerjain aja. Tuh ada ventilasi," bisik penculik pada temannya.
"Hayo, kita naik ke atas," ucap temannya setuju.
"Saya bawa bedak dingin ini Oles dulu muka pake ini," bisik temannya.
Kedua orang itu akhirnya menggunakan bedak diwajahnya agar jadi putih pucat. Lalu menyarungkan mukena di kepala.
Naik keatas kursi, lalu dari ventilasi kayu di gudang. Mereka berdua meletakkan cahaya dari hape dibawah dagu.
Menakuti Angel dengan suara menyeramkan.
"Po... po... po... pocong," jerit Angel ketakutan. Tubuhnya menegang dan detik berikutnya dia pingsan diatas lantai.
Kedua penculik itu cekikikan diluar gudang Merasa puas mengerjai Angel.
"Syukurin, baru segitu udah pingsan," cibir penculik.
"Iya, kita tunggu dia bangun. Terus takuti lagi. Biar dia merasa tertekan dan ketakutan terus," ucap penculik satunya.
Keduanya kembali terkekeh dan tos tangan.
"Asyik bener kerjaan kita malam ini," cetus mereka.
Di lain tempat, dua mobil sudah melaju. Setelah dari sekolah, mereka langsung melaju ke rumah Adrian.
Di rumah Adrian, dia sudah tertidur pulas sejak pukul delapan malam. Tubuhnya lelah sangat lelah.
Apalagi mereka mendapatkan ancaman, membuat Adrian lelah fisik dan pikiran.
Akhir-akhir ini, rasanya masalah bertubi-tubi menghampirinya. Adrian merasa tertekan.
Namun, ditengah tidurnya nafas Adrian tersekat. Dia bermimpi. Didalam mimpinya ada Shabila yang menatapnya dengan tatapan kosong sambil menggendong seorang bayi tampan yang mirip dengannya.
__ADS_1
Darah menggenang disekitar tempat duduk Laura, bahkan bayi itu pun masih berlumuran darah. Laura sendirian di situ bayi itu menangis kencang di dalam mimpi.
"Lauraaa..." jerit Adrian terbangun. Nafas Adrian ngos-ngosan. Tubuhnya terlonjak kaget. Dia langsung terduduk diatas tempat tidur saat bangun.
Tangan Adrian menjulur ke depan seperti ingin menjangkau Laura yang semakin menjauh di dalam mimpinya.
"Hhh... hhh... hhh," nafas Adrian tak beraturan. Keringat bercucuran. Adrian berusaha mengumpulkan ingatannya.
"Hanya mimpi. Syukurlah," ucap Adrian lega.
Adrian segera mengambil air minum sambil minum obat tidur nya lalu dia ingin tidur lagi.
Setelah meminum obat, dia segera kembali tidur nyenyak.
Tak lama, tiga orang penculik naik ke pagar rumah. CCTV sudah di setting agar mengarah ke arah bawah. Tak menyorot ke mereka.
Dengan cepat, jendela dibuka. Mereka mengangkat tubuh Adrian keluar. Adrian yang sudah minum obat tidur tak sadar tubuhnya dibawa pergi.
Para penculik menggunakan pagar belakang saat keluar dari rumah Adrian. Mereka bergerak cepat hingga sampai di mobil.
Setelah masuk ke dalam mobil, mesin mobil segera dinyalakan. Mobil segera melesat ke jalanan.
Mereka kembali ke sekolah Adrian dibawa ke belakang sekolah. Ditengah Padang rumput tak jauh dari gudang sekolah. Suara burung hantu menyambut kedatangan Adrian.
Dia didudukkan diatas kursi lalu diikat. Athan keluar dari sebuah sudut dinding. Dia menggunakan topi hitam dan masker.
Athan menggunakan celana hitam dan jaket kulit hitam saat ini dia tak ingin dikenali.
"Baik, tuan muda," ucap anak buahnya.
Byuurrr.
Satu ember air menyirami tubuh Adrian. Dia gelagapan, terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang menggigil.
Sementara Athan merekam video saat Adrian di siram air. Athan segera mengirim video singkat ke Dedi dan Revan.
Sebuah pesan langsung sampai ke Dedi dan Revan yang belum tidur.
[Segera ke gudang belakang sekolah jika ingin teman kalian selamat! Hadapi saya tanpa membawa apapun atau siapapun kalau kalian memang laki-laki]
Dedi dan Revan terperangah saat membuka video. Pesan dan video dari nomor yang memberi ancaman di rumah sakit tadi.
Revan segera menelepon Dedi, Mereka berdua akhirnya sepakat datang ke sekolah berdua.
Sementara Adrian terbangun dari tidurnya. Dia bengong beberapa saat, melihat dia tidak di kamar tidur tapi justru di tempat lain.
