TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
Tanpa Judul 2


__ADS_3

"Kamu ingat gak Laura, Aceh pernah kenak tsunami?" tanya mama Soni.


"Ingat, Bu. Laura ingat kejadian itu," ucap Laura yang sudah selesai makan.


"Setelah kejadian itu, banyak orang tua yang terpisah dari anaknya. Bahkan banyak yang meninggal dan kehilangan anggota keluarga. Sampai hari ini pun, dua keponakan saya tak tahu ada di mana. Apakah masih ada atau tiada. Saya sempat pulang ke Banda Aceh setelah kejadian itu, mencari informasi sampai ke kabupaten Pidie saya datangi. Saya kehilangan banyak keluarga saat itu. Sampai hari ini saya masih mencari dua keponakan saya," kenang mama Soni yang matanya mulai berkaca.


"Saya ikut berduka cita, Bu. Terima kasih sudah mengingatkan saya,Bu akan ingat nasihat ibu," ucap Laura sambil tersenyum.


"Iya, kamu tetap semangat ya. Dunia memang tempatnya ujian, tapi saat kita lulus dengan ujian, Allah sudah siapkan surga," mama Soni kembali memberikan nasihat.


"Akan Laura ingat selalu, Bu," Laura sambil tersenyum.


"Mulai besok mengajar di sini. Nanti ibu sebar di grup pesan, di ponsel ibu, supaya yang mau daftar les bisa ikut besok," ucap mama Soni.


"Iya, Bu. InsyaaAllah saya siap," laura tampak bersemangat dan antusias. Dia sangat bersyukur dapat pekerjaan dekat rumah tante Sri. Hanya tinggal berjalan, tak harus keluar ongkos lagi.


Mama Soni mengacungkan jempol dan tersenyum.


"Hmm, Laura pamit dulu ya bu terima kasih sudah disuguhi mi Aceh yang enak banget," pamit Laura.


"Sama-sama Oh ya, bawa pulang ya mi Aceh nya. Ibu buat banyak," mama Soni meminta Laura menunggu dulu.


"Bi, siapin mi Aceh untuk Laura bawa pulang," perintah mama Soni pada asisten rumahnya.


Laura akhirnya menunggu di teras rumah. Pemilik rumah ini orangnya sangat baik. Laura sampai mendoakan keluarga Soni agar selalu sehat dan dalam lindungan Allah.


"Laura, ini mi Aceh Nya. Mau di tambah nasi, nggak?" canda asisten rumah tersebut.


"Nggak usah, Bi Rum. Entar Laura ngerepotin Bibi," tolak Laura.


"Ya sudah kalo begitu. Eh, motornya mana?" ucap bi Rum yang baru sadar, Laura datang tak membawa motor.


"Laura jalan kaki, Bi," sahut Laura yang sudah berdiri dari duduknya dan menenteng satu kantong mi Aceh.


"Hah, jalan kaki? Dari mana kamu jalan kaki?" Bi Rum tampak terkejut.


"Nggak jauh kok, Bi. Laura sekarang tinggal di rumah saudara ibu panti. Di depan sana, rumah ibu Sri blok 6 no 13," jelas Laura.


"Oh, dekat dong. Entar kapan-kapan bibi main sana ya," ujar bi Rum tersenyum.


"Iya, Bi. Laura pamit pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Laura


"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Rum.


Lauraa pulang dengan hati riang. Mengucap Hamdalah berkali-kali dalam hati. Hari ini dia mendapat pekerjaan yang tak menguras tenaganya bahkan dibawakan mi Aceh. Malam ini Laura tak perlu keluar uang untuk membeli makanan. Dia cukup makan mi Aceh saja.


Sesampainya di rumah tante Sri, Laura mendengar pertengkaran dari dalam rumah. Laura berhenti di depan pintu tak berani masuk.


"Kamu apa-apaan Sri, tanpa bicara dulu ke saya. Langsung terima aja anak panti," hardik suara seorang pria.

__ADS_1


"Mas, dia nggak bakal merepotkan kita kok. Malah kita untung, kita nggak perlu bayar gaji pembantu, dia bisa kita suruh-suruh loh. Kita juga bisa bilang orang-orang kalo kita sudah adopsi anak, biar nggak ada lagi yang nanyain soal anak ke kita," papar tante Sri.


"Saya kan Childfree. Biarin aja orang mau bilang apa. Lagian makannya gimana? Kita kan yang nanggung!" rutuk suara pria itu lagi.


Laura yang mendengar dari luar, hanya menggigit bibir bawahnya. Tangannya menggenggam erat jilbabnya. Sedih, kenapa harus dirinya yang mengalami semua ini?


"Mas, dia nggak perlu diberi makan. Saya sudah bilang ke dia, kita cuma memberi tempat tinggal, nggak lebih!" jelas tante sri.


"Ya sudah. Terserah kamu, toh kamu yang di rumah ini. Lusa saya sudah berangkat kerja lagi," putus suara pria itu.


Laura urung masuk ke dalam rumah. Dia duduk di sebuah kursi di luar. Matanya hanya memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.


Tak terdengar lagi suara pertengkaran dari dalam rumah. Tapi, Laura rasanya enggan untuk masuk ke dalam.


Sore ini, Laura menghabiskan waktu di halaman yang gersang. Melihat cahaya langit yang semakin meredup. Matahari mulai tenggelam dan meminta rembulan dan bintang menggantikan tugasnya.


Hari esok masih panjang. Laura harus bersiap menanti esok, entah duka atau bahagia, dia tetap akan melewatinya.


"Berikan hamba kesabaran dan kekuatan, ya Rabb. Izinkan hamba ketemu bahagia." batin Laura.


