
Ibu Laksmi menggeleng tetap tak tahu siapa yang di maksud oleh pemuda ini.
Athan menggembungkan pipinya. Dia tampak kehabisan akal menjelaskan ke ibu pemilik toko bunga.
Athan melihat sebuah syal di atas etalase kaca. Dia mengambil dan memakainya. Melilitkan di kepalanya seperti memakai jilbab.
"Nih, Bu. Lihat wajah saya! Wajah gadis itu mirip saya tapi dia pake hijab seperti ini," jelas Athan.
Ibu Laksmi tampak ternganga. Dia mengingat wajah yang mirip dengan pemuda di hadapannya ini.
"Kamu mirip Laura!" seru Ibu Laksmi.
" Laura ! Namanya Laura?" tanya Athan terkejut.
DOORR!
Belum sempat ibu Laksmi mengiyakan, sebuah tembakan melesat menembus dinding kaca toko bunga. Athan dengan sigap tiarap di lantai.
"Tiarap, Bu!" jerit Athan.
Ibu Laksmi segera tiarap. Dia tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
Sebuah tembakan kembali mengarah ke dalam toko. Kali ini sebuah vas bunga besar hancur.
"Aarkhhh," teriak ibu Laksmi ketakutan. Sementara Athan berusaha tetap tenang. Dia sudah terbiasa dengan suara desing peluru sedari kecil.
Athan berusaha mengambil ponselnya dari saku celana. Tapi, suara dari luar yang dia kenal mengurungkan niatnya untuk mengambil ponsel.
Suara Om Leon!
Athan menghembuskan nafas lega. Om nya selalu siaga. Dia yakin Om Leon pasti memasang pelacak di aksesoris yang dia gunakan. Jam tangan, misalnya.
__ADS_1
Hari ini dia melarikan diri dari rumah Om Leon karena bosan. Dia lari dari home schooling. Sedari kecil dia dilarang keluar rumah. Tapi terkadang rasa bosan menyergap dirinya. Ini hasilnya jika dia berani keluar rumah, nyawanya terancam.
Dari dinding kaca toko bunga, Athan bisa melihat aksi heroik Om Leon dan Tante Chacha.
Om Leon tampak menghajar beberapa orang preman. Sementara Tante Chacha tak kalah keren. Hijab panjang hitam yang dililitkan di leher untuk memudahkan dia menghajar orang-orang jahat. Jaket hitam dan celana hitam.
"Tante gue emang wonder woman. Mirip banget seperti pahlawan. Aku padamu, Tante Cha," seru Athan yang senang melihat aksi Om dan tantenya. Dia seperti melihat pertunjukan film.
Tante Chacha tampak mendorong seorang laki-laki hingga ke dinding dengan kakinya yang memakai sepatu boots kulit yang elegan. Dirancang khusus untuk pertarungan. Lalu melakukan gerakan memutar dan melayangkan tendangan.
Ada seorang laki-laki lain di belakang tante Chacha, dengan cepat tante Chacha memutar tubuhnya dan kembali menghantam kepala si preman dengan sepatu boots.
"Keren! Sayang nggak ada cemilan nih." ucap Athan kagum pada tantenya. Dia masih tiarap dan menopang dagunya dengan kedua tangan.
Sementara ibu Laksmi tampak cemas, apalagi isi tokonya hancur dihujani peluru dan preman-preman yang terlempar ke dinding kaca.
Tujuh orang preman dikumpulkan jadi satu seperti kumpulan sampah yang hendak dibakar.
"Mampus gue! Pertunjukan selesai! Habis ini gue yang bakal jadi bahan pertunjukan." cebik Athan yang sudah berdiri dari posisi tiarap.
Tante Chacha tampak menghembuskan nafas. Kenakalan Athan membuatnya sungguh was-was setiap hari.
"Anak bandel! Sini, kamu!" seru tante Chacha saat memasuki toko bunga.
Sementara Om Leon menghampiri ibu Laksmi.
"Kami minta maaf, Bu. Semua kerugian Ibu akan kami tanggung," ucap Om Leon.
"Kalian siapa dan tadi itu siapa? Saya tidak pernah membuat masalah apa pun dengan siapa pun?!" ucap ibu Laksmi.
"Iya, Bu. Kami mohon maaf. Tadi preman-preman yang kami juga tidak tahu," bohong Om Leon.
__ADS_1
"Boleh minta nomor rekening? Kami transfer kerugian sekarang juga ," ucap om Leon.
Ibu Laksmi tampak mengangguk dan segera memberikan nomor rekeningnya. Om Leon segera melakukan transfer lewat ponselnya.
"Silahkan diperiksa, Bu," ucap om Leon.
Ibu Laksmi segera memeriksa." Ini kebanyakan?" ucap ibu Laksmi yang melihat nominal besar pada tabungannya.
"Tak ара. Selama perbaikan toko, Ibu tidak bisa berdagang. Anggap saja kami mengganti keuntungan Ibu untuk beberapa hari ke depan," ucap om Leon.
"Terima kasih banyak," ucap ibu Laksmi tersenyum sumringah.
"Sama-sama. Kami permisi dulu ," ucap Om Leon. Ibu Laksmi tampak mengangguk.
"Ayo, anak nakal! Kita keluar sekarang!" seru tante Chacha menjewer telinga Athan
"Ampun, Tante," ucap Athan sambil memasang wajah memelas.
"Kamu udah Tante bilang, tetap di rumah. Di luar bahaya!" omel tantenya yang membawa Athan keluar dari toko bunga.
"Kamu kalo dibilangin nggak dengar ya!" Om Leon menatap tajam Athan . Dia gemas dengan Athalla.
Mereka berjalan menuju mobil lain. Mobil anti peluru. Tante Chacha tampak menggenggam tangan Athan Sementara Om Leon merangkul pundak Athan
"Om, Tante. Athan melihat seseorang yang mirip Laura," ucap Athan sebelum mereka masuk mobil.
"APA!" Om Leon dan Tante Chacha tampak terkejut. Mata mereka sama-sama terbelalak mendengar ucapan Athan.
Bersambung.....
jgn lupa like, komen, dan juga follow
__ADS_1