
Athan berdiri mematung dipinggir jalan. Pikirannya bekerja cepat mengingat plat nomor mobil angkot yang dinaiki laura.
Athan kemudian berlari menuju mobilnya yang cukup jauh dari tempat semula dia bertemu laura. Sepanjang perjalanan, Athan komat kamit mengingat nomor kendaraan tadi.
Sesampainya di mobil, Athan mengambil pulpen dan kertas lalu segera menuliskan nomor kendaraan mobil angkot tadi. Dia segera menelepon salah satu anak buah kepercayaan Om Leon. Meminta dicek alamat dan pemilik angkot tersebut.
Sementara itu, Laura dan Tiara menarik nafas lega saat mereka sudah menjauh dari tempat bertemu Angel tadi. Apalagi mobil Angel sempat mengikuti angkot yang mereka naiki. Namun, karena banyaknya angkot di jalan yang serupa, membuat Angel akhirnya kehilangan jejak.
"Astaghfirullah, deg degan banget gue. Bisa bisanya ketemu Angel tadi," celetuk Laura saat mereka sudah tak melihat lagi mobil Angel dari kaca belakang mobil angkot.
"Iya, gawat ini! Dia Lihat elu bisa jalan tanpa kursi roda," sahut Tiara.
"Lah iya gimana ya? Oh ya tadi siapa ya? Laki-laki berkumis dia ngaku saudara gue loh. Tapi dia pake topi, nggak terlalu kelihatan wajahnya, kumisnya yang cuma gue inget," Laura tiba-tiba mengingat.
"Eh, iya. Dia tahu nama lu. Dia nyebut nama Lauraa tadi," Tiara kaget dan baru ingat juga.
Sangking paniknya mereka melihat Angel, sampai tak terlalu memikirkan laki-laki berkumis yang tadi memeluk Laura
Laura terdiam, keningnya mengernyit dalam. Mencoba mengingat mungkin saja ada saudaranya yang berasal dari panti asuhan yang sudah diadopsi oleh orang tua asuh. Terpisah bertahun-tahun lalu akhirnya mereka bertemu kembali.
"Dia siapa ya? Sekilas kayak om-om berkumis. Tapi, kayaknya masih muda deh. Kulitnya masih kencang dan putih terawat," Tiara masih bertanya-tanya dan mencoba menganalisa.
"Mungkin saudara satu panti gue kali ya. Udah lama di adopsi orang," sahut Laura.
"Hmm, bisa jadi. Kayaknya itu yang paling masuk akal," setuju Tiara.
"Sekarang tinggal mikirin gimana supaya Angel tutup mulut Jangan sampe dia memberitahu sekolah masalah elu bisa jalan tanpa gips kaki," sambung Tiara.
"Hmm, kalo gue kirim pesan ke Adrian gimana? Kali aja dia bisa bantu gue biar Angel tak bicara macam-macam," usul Laura.
"Boleh juga tuh ide lu. Udah lu kirim pesan sekarang," sahut Tiara.
"Tunggu di kost aja, ini bentar lagi kita sampai," putus Laura. Tiara hanya mengangguk setuju. Tak lama, Tiara segera menghentikan angkot. Mereka sampai dijalan depan lorong kost Tiara.
Laura segera mengambil hapenya dan mengirim pesan pada Adrian saat sampai di kost. Bahwa Laura dan Tiara bertemu Angel dan Angel tahu Laura bisa berjalan tanpa gips kaki.
Pesan segera sampai di Adrian, membaca pesan Laura membuat Adrian terkejut. Dia harus memutar otak bagaimana cara agar Angel tak membongkar rahasia mereka.
Namun, beberapa menit kemudian pesan lain masuk. Dari Angel. Adrian segera mengklik foto dan video singkat dari Angel. Adrian terbelalak kaget.
Sebuah foto saat Laura dipeluk seorang laki-laki berjas hitam. Lalu sebuah video beberapa detik diambil dari sudut belakang. Terlihat Laura yang diam dan pasrah saja saat dipeluk lelaki berpakaian jas hitam dan bertopi.
__ADS_1
Angel menuliskan sebuah pesan bahwa Laura sedang bersama seorang Om-om, Laura bukan gadis baik-baik.
Sebuah pesan yang berhasil membuat Adrian merasa kepanasan. Melihat bukti yang kuat, membuat Adrian meyakini kata-kata Angel.
"Kalo begitu, anak yang ada di kandungan Laura tentu anak gue! Bisa jadi anak laki-laki lain!" ucap Adrian sendiri.
Adrian memukul meja belajar yang ada dihadapannya. Dadanya bergemuruh marah. Merasa di bohongi Laura selama ini.
Adrian tak membalas pesan Laura ia justru memblokir nomor Laura dari ponsel nya.
***
Pagi ini, laura sudah siap di teras kost. Setelah berembuk dengan Tiara, Laura akhirnya tetap melanjutkan aktingnya. Berpura-pura memakai gips di kaki dan duduk manis di kursi roda.
