
Ibu panti berlari-lari di koridor rumah sakit. Hingga tiba disebuah ruangan.
Setengah jam yang lalu, pihak rumah sakit mengabarinya jika Tante Sri dan Om Herman kecelakaan. Karena kontak terakhir yang dihubungi Tante Sri adalah nomor ibu panti, maka pihak rumah sakit mengabarinya.
Setelah tadi menandatangani surat administrasi, sepasang suami istri itu saat ini sedang berjuang di meja operasi. Sementara keluarga yang lain dari luar kota saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Menunggu cukup lama, akhirnya operasi selesai. Kedua orang itu dipindahkan ke ruangan lain.
Ibu Panti masih disuruh menunggu lagi, hingga beberapa jam. Pikiran ibu panti bercabang, antara memikirkan Tante Sri yang masih saudara jauhnya dan anak pantinya bernama Laura yang entah dimana dan bagaimana kabarnya.
Hingga seorang perawat mempersilahkan ibu panti masuk dengan menggunakan pakaian khusus.
Tampak Om Herman yang masih dipasangi berbagai selang ditubuhnya. Dia belum sadar, Suara mesin EKG terdengar dalam ruangan.
Begitu pun Tante Sri, belum sadarkan diri. Hingga besok pagi, Tante Sri baru sadar. Tubuhnya penuh luka. Beberapa jahitan di wajahnya termasuk dibagian bibirnya.
"sri, kamu sudah sadar? Saya panggilkan dokter," ucap ibu Panti yang segera memencet tombol panggilan.
Tak lama seorang dokter datang dan menyatakan tante Sri sudah melewati masa kritis. Hanya tinggal Om Permana yang masih belum sadar.
Dokter segera keluar dari ruangan, setelah memeriksa kondisi pasien.
"Sri... kamu bisa mendengar saya?" tanya Ibu Panti penuh harap.
Tante Sri hanya mengedipkan mata tanda bahwa dia bisa mendengarkan ucapan ibu panti.
"Sri, saya turut bersedih melihat keadaan kamu dan suamimu. Tapi, saya ingin tahu. Dimana Laura?" tanya ibu panti lamat-lamat berharap tante Sri bisa menjawab.
Namun, tak ada jawaban dari Tante Sri. Hanya memandang dalam diam. Membuat ibu panti mengangguk mengerti. Percuma bertanya, tante Sri tidak bisa menjawab pertanyaannya. Bibirnya tak bisa bergerak sama sekali.
*****
Tak terasa sudah dua minggu ini, Laura sudah kembali ke sekolah setelah pura-pura kecelakaan.
Untuk lebih meyakinkan semua orang, Adrian bahkan membelikan Laura kursi roda.
Pagi ini, Laura sudah siap di teras kost menunggu Adrian seperti biasa. Dua minggu ini, Tiara tak perlu lagi naik motor ke sekolah. Dia ikut naik mobil bersama Laura.
"Mana tuh orang? Udah jam enam ini," rutuk Tiara yang berdiri di teras sambil bercakak pinggang.
__ADS_1
"Aduh, kaki gue gatal. Tapi ini gips udah terpasang," keluh Laura yang menahan gatal di kakinya.
Sebuah gips putih tebal sudah terpasang di kaki Laura. Dia juga sudah duduk manis di kursi rodanya.
"Mau gue lepas dulu?" tanya Tiara.
"Nggak usah, Ra. Bikin repot elu. Entar juga hilang sendiri gatalnya," tolak Laura.
Tak lama, Mobil Adrian muncul didepan pagar kost Tiara. Adrian menekan klakson mobil memberi kode dia sudah datang.
Tiara segera mendorong kursi roda Laura ke arah mobil Adrian. Sementara Adrian turun dari mobil dan membukakan pintu belakang mobil.
"Telat lima menit lu!" omel Tiara saat membantu Laura masuk ke mobil.
"Maaf, gue semalam bergadang!" sahut Adrian.
"Ah, palingan maen game lu sama sohib lu," rutuk Tiara yang sudah masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil.
Sementara Adrian sudah masuk ke mobil dibalik kemudi. Dia segera memasang safety belt.
"Kita cuma mau menghibur Dedi, bokapnya kemarin kan ditetapkan jadi tersangka korupsi. Hartanya disita. Untung aja, orang tuanya gercep. Mindahin sebagian harta dan perusahaan atas nama keluarga mereka," papar Adrian yang mulai menjalankan mobilnya.
"Iya, betul! Sebagian harta mereka disita kemarin. Bokap Dedi juga dipecat nggak terhormat gitu. Jangankan keluarga Dedi, semenjak masalah Farida itu, perusahaan Bokap gue juga udah lepas dua, ditinggal investor karena banyak proyek yang gagal," jelas Adrian menarik nafasnya yang terasa berat.
"Bukan karena Farida kali. Karena kalian tuh banyak dosa. Dzolim sama anak yatim piatu. Ngeri ya balasannya kontan. Hiiii..." cetus Tiara yang merinding sendiri membayangkan rentetan kejadian selama enam bulan lebih semenjak kejadian Adrian dan Laura waktu itu.
"Elu jangan nakutin gue, dong," sahut Adrian yang wajahnya sudah tak enak.
Sementara Laura hanya diam, Dia menggigit bibir bawahnya. Mengelus perutnya yang terlihat tidak terlalu besar, sang janin sangat pintar bersembunyi. Dia tahu, ibunya mengalami tekanan. Janin bisa merasakan apa yang ibu rasakan. Bahkan merekam dalam memorinya setiap perasaan sang ibu yang sering sedih.
