TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

Apa? Gadis yang bernama Angel lagi? Leon, apa kamu sudah cari tahu latar belakang Angel?" tanya papa Birru.


"Sudah. Email sudah saya kirimkan, Birru. Kamu tenang saja, saya akan mengusahakan yang terbaik," cetus Om Leon.


"Terima kasih, saya akan segera ke kantor polisi," putus Papa Birru.


Setelah mengucapkan salam, panggilan telepon akhirnya ditutup.


Papa Birru segera mengecek email yang masuk. Mata Papa Birru melebar. Ternyata Angel adalah anak dari rekan bisnis barunya.


"Saya berusaha diam dan menunggu anak saya sehat. Ternyata kalian kembali berulah. Baik, saya yang akan mengambil keputusan!" ucap papa Birru sendiri.


"Pak Agus, ke ruangan saya sekarang!" panggil Papa Birru melalui telepon interkom.


Sekretaris pertama Papa Birru itu segera masuk ke ruangan Papa Birru yang besar.


Ruangan CEO itu tampak luar biasa dan luas. Dengan interior mewah dan elegan. Tapi, dindingnya berhiaskan kaligrafi ayat-ayat Alquran yang terbingkai indah di dalam bingkai warna gold.


Di sudut lemari, selain berbagai buku bisnis. Terdapat juga Al-Qur'an dan berbagai buku hadis dan buku penting lainnya.


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya kerjakan lagi?" tanya sekretaris Papa Birru yang berusia 40 tahun lebih itu.


"Batalkan pertemuan saya dengan perusahaan NZ. Jangan lupa saya juga batal menjadi investor perusahaan mereka yang baru. Tarik semua saham kita di tiga perusahaan mereka," perintah papa Birru.


"Pak, jika kita menarik saham tiba-tiba, ini akan menarik perhatian para pemegang saham lain. Mereka akan ikut menarik saham mereka juga di perusahaan NZ karena mengikuti langkah bapak," jelas sekretaris tersebut.


"Saya tidak ingin bekerjasama dengan orang yang hanya mengandalkan kekuasaan untuk menindas orang lain. Ini adalah pelajaran untuk pemilik perusahaan NZ!" tegas Papa Birru.


"Baik, Pak. Perintah kami laksanakan," jawab sekretaris itu akhirnya.


"Jika perusahaan NZ sampai melakukan PHK terhadap karyawannya, tarik karyawan mereka ke perusahaan kita. Agar karyawan mereka masih bisa memberi makan keluarganya," perintah papa Birru lagi.


"Baik, Pak. Saya permisi," pamit sekretaris itu.


Papa Birru mengangguk. Dia kemudian berdiri dan melangkah keluar. Dia segera berjalan cepat ke lantai bawah. Dia akan ke kantor polisi.


Sementara sekretaris Papa Birru segera menelepon sekretaris Papa Angel. Mereka menyatakan kerjasama dibatalkan dan semua saham akan mereka tarik.


Sekretaris Papa Angel segera mengabarkan ke Papa Angel. Tentu saja Papa Angel menjadi syok luar biasa. Ternyata yang diucapkan pengacaranya benar.


"Halo, saya mau minta tolong sama kamu. Tolong tarik laporan saya terhadap Shabila hari ini juga," ucap Papa Angel ditelepon. Dia kembali menelepon pengacaranya.


"Kenapa? Sudah dapat informasi akurat kalau lawan kita bukan kaleng-kaleng?" remeh pengacara itu.


"Perusahaan Albirru baru saja menarik saham dan membatalkan menjadi investor di perusahaan kami ," tutur papa Angel.


"Ya sudah, saya proses dulu," putus pengacara itu akhirnya.


"Terima kasih," sahut papa Angel di telepon. Lalu dia menutup teleponnya.


"Sudah saya bilang tapi tak percaya! Dia kira yang dihadapi kaleng bekas, taunya kaleng berlian. Kacau perusahaanmu habis ini," rutuk pengacara itu didepan teleponnya yang sudah mati.

__ADS_1


Kemudian pengacara itu segera masuk lagi ke kantor polisi, dia akan menarik kembali laporannya.


Sementara Papa Angel meminta sekretarisnya untuk menghubungi sekretaris Papa Birru. Dia minta bertemu dan mau minta maaf.


Namun, jawaban sekretaris Papa Birru mengatakan akan memberitahu dulu bosnya. Saat ini bosnya sedang tidak ada di tempat.


Papa Angel tampak frustasi. Dia akhirnya memilih pergi dari kantornya.


***


Ikhwan yang mengintip Laura dari balik jendela kelas tampak terkejut. Dia sempat mencuri dengar kalau Angel yang melaporkan Laura. Angel menyatakan Laura adalah otak dibalik penculikannya di gudang sekolah.


"Kasihan Laura, tiara gue sampe nangis gitu." tutur Ikhwan yang melihat Tiara menangis di pojokan kelas.


"Ah, gue telepon Adrian aja. Dia harus tahu, kalo Angel ceweknya itu jahat banget." putus Ikhwan akhirnya.


Ikhwan akhirnya mengambil hapenya dan menelepon Adrian.


"Assalamualaikum, Ikhwan," sapa Adrian di telepon.


"Wa'alaikumsalam, Rian. Gawat, Rian. Laura dibawa polisi. Angel melaporkan Laura, gue denger Angel bilang ke polisi, Laura dalang dibalik penculikannya," jelas Ikhwan.