Laura dan Tiara menunggu di teras. Tapi, Adrian tak kunjung datang.
" Ra, coba telepon deh. Dari kemarin nggak ada kabar," cetus Tiara.
"Iya, tunggu," sahut Laura segera mengambil hapenya dari tas.
laura terkejut " di blokir!" sambung Laura.
"Masak sih? Mana?" tanya Tiara terkejut. Dia segera melihat layar hape laura.
"Eh, iya bener. Apa rusak ya hapenya. Coba gue telepon dari hape gue!" usul Tiara yang segera mengambil hapenya. Memencet nomor Adrian.
"Tersambung loh," ucap Tiara terkejut. Sementara Laura hanya diam, bingung kenapa dia di blokir.
"Halo, Rian. Elu dimana? Kita udah siap," ucap Tiara ketika panggilan telepon tersambung.
"Eh, berangkat sendiri kalian. Gue nggak mau tahu lagi tentang Laura!" sembur Adrian yang langsung menutup panggilan telepon. Bahkan memblokir nomor Tiara juga.
"Kenapa, Ra?" tanya laura bengong melihat wajah Tiara yang bingung.
"Enggak tahu nih, Kayaknya lagi banyak masalah nih anak! Ayolah kita naik grab mobil aja," putus Tiara.
"Ih, tapi mahal, Ra," cetus Laura
"Nggak apa. Kan deket juga. Nggak bakal mahal kok," sahut Tiara yang segera memesan mobil.
Tak lama, mobil yang mereka pesan sampai dan mereka segera meluncur ke sekolah.
__ADS_1
"Semoga waktu kita sampai, sekolah masih sepi," harap Laura dalam cemas.
"Iya, semoga aja. Aamiin," sahut Tiara.
Hingga tak lama, mereka sampai di sekolah. Tiara melihat kiri kanan Terlihat sepi.
"Syukurlah, Ra. Masih sepi kok," celetuk Tiara yang segera mendorong dengan cepat kursi roda Laura.
Mereka akhirnya sampai lebih dulu ke kelas. Namun tak lama, kelas sudah mulai ramai.
Angel terlihat berjalan bersama dengan Adrian menuju kelas. Sementara Tiara mengernyit heran apalagi laura. Perasaannya langsung terasa tak nyaman dengan pemandangan di depannya.
Angel terlihat angkuh saat memasuki kelas. Merasa kalau Adrian sudah kembali padanya. Apalagi Adrian tadi menjemputnya. Adrian meminta Angel menceritakan segalanya.
Jadilah, Angel menceritakan pertemuannya dengan Laura kemarin minggu. Dengan melebih-lebihkan cerita, membuat Adrian semakin meradang marah.
Tapi, Adrian tetap meminta Angel untuk merahasiakan tentang sakit pura-pura nya Shabila. Bagaimana pun, Adrian tak mau orang-orang tahu, dia juga pernah melakukan kesalahan pada Laura. Adrian takut, Laura akan membuka rahasianya, jika Angel membuka rahasia laura.
"laura, si Rian kenapa sih? Kok dia dekat Angel lagi dan cuekin lu?" bisik Tiara bingung.
Shabila hanya menggedikkan bahu. Dia tak tahu. Hatinya berdenyut sakit. Selalu merasa dipermainkan Adrian.
"Elu harus tanyakan pada Rian. Kenapa dia seperti itu," usul Tiara.
"Nanti aja. Gue mau belajar dulu ," ucap Laura. Dia segera mengerjakan soal yang paling rumit. Ini adalah cara laura mengalihkan pikirannya dan menghibur hatinya dari rasa sedih.
Melihat wajah Laura yang tak nyaman, Tiara mengangguk mengerti. Tiara kembali ke kursinya. Sebentar lagi bel masuk sekolah berbunyi.
Sepanjang pelajaran, laura beberapa kali melirik ke arah Adrian.
Tapi, Adrian wajahnya begitu dingin, hanya diam selama pelajaran. Tanpa ekspresi.
Hingga bel istirahat berbunyi. Adrian keluar dari kelas dengan cuek. Diikuti oleh Angel yang menjulurkan lidahnya ke arah laura.
"Sabar ya, Ra . Entar kalo elu sudah lahiran. Udah kuat tubuh elu, ajak tuh Angel tanding sekalian. Naik darah gue lihatnya," bisik Tiara.
"Iya, menyelesaikan masalah dengan logika lebih penting daripada menyelesaikan masalah dengan emosi," papar Laura tetap sambil tersenyum.
"Elu mau makan apa? Entar gue beliin," tawar Tiara.
"Hmm... roti aja. Gue nggak terlalu lapar," ucap Laura
__ADS_1
"Oke, tunggu ya!" pamit Tiara keluar dari kelas.
Laura menunggu sendirian di kelas. Rasanya kembali seperti awal kehamilan. Saat Adrian tak peduli padanya Hati Laura mencelos. Merasa dipermainkan Adrian.