
Adrian, Dedi dan Revan hanya mengikuti perkembangan berita dari sosial media. Sumber berita sudah diusahakan untuk di take down oleh hacker mereka. Tapi, sudah terlanjur banyak yang mengcopy ulang video rekaman.
"Bro, kita bakal sama-sama hancur, Bro. Meski warganet membela kita. Tapi bobroknya keluarga kita ketahuan," ucap Adrian lemas.
"Warga net bergerak cepat. Mereka berasumsi keluarga kalian kaya dari hasil korupsi terutama elu, Di Mobil mobil di bagasi yang lu pajang di akun lu, tuh banyak yang membagikan dan menganggap itu hasil korupsi. Warganet berasumsi Bokap lu hobi main cewek gitu, bersenang-senang dengan uang rakyat," papar Revan sambil melihat berita.
"Aaarkhhhh, kesel gue," jerit Dedi.
"Di tenang, bukannya elu yang paling tenang selama ini," sahut Adrian.
"Bro, warga net juga menanyakan siapa wanita di mobil lu Rian," seru Revan.
"Hah, mana?" Adrian mengambil hape Ivan dan membaca.
Adrian wajahnya pucat pasi dan menggelengkan kepala.
"Bro, gue mau minta tolong sama kalian berdua," ucap Adrian akhirnya.
"Apa?" tanya kompak Dedi dan Revan
"Please, kalo sampe kita dipanggil kepolisian. Kita kompak bilang kalo kita cuma bertiga. Nggak ada Laura diantara kita. Bilang itu bayangan aja," pinta Adrian memohon.
"Oke, gue setuju Laura nggak tahu apa-apa," ucap Revan mengangguk setuju.
"Gue sebenernya nggak peduli dengan si Cupu. Tapi ngeliat elu memelas begini, Bro. Gue nggak tega. Gue nggak bakal bilang kalo ada Laura disana," putus Dedi.
"Thanks, Bro. Gimanapun gue udah cukup merasa bersalah selama ini sama dia. Jangan tambah daftar rasa bersalah gue. Lagipula... Dia sedang mengandung kan," lirih Adrian menunduk.
"Gue bakal turuti kemauan lu. Tenang aja," ujar Dedi menepuk pelan bahu Adrian.
Mereka bertiga kembali fokus melihat berita. Pengacara keluarga mereka sudah di wawancara oleh para wartawan. Bahkan berbagai stasiun televisi sudah menayangkan berita mereka.
Terutama Papa Dedi menjadi sorotan para netizen Seorang pejabat yang ternyata memiliki sifat dan sikap yang sangat memalukan. Banyak komentar sinis dari warga net.
__ADS_1
Hingga sore menjelang, pengacara keluarga mereka menelepon. Meminta ketiga pemuda ini untuk mengirimkan lokasi mereka. Mereka akan dijemput untuk dimintai keterangan.
Tak ada jalan lain, ketiga pemuda ini harus tunduk pada hukum. Orang tua mereka sudah menyewa pengacara paling handal di negara ini. Bahkan banyak warganet makin simpatik pada ketiga pemuda dan meminta ketiganya tidak di tahan. Bagaimana pun anak menjadi brutal karena keegoisan orang tua mereka.
Sore itu, Dedi, Adrian dan Revan diminta keterangan sejujur-jujurnya oleh pengacara mereka di villa keluarga Revan. Mereka bertiga hanya tertunduk lesu, tak menyangka akan jadi seperti ini.
"Berita ini sudah naik ke ranah publik. Mau tidak mau, kita harus hadapi. Tak bisa selesai hanya dengan uang. Saya akan berusaha kalian bertiga bisa bebas, dan hukum bisa berbalik untuk menghukum kedua tersangka," papar pengacara itu.
Ketiga pemuda itu hanya mengangguk. Mereka diminta untuk ikut ke kota dan memberi keterangan pada pihak kepolisian.
Di jalan menuju kota, Adrian masih sempat mengirim pesan pada Laura.
[Ra, elu tenang aja. Kita udah sepakat nggak bakal libatkan elu dalam masalah kita. Apapun yang terjadi, elu harus tetap sekolah sampai lulus. Ohya, akan ada asisten rumah gue ke tempat elu. Dia membawa uang untuk lu. Semoga cukup untuk sementara]
Adrian segera mengirimkan pesan dan segera menghapus histori pesan. Perjalanan dilanjutkan hingga ke kota.
