TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
GARIS 2


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


Hoek...hoek...


Laura sudah muntah untuk kesekian kali hari ini. Setiap pagi saat sampai di sekolah, Laura harus segera berlari ke toilet sekolah.


"Ra, elu muntah lagi?" tanya Tiara khawatir. Tiara menoleh ke kiri dan ke kanan jangan sampai ada yang melihat.


Laura hanya mengangguk dan membersihkan mulutnya dengan air kran.


"Hmm, gimana kalo kita cek aja? Gue takutnya lu ham...il," ucap Tiara dengan ragu.


Laura menggeleng. Suasana hatinya tiba-tiba kacau. Kata-kata Tiara seperti menegaskan kekalutannya selama ini. Laura bukan tak menyadari perubahan dirinya.


Semenjak kejadian waktu itu, hari demi hari Laura mulai merasakan perubahan pada tubuhnya. Tapi, Laura berusaha menepis dugaannya. Apalagi saat melihat Adrian bersama Angel, luka di hatinya seperti di beri garam. Perih!


Dia yang memberi segalanya, tapi gadis lain yang mendapatkan cinta. Adrian pura-pura lupa. Seperti tak pernah terjadi apa-apa pada mereka.


"Gue harap cuma masuk angin, Ra!" lirih Laura sambil menatap pantulan wajah dirinya di depan cermin. Wajahnya memucat dan pipinya kini sedikit tembam.


Laura seperti mutiara yang tertutup cangkang. Kecantikan yang tersembunyi. Dia harus banting tulang, sekolah dan bekerja di bawah sinar terik matahari. Kulit tubuhnya yang putih menjadi kecoklatan.


Hidung mancung, mata bulat, bulu mata lentik dan alis seperti bulan sabit tapi karena tak pernah merawat diri, Shabila terlihat seperti itik buruk rupa.


Malang sungguh nasib gadis ini. Ibunya entah dimana, ayahnya entah siapa. Kini, dia juga tak beruntung soal cinta.


"Laura, kita harus pastiin dulu. Semakin cepat ketahuan semakin baik," bisik Tiara.


"Untuk apa? Apanya yang lebih baik, Ra?" seru Laura yang semakin terlihat kacau. Nafasnya sudah turun naik menahan letupan emosi. Dia membenci dirinya sendiri. Membenci ketidakberdayaan Nya.


"Laura, setidaknya kita bisa cari jalan keluar dari masalah lu. Karena itu kita harus pastiin dulu, biar lu juga bisa tenang," bisik Tiara lagi sambil mengusap punggung Laura.


Tangan Laura sudah gemetar. Memegang dua sisi wastafel, Laura mulai menangis.


"Andai waktu bisa di ulang, Ra. Gue nyesel banget, hiks," Laura mulai kembali menangis.


"Sabar ya Ra, gue tahu lu nyesel. Allah nggak bakal ngasih cobaan melewati batas kemampuan kita, Ra," ucap Tiara lembut.


"Makasih ya Ra, elu selalu ada buat gue," sahut Laura.


"Kita sahabat selamanya, ingat itu. Udah lu hapus air mata lu. Bentar lagi pasti rame, kita balik ke kelas," ucap Tiara.


Laura kembali membersihkan wajahnya dengan air. Berharap tak ada jejak kesedihan di wajahnya. Setelah di rasa cukup, Laura dan Tiara kembali ke kelas.


"Ha...ha...ha... iya entar kita ke cafe itu lagi ya," derai tawa Angel terdengar hingga ke pintu kelas.


Sementara Adrian ikut tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan.


Laura menarik nafas dalam-dalam. Menguatkan hati melangkah masuk ke dalam kelas. Adrian sontak terdiam saat Laura masuk.


Tatapan tajam mata Laura meski sekilas tapi mampu mengintimidasi Adrian. Rasa bersalah itu masih mendominasi perasaannya.


