TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

"Kenapa? Kenapa nggak usah cerita ke mama lu?" tanya Tiara penasaran.


"Mama gue sampe sakit memikirkan Laura selama ini. Papa sampai membawa Mama ke rumah sakit berbagai negara, tapi Mama tetap nggak sembuh. Obatnya hanya satu, Laura," ungkap Athan.


Tiara diam dan masih mendengarkan Athan berusaha menarik nafasnya dalam-dalam. Dia selama ini memakai topeng keceriaan. Tapi, hatinya juga tersiksa kerinduan. Rindu pada Mama, Papa dan laura.


"Karena itu, gue nggak tega kalo Mama mendengar berita ini. Dia nggak akan kuat, Ra. Hati mama gue terlalu lembut," sambung Athan.


"Oh, gue ngerti sih. Lu bener, biarkan Mama lu menyambut kebahagiaannya," ucap Tiara mengangguk mengerti.


"Ohya, minta nomor hape lu. Gue pasti butuh banget," pinta Athan


Wajah Tiara langsung merona merah. Ah, nomor hapenya diminta cowok ganteng, mau... mau... mau banget!" batin Tiara.


Sepertinya malam ini hatinya akan mengadakan syukuran. Ngundang pak erte kali ya, untuk kata sambutan. Sangking bahagianya Tiara bertemu cowok ganteng plus dimintai nomor hape.


"Lu ge-er ya? Gue minta nomor hape karena kali aja butuh informasi tambahan tentang Adrian itu!" ucap Athan dengan wajah kaku.


Ucapan yang justru membuat mood Tiara berantakan. Bahunya merosot turun. "Dahlah, syukuran malam ini di batalkan." ungkap sang hati Tiara penuh rasa kecewa.


"Ih, siapa yang ge-er. Gue kepanasan disini," tutur Tiara berkelit. Tiara segera memberi nomor hapenya.


"Makasih ya. Gue cuma bercanda,kok. Elu udah gue anggap adik gue juga," senyum Athan terkembang. Dia segera menyimpan nomor hape Tiara.


Tiara menarik seulas senyuman. Tapi, hatinya banjir bandang." Huuaaaa... potek hati adek, Bang." batin Tiara.


"Nanti gue antar pulang ke rumah lu. Kalo ada yang lu mau, bilang aja. Insyah Allah kalo keluarga kami sanggup bakal dikabulkan. Mungkin elu mau tambah usaha kost-kostan atau apa gitu," ucap Athan.


"Nggak, Bang. Adek cuma mau Abang. Hati adek langsung klepek-klepek sama abang." batin Tiara lagi. Baru sehari bertemu, Tiara sudah menyerah dengan pesona Athan.


Si Abang Athan ini, memang ganteng maksimal. Plek ketiplek dengan Papa Birru di masa muda. Dikejar kaum hawa dari benua Amerika sampe ke Asia.


"Aduh, persahabatan gue dan Laura itu murni. Gue senang kok bersahabat dengan Laura. Tanpa meminta apapun," ungkap Tiara pada Athan.


"Alhamdulillah, adik gue punya sahabat kayak lu. Kalo gue harus bersembunyi selama ini. Orang tua gue takut, gue juga diculik sama seperti adik gue. Gue nggak punya sahabat dekat. Gue home schooling selama ini," papar Athan.


"Hah, sampe segitunya?" Tiara sampai terkejut.


"Iya, gitu. Temen main gue tuh ya mbok yang jaga gue. Pengawal gue, mereka temen gue. Pasti asyik ya punya teman sebaya yang seiya sekata kayak lu. Mulai sekarang kita bestie bertiga ya," pinta Athan.


"Tentu. Dengan senang hati," cetus Tiara tersenyum senang. Satu poin untuk lebih dekat dengan Athan.


"Tiara, bantu gue balas orang-orang yang jahatin adek gue ya.Mereka tuh harus disadarkan. Kalo dari cerita lu, kayaknya nggak bisa ya dari kata-kata. Nggak sadar juga. Mungkin harus baku hantam dulu," papar Athan.


"Serem banget. Kakak sendirian loh, mereka tiga sekawan. Kemana-mana bareng," jelas Tiara yang akhirnya memilih memanggil Athan kakak.

__ADS_1


"Gue pernah melawan lima orang tangan kosong. Gue udah di latih sedari kecil untuk melindungi diri sendiri kalo kondisi terdesak," kata Athan.


"Keren," puji Tiara.


"Athan, Tante cari dari tadi. Kamu disini," seru Tante Chacha yang melangkah mendekati mereka.


"Maaf tante cantik, Athan lagi mencari tahu tentang Laura," ucap Athan tetap menggoda sang tante.


Tante Chacha hanya menggelengkan kepalanya. Sudah biasa di goda Athan.


"Halo, maaf kita bertemu dalam kondisi yang seperti ini. Perkenalkan saya tante Chacha," sapa tante Chacha pada Tiara.


"Iya, tante tak apa. Saya Tiara," sahut Tiara yang salim pada tante Chacha.


"Saya mewakili keluarga mengucapkan beribu-ribu terima kasih sama Tiara. Terima kasih sudah menjaga keponakan saya selama ini. Terima kasih sudah memberi tumpangan tempat tinggal dan lain sebagainya," ungkap tante Chacha.


"Sama-sama, Tante," sahut Tiara tak enak.


Keluarga Laura sangat sopan dan sangat menghormati orang lain tanpa melihat status orang.


