
Adrian malam itu kembali kesulitan tidur. Cerita teman-temannya terngiang-ngiang di telinganya.
Pikiran Adrian berputar pada wajah Laura dan bayi tampan yang mirip dirinya Lalu siapa laki-laki yang bersama Laura?
Apa seperti ini cara Laura membalasnya? Dendam kah Laura padanya, hingga menerima laki-laki lain dalam hidupnya? Apakah laki-laki itu tahu, Laura sudah punya bayi? Bayi mereka.
Hati Adrian nelangsa. Memikirkan masa depan. Apa dia hanya akan diam di pojokan saat nanti ada laki-laki lain dipanggil ayah oleh anaknya?
"Gue emang pengecut! Seharusnya dulu gue nggak meragukan Laura, Sekarang bagaimana? Kenapa gue selalu memikirkan Laura?" racau Adrian hingga pagi.
Hingga pagi itu, dokter datang sang dokter menggelengkan kepala melihat mata panda milik Adrian.
"Kamu nggak tidur lagi ya?" sapa sang dokter tersenyum.
"Saya kesulitan tidur, Dok," sahut Adrian.
"Kamu sendirian disini? Mana mama kamu?" tanya dokter tersebut.
"Hmm... mungkin sedang banyak pekerjaan, dok," balas Adrian.
Sang Mama yang syok dengan ucapan Adrian waktu itu, justru memilih tak datang ke rumah sakit. Begitu juga papanya hanya asisten rumah yang datang dan mengecek kondisi Adrian.
"Saya temani dulu ya, kita sarapan bareng," tutur dokter muda itu. Dokter itu terlihat gagah dan tampan dengan baju putih, baju dinas sang dokter.
Sang dokter membantu Adrian membuat brankarnya sedikit bergerak ke atas agar posisi Adrian lebih nyaman untuk makan.
Sebuah meja makan kecil diletakkan diatas tubuh Adrian. Dengan penyangga meja berada disisi kiri dan kanan tubuh Adrian.
"Ayo, makan. Jangan lupa baca doa saya temani," bujuk dokter.
"Makasih, Dok," Adrian langsung berdoa dan mulai makan.
Sementara sang dokter yang sebenarnya bekerja di shift malam, sebelum pulang pagi ini menyempatkan diri menengok Adrian yang semenjak masuk rumah sakit terlihat frustasi dan penuh beban.
"Hmm, kamu tahu nggak, dulu waktu kuliah saya pernah suka dengan seorang gadis, tapi saya nggak berani bilang. Padahal saya suka banget sama dia. Tiap hari saya cuma bisa memandang wajahnya di kelas atau di halte saat pulang," ungkap sang dokter sambil memakan buah yang dia bawa.
Adrian yang tengah makan, menghentikan makannya dan menoleh. Dia mendengarkan dengan serius.
"Saya pikir, saya akan bilang ke dia tentang perasaan saya, saat saya sukses. Tapi, baru kemarin malam, saya mendapat undangan pernikahannya di grup alumni kampus kami," lanjut sang dokter tersenyum getir.
Adrian tetap diam mendengarkan. Dia tetap menyuap makanan ke mulutnya dengan pelan.
"Maaf ya saya jadi curhat. Saya pikir masalah kita sama. Biasanya masalah anak muda seperti kita berhubungan dengan patah hati atau cinta yang ditolak kekasih hati," sambung dokter tampan itu lagi terkekeh. Tapi ada nada kecewa yang sangat ketara dari suaranya.
"Nggak apa, Dok. Terima kasih sudah mau bercerita pada saya," sahut Adrian.
"Saya punya nasehat buat kamu. Kalo kamu jatuh cinta sama seorang gadis. Jangan tunggu nanti, katakan padanya. Lamar langsung kalo kamu siap. Tapi, saya tidak menyarankan nikah muda sih, itu terlalu beresiko," ungkap sang dokter.
"Memangnya kenapa dok, dengan nikah muda?" tanya Adrian mengernyitkan kening.
