
Adrian tampak berpikir. Tapi, melihat wajah Laura yang menatapnya tajam, Adrian akhirnya mengangguk pasrah.
"Iya, deh. Apa pun gue kabulin. Kecuali elu minta tanggung jawab nikahin elu. Jujur gue nggak siap, maafin gue," lirih Adrian merasa bersalah.
"Oke, bukan itu kok ngidam gue! Gue juga udah nggak minat elu nikahi!" tolak Laura yang merasa sakit hati dengan ucapan Adrian.
"Okey, jadi apa ngidam elu?" tanya Adrian lagi.
"Gue mau mukul lu dan jambak rambut lu," geram Laura
"Hah... serius?" Adrian terkejut dengan permintaan ngidam Laura.
"Dua rius!" jari tangan Laura membentuk huruf V.
Adrian menghembuskan nafas. Mau tak mau dia menurut saja. Melirik sekilas ke arah rumah sekretaris Papanya yang terlihat tak ada pergerakan dari dalam rumah.
"Baiklah, silahkan," ucap Adrian pasrah. Tubuhnya bergeser menghadap langsung
Lalu Laura dengan senyum dengki nya dan sekuat tenaga yang dia pun mulai menjambak rambut Adrian, memukul bahu Adrian bahkan mencakar wajah Adrian.
"Rasain lu ya, uh... uh..." ucap Laura sambil menjambak rambut dan memukul Adrian. Bahkan beberapa helai rambut Adrian terlepas.
"Aw...aw... sakit, Ra! Elu pake tenaga apa, sakit woi," jerit Adrian yang mukanya sudah memerah.
"Gue pake tenaga dalam, tenaga super! Enak nggak lu gue jambak, nggak enak kan!" rutuk Laura yang nafasnya mulai ngos-ngosan.
"Nggak enak. Sakit, Ra! Maafin gue," lirih Adrian menerima saja setiap pukulan Laura.
"Syukurin lu. Sakit tubuh elu bisa diobati! Sakit hati gue nggak bisa diobati," rutuk Laura yang kembali duduk tenang sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Iya, maaf!" ucap Adrian sambil mengambil obat di laci lalu mengoleskan di pipinya yang tergores kuku Laura
Keduanya kemudian terdiam. Adrian kembali fokus melihat rumah milik sekretaris Papanya.
"Sakit, nggak?" ucap Laura yang iba melihat luka-luka gores di wajah Adrian. Lalu rambut Adrian yang acak-acakan.
"Enggak! Enggak salah lagi!" rutuk Adrian.
"Maaf," sesal Laura merasa tak enak.
"Labil banget sih lu! Tadi nafsu banget jambak gue, mukul, cakar. Ngapain sekarang minta maaf," omel Adrian yang bingung dengan tingkah Laura.
"Iya, ya. Ngapain gue minta maaf sama lu. Emosi gue semenjak hamil naik turun. kadang gue sedih kalo inget jahatnya elu, kadang gue marah, kadang gue pengen mengikhlaskan aja. Tapi pas ketemu elu, emosi gue pasti naik drastis," desah Laura yang bingung sendiri dengan dirinya.
__ADS_1
"Bisa gitu ya, kalo cewek hamil," Adrian mengernyitkan kening dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Makanya elu sekolah dong! Biar gue ada pelampiasan. Lagian masak lu cowok nggak tamat SMA? Mau jadi apa lu?" omel Laura.
"Iya, deh. Besok gue sekolah. Jangan bawel lu. Gue siap jadi samsak tinju lu di mana pun, kapan pun gue siap," sahut Adrian.
"Oke, awas lu nggak sekolah!" ancam Laura.
"Iya, bawel lu. Eh... Bokap gue keluar tuh dari rumah si sekretaris murahan," celetuk Adrian.
"Iya, kayaknya mau pergi sendiri deh," sahut Laura.
Mereka melihat Papa Adrian yang mencium pipi kiri dan kanan sekretarisnya. Lalu saling melambaikan tangan dan kemudian Papa Adrian masuk sendiri ke dalam mobil. Tak lama mobil melesat keluar dari rumah berpagar tinggi itu.
"Rian, elu nggak ngikutin Bokap lu?" tanya Laura bingung melihat Adrian tak menyalakan mesin mobilnya.
"Kali ini, gue mau ganti strategi. Selama ini gue selalu membuntuti Bokap gue aja, kali ini gue mau lihat tuh perempuan ngapain aja," cetus Adrian.
