
"Hmm, nggak ngapa-ngapain. Cuma lagi ngomong aja sama si Cupu ," jawab Angel mengulas sebuah senyuman manis pada Adrian.
"Ck, balik lu ke kursi!" perintah Adrian yang kemudian berjalan ke kursinya.
"Baiklah, karena yayang gue yang ngomong. Bye," cibir Angel sambil menjulurkan lidahnya ke Laura dan Tiara.
"Huh!" gerutu Tiara sambil membuat gerakan tangan memukul di udara sangking kesalnya dengan Angel.
Sementara Laura memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menetralisir perasaannya yang campur aduk.
Sikap Adrian yang kadang cuek kadang perhatian, tapi kekeh tak mau bertanggung jawab menambah kacau perasaan Laura, Apa mau Adrian dan apa perasaan Adrian sebenarnya pada Laura sungguh menjadi sebuah pertanyaan besar bagi Laura.
Hingga akhirnya bel masuk sekolah berbunyi. Guru pelajaran pertama masuk kelas.
Pelajaran pagi ini dimulai dengan pelajaran berat bagi sebagian besar siswa. Fisika yang sedari zaman ke zaman selalu membuat banyak siswa ketar ketir.
Saat guru menulis soal di papan tulis, dan akan menunjuk seorang murid, kebanyakan murid mulai berusaha tak terlihat. Ada yang mengecilkan tubuh dengan membungkuk, ada yang berwajah tegang, mulut komat kamit berdoa biar tidak dipanggil ke depan.
"Sepertinya semua pada takut ke depan ya. Ayo tunjuk tangan siapa yang mau menyelesaikan soal ini?" seru sang guru disela pembelajaran pagi ini.
Semua kelas diam dan hening. Tak ada yang berani tunjuk tangan termasuk Laura.
"Loh, tumben Laura nggak tunjuk tangan?" sang guru terkejut. Laura yang biasanya selalu tunjuk tangan kali ini diam saja.
"Hmm, maaf Bu. Laura sakit perut. Nggak bisa ke depan. Apa boleh mengerjakan dari sini saja?" ungkap Laura berbohong.
Sebenarnya, Shabila cemas. Dia takut kalau maju ke depan ada yang memperhatikan perutnya. Lebih baik dia berbohong dengan gurunya.
"Oh, pantas kalo begitu. Apa perlu diantar ke UKS?" tanya sang guru.
"Enggak, bu. Lauraa sudah pake minyak kayu putih, pasti akan baikan sebentar lagi," jawab Laura yang mulai merasa tegang. Takut disuruh berdiri.
Adrian melihat Laura dari kursinya yang berada diujung. Dia menangkap situasi yang terjadi dan memahami kenapa Laura sebenarnya tak mau maju ke depan. Sebelum sang guru menghampiri Lauraa, Adrian buru-buru tunjuk tangan.
"Saya, Bu!" seru Adrian mengangkat tangannya.
Sang guru menoleh ke rian dan tidak jadi menuju meja Laura.
"Wah, tumben nih. Sekian bulan nggak masuk sekolah, kamu ada kemajuan ya. Berani menjawab soal sekarang," ucap sang guru yang berjalan ke arah Adrian.
Adrian hanya meneguk ludahnya dia tidak tahu sama sekali soal yang ditulis gurunya. Dia hanya spontan menunjuk tangan untuk mengalihkan perhatian sang guru.
__ADS_1
"Ini spidol. Ayo, sekarang kamu ke depan, kerjakan soal di papan tulis ," perintah sang guru meletakkan spidol hitam di meja Adrian.
Adrian mengangguk, kemudian berdiri dan melangkah maju ke depan kelas. Tak ada yang ditulis Adrian. Spidol masih menggantung di tangannya. Dia hanya berdiri diam di depan papan tulis.
"Ayo, Adrian! Bukankah kamu tadi tunjuk tangan. Gunakan rumus momentum anguler elektron untuk soal itu," ucap sang guru memberi petunjuk.
"Maaf, Bu. Saya belum memahami soal ini," cetus Adrian akhirnya.
"Lalu kenapa kamu menunjuk tadi, kalo nggak bisa?" tanya sang guru geleng-geleng kepala.
"Saya ingin mencoba saja, Bu," jawab Adrian menunduk.
"Kamu sudah sangat banyak ketinggalan pelajaran, Adrian. Sebentar lagi kalian semua akan lulus sekolah, janganlah malas sekolah. Nanti kalo kalian sudah kerja, pasti kangen masa SMA," nasihat ibu guru pada Adrian dan semua muridnya.
Semua murid tampak menunduk di kursinya masing-masing. Ah, masa sekolah yang menyenangkan sekaligus bikin pusing kepala dengan pelajaran yang tak disuka akan mereka selesaikan sebentar lagi.
"Adrian bawa buku kamu duduk di dekat Laura. Kerjakan soal halaman 90 dari satu sampai sepuluh minta ajarkan dengan Laura," perintah ibu guru.