"Karena menikah tidak hanya butuh cinta. Kamu harus siap dengan mental. Butuh kedewasaan berpikir, komunikasi dan yang terpenting respek! Kalo kamu nggak respek dengan pasangan, yah... bakal sering salah sangka, bakal sering berpikir negatif tentang pasangan dan lain sebagainya," nasihat dokter tampan itu.
__ADS_1
Adrian terdiam. Buburnya sudah habis. Dia merenungi ucapan sang dokter.
"Menikah itu menurut saya bukan untuk mengubah seseorang seperti apa yang kita mau. Tapi mencintai semua kekurangan pasangan, karena kelebihan siapapun pasti menerima. Maksud saya sifat ya, contohnya dia cuek ya itulah dia, kita harus terima," jelas dokter itu.
"Lalu bagaimana dengan gadis yang dokter sukai itu?" tanya Adrian akhirnya.
Sang dokter menggedikkan bahunya. Lalu menghela nafasnya.
"Saya menyerah. Saya akan pura-pura lupa hingga benar-benar bisa lupa. Dia bukan jodoh saya," putus sang dokter.
Adrian mengangguk. Tapi, masalah yang dia hadapi lebih rumit dari sang dokter. Ada sang anak yang menjadi penghubung antara dirinya dan Laura
"Kalo dokter melakukan kesalahan pada seorang gadis hingga gadis itu melahirkan seorang bayi. Apa yang akan dokter lakukan?" tanya Adrian hati-hati.
"Oh, tentu saja saya akan tanggung jawab. Saya akan menikahinya," jawab sang dokter serius.
"Walau awalnya dokter tidak mencintainya dan semua terjadi karena dokter di jebak?" lanjut Adrian memburu pertanyaan.
"Iya! Yang terpenting bukan proses bagaimana bayi itu bisa hadir, tapi apapun prosesnya tapi dia benar ada dan laki-laki harus mau tanggung jawab. Oke Rian, sudah pukul tujuh. Minum obatmu dan tidur ya," papar sang dokter lalu menyerahkan obat pada Adrian.
Adrian menurut, dia meminum obatnya.
"Terima kasih, Dok," ucap Adrian.
"Sama-sama, saya pulang dulu," sahut dokter tersebut yang kemudian berdiri dan melangkah pergi.
Adrian hanya mengangguk. Tak lama setelah meminum obat, matanya mengantuk luar biasa. Adrian akhirnya tertidur pulas.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Mama Dedi.
"Mari ke ruangan saya," ajak dokter tersebut.
Mama Dedi mengangguk, sang mama kemudian duduk didekat brankar Dedi Sementara Papa Dedi ikut sang dokter ke ruangannya.
"Pak, anak bapak mengalami gegar otak ringan. Ini efek hantaman keras berkali-kali di kepalanya," ucap sang dokter sambil memperlihatkan hasil pemeriksaan rontgen.
"Lalu kami harus bagaimana dokter? Apa anak saya bisa sembuh?" tanya Papa Dedi khawatir. Wajahnya menyiratkan rasa cemas luar biasa.
"InsyaaAllah, Pak. Akan kami usahakan yang terbaik. Namun, saya harap anak bapak jangan diajak berpikir keras dulu. Dia akan mengalami pusing, sering mual muntah, sulit konsentrasi. Jadi, jangan ditanya hal-hal yang berat, kita akan usahakan yang terbaik," ungkap sang dokter.
"Baik, dokter," sahut Papa Dedi lemah. Tubuhnya terasa lemas mendengar ucapan dokter.
Sementara di ruangan, Dedi hanya tampak bengong, tak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Bahkan jeritan kesakitan tak terdengar.
Mamanya mengajak bicara Dedi tapi tetap tak di respon Dedi sama sekali.
"Pa, bagaimana kata dokter?" tanya Mama Dedi saat Papa Dedi kembali ke ruangan.
"Ayo, Ma. Keluar dulu, nanti Papa ceritakan," ucap Papa Dedi.
Mama Dedi mengangguk, mereka kemudian keluar ruangan. Sang mama tampak menangis dan histeris saat tahu kondisi anaknya tidak baik-baik saja.