"Bagaimana, enak bukan tidurnya?" tanya Athalla yang menaikkan satu kaki dipinggir kursi tempat duduk Adrian.
"Si-siapa lu? Kenapa gue disini?" tanya Adrian bingung.
"Hahaha... pertanyaan bagus! Kita akan ngobrol sebentar selama menunggu dua cecunguk lainnya! Gue siapa? Gue adalah orang yang akan balas dendam ke elu!" sembur Athan.
__ADS_1
"Apa salah gue? Elu salah orang. Gue kayaknya nggak kenal lu! Buka topi dan masker lu!" hardik Adrian yang masih terikat kuat di kursi.
"Tujuh bulan lalu, ada seorang gadis polos yang sudah lu rusak. Elu lari dari tanggung jawab bahkan dia sudah melahirkan bayi prematur di gudang sekolah itu!" ungkap Athan sambil menunjuk gudang sekolah.
Adrian terperangah. Dia melihat gudang sekolah yang ditunjuk Athan.
"Lu tahu kenapa dia sampai melahirkan di gudang sekolah?" tanya Athan berapi-api. Kilat bara amarah terpancar di matanya.
"Karena Angel, cewek lu sudah menyiksanya. Menariknya ke gudang sekolah hingga gadis polos itu tak kuat. Kalo lu mau lihat, elu bisa lihat di gudang itu banyak genangan darah. Anak lu sudah lahir!" tekan Athaan.
Adrian terdiam terpaku dan tak menyangka sama sekali Angel melakukan hal yang sangat jahat.
"Elu meragukan bayi itu bukan? Gue kasitau ke elu, bayi yang lu lihat didalam inkubator saat di rumah sakit adalah bayi lu. Mirip bukan dengan wajah lu ?!" geram Athan sambil mencengkram tulang pipi Adrian.
Adrian meringis wajahnya terasa sakit.
"Kenapa? Sakit ya? Gadis polos itu penderitaannya lebih dari ini. Ohya, gue punya fotonya. Akan gue perlihatkan beberapa detik biar elu bisa tidur sangat nyenyak setelah ini," ucap Athan terkekeh.
Sebuah foto bayi yang masih merah, dengan mata terpejam dan memakai selimut bayi diperlihatkan oleh Athalla.
Adrian melotot ,wajah itu persis seperti wajahnya tak ada beda sama sekali.
"Bagaimana? Mirip bukan? Kalo lu manusia, seharusnya lu bisa merasakan kalo ini anak lu!" jerit Athan yang menarik foto dan memasukkan kembali ke sakunya.
Athan amarah nya sudah gejolak dia menerjang dada Adrian hingga tubuh Adrian tersungkur ke tanah.
"Lepasin dia. Biar gue berduel dengan lelaki pengecut ini!" perintah Athan
"Tapi tuan muda, nanti tuan terluka," tolak anak buahnya.
"Kalian meragukan latihan yang kulakukan sedari kecil? Ilmu beladiri apa yang belum saya kuasai paman?" tanya Athan
"Maaf, tuan muda," sahut anak buahnya. Mereka segera melepaskan Adrian.
"Berdiri lu! Hadapi gue!" hardik Athan.
Jari jemari Athan saling menekan hingga berbunyi kretek. Begitu juga lehernya, dia goyangkan ke kiri dan ke kanan hingga berbunyi kretek tulang.
Adrian berusaha berdiri dadanya masih terasa sakit.
"Elu siapa? Apa hubungan elu dengan Laura? Dimana Laura sekarang?" Adrian memborong pertanyaan.
"Rupanya elu mengingat nama gadis polos itu. Tapi, mulut elu terlalu kotor untuk menyebut nama Laura," jerit Athan yang menggunakan kepalan tangannya dan dengan gerakan cepat memukul mulut Adrian.
Adrian sampai mundur beberapa langkah. Gerakan Athan cepat dan tak terbaca. Adrian tak bisa lagi membalas ucapan Athan. Mulutnya langsung mengeluarkan darah.
Athan berjalan cepat kembali menghampiri Adrian. Kakinya menerjang perut Adrian, melakukan gerakan memutar dan kembali menerjang punggung belakang Adrian yang sudah membungkuk menahan sakit perutnya.
Athan memasang kuda-kuda, dia kembali menyerang Adrian. Kali ini siku tangan Athan menghantam bahu Adrian yang sudah hampir tersungkur.
"Bangun lu pengecut. Lawan gue. Jangan cuma berani sama perempuan. Ayo, hadapi gue. Berani lu sama Laura berarti lu menabuh genderang perang dengan gue!" hardik Athan.
__ADS_1
Athan menarik kerah baju Adrian. Hingga tubuh Adrian yang tersungkur kembali terangkat. Darah sudah mengalir dari hidung dan mulut Adrian.