TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Tanpa judul


__ADS_3

"Iya, Pak," sahut Adrian lemah. Setelah si bapak pergi, Adrian kembali masuk ke dalam mobil. Dia mau pulang ke rumah. Pikirannya terasa berat dan tubuhnya juga penat. Dia butuh istirahat.


Kali ini, Adrian mengendarai mobilnya dengan lebih hati-hati. Dia berusaha fokus. Hingga akhirnya sampai di rumahnya yang mewah, di kawasan sebuah komplek elit.


Rumah dengan luas tanah 1200 meter, serta rumah dengan desain eropa yang megah.


Adrian menatap parkiran mobil di rumahnya. Berjajar beberapa mobil mewah. Ah, dia merasa bodoh! Kenapa dia kemarin terpancing untuk taruhan. Orang tuanya tak mungkin tak mampu membelikannya motor sport. Adrian hanya ingin terlihat hebat di hadapan teman-temannya karena bisa memenangkan pertaruhan.


Sungguh, Adrian sekarang menyesalinya! Adrian turun dari mobil, di depan pintu rumah ada mobil mama dan papanya terparkir. Orang tuanya pulang. Setelah sekian minggu tak pulang ke rumah.


Adrian membuka pintu rumah, tapi baru setengah pintu terbuka dia urung membukanya. Adrian terdiam di pintu hanya mendengarkan.


"Siapa dia, katakan?" teriak suara papanya.


"Dia bukan siapa-siapa! Kamu yang seharusnya dicurigai, ke mana-mana sama sekretaris kamu!" Mama Adrian tak kalah berteriak.


"Ah, nggak usah kamu mengalihkan pembicaraan. Saya lihat sendiri kalian turun dari mobil yang sama. Dia pasti selingkuhan kamu selama ini," cecar papa Adrian.


"Saya hanya kebetulan satu mobil sama dia. Kita tujuan tempatnya sama! Kamu pikir saya tidak tahu apa yang kamu lakukan selama ini, hah! Saya diam demi anak-anak," jerit mamanya.


"Lalu kamu apa? Satu mobil lalu tujuan ke hotel? Kamu pikir saya bodoh! Saya ikuti kamu," murka papa Adrian.


"Kamu yang duluan mengkhianati saya! Kamu yang duluan bermain api di belakang saya, dasar laki-laki munafik!" jerit sang mama tak mau kalah.


"Saya akan menceraikan kamu. Saya tidak sudi melihat kamu lagi! Istri nggak tahu diri," hardik papa.


"Okey! Kamu pikir saya takut! Detik ini juga kita bercerai! Saya mau pembagian harta gono-gini secara adil," sembur sang mama yang bersuara keras.


Setitik airmata jatuh di pipi Adrian. Tubuhnya yang bersandar di pintu merosot ke bawah. Selama ini orang tuanya tidak pernah terlihat bertengkar. Semua tampak baik-baik saja. Tak pernah ada masalah.


"Kenapa tiba-tiba seperti ini?" Adrian berbicara sendiri. Dia tampak frustasi. Tak pernah membayangkan keluarganya akan hancur. Orang tuanya berpisah.


Tidak, Adrian tidak ingin ini terjadi. Apa karena dia sudah menyakiti seorang anak yatim piatu maka dia mendapatkan balasan seperti ini? Secepat inikah balasan untuknya?


Adrian melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Dia melihat mamanya berdiri dan papanya juga berdiri tak jauh dari mamanya. Kedua orang tuanya tampak saling menghujat dan saling menunjuk. Mereka saling merendahkan dan membongkar aib masing-masing.


"BERHENTI!" jerit Adrian. Kedua orang tuanya menoleh ke Adrian dan langsung terdiam.


"Adrian, kok sudah pulang?" tanya sang mama yang berusaha menghapus air mata.


Adrian tampak mengatur nafasnya yang tak teratur. Emosinya memuncak. Sungguh, kedua orang tuanya sangat menyakiti hati!


"Adrian, kamu ikut papa! Wanita ini bukan wanita baik-baik," ucap sang papa.


"Orang yang papa panggil wanita tidak baik-baik ini adalah orang yang sudah melahirkan anak-anak papa. Mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan Adrian, Pa!" seru Adrian yang matanya berkaca-kaca.


Kedua orang tuanya tampak diam.


"Mama inget nggak waktu mama kecelakaan dulu? Papa yang paling panik, papa sampai batal berangkat ke luar negeri karena memilih berada di samping mama. Papa langsung ke rumah sakit," Adrian mengingatkan. Tatapan mata Adrian menyendu.