Tiara bahkan melihat Athan yang mengucapkan kata maaf pada seorang cleaning service saat tak sengaja menjatuhkan ember air pel saat mereka berjalan menuju taman tadi. Selain maaf, Athan juga dengan sigap membantu mengepel sebentar dan mengambil air baru.


Keluarga Laura punya attitude yang baik. Tak segan mengucapkan kata maaf dan terima kasih. Bahkan kata tolong. Benar-benar orang kaya yang sebenarnya.


Tak lama, Om Leon datang. Dia ikut bergabung. Kedua om dan tante itu banyak bertanya pada Tiara tentang masa lalu Laura.


Tok...


Tok...


Sebuah ketukan pintu terdengar diluar. Papa Birru beranjak berdiri dari duduknya. Dia membukakan pintu.


Seorang perawat mendorong sebuah inkubator ke dalam ruangan. Semua peralatan lengkap di dalam ruangan. Semua sudah di setting oleh pihak rumah sakit seperti permintaan orang tua Laura.


Bayi didalam inkubator tampak tenang dan tertidur. Beberapa alat penunjang kesehatan tampak terpasang di tubuh sang bayi yang kecil.


"Sus, berapa berat badan cucu saya?" tanya Mama Runi.


"Bayinya lahir di usia kandungan tujuh bulan, Bu. Beratnya hanya satu kilo delapan ons," jawab perawat tersebut.


"Masyah Allah, cucu kakek kecil ya. Tapi, kamu akan tumbuh besar nantinya," ucap Papa Birru tersenyum sambil melihat cucunya dari balik dinding inkubator.


Mama Runi juga tersenyum senang menatap cucunya, meski sang cucu hanya diamdiam.


Kedua orang tua itu, tak mau mempertanyakan bagaimana bayi itu bisa hadir. Itu tidak penting saat ini. Mereka hanya ingin bahagia. Apapun alasan dibalik kehadiran sang bayi, dia tetap sebuah anugerah dari yang maha kuasa.

__ADS_1


Sementara Laura hanya menatap dalam diam. Matanya memandang sang bayi dari brankar nya. Wajah itu... wajah yang dibenci Laura. Dia yang melahirkan, dia yang berjuang agar bayi itu tetap terlahir ke dunia meski sempat ingin digugurkan Dedi.


Tapi, kenapa wajahnya justru sama persis dengan laki-laki yang paling dia benci. Adrian! Tak ada lagi rasa cinta, hanya benci... benci... dan benci!


"Bawa pergi bayi itu!" seru Laura menangis.


Mama Runi menoleh pada Laura, bingung dengan sikap anaknya.


"Ada apa, sayang? Ini anak Laura. Dia sudah lahir, meski tubuhnya kecil. Dia kuat banget tetap bertahan hidup," ungkap sang mama mengelus rambut anaknya dengan penuh sayang.


Laura menggeleng pelan, air mata nya luruh. Dia tak mau lagi menatap bayi itu.


"Laura benci wajah itu, Ma. Kenapa wajahnya harus sama seperti dia," raung Laura.


Mama dan Papanya yang belum tahu apa-apa, hanya saling menatap bingung. Laura menolak bayinya.


"Sayang, wajah bayi bisa berubah. Nanti pasti wajahnya lebih mirip Laura, coba lihat wajah Laura Nak Mirip Papa banget kan? Padahal dulu bayi, kamu mirip banget sama Mama. Iya kan, Ma?" nasihat lembut Papa nya.


"Iya, bener. Sekarang kamu plek ketiplek sama Papa. Kayak pake mesin fotocopy. Kok bisa persis banget," ucap Mama terkekeh.


Laura tetap menggeleng dia tetap tak menerima bayi yang sekarang malah menangis.


Sepertinya sang bayi bisa merasakan penolakan mamanya.


"laura benci laki-laki itu. Bawa pergi bayi itu, Ma. Wajahnya sama seperti laki-laki itu," jerit Laura.


Papanya segera meminta perawat untuk membawa cucunya ke ruangan bayi saja. Papa dan Mamanya takut Laura semakin histeris.


Mamanya segera memeluk Laura, menenangkan anaknya. Sementara Papanya keluar, menemui dokter.


Setelah itu, dokter segera datang dan mengecek keadaan Laura, Dokter tersebut kembali mengajak Papa Birru ke ruangannya.


"Bagaimana, Dokter? Kenapa anak saya justru menolak bayinya?" tanya Papa Birru khawatir.


"Kemungkinan anak bapak mengalami depresi Postpartum dilihat dari gejalanya. Dia kehilangan harapan, mudah menangis, murung, selalu dalam kesedihan. Bukan hanya tidak menerima bayinya, dia juga tidak menerima dirinya. Ada banyak kecemasan dalam diri Laura," papar sang dokter.


"Ya Allah..." Papa Birru menarik nafasnya dalam-dalam dan berzikir dalam hatinya. Dia butuh menenangkan hatinya.


"Dokter, apa yang bisa kami lakukan agar anak kami bisa sembuh ?" lirih Papa Birru yang akhirnya bertanya lagi setelah cukup menenangkan hatinya dengan zikir.


"Dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan. Hadirkan keceriaan, tawarkan kehangatan keluarga dan buat dia jangan sampai sendirian. Mendekatkan diri pada Allah swt dan juga dekat dengan keluarga," papar dokter tersebut.


bersambung.......


jgn lupa like, komen, ulasan, dan follow nya sebanyak-banyaknya mungkin. biar semakin seru ceritanya.

__ADS_1


happy reading and happy enjoy🥰


__ADS_2