TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
EMOSI ADRIAN KEPADA TEMAN NYA


__ADS_3

Adrian berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan karena emosi. Menyesali segala yang telah terjadi.


Setelah merasa cukup tenang, Adrian segera melangkah mencari Dedi dan Revan.


"Gue mau ngomong sama lu berdua," seru Adrian saat menemukan Dedi dan Revan di parkiran. Kedua temannya itu baru saja sampai sekolah.


"Akhirnya lu ngajakin kita ngobrol lagi, Rian," senyum Revan. Adrian beberapa minggu ini selalu menghindar dari Revan dan Dedi.


"Gue minta lu berdua tanggung jawab juga!" Adrian langsung bicara ke inti persoalan. Wajah Adrian terlihat menahan emosi.


Bagi Adrian, Dedi yang paling bersalah dalam hal ini. Jika bukan karena pikiran liar Dedi, tentu dia dan Laura tak harus berakhir seperti saat ini.


"Tanggung jawab apa nih, Bro? Santai, kita masuk dulu dalam mobil," ucap Dedi berusaha tenang.


Mereka bertiga kemudian sepakat masuk ke dalam mobil. Ivan akhirnya melajukan mobil keluar sekolah. Pembicaraan mereka jangan sampai di dengar orang lain.


"Gara-gara lu berdua! Laura sekarang hamil," cerca Adrian menunjuk Dedi dengan jarinya.


Dedi dan Revan tampak terkejut.


Mereka tak berpikir dampaknya bisa sejauh itu.


"Bro, lu tau darimana? Jangan-jangan ini cuma akal-akalan Laura?" kelit Dedi tak percaya.


"Elu tanyain langsung ke Laura kalo lu nggak percaya!" geram Adrian.


"Sorry bro, elu cuma melakukan kesalahan satu kali dan dia hamil?" Revan tampak kebingungan.


"Iya! Gue lihat sendiri hasil testpack positif tadi," sahut Adrian yang menghela nafas panjang. Pikirannya masih kalut.


"Gue nggak yakin. Entar gue tanya langsung ke si Cupu dia beneran hamil atau nggak!" Dedi.


tampak tak percaya.


"Iya, lu tanya langsung sendiri sana! Sekarang gue minta solusi dari kalian berdua. Masalah ini dimulai dari kalian," tekan Adrian.


Dedi dan Revan tampak terdiam. Mereka berdua berpikir. Sementara mobil masih melaju di seputar jalanan tak jauh dari sekolah.


"Laura meminta gue bertanggung jawab. Dia mau kita nikah," lanjut Adrian berkata dengan nada frustasi.


"Apa! Tuh kan tujuan dia ketahuan, dia cuma pengen nikah sama lu!" rutuk Dedi kesal.


"Tapi gue emang salah! Gue udah menghancurkan hidup dia, dan semua itu karena kalian!" hardik Adrian yang suaranya naik beberapa oktaf.


Adrian tak habis pikir dengan Dodit. Seharusnya Dedi merasa bersalah. Sementara Adrian merasa tersiksa semenjak kejadian waktu itu. Setiap hari rasa bersalah menghantuinya. Apalagi sekarang saat tahu Laura hamil.

__ADS_1


"Oke gini! Kita minta Laura gugurkan saja," jawab Dedi dengan enteng.


"Awalnya gue juga berpikir seperti itu. Tapi setelah gue pikir lagi, itu tindakan yang salah. Gue sudah melakukan dosa, gue nggak mau menambah dosa lagi," jelas Adrian.


"Biar gue dan Revan yang nanggung dosanya!" ucap Dedi sembarangan.


"Kalian jangan melakukan hal gila. Gue nggak mau kalian melakukan tindakan yang bikin gue merasa semakin bersalah," ucap Adrian.


"Terus lu mau kita gimana? Elu mau nikahi dia?" tanya Revan.


Adrian menggeleng lemah. "Gue masih sekolah, mana mungkin gue nikah!" jawab Adrian.


"Mungkin uang bisa jadi solusi sebagai bentuk pertanggungjawaban elu ke Laura," celetuk Dedi yang bingung harus bagaimana.


"Dia nggak mau uang," lirih Adrian lemah yang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil. Dia lelah dengan masalah ini.


" emang bikin ribet amat si cupu" dengus Dedi


Mereka bertiga akhirnya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Ivan kemudian kembali melajukan mobilnya ke sekolah. Sudah hampir masuk waktu pelajaran.


"Rian, elu tenang aja. Kita pasti bantu lu cari solusinya," tukas Dedi akhirnya berusaha menenangkan Adrian.


"Gue tunggu solusi dari lu!" sahut Adrian yang kemudian keluar dari mobil saat mereka sudah sampai di parkiran sekolah.