Sungguh, pemandangan di depan matanya saat ini tak pernah terbayangkan. Tak ada satu pun anak yang ingin orang tuanya berpisah.


"Mama dan Papa tega menghancurkan keluarga kita? Iya, Ma? Iya, Pa?" tanya Adrian sambil melihat mama dan papanya bergantian.


"Papa sudah tidak bisa dengan mamamu lagi," tolak sang papa.


"Mama juga sudah tidak sanggup dengan papamu lagi, Adrian. Maafkan, Mama," lirih mama sambil menyentuh bahu Adrian.


Adrian menyingkirkan tangan mamanya. Dia tak terima dengan keputusan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kalian orang tua egois! Seharusnya kalian tidak perlu menikah sedari dulu, kalo cuma buat menyakiti kami anak-anak!" jerit Adrian.


Adrian membalik tubuhnya. Dia berlari menuju keluar rumah. Dia sudah tak sanggup berada di antara kedua orang tuanya. Sakit... sesakit ini rasanya saat orang yang kita sayangi memilih pergi dan tak ingin bersama lagi!


"Adrian!" jerit sang mama memanggil.


"Adrian, tunggu!" Papa Adrian tak kalah menjerit.


Tapi, Adrian keburu keluar dari rumah. Dia naik ke mobilnya. Melajukan kendaraan tak tentu arah.


Hatinya remuk redam. Seperti ada belati yang berkali-kali menghujam tepat di jantungnya. Sakit tapi tak mengalirkan darah. Meremas sembilu menggelapkan masa yang akan datang.


***


Di sekolah bel pulang baru saja berbunyi.


"Kemana lagi Adrian? Pake menghilang lagi tuh anak, ah!" rutuk Tiara saat keluar kelas.


"Ra, setelah gue pikir-pikir, gue aja yang ngomong langsung dengan Adrian nanti. Gue udah sholat, udah berdoa. Hati gue jadi tenang, bismillah semoga Allah menolong gue keluar dari masalah ini," ujar Laura. Mereka berdua berjalan beriringan ke arah parkiran.


Parkiran sudah tampak sepi. Tiara sedari tadi sibuk mencari Adrian sampai banyak murid yang sudah pulang.


"Lu yakin?" tanya Tiara.


"Gue yakin! Gue bakal menghadapi masalah ini. Apa pun yang terjadi gue harus kuat kan, Ra?" ucap Laura.


"Cakep! Ini baru bestie gue," ujar Tiara mengacungkan kedua jempolnya.


Tiara kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar parkiran.


"Beneran nggak ada dia, Laura! Mobilnya juga nggak ada di parkiran," ucap Tiara.


"Okey! Ayo, naik," tutur Tiara yang sudah mengenakan helm dan sudah duduk di atas jok motornya.


Lauraa mengambil helm lalu segera mengenakannya. Dia naik ke boncengan belakang motor.


"Udah siap, Bismillah. Ayo, kita berangkat," ucap Laura berusaha tetap riang. Motor segera melaju meninggalkan sekolah.


Laura berusaha tetap riang setelah mendengar begitu banyak ceramah dari para ustaz. Dia sudah menyerahkan segala permasalahan kepada Allah. Dia hanya hamba tak punya kuasa. Hanya Allah yang mampu menolongnya keluar dari kesulitan.


Tak lama, mereka sampai di toko bunga. Shabila membenahi hijab panjangnya yang tadi berkibar di jalan karena angin.


"Ra, makasih! Ohya, elu mau nunggu atau pulang?" tanya Laura.


"Gue mau mampir ke tempat tinggal elu yang baru. Gue tunggu deh," putus Tiara.


"Okey, tunggu ya bestie,gue" ucap Laura


Tiara hanya mengacungkan kedua jempolnya. Laura segera melangkah masuk ke dalam toko.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Laura


"Wa'alaikumsalam, eh Laura... Ibu sudah nunggu loh dari kemarin," sahut ibu Laksmi.


"Iya, maafin Laura, Bu. Laura kemarin sakit," urai Laura.


"Udah. Nggak apa-apa. Hari ini, Laura bisa bekerja seperti biasa," pungkas ibu Laksmi tersenyum sumringah. Dia sungguh kerepotan saat Laura tak datang bekerja. Dia terpaksa menunda beberapa pengiriman bunga karena tak sanggup mengirimkan sendiri.


"Hmm, sebelumnya Laura minta maaf, Bu," ucap Laura tak enak.