Laura hanya memandang ke arah luar lewat kaca jendela. Berusaha tak mendengarkan obrolan Tiara dan Adrian. Sungguh menyakitkan, saat seorang Adrian hanya bertanggung jawab sebatas ini. Bahkan tak ada rasa apapun untuknya.
"Dih, siapa yang nakutin lu! Gue bicara fakta! Fakta, Adrian!" tekan Tiara.
Sementara Adrian diam, tak mau lagi menjawab ucapan Tiara. Dia akan kalah berdebat dengan Tiara yang bar-bar dan bermulut pedas.
"Orang tuh ya, kalo mendekati usia kandungan tujuh bulan. Itu tuh seharusnya bahagia, sampe dibuat acara gitu sebagai bentuk rasa syukur. Kalo kita mah boro-boro. Laura hamil aja harus disembunyikan cuma Allah dan kita-kita yang tahu," cerocos Tiara.
Adrian tetap diam. Telinganya mendengar semua keluhan Tiara. Tapi, dia tetap tak menjawab. Dia tidak siap, sungguh!
__ADS_1
Dia tidak siap mengorbankan masa mudanya dengan sebuah pernikahan. Punya istri apalagi anak, Adrian belum membayangkan kehidupannya sejauh itu. Rasanya terlalu berat beban yang dia pikul kalau harus menikah, apalagi dengan laura yang hatinya saja belum berdetak cinta.
"Sabar ya sayang. Aunty Tiara bakal selalu ada buat dede bayi. Semoga nanti lahirnya mirip ibumu aja ya. Jangan mirip bapakmu yang nggak tanggung jawab!" sindir Tiara sambil mengelus perut Laura.
"Gue emang salah, Ra! Gue akui itu, gue udah minta maaf berkali-kali dengan elu Laura. Gue udah usaha tanggung jawab! Ini salah satunya bentuk tanggung jawab gue," sergah Adrian yang merasa tersinggung dan resah dengan beban masalah yang dia hadapi.
"Mau lu minta maaf jutaan kali pun, tidak akan mengubah apapun. Perbuatan elu sudah mengubah segala kehidupan gue. Kalo elu merasa terbebani dengan kata tanggung jawab. Nggak apa, kok! Setelah ini jangan antar jemput gue lagi. Gue nggak butuh bantuan lu. Elu memang laki-laki pengecut. Seharusnya elu sadar itu!" ucap Laura emosi yang sedari tadi diam. Ucapan Adrian yang tadi sungguh mengusik hati dan pikirannya.
"Ra, elu jangan marah. Gue minta maaf kalo ada kata gue yang salah. Gue bakal tetap antar jemput elu kok. Tenang aja," ucap Adrian mengalah.
"Kalo... kalo ada kata gue yang salah? Elu sebenarnya ngerasa bersalah nggak sih. Minta maaf aja pake kata kalo ada!" tekan Laura yang hatinya tercubit sakit.
Laki-laki yang sedang menyetir mobil ini, sungguh sangat kekanak-kanakan. Pikirannya sungguh belum dewasa.
"Maafin gue," lirih Adrian. Mobil mereka akhirnya sampai di parkiran sekolah yang sepi.
Tiara dan Laura tak lagi menjawab ucapan Adrian. Tiara lebih memilih membuka pintu mobil dan mengeluarkan kursi roda. Tiara kemudian keluar lebih dulu. Membuka lipatan kursi roda dan membantu Laura keluar dari mobil.
Adrian keluar dari mobil dan berusaha ikut membantu. Tapi, tangannya ditepis oleh Laura
"Nggak usah! Gue bisa sendiri, ini cuma pura-pura kan. Bawa bayi dalam perut aja gue sanggup. Apalagi cuma naik ke kursi roda," tolak Laura yang naik sendiri ke kursi roda. Sementara Tiara menahan kursi roda dari pegangan belakang.
Tiara kemudian meletakkan tas didepan perut Laura. Lalu mulai mendorong kursi roda. Sementara Adrian berdiri terpaku disamping mobilnya. Tak ikut melangkah karna Laura sedang marah padanya.
Beruntung, mereka sekolah di sekolah elit. Semua lapangan sudah dicor sangat memudahkan untuk mendorong kursi roda hingga ke kelas.
"Enak ya kalo berangkat sekolah pagi gini. Udara masih segar banget. Lihat deh, Ra. Bunga di taman sekolah lagi pada mekar," cetus Tiara menghibur Laura
Laura menghirup udara dalam-dalam. Merasakan segarnya udara pagi ini.
"Bener, Ra. Denger deh suara burung berkicau. Suara alam menyambut pagi. Bahkan bunga sepatu hingga bunga mawar serempak bermekaran pagi ini," ucap Laura tersenyum. Laura berusaha kembali tenang dan tak ingin memikirkan masalah dirinya.
Fokus Laura saat ini sekolah dan sebisa mungkin menjaga rahasia kehamilannya hingga nanti lahiran. Laura berharap hingga bulan ke sembilan nanti tak ada hambatan dan rintangan. Serta tak ada yang tahu tentang kehamilannya.
Sampai di kelas. Mereka berdua selalu menjadi orang pertama yang sampai. Tiara mendorong kursi roda Laura sampai dimeja paling belakang.
"Makasih ya, Ra. Tanpa elu gue nggak bisa apa-apa," ucap Laura tersenyum pada sahabatnya.
"Sama-sama. Gue ke meja gue dulu. Mau meletakkan tas," sahut Tiara, yang dibalas anggukan Laura.
__ADS_1