"Caranya?" tanya Laura
"Ikut gue yuk. Gue kemarin lusa nemu pagar yang lepas di belakang rumahnya," ajak Adrian.
"Ih, gue di sini aja. Nggak berani gue," tolak Laura
"Ck, ada gue. Elu tenang aja," ucap Adrian.
"Enggak, ayolah," Adrian memaksa.
"Eh, tunggu! Itu lihat ada mobil yang masuk," celetuk Laura menunjuk sebuah mobil yang terlihat dari kaca mobil mereka.
Mereka melihat sebuah mobil sedan putih masuk melewati pagar rumah yang dibukakan oleh asisten rumah.
Adrian terperangah. Bingung melihat apa yang terjadi.
"Ra,itu mobil nyokap gue. Apa hubungannya dengan sekretaris Papa gue?" Adrian menatap heran ke arah depan, hingga pagar rumah akhirnya tertutup rapat.
"Itu mobil Nyokap lu? Yakin lu? Kali aja sama jenis mobilnya," cetus Laura
"Enggak, Bila. Gue lihat kok, nomor kendaraannya tadi. Nggak mungkin salah. Gue pake teropong," resah Adrian.
"Pagarnya tinggi lagi dan nggak ada celah buat mengintip," celetuk Laura yang melihat pagar tinggi dan tertutup rapat.
"Ayo, Ra. Please bantu gue," mohon Adrian dengan wajah memelas.
__ADS_1
Laura yang merasa bersalah, apalagi melihat wajah Adrian yang terlihat beberapa goresan luka akhirnya luluh juga.
"Ya udah, deh. Gue bantu lu, tapi nanti beliin gue sate ya. Gue laper," ucap Laura
"Siap. Btw, makanan kesukaan kita sama ya," celetuk Adrian.
"Enggak, kok. Setelah hamil gue baru suka sate," jawab Laura.
Adrian segera menoleh dan menatap Shabila untuk beberapa saat.
"Kenapa menatap gue?" bingung Laura
"Karena mungkin bayinya yang suka sate kayak gue ya," lirih Adrian pelan.
"Mungkin," sahut Laura dengan santai.
Adrian segera membawa teropongnya. Lalu menekan tombol off untuk suara ponselnya. Juga mematikan sinyal ponselnya.
"Ra,elu matiin suara ponsel lu sama sinyalnya juga di off. Gue takut ada yang menghubungi kita waktu kita mengintai," pinta Adrian.
"Oke, tunggu!" ucap Laura yang kemudian mematikan suara ponselnya.
Adrian menunggu dengan tenang. Dia sempat meneropong lagi rumah sekretaris Papanya.
"Udah, ayo," ucap Laura
Adrian mengangguk setuju, Mereka berdua kemudian keluar dari mobil dan menyebrang jalan. Adrian mengajak Laura mengikuti langkahnya.
Mereka berjalan dari arah pagar samping rumah yang terlihat kurang terawat. Banyak tanaman liar yang tumbuh karena di sebelahnya adalah rumah kosong.
Setiba di belakang rumah, Adrian menunjuk sebuah sela pagar besi yang terlepas.
" Ra, ikuti gue," bisik Adrian sambil memberi kode dengan jari telunjuknya ke arah dalam pagar.
Laura mengangguk mengerti. Sebelum masuk, Adrian mengawasi keadaan sekitar. Sepi tak ada orang.
Adrian melangkah terlebih dahulu diikuti Laura yang mengendap-endap dari belakang Adrian.
Adrian mencoba mengintip dari celah jendela samping rumah. Tapi, ruangan tampak sepi. Lanjut ke jendela samping agak ke depan juga sepi.
"Mungkin nggak, di lantai atas?" bisik Laura pelan.
"Mungkin saja. Ayo, kita lewat belakang," ajak Adrian dengan suara pelan.
__ADS_1
Laura mengangguk setuju. Namun, saat mereka hampir sampai di teras belakang. Terlihat dua orang sedang tertawa terbahak-bahak. Langkah kaki Laura dan Adrian terhenti. Mereka mengintip dari sudut dinding yang tak terlihat.
Adrian dan Laura sama-sama terperangah melihat kedua orang tersebut. Apalagi Adrian, matanya sampai terbelalak kaget. Dia sangat tahu keduanya.