Angel adalah gadis pelariannya. Adrian berharap dia bisa melupakan kejadian waktu itu setelah bersama Angel.


Nyatanya tidak, bayangan Laura masih menari-nari di pelupuk matanya. Menghiasi mimpinya hingga dia mengalami kesulitan tidur. Adrian bahkan mulai sesekali minum obat tidur.


Laura sudah sampai di mejanya. Duduk di baris paling belakang. Berusaha tidak mempedulikan apapun. Dia harus fokus pada lomba matematika tingkat nasional bulan depan.


"Kenapa sih!" desis Angel yang tak suka melihat mata Adrian mengekori langkah Laura.


"Enggak apa-apa kok," sahut Adrian singkat. Adrian segera memalingkan wajahnya kembali ke arah Angel.


"Elu suka sama si cupu!" sungut Angel.


"Enggak Angel. Udah ah, gue mau beli minuman dulu di kantin," kelit Adrian yang segera berdiri dari duduk. Segera melangkah cepat keluar kelas.


Angel segera menyusul. Dia masih belum puas dengan jawaban Adrian.


"Adrian tunggu!" seru Angel di koridor sekolah.


"Apa sih, Angel! Gue haus," sahut Adrian malas.


"Ya udah, gue ikut," Angel bergelayut manja di lengan Adrian.


Adrian hanya berdecak kesal. Terkadang Angel terlalu posesif padanya.


Sementara di kelas, Laura memilih membuka buku pelajaran. Mencoba memecahkan soal-soal matematika yang rumit. Hanya ini cara Laura mengalihkan kesedihan. Belajar dan bekerja.


Tiga jam pelajaran matematika di kelas, cukup mengalihkan fokus Laura. Khusus dirinya, sang guru memberikan soal berbeda dari teman-teman yang lain.


"Laura, karena kamu yang bakal mewakili provinsi kita nanti, soal untuk kamu ibu buat lebih rumit dari yang lain," ucap sang guru.


"Iya, Bu," ucap Laura maju ke depan mengambil kertas soal lalu kembali duduk.


"Gila soal punya lu. Itu soal rumit amat kayak jalan kehidupan," celetuk Nurul yang duduk di bangku depan Laura. Nurul menoleh ke belakang dan menggelengkan kepala.


Laura hanya diam, fokus mulai mengerjakan soal. Laura jadi pribadi yang lebih tertutup. Tidak mau dekat dengan siapapun kecuali Tiara.


Beberapa pelajaran dilalui Laura hari ini. Gurunya bahkan memberinya sebuah buku modul yang harus dia pelajari untuk persiapan lomba matematika tingkat nasional.


Hingga siang menjelang dan semua pelajaran usai. Laura segera membereskan buku-bukunya. Dia harus segera bekerja. Keuangan panti terbatas.


Laura bersyukur setidaknya dia di anugerahi kecerdasan di atas rata-rata. Dia bisa bersekolah selama ini dengan beasiswa. Jika dia berhasil memenangkan lomba tingkat nasional, kepala sekolah sudah menjanjikan dirinya beasiswa penuh dari pemerintah untuk dirinya. Bahkan dia bisa memilih universitas mana yang ingin dia masuki.


" Laura entar gue mampir ya ke toko lu," seru Tiara saat laura hendak pulang.


"Oke, gue tunggu ya Ra," sahut Laura. Meski dia tak tahu untuk apa Tiara mampir ke toko bunga tempatnya bekerja.


Hingga beberapa belas menit kemudian, Laura sudah sampai di toko bunga.


"Laura ibu sudah tunggu loh. Pelanggan kita udah nggak sabar sepertinya. Ada bunga anggrek bulan, bibitnya baru datang kemarin. Segera kamu antar ya," senyum ibu Laksmi sang pemilik toko bunga.


Ibu Laksmi, seorang wanita berdarah campuran. Usianya hampir 50 tahun. Bapaknya orang India dan Ibunya orang Indonesia asli. Ibu Laksmi sudah menikah dengan suaminya yang orang Aceh, hampir 26 tahun katanya. Tapi, hingga kini mereka tak di karuniai momongan.


