TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Ketauan Hamil


__ADS_3

"Makasih udah besarin hati gue. Tapi, besok lu beneran sekolah ya?" sahut Laura


"Iya. Gue sekolah, kok! Lagian besok gue mau ketemu Dedi dan Revan di sekolah," jelas Adrian.


"Oh, gitu. Malam ini elu tidur di mana? Udah balik rumah?" tanya ucap Laura dengan penasaran.


"Ciee... mau tau, atau mau tau banget?" canda Adrian.


"Nyebelin banget sih lu gue kan cuma pengen tahu aja!" gerutu Laura.


"Gue masih tidur di hotel mungkin besok atau lusa gue pulang setor muka. Itu aja kalo orang tua gue ada di rumah," desah Adrian.


"Elu telepon Mama dan Papa lu. Kabarin kalo lu pulang. Mereka pasti pulang deh ke rumah, kalo lu balik," usul Laura


"Lihat entar deh. Gue masih males sebenarnya ketemu Bokap Nyokap gue. Tapi, gue juga perlu beri rekaman kita tadi sih," papar Adrian.


"Iya, perlu tuh elu kasitau ke orang tua lu semoga aja keluarga elu balik utuh lagi," harap Laura.


"Aamiin," sahut Adrian.


"Rian, berhenti dulu ya ke masjid depan. Kita udah telat sholat setengah jam," pinta Laura sambil menunjuk sebuah masjid di depan.


"Telat setengah jam? Ini baru jam empat kali. Belum habis waktu sholat," celetuk Adrian.


"Kata pak ustad, sholat itu dibiasakan tepat waktu. Kan kita yang butuh Allah, bukan Allah yang butuh kita," jelas Laura


"Gue banyak dapat ilmu dari lu. Kayaknya asyik kalo tiap hari sama lu, walau kadang kita berdebat hal yang nggak penting," senyum Adrian.


"Ogah banget gue tiap hari sama lu! emosi bawaannya gue lihat wajah lu. Elu harus inget sholat itu sebenarnya sebuah kebutuhan," cibir Laura


"Tuh, mode nyebelin elu balik lagi. Mood lu berubah-ubah ya, semenjak hamil," Adrian terkekeh, mulai terbiasa dengan tingkah Laura yang berubah-ubah.


"Gue biasa aja. Cuma lihat lu aja benci banget!" rutuk Laura


"Iya, deh. Nggak apa-apa elu mau benci gue. Pasrah gue," ucap Adrian yang kemudian melajukan mobilnya ke dalam parkiran masjid.


Sesampainya di masjid, mereka akhirnya berpisah. Laura ke bagian perempuan dan Adrian ke bagian laki-laki.


Sebenarnya Adrian sangat jarang sholat. Tapi, melihat Laura hendak sholat, dia ikut-ikutan.


Lima belas menit kemudian Laura sudah duduk di teras masjid. Memakai kaos kakinya. Kaca mata dia letakkan di atas tas yang tergeletak di lantai.


"Elu lebih cantik tanpa kaca mata, Ra," celetuk Adrian.


"Makasih! Tapi gue pusing kalo nggak pake kaca mata. Lagian di otak lu cuma ada cewek cantik dan cewek jelek ya?" sungut Laura yang sudah berdiri dan melangkah ke arah mobil Rian.

__ADS_1


"Gue tuh jujur, waktu muji lu tadi!" ucap Adrian yang melangkah di belakang Laura.


"Nggak tahu kenapa kok gue tersinggung dengan pujian lu! Mungkin karena gue tahu selama ini elu nggak pernah menganggap gue, elu tuh meremehkan gue selama ini," gerutu Laura


"Sensitif banget lu," celetuk Adrian yang masuk ke dalam mobil diikuti Laura


"Tapi bener kan? Gue ikut lu sekarang cuma sampai cek kandungan dan berbagi kasih aja ke orang-orang di jalan. Setelah itu, gue pulang," tekan Laura.


"Iya, bawel lu! Belum juga jadi emak-emak," kekeh Adrian.


"Gue emang calon emak-emak! Mau apa lu?" rutuk Laura.


"Nggak, kok! Gue nggak mau apa-apa. Udah kita ke dokter sekarang," ucap Adrian mengalah.


Tak lama, mereka sampai di sebuah klinik Laura dan Adrian memperhatikan dari parkiran.


"Rian, elu coba lihat ke dalam deh. Rame nggak? Ada orang yang kenal kita nggak?" Pinta Laura pada Adrian.


"Elu detail banget. Gue turun deh. Elu tunggu di dalam mobil," ucap Adrian yang kemudian keluar dari mobil.


