
"Hah, kenapa?" tanya Athan pura-pura terkejut.
"Entah. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Mereka ditemukan di belakang sekolah dalam keadaan babak belur. Tapi, mereka juga mengatakan tak tahu apa yang terjadi. Mereka bahkan mencabut kasusnya," jelas Laura.
Athan menarik nafasnya lega tak ada masalah yang berarti.
"Hanya tinggal Dedi dan Angel kabarnya yang belum sadar. Tak tahu bagaimana mereka," lanjut Laura.
"Semoga mereka cepat siuman dan setelah ini berubah menjadi orang baik," harap Athan.
"Aamiin," sahut Laura. Sementara mobil sudah melaju sedari tadi, tak lama mereka sudah sampai di sekolah. Iring-iringan mobil bodyguard hanya sebatas gerbang.
Bagian pengawas dari pihak om Leon sudah menyatakan sekolah aman. Mobil Laura segera masuk ke parkiran.
Mobil mereka segera menjadi pusat perhatian. Seperti kemarin, Athan kembali mengantar Laura ke kelas. Athan terlihat keren dengan tas cangklong warna hitam milik Laura.
Sang kakak tak mengizinkan adiknya membawa tas. Hingga sampai dikelas, teman-temannya benar-benar penasaran dengan perubahan Laura dan siapa yang mengantarnya.
"Ra, gue titip Laura ya. Kakak tunggu di mobil," ucap Athan.
"Siap, kapten," sahut Tiara terkekeh.
Athan hanya tersenyum dan keluar dari kelas Laura.
"Hai, boleh kenalan nggak?" tanya seorang gadis saat Athan sudah di koridor sekolah.
Namun, Athan cuek dia terus berjalan , tak menghiraukan gadis tadi. Sementara gadis tadi tampak kecewa tak berhasil berkenalan dengan Athan.
"Setia banget sama si cupu ya, cowoknya," sahut teman gadis tersebut.
"Iya, gue di anggurin loh," cebik gadis itu.
"DL... derita lu," tawa sang teman.
Sementara di kelas, Tiara asyik mengobrol dengan Laura.
"Ra, elu berubah ya sekarang," celetuk Nurul.
"Berubah? Berubah gimana?" tanya Laura mengernyitkan kening.
"Iya, elu nambah cantik. Tampilan elu juga beda. Lebih keren aja. Kok bisa? Cowok lu ya yang biayain semuanya?" tanya nurul penasaran.
"Kepo lu! Mau tau aja urusan orang," sewot Tiara tak suka.
Tiara sebenarnya sangat dongkol dengan Nurul. Meski sebenarnya Nurul tak tahu apa-apa bahkan tak menyadari bahwa Angel sebenarnya memanfaatkan Nurul waktu itu.
"Elu kenapa sih, Ra? Kayak nggak suka banget sama gue," keluh Nurul.
"Emang!" ketus Tiara.
"Udah, balik badan deh menghadap depan. Udah bunyi bel tuh, Nurul," ucap Laura.
Nurul mendengus ia akhirnya menggeser tubuhnya ke arah depan.
Nurul memang duduk didepan Laura, Sementara Tiara kembali ke tempat duduknya.
Laura sempat melirik ke ujung dinding kursi Adrian tetap kosong." Lupakan, dia tak pernah ada dalam kenyataan!" Laura men sugesti pikirannya. Dia menarik nafas dan menghembuskannya.
Ujian hari kedua dimulai.
***
Adrian tertidur tapi hanya sejam lebih. Dia kembali terbangun. Saat dia terbangun ada Revan di samping brankarnya.
Revan tampak duduk di kursi. Tak lagi menggunakan kursi roda.
"Hai, Bro. Udah bangun lu?" tanyaTeIvan.
"Gue nggak bisa tidur semalaman. Minum obat tidur tapi efeknya cuma sebentar," jawab Adrian.
__ADS_1
"Elu harus belajar untuk tak banyak berpikir dulu deh. Biar elu cepat sembuh dan bisa ketemu Laura usul Revan.
"Iya, tapi tetap aja Laura dan bayi mungil itu tak bisa pergi dari pikiran gue," ungkap Adrian.
"Siapa ya namanya? Mirip banget sama lu," cetus Revan.
"Gue nunggu asisten rumah gue. Gue minta dibawain foto gue waktu kecil. Ohya, elu nggak pake kursi roda lagi?" tanya Adrian.
"Enggak. Gue lusa boleh pulang. Ohya, Dodit udah sadar. Tapi, dia mengalami gegar otak ringan," ucap Revan sedih.
