TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

Rian, kamu sadar, nak? Apa yang terjadi sama kamu? Mana yang sakit?" Mamanya memberondong pertanyaan.


Adrian membuka matanya, melihat ke sekeliling. Matanya menatap kosong mamanya.


"Rian, ini Mama. Mana yang sakit?" Mamanya bertanya lagi dengan wajah khawatir.


Adrian hanya diam. Air mata menetes dari ujung matanya. Tubuhnya sakit tapi lebih sakit hatinya. Dia kembali melakukan kesalahan.


Mama dan Papanya salah mengira. Kedua orang tua itu segera memanggil dokter. Mengira anaknya kesakitan luar biasa hingga menitikkan airmata.


Dokter segera datang dan memeriksa Adrian dengan seksama.


"Gimana dokter anak saya?" tanya Papa Adrian setelah dokter selesai memeriksa.


"Sudah tak apa, Anak bapak ibu akan segera pulih dalam beberapa hari. Hasil rontgen juga bagus," jelas dokter tersebut yang kemudian pamit dari ruangan.


"Adrian, siapa yang memukuli kamu? Biar papa yang urus," ucap Papanya mendekati brankar Adrian.


Adrian tetap diam tak bergeming. Dia tak mau menjawab.


"Papa sudah melapor pada polisi nanti polisi akan kesini dan meminta keterangan kamu," ucap Papanya.


"Tarik laporan, Pa. Adrian tak apa-apa. Saya memukuli diri saya sendiri," ucap Adrian akhirnya.


Kedua orang tuanya mengernyitkan kening. Mereka saling pandang, bingung.


"Apa kepalamu terasa sakit sampai ngomong aneh, Rian?" tanya Mamanya.


Adrian menggeleng sangat pelan hampir tak terlihat dia menggelengkan kepala. Lehernya sakit. "Saya serius, Ma. Tolong cabut laporan. Pelakunya saya sendiri," ungkap Adrian.


"Maksud kamu gimana, Rian? Siapa yang memukuli kalian? Kedua teman kamu bahkan belum sadar," jelas Papanya.


Adrian kembali menggeleng sangat pelan. Dia butuh sendiri dan berpikir dengan tenang.


"Ma, Pa, Adrian mau sendiri Tolong tinggalkan Rian sendiri," pinta Adrian.


"Loh, kenapa? Kamu lagi sakit. Mama mau disini nemenin kamu," ucap mamanya.


"Rian, mau sendiri, Ma," lirih Adrian.


Mama dan Papanya belum mau keluar dari ruangan. Masih bingung dengan sikap Adrian.


"Tolong, Pa. Cabut laporan. Rian, nggak akan memberikan keterangan apapun," ucap Adrian tetap kekeh dengan kemauannya.


Papanya diam. Masih tak rela mencabut laporan.


"Tolong Rian, Ma. Cabut laporan dan keluar dari ruangan ini," pinta Adrian memohon.


Mama dan Papanya akhirnya mengangguk. Mereka keluar dari ruangan meski masih sangat bingung dengan anaknya.


Setelah bunyi pintu tertutup, Adrian mulai menangis. Dengan tubuh yang masih berbaring di brankar, tak bisa banyak bergerak.


Tubuh Adrian bergetar seiring tangisnya yang mengencang. Rasa sedih, rasa bersalah, rasa berdosa, bahkan kelebat bayangan saat dia menghina Laura, kelebat bayangan saat malam penuh dosa hingga kelebat bayangan seorang bayi sangat mungil di inkubator yang sangat mirip dengannya bergantian menyiksa batinnya.


Adrian tergugu, nafasnya bahkan terasa sesak oleh himpitan rasa bersalah.


"Gue salah. Gue sangat salah. Maafin gue Ra! Gue bego, gue seharusnya percaya elu." racau Adrian sendiri.

__ADS_1


Adrian makin menangis. Tubuhnya yang sakit tak lagi dirasa. Membayangkan Laura dan bayi mungil yang mirip dirinya, sungguh menyiksa batinnya.


"Kenapa orang semalam nggak bunuh gue aja. Gue pantas buat mati! Gue nggak pantas hidup!" racau Adrian lagi.


