TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Di Tolong Adrian


__ADS_3

Lalu mengajak Laura masuk ke dalam mobil, Laura sempat melirik ke arah rumah tante Sri. Terdengar suara pintu dibanting. Tante Sri dan Om Herman sudah masuk ke dalam rumah.


Laura segera memakai seat belt sementara mobil segera melaju ke jalanan. Hening beberapa saat di antara mereka berdua. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Rian, makasih ya," lirih Laura dengan suara lemah.


"Sama-sama. Gue tadi mengikuti nasihat lu, sholat di masjid terus pas balik dari masjid gue nggak sengaja lihat elu," papar Adrian sambil tetap menyetir.


"Iya, gue diusir tadi anterin ke masjid dulu ya gue belum sholat magrib," pinta Laura.


"Okey, lu nenangin diri dulu ya di masjid. Entar cerita sama gue ada apa," sahut Adrian lembut.


Laura hanya mengangguk saja sementara Adrian melajukan kembali mobilnya ke arah masjid yang tadi dia sempat sholat.


Sesampainya di masjid, Laura dengan cepat berjalan ke arah tempat wudhu. Waktu sholat hampir habis. Jemaah banyak yang sudah pulang. Kecuali beberapa orang yang mungkin pengurus masjid sedang menunggu adzan Isya.


Laura sholat dengan khusyuk, lalu berdoa. Dia takkan mendoakan keburukan meski sudah disakiti. Bagaimana pun dia takut, doa buruk bisa kembali pada yang mendoakan.


Selesai sholat, Laura mengetik pesan pada Adrian.


[Rian, bentar lagi masuk waktu sholat Isya. Kita sekalian ikut jamaah sholat di sini saja]


Adrian yang sedang di luar mobil segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dia tak membalas pesan Laura tapi langsung ke tempat wudhu, bersiap-siap menunggu sholat isya.


"Gue kagum sama lu, elu masih inget sholat padahal lagi kena musibah," ucap Adrian saat mereka selesai sholat dan sudah kembali ke mobil.


"Karena gue butuh Allah. Sholat itu kebutuhan. Cuma Allah tempat gue berlindung, tempat gue meminta, yang paling sayang gue juga cuma Allah," papar Laura


Adrian segera kembali melajukan mobilnya keluar dari halaman masjid.


"Tapi iya sih, lega banget kalo sudah sholat. Kayak beban kita terangkat, hati tenang kalo sudah berdoa," sahut Adrian.


"Iya, sebesar apa pun masalah kalo di hadapkan sama Allah yang maha besar. Masalah itu bakal jadi kecil," cetus Laura tersenyum.


Adrian menoleh sekilas ke wajah Laura. Wajah yang tadi sedih sebelum sholat sudah berubah lagi jadi wajah ceria. Segampang itu ternyata menghilangkan beban di hati. Tidak harus dengan minuman keras apalagi ke club malam.


"Kita tidur di hotel dulu malam ini. Besok gue cari rumah buat lu," usul Adrian.


"Nggak usah, Rian. Gue ke rumah Tiara aja. Bentar gue telepon bestie gue," tolak Laura.


Adrian hanya mengangguk dan Shabila segera menekan nomor Tiara di ponsel.


"Assalamualaikum, bestie. What happen aye naon malam gini telepon ?" sapa Tiara saat panggilan telepon tersambung.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Ra. Gue malam ini tidur rumah lu ya. Ini gue otw," jelas Laura


"Busyet, bumil. Ini udah malam loh. Elu sendirian naik apa?" jerit Tiara yang terkejut.


"Gue diantar Rian. Entar deh gue ceritain. Panjang soalnya," cetus Laura.


"Panjang mana dengan jalur rel kereta api Yogyakarta ke Bali?" tanya Tiara absurd.


"Au ah gelap. Udah ya besti, habis entar kuota gue," omel Laura.


"Iya, bumil. Dah... Hati-hati di jalan." ucap Tiara. Setelah pamit mengucap salam, Laura mematikan teleponnya.


"Sebelum ke rumah Tiara, kita mampir makan dulu ya. Gue lapar," ucap Adrian setelah Laura mematikan teleponnya.


"Hmm... Iya. Tapi, elu yang bayar kan?" tanya Laura polos.


Mendengar pertanyaan Laura membuat Adrian terkekeh.


"Entar kalo kita sudah makan, kita langsung lari aja. Kan kartu ATM gue dibekukan," canda Adrian yang masih terkekeh juga.


"Ih, apaan sih! Gue ada 30 ribu, beli nasi kucing di pinggir jalan aja," usul Laura


"Tenang, gue masih pegang duit kok! gumam Adrian tersenyum.