"Apa?" tanya Adrian terkejut.
"Iya, dia nggak bisa berpikir berat gitu. Jadi, dia nggak bisa ditanya apapun soal kejadian waktu itu," tutur Revan.
Adrian menarik nafas lega. Setidaknya Dedi tidak akan bercerita apapun pada siapapun. Meski dia juga sedih sahabatnya sakit.
"Gue rasa yang menghajar kita bukan orang biasa. Dia terlatih, Rian. Bayangin aja kita digebukin oleh dia sendirian. Asistennya nggak ada yang gerak," lanjut Revan.
"Iya, entah apa hubungan dia dengan Laura. Banyak tanda tanya di pikiran gue. Siapa orang bermasker malam itu, lalu siapa laki-laki yang bersama Laura di sekolah," tutur Adrian resah.
"Pasti ada benang penghubung yang belum kita tahu. Setidaknya elu sudah lega, Bro. Laura dan anak lu artinya baik-baik aja. Buktinya Laura sekolah kan?" sahut Revan.
"Iya, setidaknya Laura baik-baik saja. Karena kita di rumah sakit ini, kita tidak bisa bertanya apapun pada siapapun. Gue bingung mau caritahu gimana tentang Laura? Nomor gue diblokir," keluh Adrian.
"Mulai sekarang elu jangan berpikir pendek, Bro. Tanya dulu Laura baik-baik, kalo elu nemu hal yang bikin elu emosi. Kalo udah gini, elu harus berjuang lebih keras. Apalagi ada cowok lain yang perhatian sama Laura Sorry Bro, harapan elu tipis," ucap Revan jujur.
"Elu nambahin beban pikiran gue aja. Enggak lu kasitau juga gue tahu harapan gue tipis. Tapi, ada bayi yang menjadi penghubung kami," tutur Adrian.
"Gini aja, elu kirim pesan ke Ikhwan aja. Bilang Ikhwan minta sampaikan ke Laura elu mau telepon gitu. Mau ngomong sesuatu," usul Revan.
"Ah, bener juga. Ambilin hape gue, Van," pinta Adrian.
Revan segera mengambilkan hape Adrian diatas meja kecil. Lalu menyerahkan pada Adrian.
Adrian berpikir sebentar. Lalu segera mengirim pesan pada Ikhwan.
Pesan kemudian terkirim. Namun, belum terbaca oleh Ikhwan. Sepertinya di kelas mereka sedang ujian.
"Udah, Bro?" tanya Revan.
"Udah, kok guru ujian kita belum datang ya?" tanya Adrian.
"Belum. Katanya tadi mau mengawasi yang di sekolah dulu. Baru nanti ke sini," sahut Revan.
"Oh, pantes kalo gitu," cetus Adrian mengerti.
Tak lama, suara ketukan terdengar. Asisten rumah Adrian datang sambil membawa buku album lama.
"Den, ini album fotonya. Bagaimana kabar Aden hari ini?" tanya asisten rumah tersebut.
"Alhamdulillah, lebih baik," jawab Adrian mengambil album foto.
"Ini ada makanan dari nyonya, Den. Kata Nyonya saya yang akan menjaga aden. Nyonya dan Tuan ada pekerjaan," ungkap asisten rumah tersebut.
"Nggak usah. Mamang balik lagi aja ke rumah. Disini sudah ada dokter dan suster. Saya juga sudah mulai bisa duduk," ucap Adrian yang sebenarnya kecewa pada orang tuanya.
"Baik, den. Kalo begitu mamang pamit," lanjut asisten rumah.
Adrian hanya mengangguk. Dia mulai membuka album foto lama.
"Sabar ya, Bro. Kan usaha nyokap bokap elu lagi goyah. Pasti orang tua lu lagi sibuk banget menyelamatkan perusahaan," hibur Revan.
"Thanks, Bro. Elu udah hibur gue," ucap Adrian sambil melihat foto-foto masa kecilnya.
Ivan berdiri dari duduknya. Lalu pindah duduk disamping ranjang Adrian. Dia ikut melihat album foto.
"Ya ampun. Elu kayak kembar sama bayi yang kita lihat di rumah sakit waktu itu," seru Revan terkejut.
Foto Adrian yang baru lahir, foto Adrian yang baru beberapa hari, lalu foto Adrian dari samping sungguh sangat mirip dengan Dayyan.
__ADS_1
Adrian mengusap fotonya semasa kecil ia Tersenyum kecut sambil membayangkan wajah bayi di inkubator waktu itu.
"Artinya bayi yang kita lihat waktu itu benar-benar anak gue, Van ," lirih Adrian.
