TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
004


__ADS_3

"Gue nggak bisa menjawabnya sekarang. Gue mau menenangkan diri dulu. Tolong ambilin gue minum ," sahut Adrian.


Laura segera mengambil minum dibelakang. Lalu membuka tutup botolnya dan menyerahkan pada Adrian.


"Nih, biar elu tenang!" ucap Laura menyerahkan botol minum ke Adrian.


"Makasih, Ra," sahut Adrian segera minum hingga habis air minumnya.


Mobil terus melaju dalam keheningan. Adrian berusaha menenangkan degup jantungnya yang masih berdebar cemas.


Ada rasa ketakutan dalam hati Adrian, bagaimana jika kedua penipu itu mati. Apakah mereka akan di penjara? Apa yang harus dia lakukan jika itu terjadi? Berbagai kemungkinan berkelebat dalam pikiran Adrian. Membuat dia semakin tidak tenang.


Sementara Laura hanya diam. Dia masih memperhatikan mimik wajah Adrian yang terlihat takut dan gusar. Laura menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada Adrian, Dedi dan Revan.


Sementara di rumah Farida. Kedua kakak beradik itu sudah tak sadarkan diri di lantai. Hanya pembantu rumah yang berusaha menggeser geser kursinya ke arah depan.


Sedari tadi pembantu itu berusaha melepaskan ikatannya. Tapi, ikatan tali terlalu kuat. Jalan satu-satunya dia berusaha mencari pertolongan dari luar.


Beberapa belas menit menggeser geser kursinya, sang pembantu akhirnya sampai di pintu depan. Beruntung pintu depan tak tertutup. Mungkin Niko dengan cepat masuk ke dalam karena mendengar jeritan Farida hingga tak sempat menutup pintu.


Pembantu tersebut masih berusaha lagi menggeser kursinya ke halaman yang luas. Berhenti sejenak dan menarik nafas. Tubuhnya yang tak lagi muda, membuat fisiknya mudah kelelahan.


Hingga sampai di pintu gerbang, pembantu itu berusaha berbicara meski suaranya tak bisa keluar.


"Mmmhhh....mmmhhhh..." jeritnya. Tapi tak ada orang lewat.


Jalanan di depan gerbang berupa turunan untuk mempermudah mobil melaju naik turun. Pembantu tersebut mengambil resiko, dia tetap bergeser hingga kursinya jatuh miring di tepi jalan.


"Astaghfirullah, ada apa ini," jerit pak satpam yang sedang lewat dengan motor tuanya.


Pak satpam tersebut segera memberhentikan motornya dan menghampiri pembantu tersebut.


"Ada apa, Mbok? Ya Allah," seru satpam tersebut terkejut.


"Mmmppphh...mmmphhh..." pembantu tersebut ingin bicara tapi hanya suara tak jelas yang terdengar.


"Iya, tunggu. Saya buka lakban nya," ucap pak satpam.

__ADS_1


"Pak, tolong pak. Majikan saya di dalam di pukul orang. Panggil ambulance pak," seru sang pembantu menangis tersedu. Tubuhnya masih gemetaran dan terasa sakit karena terjatuh di jalan.


"Ya Allah, Mbok. Tunggu saya telepon petugas lainnya," sahut pak satpam setelah melepas ikatan tali.


Satpam tersebut akhirnya menelepon satpam lain. Lalu menelepon polisi dan juga ambulance.


"Sudah, Mbok. Sebentar lagi ambulance datang. Ayo kita masuk dan lihat majikan mbok," ucap pak satpam.


Pembantu tersebut menggeleng. Sebuah cek kertas yang tadi dia dapat, mengubah pikirannya. Dia tidak mau bekerja lagi dengan majikannya. Dia tidak mau makan dari uang yang haram. Biarlah hidupnya biasa, tapi berkah.


"Bapak masuk aja duluan, mereka ada di ruangan dekat tangga," sahut pembantu rumah tersebut.


"Lalu mbok bagaimana?" tanya pak satpam.


"Saya disini dulu. Pinggang dan bahu saya masih sakit," ucap pembantu tersebut beralasan.


"Oh ya sudah. Saya masuk dulu," ucap pak satpam lalu berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Sementara pembantu tadi, membuka cek kertas yang tadi diberikan Revan.