"Siap, Bu," sahut Laura sambil mengambil nota-nota yang berisi total pembayaran, alamat dan no hp pembeli.

__ADS_1


"Laura, pipi kamu gemukan ya. Banyak makan ya kamu sekarang?" goda ibu Laksmi tersenyum.


Laura refleks memegang pipinya. "Hmm... iya, Bu. Laura banyak makan sekarang, hehe," jawab Laura kikuk.


"Iya, syukur deh. Kamu sekolah terus kerja. Memang butuh banyak makan biar energinya balik lagi," senyum ibu Laksmi yang kemudian berjalan mendekati Laura. Membantu Laura memilih bunga yang harus di bawa sesuai nota. Meletakkan di keranjang kayu di atas motor bebek milik ibu Laksmi.


"Bu, laura berangkat dulu," ucap Laura yang hari itu sudah sempat berganti pakaian kerjanya. Baju kemeja warna biru dengan celana sepan panjang warna senada. Baju yang bertuliskan "Toko Bunga Kenangan".


"Iya, hati-hati ya, Laura," ucap ibu Laksmi. laura mengangguk dan mulai men starter motornya. Lalu melaju ke jalanan ibukota. Shabila sampai hafal jalanan ibukota karena pekerjaannya ini.


Mungkin saja, suatu hari dia akan bertemu orang tuanya jika bekerja keliling setiap hari seperti ini. Tapi, Laura bahkan tak punya petunjuk sama sekali. Kalung atau apapun tak ada. Ah, bagaimana mereka bisa bertemu?


Laura membelokkan motornya di sebuah kawasan rumah elit. Berhenti pada sebuah rumah besar bercat putih, dua tingkat dengan halaman luas. Ini adalah salah satu rumah langganan tetap toko bunganya.


Laura memencet bel beberapa kali, hingga seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.


"Eh Laura udah datang. Tunggu di teras ya, bibi panggil nyonya dulu," ucap asisten rumah tangga.


"Iya, bi," sahut Laura tersenyum. Laura menuju ke teras rumah yang dihias banyak tanaman menggantung. Seorang anak kecil tampak sedang mengerjakan tugas sekolah di meja teras.


"Hai, lagi ngapain Soni?" sapa Laura yang sudah hafal dengan nama anak bungsu pelanggan bunganya. Laura duduk di lantai teras depan meja tempat Soni belajar.


"Hai, kak Laura. Soni lagi pusing. Ini matematika nya susah," rutuk Soni yang menggaruk kepalanya frustasi.


"Mana? Coba kak laura lihat," tanya laura yang memutar buku tulis Soni ke arahnya. Lalu tersenyum saat melihat soal anak SD yang ada dihadapannya.


"Kak laura bisa?" tanya Soni penuh harap.


"Bisa. Seperti ini caranya..." laura segera mengajarkan pada Soni cara mengerjakan tugas sekolah nya. Tanpa laura sadari, nyonya rumah tersenyum dari sudut teras melihat Laura membantu anaknya.


"Mudah kan?" tanya laura tersenyum sambil menatap Soni.


Soni mengangguk dan tersenyum senang. "Makasih kak laura udah bantu Soni, ternyata mudah ya," ucap Soni sumringah. Wajah bocah itu kembali ceria.


" laura..." panggil sang nyonya rumah.


"Oh iya, Bu," sahut laura segera berdiri dari duduknya.


"Makasih ya sudah bantu Soni. Kamu mau nggak jadi guru les Soni. Kamu juga nggak perlu capek antar-antar bunga panas-panasan gini," tawar mamanya Soni.


"Hmm, nanti laura pikirkan, Bu," sahut laura


"Iya, ada beberapa teman Soni juga yang butuh kursus privat gitu. Saya bisa kasih kamu gaji sama seperti penghasilan kamu di toko bunga," mama Soni memberikan tawaran menggiurkan untuk Laura


"Terima kasih, Bu. Akan laura pikirkan," laura mengangguk dan tersenyum.


