TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
tanpa judul


__ADS_3

Tampak banyak buku-buku tua berjejer di lemari belakang. Ada satu buku yang menarik minat Laura, segera dia tarik buku itu. Ternyata sebuah kliping koran lama.


Laura penasaran, dia membuka lembar demi lembar kliping koran yang kertasnya sudah menguning. Banyak peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lewat. Sepertinya kliping koran ini adalah tugas siswa pada masa dulu.


Laura melihat foto dua orang suami istri yang sama seperti di majalah yang dia temukan di rumah Mama Soni. Kali ini, ada foto dua orang bayi yang terpampang di kliping itu. Tajuk berita tetap sama, kalau salah satu bayi itu hilang.


Laura mengernyit heran, wajah bayi itu rasanya mirip dengannya seperti foto dia yang di simpan ibu panti. Tapi, bukankah wajah bayi memang semua mirip?


"Mungkin hanya mirip ya?" cetus Laura sendiri. Laura terus membaca karena penasaran dengan berita itu.


"Mereka sudah ketemu belum sama bayinya ya? Semoga Ibu sama Bapak di foto ini sudah bertemu dengan bayinya. Kasihan banget." ucap Laura sendu. Membayangkan pasti kedua orang tua bayi itu sangat sedih dan merasa kehilangan.


"Hei, elu nemu buku apa?" tanya Tiara menyusul Shabila ke lemari belakang. Di tangan Tiara sudah ada buku cerita.


"Ini, kliping koran lama. Coba lihat, Ra. Ini kan foto Bapak dan Ibu yang kehilangan anak dan kita temui di majalah saat di rumah Mama Soni ?" ucap Laura.


"Eh, iya. Berarti dulu heboh banget berita ini," sahut Tiara yang menarik buku kliping dari tangan Laura


Mereka berdua sudah duduk di kursi untuk membaca. Tiara ikut tertarik dan membaca berita lama itu.


"Sepertinya ini kliping kumpulan berita zaman dulu ya?" tanya Tiara membolak balikkan buku kliping setelah selesai membacanya.


"Iya, berita zaman dulu. Tapi masih tersimpan di lemari belakang," kata Laura.


"Gue jadi penasaran," ucap Tiara.

__ADS_1


"Sama, gue juga penasaran," sahut Laura.


"Kita cek di mbah gugel aja yuk," ajak Tiara. Shabila mengangguk.


Mereka berdua berdiri lalu berjalan menuju ke sebuah komputer. Menyalakan komputer dan mencari berita delapan belas tahun yang lalu.


"Kok nggak ada, Ra?" tanya Laura bingung.


"Iya, aneh deh. Coba lu pake kata kunci lain," usul Tiara.


"Okey, gue coba dulu," sahut Laura mulai mengetik nama Birru, nama Arunika dan lain sebagainya.


"Tetap nggak ada, Ra. Seperti datanya terlindungi oleh sesuatu gitu. Nggak bisa di akses," jelas Laura.


"Iya, mungkin di take down beritanya. Kita cuma bisa lihat berita lama dari koran aja. Tapi serius gue penasaran, Ra. Kayak ada misteri apa gitu," celetuk Laura.


"Gue setuju. Seperti ada sesuatu yang nggak bisa dijelaskan di sini. Misterius banget ya," cetus Tiara.


Kedua sahabat itu saling pandang dan mengangguk. Mereka sepakat berita delapan belas tahun yang lalu itu sungguh misterius.


***


Dedi dan Revan baru saja sampai di hotel. Adrian seminggu ini tidur di hotel. Hanya Dedi dan revan yang tahu.


Semenjak kejadian orang tua Adrian ingin bercerai, mereka bertiga kembali dekat lagi. Mereka bertiga sama-sama anak yang dimanjakan oleh orang tua. Dilimpahi dengan uang tapi tidak dilimpahi kasih sayang.

__ADS_1


Orang tua Dedi pernah hampir bercerai tahun kemarin. Tapi, melihat Dedi hampir mengiris pergelangan tangannya dengan pisau. Orang tua Dedi mengalah. Mereka memilih rujuk. Entah pura-pura atau benar-benar kembali ingin menyatukan biduk rumah tangga.


Rasanya, hanya Ivan yang tak terlalu banyak masalah. Keluarganya tak pernah terdengar berita gonjang ganjing.


Dedi dan revan akhirnya sampai di depan pintu kamar Adrian. Setelah itu, Adrian membuka pintu kamar setelah mendengar suara Dedi dan ketukan pintu.


"Elu berdua bawa berita apa hari ini?" tanya Adrian duduk di atas sofa.


Dedi dan Revan menyusul. Mereka duduk di sofa.


"Nyokap bokap lu tadi ke sekolah," ucap Dedi.


"Hah, kenapa?" tanya Adrian menghentikan gerakannya mengambil sebuah kacang kulit di atas meja.


"Dipanggil kepala sekolah, karena elu nggak masuk-masuk," sahut Revan.


"Iya, cuma gitu aja dipanggil! Emang kurang kerjaan kepala sekolah kita," celetuk Dedi


"Nyokap bokap gue datang bareng atau sendiri-sendiri?" tanya Adrian lagi.


"Datang bawa mobil sendiri, Bro. Kita intai mereka. Arah jalan mereka aja beda," sahut Dedi


Adrian menghela nafas. Kepalanya kembali terasa berat. Dia tetap tak rela jika orang tuanya berpisah.


"Gue nggak rela! Serius, gue nggak rela! Keluarga gue jadi hancur gini," ucap Adrian frustasi. Dia meraup wajahnya dan menarik-narik rambutnya. Berusaha menghilangkan rasa sakit di dada.

__ADS_1


__ADS_2