__ADS_1
***
Pagi ini, Laura sudah kembali berpakaian rapi. Dengan seragam sekolah dan sudah disulap agar terlihat semakin segar dan cantik.
Mama Runi melakukan banyak hal, agar anaknya kembali seperti ' gadis'.
"Mama punya kontak lensa juga kacamata baru untuk Laura. Mau pakai yang mana, Nak?" tanya mama Runi memberikan pilihan.
"Hmm, kacamatanya cantik banget, Ma. Bila nggak suka pake kontak lensa, berasa ada yang mengganjal, Ma. Pernah dulu dikasih sama Tiara, tapi nggak nyaman," tutur Laura.
"Iya, karena nggak biasa, sayang. Ya udah, pake kacamata aja ya. Ini design khusus biar anak mama tetap cantik," ucap sang mama menyerahkan kacamata baru.
"Makasih, Ma," ucap Laura tersenyum.
"Sama-sama, sayang. Mama sudah mendaftarkan Laura di sebuah rumah sakit di luar negeri.
Nanti saat liburan, Laura operasi lasik mata ya, Nak. Biar nggak capek lagi pake kacamata," usul Mama Runi.
"Makasih banget, Ma. Mama perhatian banget sama Laura. Laura sayang mama," ucap Laura penuh haru. Dia segera memeluk mamanya.
"Mama juga sayang banget sama kamu, Nak. Coba sekarang pake kacamatanya," pinta mamanya.
Laura segera menurut. Dia memakai kacamata barunya. Kacamata yang lensanya di desain tipis meski minus lima. Dengan gagang cantik warna merah jambu.
"MasyaaAllah, cantiknya anak mama. Mata indahnya kelihatan dengan kacamata ini," tutur sang Mama.
Laura tersenyum senang. Melihat ke kaca. Dia puas dengan penampilannya yang baru.
"Nanti kalo Laura sudah benar-benar sehat, kita bakal ke klinik kecantikan. Kita berdua bakal treatment biar anak mama makin bersinar dan nggak kalah sama gadis lain. Anak mama jangan malu, anak mama cantik banget loh," puji sang mama agar Laura tak minder lagi.
Laura segera memeluk mamanya dia sungguh terharu. Lebih dari ekspektasinya Laura sungguh bahagia.
"Sekarang sekolah ya, Nak. Kakakmu sudah menunggu dibawah. Jangan lupa pamit ke Dayyan," ucap mamanya.
Mereka segera ke ruangan Dayyan. Kendati saat melihat wajah Dayyan, Laura selalu merasa sakit hati mengenang Adrian, tapi Laura berusaha sedikit demi sedikit menerima Dayyan.
Bayi mungil itu terlihat tenang tak menangis. Dia seperti memahami kalau bundanya harus pergi sekolah. Mata Dayyan yang jernih sesekali terbuka. Bibirnya yang mungil bergerak lucu seperti ingin berbicara. Sungguh menggemaskan.
Setelah berpamitan, Laura segera turun ke bawah melalui lift. Mereka memang masih tinggal di rumah sakit. Orang tua Laurabahkan menyewa untuk dua minggu.
Selama sang cucu belum diperbolehkan pulang oleh dokter. Keluarga Laura memutuskan untuk tetap di rumah sakit. Mereka baru akan pulang ke rumah, saat Dayyan sudah diperbolehkan pulang.
Beberapa bodyguard mengawal Shabila hingga ke mobil di parkiran. Sementara Athalla sudah berada didalam mobil sedari tadi.
"Kakak ikut lagi. Sekolah kakak gimana?" tanya Laura saat dia sudah duduk didalam mobil disamping Athan.
"Santai aja, Dek. Bisa diatur sekolah kakak mah," kekeh Athan.
"Oh, gitu. Ada asyiknya juga ya," Laura ikut tersenyum.
"Kakak lupa nanya, ketemu nggak dek dengan mereka yang udah jahatin Laura kemarin?" tanya Athan penasaran.
__ADS_1
"Oh, namanya Adrian, Dedi, Revan dan Angel. Nggak ketemu, kak. Mereka dirawat di rumah sakit," ucap Laura.