"Saya tunggu loh jawabannya. Ohya, mana nota belanja saya?"


"Ini, Bu!" ucap Laura menyerahkan sebuah kertas nota pada mama Soni.


"Ini uang untuk bunganya, lalu ini untuk Laura, terima kasih ya," kata mama Soni memberikan sejumlah uang di tangan laura.


"Makasih, Bu. Tapi uang untuk laura kebanyakan," laura tampak terkejut diberi uang seratus ribuan.


"Nggak apa-apa. Ibu makasih tadi laura sudah membantu Soni. Ohya, nota ini untuk kamu aja. Kalo kamu jadi mengajar Soni, nanti hubungi ibu. Nomor ponsel ibu di nota itu," jelas Ibu Soni.


Sepanjang perjalanan, laura memikirkan ucapan ibunya Soni. Dia akan mendapat bayaran sama seperti penghasilan di toko bunga tanpa capek berpanas-panasan lagi. Tawaran menggiurkan.


Hingga sore menjelang, laura akhirnya selesai mengantarkan bunga ke semua alamat. Shabila kembali ke toko bunga.


"laura" seru Tiara yang ternyata sudah menunggunya. Tiara duduk di sebuah kursi tunggu depan toko bunga.


laura menghentikan motornya di depan toko. Tersenyum senang melihat Tiara.


"Hai, udah lama, Ra?" tanya Shabila melepas helmnya. Lalu turun dari motor dan melangkah mendekati Tiara.


"Baru beberapa menit yang lalu. Gue jemput lu," Tiara berdiri dan menyambut laura


"Wah, makasih. Bentar ya gue setor duit bunga dulu ke dalam," ucap laura.


"Okey," sahut Tiara


mengacungkan kedua jempolnya.


laura segera beranjak masuk ke dalam toko bunga. Bunyi lonceng di pintu toko berbunyi, tanda ada pengunjung yang datang.


"Assalamualaikum," sapa Laura tersenyum. Tubuh laura sudah bermandi keringat. Kulitnya mengkilap kecoklatan, bau matahari menguar dari tubuhnya. laura harus bekerja keras setiap hari seperti ini.


Tapi beberapa minggu ini, laura sering merasakan kelelahan. Fisiknya tak sesehat dulu. Entah mengapa?


"Wa'alaikumsalam," ibu Laksmi tersenyum. Senang melihat laura sudah pulang dan yang pasti membawa uang hasil penjualan bunga.


"Bu, ini uangnya. Semua pesanan sudah laura antarkan," papar laura sambil menyerahkan uang-uang kertas berwarna merah dan biru. Menyodorkan di atas lemari


kaca yang indah karena berisi berbagai pernak pernik hiasan untuk dekorasi bunga.


"Wah, makasih ya Laura," sambut ibu Laksmi sumringah. Dia segera menghitung jumlah uang, lalu menyodorkan satu lembar uang merah seratus ribuan ke laura.


"Sama-sama, Bu. laura juga terima kasih," sahut laura tersenyum mengambil uang yang disodorkan ibu Laksmi.


laura menarik nafas dalam-dalam. Membuang rasa lelah yang menjalari tubuhnya. Uang seratus ribu di tangan hasil dia berkeliling mengantar bunga.


laura lalu izin pulang setelah selesai mendapat upah harian. laura memang tidak mendapatkan gaji. Dia hanya mendapatkan upah sesuai jumlah alamat yang dia antar setiap hari. Tapi, jika tidak ada bunga yang diantar artinya dia tidak akan mendapat uang.


"Tiara, yok pulang," panggil laura tersenyum saat sudah di luar toko bunga dan menghampiri Tiara.


"Udah kerja lu?" tanya Tiara meyakinkan.


"Udah semua gue antar," jawab Laura.