"Gimana ini, bro?" tanya Revan sesaat setelah Adrian keluar mobil dan berjalan menjauh dari parkiran.


"Wah, tapi lu jangan main kasar ya! Gue nggak ikut-ikutan kalo lu kasar ama cewek," tolak Revan.


" gue cuma mau dia nuruti kemauan kita," decak Dedi kesal.


Revan hanya menggedikkan bahu. Bagaimanapun Dedi tidak pernah mau dibantah.


Sementara di kelas, Laura duduk di kursinya paling pojok belakang. Dia dari tadi hanya membolak balikkan buku pelajaran.


Pikiran Laura terlalu kalut. Tak ada satupun materi pelajaran yang masuk ke pikirannya.


Membayangkan dirinya sendiri selama ini tanpa mengetahui siapa ayah ibunya rasanya tak adil jika dia melakukan hal yang sama pada calon anaknya.


" Bagaimanapun dia akan berusaha bertanggung jawab. Meski bayi itu lahir dari sebuah kesalahan." Apa gue juga terlahir dari sebuah kesalahan lalu orang tua gue membuang gue ke panti asuhan?" tanya Laura dalam hati.


Hatinya kembali sedih jika mengingat tentang dirinya sendiri. Tak ada kenangan tentang indahnya bersama orang tua.


Hingga bel masuk berbunyi, pelajaran di mulai. Adrian sesekali melirik Laura dari tempat duduknya. Tapi, Laura terlihat hanya diam terpaku menatap ke papan tulis.


Hingga siang pelajaran usai, Laura masih tampak diam, tidak antusias dengan pelajaran. Padahal hari ini adalah pelajaran kesukaannya, Matematika.

__ADS_1


Dengan cepat Laura mengemasi buku-buku pelajarannya. Dia harus pergi bekerja.


"Gue duluan ya, Tiara," ucap Laura yang mencangklong tasnya.


"Hati-hati ya,"sahut Tiara tersenyum dan melambaikan tangan. Sementara Adrian hanya memperhatikan dari kejauhan.


Laura sudah tak memperdulikan Adrian lagi. Laki-laki itu sudah terlalu dalam menggores luka di hatinya. Laura akan tetap melangkah ke masa depan walau tak tahu ke arah mana masa depannya.


"Eh, Cupu sini lu. Ikut kita," seru Dedi mencengkram tangan Laura, saat Laura melewati parkiran.


Sepertinya Dodit memang sudah menunggu Shabila sedari tadi.


"Apaan sih lu! Gue nggak mau ikut dengan lu!" Shabila berusaha berontak dan melepaskan tangannya.


"Elu harus ikut gue. Kita mau buktiin omongan lu! Jangan-jangan lu cuma bohongi Adrian!" cibir Dedi Sementara Revan hanya diam, kasihan melihat Laura tapi juga tak berani melawan Dedi.


"Oh, jadi ini karena Adrian lagi! Kalian pengecut semua. Lepasin gue!" Laura makin memberontak. Dedi memaksa Dedi masuk ke dalam mobil.


"Revan, masuk lu ke mobil," perintah Dedi meminta Revan.


Revan hanya mengangguk dan masuk lebih dulu ke mobil. Bersiap-siap dibalik kemudi. Entah apa rencana Dedi.


Sementara Laura yang lemah, kalah tenaga dengan Dedi Sekuat apapun dia melawan, Dodit tenaganya lebih kuat.


Adrian yang berjalan ke arah parkiran, terkejut melihat Laura yang ditarik paksa oleh Dedi. Tapi terlambat, Revan berhasil dipaksa masuk ke dalam mobil.


Mobil milik Revan terlihat langsung melaju setelah Laura berhasil masuk ke dalam mobil.


Adrian berlari mengejar, berteriak agar mobil berhenti namun mobil keburu pergi. Adrian segera menuju mobilnya, segera melaju menyusul mobil Revan.


"Kurang ajar Dedi! Dia mau apa ke Laura?!" Adrian marah dan semakin menambah kecepatan mobil. Menekan klakson berkali-kali agar mobil di depan berhenti.


Sementara di mobil Revan, Laura masih memberontak.


"Diam nggak lu!" bentak Dedi.


"Lepasin gue! Lu mau apa dari gue, hah!" jerit Laura


"Suara lu berisik banget, bisa diam nggak lu?!" sembur Dedi yang terlihat marah. Sementara Laura sudah menangis tersedu.


"Dit, kayaknya Adrian dibelakang kita," celetuk Revan yang melihat mobil Adrian dari kaca spion.


"Udah lu terus aja jalan, biarin Adrian ngikutin kita," ucap Dedi.


"Please, lepasin gue," lirih Laura di tengah tangisannya.

__ADS_1


*bersambung........


Happy Reading and happy enjoy guys🥰*


__ADS_2