Adrian mencoba melihat ke dalam klinik. Terlihat sepi. Akhirnya Adrian kembali ke mobil.


" Ra, sepi di dalam. Nggak ada orang. Ayo, turun," ajak Adrian.


"Oke," putus Laura.


Sesampainya di dalam klinik, Laura menunggu di kursi tunggu. Sementara Adrian mendaftarkan Laura di bagian resepsionis.


"Ra, bentar lagi elu dipanggil Soalnya nggak ada antrian," celetuk Adrian menghampiri Laura Sementara Laura hanya mengangguk mengerti.


"Nyonya Laura," panggil resepsionis Laura melirik dan mengangkat tangannya.


"Elu yakin nggak mau gue temanin?" tanya Adrian.


"Enggak, deh. Makasih," tolak Laura yang segera berdiri dan melangkah ke ruangan dokter.


Bersyukur, dokternya seorang perempuan Laura dilayani dengan ramah.


"Kita USG dulu ya," ucap dokter disela pemeriksaan. Sang dokter meminta Laura naik ke atas tempat tidur.


Laura hanya mengangguk. Dia mengikuti petunjuk dokter, berbaring di atas tempat tidur.


"Mau lihat jenis kelamin bayinya?" tanya dokter saat memeriksa perut Laura sambil memperhatikan layar di dinding ruangan.


"Hmm... nggak usah, Dok! Cukup keadaan janin aja," tanya Laura.

__ADS_1


"Oke. Biar jadi kejutan ya. Keadaan janin sehat tapi berat badannya masih kecil banget ini. Pola makannya diperhatikan ya, Bu. Nggak boleh stress juga," jelas dokter.


"Baik, dok," ucap Laura yang kemudian turun dari tempat tidur setelah selesai pemeriksaan.


"Ini resep vitamin. Nanti diminum ya," ucap dokter menyerahkan secarik kertas.


"Terima kasih, Dok. Saya permisi dulu," pamit Laura


"Sama-sama," ucap dokter tersebut tersenyum.


Laura akhirnya keluar dari ruangan dokter. Dia menghampiri Adrian.


"Udah?" tanya Adrian mendongakkan wajahnya.


"Udah, hayuk," ajak Laura.


Adrian mengangguk. Mereka segera keluar dari klinik menuju mobil.


"Apa kata dokter tadi, Bila?" tanya Adrian saat mereka masuk ke dalam mobil.


"Hmm, baik. Hanya berat badan janin masih di bawah normal," jelas Laura memakai sabuk pengaman.


"Tuh, elu artinya harus banyak makan, Ra. Jangan di rem makan elu," nasihat Adrian.


"Ngomong enak banget lu asal jeplak! Elu mikir dong, kalo bayi ini besar gimana perut gue? Entar ketahuan orang-orang!" sewot Ra, Dia kesal Adrian yang cuma bisa bicara tanpa berpikir kenapa dia makan tak banyak.


"Maaf, gitu aja marah!" lirih Adrian yang mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan ke jalanan.


"Iya, maaf lagi. Gue salah. Nafas aja kayaknya salah gue di mata lu," pasrah Adrian.


"Emang! Elu nggak ada benarnya. Elu nafas salah, nggak nafas juga salah. Wajah lu salah semua, nggak ada benarnya gue lihat wajah lu. Sebel, emosi banget gue lihat muka lu!" keluh Laura yang sudah kesal dengan Adrian.


"Iya, gue diem!" sahut Adrian.


"Diem juga lu salah!" marah Laura.


"Ra, tadi elu nanya nggak hasil USG cowok atau cewek?" ucap Adrian berharap bisa mencairkan suasana.


"Allahuakbar! Elu makin jadi ya!


"Ya iyalah. Gue kelaparan setiap hari nahan jangan sampe perut gue besar. Elu ngomong suka-suka!" rutuk Laura yang sudah mengerucutkan bibirnya.


Kesel banget gue sama lu. Gue nggak mau lihat jenis kelamin. Gue takut kepikiran. Gue takut stress kalo semisal ini anak cewek," rutuk Laura yang sudah teramat kesal.


Adrian menelan ludahnya Laura yang sudah marah membuat nyalinya menciut.

__ADS_1


"Maaf, Ra. Gue salah lagi," sahut Adrian.


"Iya elu pake nanya jenis kelamin! Gue udah pernah bilang, gue takut ini anak cewek. Dia bakal kesulitan jika udah besar, dia bakal malu Rian. Nasab dia ke gue, elu pikirin dong nasib anak ini di masa depan gimana," cecar Laura yang berkaca-kaca.


__ADS_2