"Duduk dulu. Elu pasti capek," ucap Tiara menepuk kursi di sebelahnya.


laura lalu duduk di sebelah Tiara. Menghembuskan nafas dan meluruskan kakinya. Meregangkan otot-otot tubuh yang rasanya remuk redam kecapekan.


"Capek banget ya?" tanya Tiara yang kasihan melihat laura

__ADS_1


"Banget, nggak tahu nih akhir-akhir ini rasanya gue mudah banget capek," keluh Laura.


"Bila, ini untuk lu," Tiara menyodorkan sebuah kantong plastik putih kecil.


"Apa ini?" tanya Shabila mengernyitkan kening.


Tiara hanya memberikan kode jari di depan bibir meminta Shabila jangan berbicara kencang.


laura kembali mengernyitkan kening, membuka sedikit kantong putih yang dibawa Tiara. laura melotot saat melihat isi kantong putih yang dibawa Tiara. Testpack!


"Ra, elu nggak salah kasih gue ini?" tanya laura dengan dada yang bergemuruh cemas. laura bukan hanya melihat satu tapi tiga testpack.


Tiara menggeleng. "Jangan menghindar laura. Kita harus lakuin ini, biar elu bisa tenang kalo ternyata hasilnya negatif," tekan Tiara.


"Tapi gue takut, Ra!" ucap laura dengan wajah cemas ketakutan.


"Kita hadapi ini bareng-bareng. Semoga aja hasilnya negatif ya," kata Tiara menguatkan laura. Matanya menatap laura dan memberi banyak dukungan untuk sahabatnya.


laura menarik nafas dalam. Tiara benar dia harus menghadapi semua ini. Shabila akhirnya mengangguk lemah. Dia harus melakukan ini.


"Ke kost gue dulu ya, entar kita izin sama ibu panti. Elu menginap di rumah gue," usul Tiara.


"Iya, gue ikut aja," ucap laura setuju.


Mereka berdua akhirnya berdiri dan naik motor matic milik Tiara. Menuju panti asuhan terlebih dahulu. Sementara motor ibu Laksmi sudah laura masukkan ke dalam garasi di samping toko bunga.


Tak sampai lima belas menit, mereka sudah sampai di depan lorong panti asuhan. Tapi, Adrian menghadang motor mereka.


Tiara terpaksa mengerem dan menghentikan laju motornya.


"Heh, lu bosan hidup ya! Minggir nggak lu!" hardik Tiara. Sementara Adrian tak bergeming masih berdiri tepat di depan motor Tiara.


"Gue mau ngomong dengan laura, bentar aja," mohon Adrian.


Sementara Laura tampak berdecak kesal di belakang motor. laura akhirnya turun, dia tidak mau ada yang melihat mereka. Karena itu, laura harus cepat menyelesaikan masalahnya.


"Apa lagi mau lu, hah?!" tekan laura yang kesal.


"Gue merasa bersalah sama lu. Izinin gue tanggung jawab, terima duit dari gue," tawar Adrian dengan wajah memelas.


Laura mendengus. Laki-laki di hadapannya ini hanya menilai segala sesuatu hanya dari uang.


"Kalo gue minta tanggung jawab dalam bentuk lain gimana?" tantang Laura. Matanya menatap tajam Adrian.


"Maksud lu apa?" tanya Adrian cemas.


"Nikah sama gue! Berani lu?" laura kembali menantang Adrian. Melihat seberapa menyesalnya laki-laki di hadapannya ini.


Adrian terkesiap. Dia belum siap untuk menikah.


"Bila, apa uang ini nggak cukup? Nanti Dedi dan Revan akan beri lu duit juga. Tapi, kalo untuk nikah gue nggak bisa. Kita masih sekolah lagi pula..." Adrian menggantung kalimatnya.


"Lagi pula apa... lagi pula kamu nggak mencintai gue KAN!" seru laura. Hatinya terasa sakit saat mengatakan itu.