"Seratus juta. MasyaaAllah,Alhamdulillah. Saya bisa buka usaha sendiri kalo begini," ucap syukur pembantu tersebut.


Sementara itu, Niko yang pertamakali sadar. Dia melihat sekeliling tak ada orang. Niko menggeser tubuhnya mendekati kakaknya.


"Kak... kakak... bangun kak." lirih Niko. Jarinya diletakkannya di depan hidung kakaknya.


"Syukurlah, masih ada nafasnya." ucap niko lega.


Darah masih mengalir dari mulut dan hidung Niko. Nafasnya tersengal karena sakit di bagian dadanya.


"Waduh, Astaghfirullah. Mas nggak apa-apa?" tanya Pak satpam asal. Dia sudah terlalu terkejut. Ini adalah kali pertama kejadian di komplek mereka yang selama ini damai.


"Saya butuh bantuan, Pak," ucap Niko lemah.


"Mas, tenang saja. Saya sudah menelepon ambulance dan polisi. Sebentar lagi mereka pasti datang," ujar pak satpam.


"Syukurlah. Terima kasih, Pak. Kalo begitu bantu saya berdiri. Papah saya ke ruangan itu. Ruangan CCTV," pinta Niko pada satpam.

__ADS_1


"Baik, ayo mas berdiri," sahut satpam yang membantu Niko berdiri dan memapahnya ke ruang CCTV.


"Jika kalian menyakiti kami, maka baiklah, saya akan menghancurkan kalian tanpa sisa." tekad Niko dalam hati sambil melangkah terseok di bantu satpam ke ruangan CCTV.


sementara itu, di jalan Dedi yang sudah berpikir langkah selanjutnya, segera mengirim pesan pada kedua sahabatnya. Dedi meminta Revan menjemputnya di dekat rumah orang tua Adrian. Mereka akan ke Villa keluarga di luar kota.


Sementara ke Adrian Dedi mengirim pesan meminta rekaman video Niko dan Farida yang berbicara di teras rumah mereka waktu itu. Lalu meminta Adrian juga ke Villa keluarga di luar kota. Mereka akan berkumpul disana.


Adrian sudah membaca pesannya. Sementara Dedi akhirnya sampai didepan rumah keluarga Adrian.


Satpam yang memang mengenal Dedi mengizinkan Dedi masuk ke halaman.


"Pak, titip mobil ya. Itu mobil punya Mama Adrian. Ohya, orang tua Adrian dimana, Pak?" tanya Dedi pada pak satpam.


"Wah, jarang pulang, Den. Malah den Adrian menghilang nggak pulang," jelas pak satpam.


"Ya sudah. Kalo Mama Adrian pulang bilang itu mobil sudah dikembalikan," sahut Dedi melangkah keluar halaman.


"Iya, den," ucap satpam yang sebenarnya kebingungan dengan mobil sport tersebut.


Dedi melangkah dan pas sekali, Ivan datang. Dedi segera masuk ke mobil dan memerintahkan Revan jalan. Mobil akhirnya melaju cepat ke jalanan.


Dedit tampak diam dan melihat kiri kanan. Hingga melewati suatu tempat dan melihat sebuah counter pulsa.


"Berhenti disitu, Van," perintah Dedi


Revan segera berhenti tanpa bertanya. Dia masih belum bisa menenangkan hatinya yang sedari tadi cemas.


Dedi dengan cepat turun dari mobil, melangkah cepat ke counter hape. Dia membeli sebuah nomor baru dan kembali ke mobil.


"Jalan, Van," perintah Dedi


Ivan hanya menurut. Dia kembali melajukan mobilnya menuju Villa keluarga luar kota.


Sementara Dedi, segera mengganti kartunya dengan kartu baru.


"Baiklah, pertunjukan kita mulai !" batin Dedi bicara. Dia menyunggingkan senyum mengerikan.

__ADS_1


Dedi mengirim video Farida dan Niko kepada tiga nomor telepon. Setelah ketiga nomor menerima dan membuka video. Dedi segera mematikan hape dan mencabut nomor yang baru. Dia tak ingin di telepon.


__ADS_2