"Iya, Bro. Kalo bukan anak lu, anak siapa lagi? Elu sih emosi duluan. Belum tentu juga yang diceritakan Angel betul semua," sungut Revan.
Ivan malah ikut asyik melihat foto Adrian saat bayi.
"Gue bego ya!" rutuk Adrian pada dirinya sendiri.
"Iya sih!" sahut Revan membenarkan. Tanpa sadar Ivan hanya mengiyakan saja.
"Wajah anak lu pasti lebih ganteng dari elu besar nanti. Nggak perlu tes DNA, udah pasti anak lu. Kejar Laura, Rian. Jangan sampe elu nyesel suatu hari nanti," lanjut Ivan memberi semangat.
"Kalo dia nggak mau sama gue lagi gimana?" keluh Adrian setengah putus asa.
"Bro, jangan putus asa dulu. Pertama elu harus sembuh. Kedua elu minta maaf dengan serius ke Laura. Buktiin kalo elu lebih baik dari cowok yang sekarang lagi dekat sama Laura " usul Revan.
"Gimana ceritanya gue bisa lebih baik dari itu cowok? Cowok itu nggak pernah nyakitin Laura, dia datang dan menerima Laura. Sementara gue nyakitin dia selama ini," sesal Adrian. Wajahnya tampak resah.
"Jodoh nggak kemana, Bro. Yang penting berjuang dulu sampai titik darah penghabisan," ucap Revan memberi semangat.
"Makasih, Bro. Gue bakal berubah. Gue bakal tanggung jawab sama kesalahan masa lalu gue," tekad Adrian.
Sementara itu di sekolah, anak-anak baru saja selesai mengerjakan ujian. Laura siap-siap pulang. Dia berjalan keluar kelas bersama Tiara.
"Ra, tunggu!" panggil Ikhwan.
Ikhwan berlari kecil keluar kelas mendekati Laura Dia beberapa menit yang lalu membaca pesan Adrian. Ikhwan segera menekan tombol panggilan sambil berlari menuju Laura.
"Ada apa?" tanya Laura.
"Tadi gue dapat pesan dari Adrian. Dia mau ngomong sama lu. Ini gue lagi telepon balik dia," jawab Ikhwan.
Laura memutar bola matanya malas. Dia sudah tak ingin mendengar suara Adrian.
"Halo, Assalamualaikum," suara Adrian terdengar. Hape masih di tangan Ikhwan. Dia membesarkan volume suara hapenya.
Sementara Laura berjalan cepat bersama Tiara. Dia tak mau mengambil hape yang disodorkan Ikhwan.
"R, tunggu. Kok lu lari? Ini sudah tersambung teleponnya," panggil Ikhwan ikut berlari kecil mengejar Lauraa ke arah parkiran.
Sementara Adrian hanya mendengarkan dari balik telepon. Hanya suara nafas Ikhwan yang terdengar di telepon.
Laura tak menjawab apapun. Dia tetap berjalan.
"Ra, elu kenapa sih? Ini telepon Adrian," ucap Ikhwan bingung. Dia berusaha menyodorkan hapenya lagi. Tapi tangannya disingkirkan Laura..
Laura terlihat risih dikejar ikhwan. Sementara Tiara terlihat melotot tajam pada Ikhwan. Membuat nyali Ikhwan menciut.
"Eh, kasihtau sama Adrian! Jangan ganggu Laura lagi!" hardik Tiara yang suaranya bahkan sampai terdengar di telepon.
Sesampainya di mobil, Laura segera masuk ke dalam mobil duluan dengan wajah kesal.
Sementara Athan yang menunggu didepan mobil tampak bingung.
"Kenapa, Ra?" tanya Athan.
"Ini, kak. Adrian numpang telepon di Ikhwan. Mau ngomong sama Laura" rutuk Tiara ikut kesal.
"Ma-maaf, Bang. Saya cuma bantu aja, nggak ikut-ikutan," ucap Ikhwan gugup. Dia sedih melihat Tiara justru marah, padahal niatnya hanya ingin menolong.
"Sini hape lu. Biar gue yang ngomong," tegas Athan.
Ikhwan menyerahkan hapenya pada Athan. Panggilan telepon masih terhubung.
"Heh, pengecut! Gue beri lu peringatan. Jangan ganggu Laura lagi kalo elu masih mau hidup tenang. Paham lu!" tekan Athan ditelepon dan langsung menekan tombol matikan telepon.
"Nih hape lu. Makasih," ucap Athan menyerahkan hape ke tangan Ikhwan.
__ADS_1