"Ra, elu dimana? Maafin gue.... Gue salah. Apa yang harus gue lakukan, Bila?" Adrian masih meracau.


Tiba-tiba pintu diketuk, seorang perawat masuk mendorong kursi roda. Ada Revan yang duduk di kursi roda.


"Van, elu udah sadar?" tanya Adrian disela tangisnya.


Revan mengangguk. "Suster, tolong tinggalkan kami. Kami ingin mengobrol berdua," pinta Revan.


Perawat tersebut mengangguk mengerti. Dia kemudian keluar dan menutup pintu.


"Dedi belum sadar jugar, Rian. Dia yang paling parah diantara kita bertiga," ucap Revan.


"Elu udah ke ruangan Dedi?" tanya Adrian.


"Belum. Tapi mama gue udah ke sana. Hasil rontgen Dedi ada tulang kaki yang retak. Menurut dokter, Dedi butuh pemulihan yang lama," ungkap Revan.


"Gue belum bisa bergerak. Nanti kalo udah bisa gerak. Gue bakal ke ruangan Dedi, Revan, gue minta elu bilang ke nyokap bokap lu, buat tarik laporan polisi juga, please," pinta Adrian memohon.


"Iya, gue bakal turuti mau lu lagi pula kalo kasus ini di lanjutkan, pasti kita bakal ketahuan kalau kita sudah..." Revan tak berani melanjutkan kata-katanya.


"Apa kita lanjutkan aja kasus ini? Gue rela di penjara. Gue tahu gue salah orang semalam entah siapa, gue rasa dia hanya memberi kita pelajaran. Kalo dia mau bahkan semalam dia bisa membunuh kita. Tapi, dia nggak melakukan itu," papar Adrian.


"Siapa orang semalam ya? Apa hubungan dia dengan Laura?" tanya Revan bingung.


"Gue nggak tahu. Tapi dari caranya yang sangat marah, gue yakin dia sangat mengenal Shabila. Gue merasa bersalah banget, Van. Apa yang harus gue lakukan?" ucap Adrian frustasi.


"Rian, kita nggak harus menyerahkan diri ke polisi kan? Kasihan anak lu, masak dia punya bapak yang pernah di penjara? Gue punya satu cara untuk menebus rasa bersalah lu," sahut Revan serius.


"Nikahi Laura Kasihan anak kalian," usul Revan


Adrian menghela nafasnya dalam-dalam. Dia terdiam dan menerawang ke langit-langit ruangan yang berwarna putih.


" Laura pasti nggak mau sama gue, Van. Dulu gue yang nolak bertanggung jawab. Tapi, sekarang gue yakin dia yang menolak gue tanggung jawab," jelas Adrian.


"Elu sih, udah gue omongin dari dulu. Tanggung jawab, elu nya yang nggak mau. Sekarang gini kan? Lagian kenapa Laura nggak mau?" tanya Revan bingung.


Adrian kemudian menceritakan pertengkaran terakhirnya dengan Laura. Dia sudah meragukan Laura bahkan anak yang ada di kandungan Laura.


"Parah lu, Bro. Sakit hati banget pasti Shabila. Yaelah lu, tajem banget omongan lu. Gue yang denger aja sakit hati. Kan bisa aja itu saudara satu pantinya yang udah lama nggak ketemu. Diadopsi misalnya saudara nya itu?" ucap Revan mendesah kesal.


"Gue emosi saat itu. Bener-bener nggak terkendali gue saat itu. Nyokap bokap gue di rumah bertengkar terus. Terus gue dapat foto Shabila dipeluk laki-laki lain, panas gue!" ungkap Adrian menyesal.


"Nih ya, gue punya temen main waktu kecil ampe SD kelas tiga gitu. Terus kita terpisah, Bokap Nya pindah tugas ke Jambi gitu. baru berapa Minggu yang lewat dia main lagi ke Jakarta. Reaksi gue tau nggak langsung meluk dia. Itu tuh gerakan refleks sangking kangennya gue. Nah, gue rasa sama tuh kayak foto yang dikirim Angel. Itu saudara pantinya gue rasa," jelas Revan.


"Iya, gue salah. Nggak berpikir dulu. Jangan-jangan yang gebukin kita juga saudara pantinya itu?" ucap Adrian berasumsi.