"Mungkin ini balasan untuk kita ya, karena udah jahatin Laura," cetus Revan di perjalanan.
"Kalian kenapa sih? Hei ayolah, kita nggak bakal di penjara. Kita hanya akan diminta keterangan, oke," ujar Dedi menenangkan teman-temannya.
Semua kembali diam. Tak ada yang menjawab. Hingga sampai di kota dan mereka di cecar lima puluh pertanyaan dari kepolisian.
Setelah diminta keterangan ternyata banyak media datang berkerumun di depan kantor kepolisian. Bahkan ada media asing. Mereka menyoroti kehidupan glamor para anak petinggi negeri dan kelakuannya yang diluar batas kewajaran.
Adrian, Dedi dan Revan memalingkan wajahnya dari sorot lampu kamera. Sungguh di luar mimpi terburuk sekalipun. Di kenal oleh seantero negeri karena kasus yang memalukan.
Tak ada satupun pertanyaan wartawan di jawab oleh ketiga pemuda sesuai instruksi pengacara mereka.
Mereka bertiga digiring untuk kembali ke mobil pengacara.
Sementara itu, Pengacara tampak di wawancara beberapa menit.
Lalu sang pengacara kembali ke mobil dan melajukan mobilnya. Wartawan masih berkerubung didepan kantor kepolisian.
__ADS_1
Seorang polisi bagian humas keluar. Seluruh wartawan sudah menunggu.
"Pak, bagaimana status ketiga pemuda tadi?" tanya seorang wartawan.
"Apa mereka sudah ditetapkan tersangka, Pak?" tanya wartawan yang lain.
"Apa mereka mengakui perbuatan mereka dan benarkah mereka bertiga adalah pelaku pengeroyokan dan pencurian di dalam video viral yang beredar?" cecar wartawan yang lain lagi.
"Mereka bertiga mengakui, bahwa benar mereka bertiga yang melakukan pengeroyokan. Mereka mengatakan tidak mencuri karena barang yang mereka ambil adalah milik keluarga mereka. Ketiga anak statusnya bukan tersangka karena dibawah delapan belas tahun ya. Statusnya Anak yang berhadapan dengan hukum. Sekian keterangan dari saya. Terima kasih," papar pak polisi kembali masuk ke dalam kantor polisi.
"Pak, bagaimana korban pak statusnya? Apakah akan menjadi tersangka?"
"Pak, apakah status ketiga pemuda bisa berubah nantinya menjadi pelaku?"
"Pak, kedua korban apa benar melakukan penipuan terhadap orang tua ketiga pemuda?"
Berbagai pertanyaan wartawan semakin banyak. Tapi, keterangan dari pihak berwajib sudah selesai. Akhirnya, para wartawan bubar. Mereka justru kembali berkerumun di depan rumah sakit, ada yang di depan rumah Dedi, rumah Revan dan rumah Adrian.
Keluarga mereka bertiga menjadi perbincangan publik. Bahkan Papa Dedi di panggil oleh dewan kehormatan esok pagi karena ulah anaknya. Semua kelakuan tidak baik bapaknya justru terbongkar.
***
Sementara Laura yang membaca pesan Adrian tampak menangis terharu. Hingga malam, Lauraa mengikuti berita di televisi dan hape. Benar tak ada namanya sama sekali di manapun.
Ketiga pemuda itu menepati janji mereka tidak membawa nama Laura.
Laura melihat di televisi, kalau Adrian diminta keterangan oleh pihak berwajib. Wajah Adrian yang kusut masai membuat Laura menjadi sedih. Entah mengapa?
Bukankah seharusnya dia senang, orang-orang yang menyakitinya mendapatkan balasan. Tapi, Laura justru menitikkan air mata. Dia berdoa agar Adrian, Dedi dan Revan tidak akan dihukum.
" Ra kok elu nangis?" tanya Tiara yang baru masuk kamar.
"Gue sedih, mereka bertiga sampe berurusan dengan hukum," jawab Laura
__ADS_1