
laura duduk di atas ranjangnya. Melepas lelah di tubuh.
"Tante suka dengan pekerjaan kamu, rapi sekali. Ohya, tante dengar kamu sekolah gratis ya? Dapat beasiswa?" tanya tante Sri yang kembali tiba-tiba muncul di pintu kamar Laura.
"Iya, Tante. Alhamdulillah saya bisa dapat beasiswa," sahut Laura
"Bagus. Kamu nggak ngerepotin budeku. Ohya, untuk makan kamu beli sendiri aja. Jangan makan di sini. Saya cuma memberi tempat tinggal untuk kamu!" tekan tante sri.
Laura terkesiap. Wajah tante sri sungguh tak bersahabat. Dia pikir tante sri sebaik ibu panti, ternyata senyumnya saat ada ibu pantinya adalah senyum palsu.
"I-iya, Tante. Tak apa, terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal disini," lirih Laura dengan suara lemah akibat capek.
"Sama-sama," ucap tante sri kemudian berlalu pergi.
Laura kembali menghembuskan nafasnya. Dia kemudian kembali berdiri. Beranjak menuju kamar mandi belakang. Mengambil wudhu dan sholat ashar.
Selesai sholat, Laura kembali berdoa. Merangkai doa terbaik berharap yang kuasa mempertemukan dirinya dan orang tuanya. Mendoakan kebahagiaan untuk orang-orang tersayang. Meminta kekuatan agar bisa melewati ujian demi ujian. Meminta perlindungan dari orang-orang dzalim.
"Tante, Shabila keluar dulu ya sebentar," pamit Shabila pada tante Tri yang masih menonton televisi perlindungan dari orang-orang dzalim.
"Tante, Laura keluar dulu ya sebentar," pamit Laura pada tante sri yang masih menonton televisi sedari tadi.
"Mau ke mana kamu?" tanya tante Sri yang mengernyitkan kening.
"Ada salah satu pelanggan di toko bunga tempat Laura bekerja, rumahnya tak jauh dari sini. Waktu itu dia pernah menawarkan pekerjaan ke Laura," jelas Shabila.
"Oh, jadi kamu mau ke sana?" tanya Tante Sri lagi.
"Iya, Tante. Saya mau bertanya apa masih ada lowongan kerja," ucap Laura.
"Emang kamu ditawari. pekerjaan apa?" tanya Tante sri mengernyitkan kening dan matanya menyelidik.
"Mengajar les privat untuk anaknya, tante" jawab Laura
"Okey, kalo begitu. Jangan lupa tutup pintu dan pagar rumah kalau keluar," perintah tante Sri yang kembali fokus menonton sinetron di televisi.
"Iya, Tante. Terima kasih Laura permisi dulu," pamit Laura.
"Hmmm iya." tante sri hanya berdeham.
Laura akhirnya melangkah keluar rumah. Menutup pintu dan tak lupa mengunci pagar.
__ADS_1
Memperhatikan sekilas rumah tante Sri yang sebenarnya bagus, sayang terlihat gersang. Andai menanam bunga pasti rumah tante Sri akan terlihat lebih indah.
Laura melangkah di pinggir trotoar, menghitung setiap rumah yang dilewatinya. Rumah-rumah besar. Hingga Laura sampai di rumah ke dua puluh dari hitungannya.
Rumah besar bercat putih milik mama Soni Laura menelan ludahnya, berharap masih ada lowongan pekerjaan untuknya. Jika dia di terima di sini, dia akan berhenti dari toko bunga.
Laura menekan bel di pagar rumah. Tak lama seorang asisten rumah berjalan mendekati Laura.
"Eh, Laura! Ibu pesan bunga ya?" tanya asisten rumah tersebut yang bingung kenapa Laural datang.
"Bukan, Bi. Laura mau ketemu mama Soni, bisa nggak, Bi?" tanya Laura penuh harap.
"Bisa dong, Laura Ayo masuk, duduk aja di teras. Nanti bibi panggilkan ya," jawab asisten rumah tersebut.
"Makasih, Bi," ucap Laura yang melangkah menuju teras.
Laura menunggu di teras. Bibirnya tak berhenti berdoa agar dia diterima kerja di sini.
" Laura" seru mama Soni yang muncul dari samping rumah.
"Bu," Laura menyapa dan menganggukkan kepala.
"Ibu nunggu kamu loh, ke mana aja Laura nggak muncul-muncul," mama Soni tersenyum sumringah dengan kedatangan Laura.
"Oh, masih. Saya memang menunggu kamu, loh!" ucap mama Soni.
"Alhamdulillah saya mau, Bu. Kapan saya mulai bisa mengajar?" tanya Laura senang.