"Iya, Bu," sahut Adrian yang kemudian kembali ke kursinya, mengambil buku dan berjalan ke dekat kursi Laura.
"Dedi kamu juga sama! Kerjakan juga soal sama seperti tugas Adrian, belajar sama Ikhwan. Lalu Ivan kamu belajar bareng Nurul," perintah sang guru.
"Untuk murid lain kerjakan soal yang sama. Tapi, kerjakan sendiri-sendiri. Khusus mereka bertiga saja diajarkan sama teman yang sudah ibu tunjuk. Kalian mengerti?" ucap sang guru.
"Mengerti, Bu!" seru murid-murid.
"Ya, sudah. Kerjakan sekarang. Ibu harus ke kantor sebentar. Ada tamu yang datang," kata ibu guru yang kemudian keluar kelas.
Semua murid langsung menghembuskan nafas lega saat guru keluar.
"Gila, soalnya susah pake banget. Gue yang sekolah tiap hari aja kagak bisa, elu sok-sokan banget Rian pake maju ke depan," celetuk teman mereka.
"Iya, nafas aja gue pake hemat, tahan terus biar badan gue rada kecilan nggak kelihatan sama guru Takut gue ditunjuk," sahut teman mereka satu lagi yang berbadan gemuk.
"Apa hubungannya Sueb antara hemat nafas sama badan lu kecil? Yang ada tuh elu bakal pindah alam dan mengundang semua tetangga datang!" omel temannya yang lain. Lalu semua murid-murid tertawa dengan tingkah absurd mereka sendiri.
Adrian hanya menyunggingkan senyum mendengar celotehan teman-temannya.
Adrian sudah menarik sebuah kursi kosong dan duduk di dekat Laura
"Hmm...Ra, ajarin gue ya," pinta Adrian kikuk.
__ADS_1
Laura hanya mengangguk dan mulai mengajari Adrian soal demi soal, sementara Angel terlihat sangat kesal. Bibirnya sudah mengerucut sedari tadi melihat Adrian dekat dengan Laura.
"Kenapa sih lu, Angel?" tanya teman disebelahnya.
"Tuh lihat si Cupu, seneng banget dia pasti bisa dekat dengan Adrian!" rutuk Angel.
"Biarin ajalah, namanya lagi belajar. Lagian Adrian udah banyak banget ketinggalan pelajaran. Kecuali elu bisa mengajari Adrian, nggak perlu tuh Laura capek mengajari Adrian," balas temannya.
"Ck, kenapa juga harus Laura sih? Temen lain kan masih banyak," decak kesal Angel.
"Mana gue tahu kalo itu mah! Cuma guru yang tahu jawabannya," temannya menggedikkan bahu dan mulai mengerjakan tugasnya.
"Sssttt, ikut. Lihat jawaban lu," celetuk Angel pada temannya.
"Ah, dasar lu! Nih, sama-sama aja," sahut temannya.
Sementara itu, Adrian terlihat fokus mendengarkan penjelasan Laura
"Udah ngerti belum?" tanya Laura ketus. Perasaannya badmood semenjak Angel menyatakan Adrian adalah pacarnya pagi tadi.
"Lumayan. Gue mulai mengerti. Pantes elu bisa jadi guru les. Emang elu cocok sih jadi guru. Cara lu menjelaskan sabar dan detail banget," puji Adrian.
"Makasih. Tapi, gue nggak butuh pujian lu. Coba tuh nomor empat elu kerjain sendiri. Gue pengen lihat," papar Laura
"Ra, gue udah lama nggak masuk sekolah. Kalo elu jadi guru privat gue mau nggak? Entar gue gaji elu lima kali lipat dari elu mengajar les murid SD," tawar Adrian.
Mata Laura melotot melihat lima kali lipat tawaran yang menggiurkan. Hanya saja yang jadi masalah adalah muridnya Adrian.
"Mau ya? Halal kok, gue nggak memberi lu cuma-cuma. Gue bayar jasa lu. Please bantu gue lulus ya," mohon Adrian dengan wajah memelas dan kedua telapak tangan menyatu membentuk kode memohon.
Laura menggigit bibir bawahnya diia tampak berpikir. Tawaran Adrian sungguh menarik. Tapi, dia masih bimbang "Entar gue pikirin, deh! Elu kerjakan dulu soal itu. Gue mau lihat hasilnya," putus Lauraa akhirnya.
"Okey, gue coba kerjain dulu," sahut Adrian.
Mereka berdua kemudian sibuk mengerjakan tugas fisika. Sesekali Angel melirik Adrian dan Laura Mendengus kesal melihat kekasihnya.
" Ra, ini betul nggak?" tanya Adrian sambil menunjukkan jawaban tugasnya.
Laura mengambil buku dari tangan Adrian dan memeriksanya.
"Betul, kok. Itu elu bisa, Rian. Udah balik lu ke kursi elu," usir Laura.
__ADS_1