"Astaghfirullah, Angel lagi. Makasih infonya, Wan. Gue bakal menemui Angel," putus Adrian.


Adrian segera menutup teleponnya. Dia melepas infus yang ada di tangannya. Menahan nyeri tubuh luar biasa dia akan mencari Angel.


"Gue nggak bakal tinggal diam. Kalo Shabila ditahan polisi, anak kami bagaimana? Gue harus mencari Angel. Dia harus menarik kembali laporannya!" racau Adrian sendiri.


Langkah Adrian terseok-seok. Pandangan matanya mengabur.


"Mbak, apa disini ada pasien yang bernama Angel?" tanya Adrian saat tiba di tempat Administrasi.


"Sebentar saya lihat dulu ya," sahut pegawai itu.


"Iya, masuknya mungkin sekitar dua tiga hari yang lewat," tutur Adrian.


Adrian berharap, dia akan menemukan Angel di rumah sakit ini. Tapi, jika tidak dia akan mencari lagi di rumah sakit lain.


"Ada ya di lantai dua ruang cempaka," ucap pegawai tersebut.


"Terima kasih," balas Adrian.


Adrian kembali berjalan tertatih. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding. Berpegangan di setiap dinding yang dilewatinya. Perjalanan yang seharusnya tak jauh, namun karena kondisi Adrian yang sakit. Membuat Adrian cukup lama menempuh perjalanan ke lantai atas.


Hingga akhirnya dia sampai di lantai atas. Adrian berharap nama Angel di ruangan ini adalah Angel yang dia cari.


"Adrian, elu besuk gue," seru Angel saat Adrian masuk ke ruangannya.


Angel terlihat sangat senang. Dia pikir Adrian sudah berubah dan kembali perhatian padanya.


"Elu melaporkan Laura ke polisi?" hardik Adrian langsung tanpa basa basi.

__ADS_1


"Jadi, elu ke sini cuma buat nanyain itu. Bukan mau besuk gue?!" Angel terlihat tak suka dan mendengus kesal.


"Iya. Elu nggak lihat gue juga pake baju pasien. Gue juga sakit, Angel! Tapi, gue dapat kabar elu malah fitnah Laura," cecar Adrian.


"Fitnah? Gue di kurung di gudang sekolah. Udah pasti dia. Dia mau balas dendam ke gue. Pasti dia dalangnya," tuduh Angel.


" Laura nggak kayak lu! Pasti bukan dia pelakunya," tegas Adrian.


"Kenapa sih lu? Belain anak panti itu terus? Elu ada apa sebenarnya dengan dia? Jujur sama gue," geram Angel tak suka.


"Bukan urusan lu, apa hubungan gue dengan Laura. Gue minta elu menarik kembali laporan lu. Jangan jahatin Laura," erang Adrian kesal.


"Ya udah kalo bukan urusan gue. Ngapain juga gue nurut omongan lu! Elu cari tuh si Bila di kantor-kantor polisi. Temenin bila perlu sampe ke sel, biar puas lu sekalian, hahaha," tawa Angel berderai.


Namun, hati Angel sebenarnya sakit. Perasaannya tak terbalas.


Adrian tak menyukai dirinya. Ini adalah cara Angel melampiaskan rasa kesalnya karena penolakan Adrian.


"Jahat lu! Gue nggak bakal tinggal diam," rutuk Adrian.


"Pergi lu! Gue mau tidur, jangan ganggu gue," jerit Angel.


Adrian mendengus kesal, akhirnya dia keluar dari ruangan Angel. Percuma bicara pada Angel, gadis itu sama sekali tak bisa di ajak kompromi.


Sementara Angel, setelah Adrian pergi dari ruangannya, dia meraung. Angel menjerit kesal. Dadanya terasa sesak. Meski dia berusaha mencelakai Laura, Adrian tetap tak mau bersama dirinya.


"Ya Allah, Aden. Mamang cari ke mana-mana. Ternyata disini," seru asisten rumah Adrian yang datang mencari Adrian.


"Mang, tadi ke sini naik apa?" tanya Adrian yang tampak kepayahan berjalan.


"Naik motor saya, Den," jawab asisten rumah tersebut.


"Bantu saya, Mang. Saya mau ke kantor polisi," pinta Adrian.


"Hah, ke kantor polisi? Memangnya ada apa, den?" tanya asisten tersebut terkejut.


"Ada yang saya cari. Ayo, mang," ajak Adrian tak sabar.


"Baik, den," ucap asisten itu membantu Adrian berjalan.


Hingga tiba di parkiran, Adrian segera naik ke boncengan motor. Lalu mengenakan helm.


"Den, apa nggak sebaiknya naik taksi saja? Aden belum sehat betul," tutur asisten tersebut.


"Saya nggak pegang uang, mang. Sementara kita akan keliling cari ke setiap kantor polisi," ucap Adrian yang semakin berkeringat dingin.


"Ya sudah den,a ,ayo kita pergi," ucap asisten tersebut akhirnya.


Adrian berpegangan di baju asisten rumahnya. Tubuhnya gemetar luar biasa. Perutnya terasa di aduk-aduk. Dia mual saat angin jalanan menerpa tubuhnya.


"Kuat, kuat. Gue harus kuat. Laura nggak boleh di penjara Kasihan bayi gue." batin Adrian dalam hati.

__ADS_1


Adrian mendatangi setiap kantor polisi yang dilewatinya. Berharap bertemu Laura disana.


jgn lupa like komen dan follow nya


__ADS_2