"Hmm, besok aja. Ohya, ada beberapa teman Soni di komplek ini juga butuh guru les. Kamu mau nggak mengajar mereka juga? Kalo mau, saya mau beritahu mamanya mereka. Biar belajar bareng aja di Kamu juga nggak repot ke sana ke sini," tanya mama Soni yang duduk di kursi santai.
"Mau, Bu. Saya sangat berterima kasih pada ibu," Laura terharu, Allah memberikan dia kemudahan dibalik ujian yang dia dapatkan.
Selalu akan ada hikmah dibalik semuanya. Tinggal kita memaknainya bagaimana.
"Alhamdulillah kalo gitu. Saya akan menggaji kamu dengan pantas, mama anak-anak lain juga akan memberikan kamu gaji yang pantas," papar mama Soni.
"Iya, Bu. Saya sangat berterima kasih," lay kembali mengucapkan terima kasih.
"laura sudah makan kamu?" tanya mama Soni.
"Sudah, Bu," jawab Laura berbohong. Mama Soni sangat baik. Sering memberi uang lebih bahkan makanan ke Laura saat dulu mengantar bunga.
__ADS_1
"Makan lagi yuk, ibu hari ini buat mie Aceh. Hayuk di cicip terus nilai ya. Siapa tahu enak, ibu bisa ikut lomba Queen Chef, hahaha," canda mama Soni.
Mama Soni langsung menarik tangan Laura tanpa menunggu persetujuan Laura Mengajak Laura berjalan menuju pintu samping segera menuju dapur.
Laura sangat suka dengan halaman rumah mama Soni yang luas dan banyak tanaman bunga. Ada kolam ikan yang menambah asri suasana.
"Duduk dulu Laura," pinta mama Soni saat Laura sudah di meja makan yang besar.
Laura kemudian duduk di kursi makan. Asisten rumah tangga segera menghidangkan mie Aceh yang menggoda selera.
"Makan Laura, selagi hangat," ucap mama Soni tersenyum manis. Lalu duduk di kursi makan di seberang Shabila.
Laura mengangguk senang. Lalu membaca doa, minum setengah gelas dengan tiga kali tegukan, jeda beberapa saat lalu mulai makan.
"Gimana, enak nggak?" tanya mama Soni yang dari tadi memperhatikan Laura makan.
"Enak, Bu. Enak banget, MasyaaAllah. Ibu orang Aceh?" tanya Laura antusias.
"Iya, ibu orang Aceh. Kalo lagi kangen kampung halaman ibu buat makanan khas orang kami," papar mama Soni.
"Ibu pintar masak, enak banget loh," Laura memuji jujur.
"Alhamdulillah. Anak gadis ibu ada satu kuliah di luar negeri. Mungkin cuma tua satu tahun dari kamu, Laura. Lihat kamu makan, jadi terobati kangen ibu," ucap Ibu Soni yang matanya jauh menerawang membayangkan anak gadisnya.
Deg! Laura tiba-tiba jadi ingat ibunya. Apakah ibunya juga sering mengingat dirinya? Seperti reaksi mama Soni saat ini? Rindu yang sangat kentara dari wajah mama Soni.
Ibu kamu di mana? Laura juga rindu...
"laura kamu kenapa? Kok melamun," tanya mama Soni.
"Maaf, Bu. Laura jadi membayangkan ibu Laura. Entah di mana," jujur Laura.
Mama Soni diam. Memperhatikan raut wajah Laura yang berubah sendu. Anak panti asuhan adalah anak-anak yang tumbuh dengan kekuatan lebih dari yang lainnya. Mereka diberi hati yang kuat dan tumbuh dengan rangkulan kasih sayang orang-orang tak sedarah tapi saling mengasihi.
ibu yakin, kalau orang tua Laura masih hidup, mereka pasti sedang mencari Laura. Mungkin ada sesuatu hal yang membuat kalian terpisah," mama Soni berusaha menghibur Laura
"Banyak orang yang bilang, kami anak panti adalah anak yang terbuang dan tak berguna. Anak yang tak diinginkan orang tua," lirih Laura lemah.
"Ibu nggak sependapat. Setiap yang Allah ciptakan itu tidak ada yang sia-sia. Ada di Al-Qur'an surat Ali-imran ayat 191. Apa alasan orang tua meletakkan anak mereka di panti asuhan, pasti beragam alasannya. Tapi apapun alasan itu, Laura jangan berkecil hati. Allah tidak akan meninggalkan kita, Sayang," nasehat lembut mama Soni.
*bersambung.......
__ADS_1
maaf ya guys lama update nya soal nya sibuk kerja jdi jarang update*