"Mungkin. Dia pasti punya banyak saudara satu panti. Mereka hidup sama-sama dari kecil udah kayak keluarga. Sakit hatilah pasti saudara satu pantinya elu giniin," papar Revan.


Adrian menghela nafas panjang. Dia menyesali segala perbuatannya dia diam dan berpikir "Coba elu telpon Laura. Elu minta maaf dan tanya dia dimana," usuk Revan.


Adrian mengangguk. Dia berusaha mengambil hapenya diatas meja kecil disamping brankar nya. Namun, kesulitan karena tangannya yang sakit dan kepalanya yang sulit menoleh.


Revan akhirnya mendorong kursi rodanya lebih maju. Dia mengambilkan hape dan menyerahkan pada Adrian.

__ADS_1


"Aduh, gue baru inget. Nomor Laura sampe gue blokir, gue buka dulu blokirnya," ucap Adrian yang baru ingat saat melihat layar hapenya.


"Parah lu, Bro. Sanksi gue elu gak bakal cepat di maafin Laura," ucap Revan.


"Iya, makanya gue bingung. Gue harus gimana. Kalo Laura nyuruh gue ngapain aja gue bakal nurut, buat nebus rasa bersalah gue," ucap Adrian sambil mengotak atik hapenya.


"Termasuk masuk ke penangkaran buaya misalnya?" canda Revan.


"Iya, mau gimana lagi. Gue salah !" sahut Adrian.


"Keren. Gue dukung lu pokoknya elu harus minta maaf dan nikahi Laura kasihan banget anak lu nanti nya" papar Revan.


Adrian tak menjawab ucapan Revan lagi dia sudah menekan tombol panggilan.


"Kok diluar jangkauan ya? Padahal udah gue buka blokirnya?" tanya Adrian bingung.


"Sinyal aja kali, kalo nggak pulsa elu habis, Bro," sahut Revan.


"Enggak, Bro. Masih banyak pulsanya. Coba gue restart," tutur Adrian dengan tangan gemetar.


Beberapa kali Revan menelepon, tapi tak tersambung juga.


"Gimana?" tanya Adrian penasaran.


"Sama. Nggak tersambung. Mungkin dia lagi nggak ada pulsa. Makanya teleponnya nggak aktif kali," cetus Revan.


Adrian kembali terdiam, dia ingin tahu keadaan Laura bagaimana sekarang.


"Van, gue tiba-tiba mikir..." ucap Adrian mengernyitkan kening.


"Apa?" Revan bengong.


"Laki-laki semalam ngomong bayi di inkubator yang mirip gue, yang kita lihat di lantai tiga rumah


sakit adalah bayi gue. Anak Laura, kan di lantai tiga sudah disewa orang buat lahiran? Kenapa jadi Laura juga lahiran disitu?" Adrian tiba-tiba mengernyitkan kening.


"Eh, iya juga. Laki-laki itu ngomong gitu ya? Lah, gue juga jadi bingung? Apa hubungannya dengan Laura?" Revan sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ini rumah sakit mana? Laura pasti masih di rumah sakit itu, kalo bayi itu anak gue," ucap Adrian.


"Ini beda, Rian. Bukan Rumah sakit yang kemarin," jelas Revan.


"Aawwww... Ssssss...," Adrian kesakitan dan berdesis. Dia mencoba bangkit.


"Jangan banyak gerak, Rian. Badan lu bonyok semua," sahut Ivan.


"Perut gue sakit banget. Semalam perut gue yang paling banyak ditonjok. Gue sebenernya sekarang pengen ketemu Laura dan bayi nya" ucap Adrian.


"Elu harus sehat dulu. Baru temui laura Entar gue temani lu ya. Sekarang elu kirim pesan aja ke Laura. Kali aja pas dia buka hape, pesan lu bisa masuk," usul Revan.


"Oh iya, bener juga," sahut Adrian.


Adrian kembali membuka hapenya. Dia diam sejenak untuk berpikir. Lalu mulai mengetikkan pesan.


bersambung........


jangan lupa follow, like, komen, dan juga ulasannya.

__ADS_1


happy reading and happy enjoy


__ADS_2