__ADS_1


Ibu Laksmi tampak menaikkan alis lalu mengernyitkan kening karena bingung Laura meminta maaf.


"Kenapa? Kok Laura tiba-tiba minta maaf?" tanya ibu Laksmi.


"Iya, Bu. Laura minta maaf tidak bisa lagi bekerja di sini. Laura izin berhenti dulu, Bu," ucap Laura menunduk.


"Loh kenapa, Laura? Ibu sudah menganggap Laura seperti anak sendiri. Ibu sangat terhibur dengan adanya Laura di sini. Kalo Laura berhenti, ibu bakal kesepian. Laura kan tahu Ibu nggak punya anak," papar ibu Laksmi dengan wajah sedih.


Laura semakin merasa tak enak. Dia menelan ludahnya sangking merasa tak enak hati pada ibu Laksmi.


"Iya, Bu! Maafin Laura, kegiatan sekolah semakin banyak menjelang kelulusan. Laura kecapekan," Laura beralasan.


"Oh, begitu! Iya juga sih, pasti capek banget sekolah lalu bekerja mengantarkan bunga-bunga," ibu Laksmi berusaha mengerti.


"Iya, Bu! Karena itu, Laura berhenti dulu bekerja untuk saat ini," lanjut Laura.


"Ya sudah, kalo begitu. Tapi, kalo Laura butuh pekerjaan lagi, Laura bisa datang ke sini lagi ya," pesan ibu Laksmi.


"Iya, Bu. Terima kasih banyak," Laura mengangguk dan tersenyum.


Ibu Laksmi tampak menuju laci mejanya dan mengambil sesuatu.


Ini untuk Laura ya. Anggap saja pesangon ," ucap ibu Laksmi memberikan sebuah amplop pada Laura


"Tapi Bu, Laura kan hanya kurir bunga. Dibayar sesuai jumlah pengiriman," tolak Laura tak enak.


"Ah, jangan ditolak Laura. Anggap ini dari ibu kandung Laura sendiri. Terima kasih selama ini sudah membantu ibu mengantarkan pesanan," ibu Laksmi menyodorkan amplop ke tangan Laura, Dia tak mau Laura menolak.


"Terima kasih banyak Bu. Laura terima ini," ucap Laura terharu.


Laura kemudian salim dan mencium tangan ibu Laksmi dengan takzim. Laura kemudian mengucap salam dan berpamitan dengan ibu Laksmi.


Sementara itu, di luar toko bunga tepatnya di seberang jalan. Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba berhenti. Seorang laki-laki remaja keluar dari mobil. Melihat ban mobilnya yang kempis.


"Ya ampun, pake acara kempis lagi ini ban." rutuk si laki-laki remaja. Dia bercakak pinggang dan mendengus kesal.


"Gimana ini? Mana ya bengkel?" sungut si laki-laki remaja yang matanya menyapu ke segala arah mencari barangkali saja ada bengkel di sekitar.


Namun, matanya tiba-tiba terbelalak. Mulutnya menganga, Tubuhnya terpaku di tempat. Dia sungguh terkesiap.


Dia melihat seorang gadis berhijab yang usianya seusia dengan dirinya keluar dari sebuah toko bunga. Bukan karena gadis itu terlihat cantik tapi wajahnya yang membuat si laki-laki remaja tertarik.


"Mungkinkah dia? Apa dia yang kami cari selama ini?" laki-laki remaja itu bicara sendiri.


Dia masih terpaku di tempat. Namun, dia terkesiap saat melihat gadis berhijab itu naik ke sebuah motor di bonceng oleh seorang gadis remaja lainnya.


"Hei, tunggu!" teriak laki-laki remaja.


Namun, motor keburu pergi. Belum lagi jalan dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang. Menyulitkannya menyebrang.


"Ah, gue kehilangan dia. Aarkhhh!" kesal si laki-laki frustasi.


Dia baru saja berhasil menyebrangi jalanan. Tapi, tak berhasil bertemu.


Ponselnya kemudian berbunyi. Dia segera mengangkat telepon.


"Assalamualaikum, Om Leon," sapanya di ponsel.


"Wa'alaikumsalam. athan,kamu di mana?" sahut suara di seberang telepon yang terlihat khawatir.

__ADS_1


"Athan masih di jalan, Om. Ban mobil athan kempes Sebentar lagi pulang. Ada yang ingin Athan ceritakan," ucap laki-laki remaja yang bernama leon


__ADS_2