"Elu mau makan apa? Jangan jawab terserah seperti cewek kebanyakan. Kita cowok nggak ngerti bahasa kalbu," tandas Adrian.


"Iya, ini juga lagi mikir! Nah, itu di depan ada pecel lele. Mampir situ aja," usul Laura sambil menunjuk sebuah warung makan pinggir jalan yang beratap terpal dan berdinding kain.


"Okey, makan di situ aja," sahut Adrian yang menepikan mobilnya di pinggir jalan.


Mereka berdua kemudian turun dari mobil. Lauraa duduk di sebuah kursi plastik dan Adrian memesan.


"Ra,gue pesan nasi pakai ikan lele goreng, tahu goreng sama cah kangkung. Elu mau kan?" tanya Adrian saat duduk di kursi seberang meja Laura.


"Suka, gue orang nya nggak milih-milih makannya," sahut Laura.


"Syukur, deh. Gue pikir elu cuma bisa makan makanan tertentu aja. Lihat tetangga gue hamil, makannya aneh-aneh," celetuk Adrian.


"Gue enggak tuh! Calon bayi gue pengertian. Kalo emaknya nggak bisa beliin dia macam-macam. Makanya gue bisa makan dan minum apa aja. Nggak ngidam aneh-aneh," papar Laura sambil mengelus perutnya.


Adrian yang melihat Laura mengelus perut sambil tersenyum getir justru membuat hatinya terenyuh.


"Maafin gue. Elu jadi gini pasti gara-gara gue," ucap Adrian sedih.

__ADS_1


"Iya, semua memang gara-gara elu," rutuk Laura sambil mencebikkan bibirnya.


Adrian hanya diam dan tertunduk. Pikirannya berkelana entah ke mana.


Tak lama, makanan yang Adrian pesan datang. Laura menelan air liurnya melihat ikan lele goreng di hadapannya.


Laura segera berdoa, Adrian melirik Shabila. Lagi-lagi Adrian mengikuti Laura Adrian pun ikut berdoa.


Mereka makan dengan lahap bahkan Adrian mengikuti gaya Laura yang menuangkan kecap di atas nasi lalu makan dengan tangan.


"Alhamdulillah," ucap Laura setelah makan.


"Enak banget ya," celetuk Adrian.


"Nggak kalah sama makanan di resto kan," sahut Laura


"Iya, benar. Tunggu, gue bayar dulu," ucap Adrian berdiri dan membayar makanan mereka.


Laura berdiri, ikut melangkah saat Adrian sudah selesai membayar.


"Bayarnya nggak sampai lima puluh ribu," ucap Adrian terkejut saat mereka sudah kembali ke dalam mobil.


"Standar aja, memang segitu harganya," ucap Laura


"Itu murah banget, Ra. Biasanya lima puluh ribu cuma buat gue ngopi doang. Ini bisa makan enak, kenyang terus murah," celetuk Adrian yang mulai melajukan mobilnya lagi.


"Kasihan deh lu, baru tahu makan enak itu nggak harus mahal," cibir Laura.


"Iya, deh. Lain kali temenin gue wisata kuliner yuk," ajak Adrian.


"Hmm... enggak deh. Gue nggak nyaman, karena kita tuh sebenarnya nggak boleh berdua. Tapi gimana, sekarang gue terdesak," resah Laura


"Oke, gue ngerti. Btw, cerita dong kenapa tadi elu sampai diusir?" tanya Adrian akhirnya.


Laura menghela nafasnya. Perutnya sudah terasa kenyang, energi tubuhnya sudah kembali. Sekarang dia bisa bercerita.


"Tadi gue balik rumah, Tante Sri dan Om Herman ternyata udah balik duluan. Mereka marah karena gue nggak ada di rumah..." Laura mulai bercerita dan Adrian fokus mendengar sambil menyetir mobilnya.


"Ada ya orang seperti itu, tega banget!" rutuk Adrian yang mendengus kesal setelah mendengar cerita panjang dari Laura


"Tapi Allah maha baik, Allah gerakkan hati lu buat lewat depan rumah tante Sri. Tadinya gue udah bingung mau kemana malam-malam gini. Tadi cuma kepikiran masjid. Makasih banget ya," sahut Laura


"Gue jadi merasa jahat banget, Ra Kok lu makasih sih? Elu bisa gini, gara-gara gue dan temen-temen gue," lirih Adrian lemah. Dia makin merasa bersalah.

__ADS_1


"Iya, sih. Tapi gue jadi lebih banyak introspeksi diri, jadi banyak merenung. Gue salah sudah pacaran, akhirnya setan menang, kita kalah," ucap Laura.


__ADS_2