TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Tanpa judul


__ADS_3

Sayangnya, penjahat yang ditangkap ternyata hanya bawahan. Penjahat itu bungkam tak mau bicara, hingga keesokan harinya penjahat itu ditemukan sudah tak bernyawa dengan busa di mulutnya. Entah apa yang terjadi?


Om Leon dan Tante Chacha saat mendengar kabar penembakan, langsung terbang ke pulau Bangka. Tempat persembunyian mereka yang berhasil diketahui musuh adalah pulau Bangka.


"Pa, Mama mana?" lirih Athan saat tersadar. Matanya menyapu segala isi ruangan yang berwarna putih. Tak ada Mamanya,


"Mama masih di ruang ICU," jawab sang Papa lemah. Papanya tak nampak menitikkan air mata, tapi mata Papanya yang merah sudah menunjukkan kalau laki-laki itu habis menangis. Papa berusaha tegar di hadapan Athan


"Pa, Mama selamat kan? Tadi darah Mama banyak di jalan. Athan lihat, tapi Athan nggak bisa ambil lagi darah Mama yang di jalan," ucap Athan lemah.


Papa Athan dengan susah payah menahan air mata yang hendak menerobos keluar. Dia harus kuat agar Athan tidak terlalu sedih.


"Mama Alhamdulillah selamat, Nak! Athan istirahat dulu, Papa panggilkan dokter," ucap sang Papa yang beranjak berdiri dan keluar dari ruangan.


Di depan ruangan sudah berdiri dua orang bodyguard yang diperintah om Leon berjaga.


Athan berada satu minggu di rumah sakit. Penjagaan diperketat. Sementara sang Mama butuh waktu tiga minggu untuk pulih.


Semenjak kejadian itu, Mama dan Papa memutuskan Athan harus ikut Om Leon dan Tante Chacha. Athan lebih aman di bawah perlindungan Om Leon.


Athanterpisah dari orang tuanya semenjak berumur delapan tahun. Sementara saudara kembarnya bahkan belum ditemukan sedari bayi.


Setidaknya Athan lebih beruntung, dia tinggal bersama Om dan Tantenya. Athan kadang menangis rindu mengingat Mama dan Papa juga saudara kembarnya.


Athan harus melakukan konseling ke psikolog untuk menyembuhkan traumanya yang melihat kejadian mengerikan di depan matanya.


"Athan kangen Mama, Atha kangen Papa. AAthan melihat seorang gadis mirip sekali dengan Athan, Ma." lirih Athan yang masih menangis di bawah guyuran air shower.


Athan masih mengingat lambaian tangan Mamanya yang menangis melepasnya di bandara. Sepuluh tahun berlalu, mereka hanya berkomunikasi lewat email dan video call.


"Athan janji, Ma. Athan bakal cari saudara kembar Atha. Kita pasti berkumpul lagi. Keluarga kita akan utuh lagi." lirih Athan yang masih tersedu. Dadanya terasa sesak.


Setelah tubuhnya terasa dingin dan tangannya memucat, Athan akhirnya mematikan kran shower. Dia menarik handuk dan melilitkan di tubuhnya.


Athan keluar dari kamar mandi. Melangkah ke depan kaca. Wajahnya adalah perpaduan wajah Mama dan Papanya. Setiap rindu menggelayut hati, Athan melihat wajahnya di cermin. Jika rindu sungguh tak tertahan lagi, Athan segera melakukan panggilan video call dengan Mama dan Papanya.


"Semoga elu adalah saudara gue yang terpisah delapan belas tahun yang lalu. Kami semua selalu mendoakan supaya lu selamat. Gue yakin kita bakal ketemu lagi. Mama dan Papa menunggu." ucap Athan sendiri di depan cermin.


"Semoga saat bertemu nanti, elu mau gue peluk, elu mau nerima keluarga kita. Kami semua sayang lu." Athan masih berbicara sendiri pada cermin.

__ADS_1


"Gue harus gimana kalo ketemu? Mungkin harus ngomong hai, gue kakak lu..." Athan masih asyik membayangkan bertemu saudara kembarnya.


"Ishh, entar lu ilfeel lagi kalo gue sok kenal sok dekat. Gimana biar kalo ketemu, dia nggak curiga dan nggak takut?" Athan bertanya sendiri pada dirinya.


"Athannn... cepat turun! Keburu dingin makanan tuh!" panggil Tante Chacha dari luar kamar.


"Iya, Tante cantik!" seru Athan, Dia kembali memasang wajah ceria. Menyimpan kesedihan sendiri agar tak terlalu menjadi pikiran Om Leon dan Tante Chacha.


Tante Chacha dan Om Leon sebenarnya bukan keluarga kandung mereka. Orang tua Tante Chacha adalah orang tua angkat Mamanya. Sedari kecil Tante Chacha dan Mamanya selalu bersama.


Mamanya seringkali menginap di rumah Tante Chacha sedari kecil. Rumah nenek kakek Athan tak jauh dari rumah orang tua Tante Chacha.


Persahabatan Tante Chacha dan Mamanya terjalin dengan hangat hingga mereka sudah seperti saudara.