Adrian hanya mengangguk lemah. Dia tahu dia sekarang bukanlah laki-laki yang baik. Dia sudah jadi pecundang.


"Elu berbuat seharusnya lu berani tanggung jawab," tekan Tiara menunjuk wajah Adrian dengan jarinya. Tiara ikut turun dari motor dan terpaksa memarkirkan motornya di pinggir jalan.


"Tapi, gue nggak salah sepenuhnya. Gue diberi obat sampe gue kehilangan kendali pikiran gue," Adrian membela diri.


"Tetap aja lu salah. Elu sudah merusak masa depan teman gue. Kalian bertiga bukan laki-laki, cuih!" cibir Tiara membuang ludahnya ke jalan.


"Pergi lu dari sini. Jangan pernah temui gue lagi. Gue nggak sudi lihat wajah lu," murka laura dengan tatapan penuh amarah.


"Okey, gue pergi. Tapi, kalo lu berubah pikiran temui gue," putus Adrian lalu melangkah pergi menuju mobilnya. Mobil merah yang sama dengan kejadian waktu itu.


Mobil yang di benci laura sama besarnya dengan rasa bencinya pada sang pemilik mobil. laura benci apa pun yang berhubungan dengan Adrian.


"Sabar, laura. Ayo, kita ke panti. Kita izin lu nginep di kost gue," Tiara menepuk bahu laura pelan.


laura menoleh dan mengangguk pelan. Mereka kembali ke motor dan segera melajukan motor ke panti asuhan.


Tak lama, setelah sampai panti asuhan dan izin pada ibu pemilik panti, Tiara kembali menyalakan mesin motor. laura membawa baju ganti lalu naik ke motor berboncengan dengan Tiara.


Beberapa belas menit hampir magrib, mereka akhirnya sampai di kost Tiara. laura dan Tiara bergantian mandi. Setelah adzan mereka kemudian sholat magrib.


"laura, nih gue baca petunjuknya. Katanya paling akurat kalo tesnya di pagi hari," ucap Tiara saat membaca keterangan di bungkus testpack.


Mereka baru saja selesai sholat magrib. Tiara yang penasaran segera membuka bungkus testpack dan membacanya.


"Berarti besok pagi?" tanya laura pasrah.


"Iya, ya udah kita makan dulu aja. Besok pagi kita test," usul Tiara.


laura hanya mengangguk lemah. Mengikuti saja kemauan Tiara.


Malam itu laura makan di kost Tiara. Entah mengapa saat melihat buah mangga yang tersaji, laura begitu selera. Padahal tadi dia sedang tidak selera makan.


Menjelang pukul sembilan malam, mereka akhirnya tertidur. Sholat Isya dan menjelang tidur tadi Laura berharap dan berdoa supaya hasil testpack negatif. Dia tidak siap menjadi seorang ibu. Apalagi di luar pernikahan.


Paginya, Tiara dengan semangat membantu Laura. Mendorong Shabila menuju kamar mandi.


"Iya Tiara, gue masuk ke kamar mandi," dengus kesal laura yang ogah-ogahan.


"Cepetan!" protes Tiara.


laura mencebikkan bibirnya lalu menutup pintu kamar mandi. Sementara Tiara seperti pengawal saja menunggu di depan pintu kamar mandi.


laura menarik nafas dalam-dalam. Menunggu hasil test urine yang barusan saja dia lakukan.


Tak menunggu lama, dua garis merah tercetak di test pack. laura cemas luar biasa. Menggeleng tak percaya. Membuka bungkus dua test pack berikutnya. Melakukan test kembali. Tapi, hasilnya sama. Garis dua!


"Nggak mungkin!" laura meraung menangis. Pikirannya kembali kacau.


Kenapa harus terjadi? Kenapa harus dia? Kenapa ujiannya begitu bertubi dan tak bertepi...

__ADS_1


Aku ingin bahagia, Tuhan...


__ADS_2