"Loh kamu kok di luar Laura" celetuk tante Sri yang keluar dari pintu utama.


"Iya, Tante. Mau lihat suasana sore di sini," Laura beralasan.


"Nih, kamu buang sampah di situ," ucap tante TlSri memberikan sebuah keranjang sampah dan menunjuk tempat sampah dari semen di pinggir pagar rumahnya.


"Iya, Tante," sahut Laura mengambil keranjang sampah yang disodorkan tante Sri.


"Iya, Tante," kata Laura yang hanya mengangguk pasrah. Laura segera beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke arah tempat sampah.


Sementara tante Sri kembali ke dalam rumah. Laura mengucap Bismillah dalam hati, melangkah masuk ke dalam rumah.


"Mas, ini yang namanya Laura" tante Sri memperkenalkan Laura saat dia masuk ke dalam rumah.


"Laura, ini Om Herman Suaminya Tante," ucap tante sri.


La mengatupkan kedua tangannya di depan dada sebagai pengganti salaman.


Permana melihat Laura dari atas sampai bawah. Sementara Laura terlihat menunduk.


"Kacamata kamu tebal banget sih, emang minus berapa?" tanya om Herman


"Minus lima, Om," jawab Laura


"Kamu beli kacamata murahan ya. Padahal ada kacamata yang tetap kelihatan tipis dan kekinian walau minus tinggi. Tapi mahal sih, kamu nggak sanggup belinya," ejek suami nyan tante Sri. Dia sungguh tak suka ada anak di rumah.


Laura hanya diam dan menunduk. Tak sakit hati, sudah terlalu biasa di cemooh dan direndahkan. Toh, dia memang tak sanggup membeli kacamata kualitas terbaik. Kacamata yang sekarang pun hasil menabung berbulan-bulan.


"Ya sudah, masak sana! Harus siap jam tujuh malam paling lambat," cetus tante Sri.

__ADS_1


"Iya, Tante," Laura mengangguk dan segera melangkah ke belakang.


"Eh, jangan lupa. Masaknya cukup untuk kami berdua aja. Kalo kamu terserah mau makan apa!" seru tante Sri.


"Iya, Tante," Laura hanya mengiyakan. Mau bagaimana lagi, dia butuh tempat berteduh.


Laura segera ke dapur Melihat isi kulkas. Ada telur dan sayur. Laura memilih menumis sayur kangkung dan sambal telur dadar


Untungnya dia sudah terbiasa masak di panti asuhan. Bedanya di sini dia harus masak sendiri, di panti asuhan dia masak beramai-ramai. Waktu tak terasa karena diselingi canda tawa saat di panti asuhan.


Adzan magrib berkumandang, masakan Laura juga sudah selesai. Laura segera menghidangkan makanan ke meja makan. Sementara tante Sri dan Om Permana sudah menunggu di meja makan.


"Okey, bawa piring dan sendok jangan lupa," ucap Tante Sri saat nasi dan lauk pauk sudah terhidang.


Laura hanya mengangguk. Dia kembali menuju dapur membolak balik dengan cepat karna mengejar waktu sholat magrib.


"Ya udah, balik dapur sana. Kami mau makan dulu," celetuk om Permana.


Laura hanya kembali mengangguk. Dia segera ke belakang, mengambil wudhu lalu kembali ke kamar. Membentangkan sajadah dan melaksanakan tiga rakaat sholat magrib.


Air wudhu dan gerakan sholat yang benar, mampu memulihkan rasa letih di tubuhnya. Dia memanjatkan doa dan memuji kebesaran Allah pencipta langit dan bumi.


Laura masih menikmati duduk di atas sajadah setelah sholat. Dia berzikir dengan nikmat. "Rabb, jika tak kau temukan hamba dengan ayah ibu di dunia, hamba mohon temukan kami di surga."


" Lauraaaa.." jerit tante Sri dari luar.


"Iya, Tante. Tunggu!" seru nya yang segera membuka mukenahnya. Melipat sajadah dan menggantung mukenanya.


"Ada apa, Tante?" tanya Laura yang datang tergopoh-gopoh.


"Ada apa kamu bilang? Tuh, cucian piring menunggu! Ngapain aja sih di dalam kamar?" ketus tante Sri.


"Sa-saya sholat, Tante. Piring akan segera saya cuci," ucap Laura.


"Iya, sekalian tuh beresin tempat makan!" tunjuk tante Sri pada meja makan. Laura hanya mengangguk pasrah.


"Ingat, sisa lauk masukan kulkas. Jangan kamu makan! Kita belinya pake duit, paham kamu!" seru Om Herman dari sofa. Dia sedang menonton televisi.


"Iya, Om," sahut Laura yang segera menuju meja makan.


Sementara Tante Sri melangkah ke ruang tamu, duduk di sofa sebelah suaminya. Sepertinya mereka tidak sholat magrib, lebih memilih menonton televisi.


Laura segera membawa piring kotor ke belakang. Mengelap meja makan, Memindahkan sisa lauk ke dalam wadah kedap udara lalu memasukkan ke kulkas Laura langsung mencuci piring.


Melihat semua sudah beres, Laura kembali ke kamar. Dia harus belajar, besok sekolah. Sebelumnya, dia makan mie ayam yang sudah dingin. Laura sempat mengambil mangkuk dan sendok dari dapur tadi. Setelah makan, Laura akan fokus belajar.


*Bersambung.....


maaf ya guys lupa update lgi sibuk kerja trs lgi numpuk kerjaan nya semua...

__ADS_1


jangan lupa like, komen, dan follow nya biar semangat terus ngetik nya dan jgn lupa follow instagram saya di @sasafebry7


happy Reading semua nya 🥰🥰🥰*


__ADS_2