Athan kemudian membuka lemari pakaian, mengambil baju kaos dan celana santai untuk di rumah. Dia harus cepat sebelum Tante cantiknya mengomel lagi.


"Kamu lama banget. Mandi atau tidur?" rutuk Tantenya.


"Athan habis menghitung butiran air di kamar mandi, Tante," Atham terkekeh.


"Tante tahunya butiran debu," cibir Tante Chacha yang mengambilkan nasi ke piring Athan. Sementara Athan sudah duduk manis di kursi makan.


"Nggak usah! Suara kamu bisa bikin orang serumah minum obat pusing," cibir Tante Chacha terkekeh.


Athan hanya tertawa, lalu membaca doa dan mulai makan. Rumah ini adalah benteng pertahanan untuk Athan. Tak ada musuh yang berani menembus masuk. Pengaruh Om Leon masih sangat kuat.


Om Leon dalam operasi senyap mencari keberadaan saudara kembar Athan. Tapi, kesulitan mereka selama ini adalah para anak buah kelompok itu seperti telah dicuci otak. Mereka lebih memilih mati daripada memberi informasi.


Athan meneguk minuman dari gelas. Dia baru saja selesai makan.


"Athan, Om minta kamu jangan keluar lagi. Mereka sudah mengetahui kalo kamu di Jakarta. Om yang bakal mencari tahu tentang gadis itu," ucap Om Leon.


"Iya, Om! Athan bakal menurut. Semoga kali ini kita tidak salah orang lagi," ucap Athan.


"InsyaaAllah. Kali ini pencarian kita fokuskan di Jakarta," sahut Tante Chacha.


"Iya, jangan sampai kita terjebak dengan musuh lagi," ucap Om Leon.


Pernah satu ketika, seorang gadis datang. Dia berpura-pura meminta sumbangan. Wajahnya begitu mirip dengan Athan.

__ADS_1


Apalagi mendengar cerita gadis itu, kalau dia pernah diculik saat bayi tapi dilepaskan di jalanan saat berusia sepuluh tahun. Tanpa mengecek kebenaran lagi, mereka sudah menerima gadis itu. Apalagi wajahnya persis Athan.


Hingga sebulan kemudian, gadis itu tertangkap basah oleh anak buah Om Leon saat sedang menelepon seseorang dan membagikan informasi.


Karena rindunya pada sang kembaran Athalla, mereka semua mengabaikan pengecekan data dan lain sebagainya. Tak ada curiga sama sekali. Namun, setelah diperiksa ternyata gadis itu adalah anak buah si penjahat.


Gadis itu diperintahkan untuk mengubah wajahnya dengan operasi. Dia mendapat tugas menjadi penyusup. Tugasnya menghabisi Athan dan mencari tahu keberadaan Mama dan Papa Athan


Saat ketahuan, nasib gadis itu sama seperti rekannya. Dia meminum racun daripada membuka informasi. Mereka adalah komplotan yang terorganisir. Sungguh mengerikan.


"Tapi, Athan merasa yakin kali ini. Kalo dia adalah kembaran Athan," ucap Athan


"Semoga benar, Athan! Sudah sangat lama kita terpisah dengannya. Semoga dia baik-baik saja selama ini di luar sana," desah Tante Chacha dengan tatapan mata sendu.


***


Sudah satu minggu Adrian tak masuk sekolah. Bahkan dia tidak memberikan kabar ke sekolah. Guru bahkan sudah menghubungi orang tua Adrian agar datang ke sekolah memberikan keterangan.


"Ini gara-gara kamu. Kita sampai dipanggil ke sekolah!" rutuk Mama Adrian sampai di parkiran sekolah.


Mama dan Papa Adrian datang dengan mobil yang berbeda. Semenjak kejadian seminggu yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar renggang. Tak ada yang pulang ke rumah. Bahkan mereka tak tahu kalau Adrian sebenarnya tak pulang ke rumah. Mereka pikir Adrian melarikan diri ke rumah.


"Heh, kamu itu Ibunya!


Tanggung Jawab kamu mendidik anak! Kamu pasti nggak tahu, Adrian ternyata nggak pulang ke rumah, kan !" hardik Papa Adrian.


"Kamu itu bapaknya! Kamu juga seharusnya bertanggung jawab! Kamu tahu kabar Adrian juga pasti setelah menelepon ke rumah!" cibir Mama Adrian.


"Kamu terlalu sibuk dengan brondong itu! Nggak mikirin anak sama sekali!" cecar Papa Adrian.


"Ah, ngomong kayak kamu nggak punya dosa dan nggak punya salah. Kamu apa, Hah? Setiap hari dengan sekretaris kamu yang genit itu!" geram Mama Adrian.


Untung parkiran sepi.


Pertengkaran mereka di depan mobil tak ada yang tahu dan tak ada yang mendengarkan.


"Setidaknya dia lebih baik dari kamu!" serang sang suami tak suka.


"Lebih baik? Hahaha... tunggu saja waktunya! Dia cuma suka sama duitmu bukan wajahmu yang peot! Paling di belakang dia main sama yang lain," tawa sang istri berderai.

__ADS_1


__ADS_2