TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU

TERPAKSA MENJADI SEORANG IBU
001


__ADS_3

"Biasa aja kali. Elu pantes nerima itu. Sebenarnya jasa lu nggak bakal bisa kita balas dan nggak bisa dinilai dari yang kami beri. Tapi, cuma ini yang bisa kami beri," ucap Athan.


"Cuma apa kak...... Masyaah Allah, kak. Ini bukan cuma, tapi banyak banget nggak pernah terpikir bisa sampe dapet perhiasan super mahal kayak artis loh. Terus bakal bisa kuliah gratis dan dapet jaminan kerja. Huaaa... pengen nangis," ucap Tiara terharu.


"Hahaha... kamu lucu. Pasti adik gue Laura kalo seneng selucu ini juga ya gue juga denger tadi Papa lagi telepon orang, minta dicariin tanah buat kost gitu. Kayaknya untuk orang tua elu deh," ungkap Athan.


"Hah, serius? Ya, Allah... ini udah cukup. Jangan ditambah lagi. Gue jadi nggak enak," tutur Tiara dengan wajah merasa tak enak.


Athan hanya terkekeh mobil mereka akhirnya sampai di depan kost Tiara. Membuat penghuni kost menoleh. Melihat Tiara diantar mobil mewah.


"Makasih ya, Kak," ucap Tiara saat turun dari mobil.


"Sama-sama, kami pulang dulu. Assalamualaikum," pamit Athan.


"Wa'alaikumsalam," sahut Tiara.


Mobil segera keluar dari lorong. Meluncur ke jalanan.


"Tuan muda selanjutnya ke mana?" tanya supir.


"Kita ke masjid dulu sebentar lagi magrib, setelah itu kita bergerak lagi putus Athan


"Bergerak ke mana, den? Kenapa mbok merasa ada sesuatu yang salah ini?" tanya mbok curiga.


"Hehehe... ada deh Mbok, Mbok diem aja pokoknya di mobil. Love you full, Mbok," jawab Athan. sambil nyengir kuda.


"Tuh kan. Kalo sudah gak gok gini, nggak bener pasti kerjanya," celetuk mbok pengasuh.


"Ada paman botak yang jagain Athan kok, Mbok. Tenang aja, bener kan paman?" tanya Athan pada supirnya.


"Bener. Pokoknya siap kita mah buat tuan muda," jawab sang supir mengacungkan jempolnya.


Sementara mbok pengasuh hanya menghela nafasnya. Sudah sangat hafal dengan karakter Athan yang tak bisa dicegah. Tapi, mbok sangat menyayangi tuan mudanya.


***


Malam itu, sebuah mobil berhenti di sebuah cafe. Menunggu seorang gadis keluar dari cafe.


Sepertinya gadis itu, baru saja kelar merayakan pesta meriah bersama teman-temannya.


Agak malam, pesta akhirnya selesai. Gadis itu berjalan sendirian ke parkiran menuju mobilnya. Baju yang dikenakannya terlihat mewah dan sedikit terbuka.


Dua orang laki-laki berpakaian hitam mendekatinya. Memegang pergelangan tangan kiri dan kanan gadis tersebut.


"Hei, siapa kalian?" jerit gadis tersebut yang ternyata Angel.

__ADS_1


"Diam kamu!" bentak salah satu laki-laki itu yang segera membekap mulut Angel.


Angel memberontak sekuat tenaga. Tapi, kekuatannya kalah. Dia dipaksa masuk ke dalam mobil lain.


"Hmmmph... Hmmmmph... kalian siapa? Mau apa? Lepaskan!" jerit Angel masih berusaha memberontak didalam mobil.


Mobil dengan cepat meluncur di jalanan. Mata Angel di tutup dengan kain. Tangannya juga terikat dengan tali yang kencang.


"Lepaskan! Kalau Papa dan Mama gue tahu habis kalian," pekik Angel.


"Berisik banget kamu ini! Makanya jangan jadi orang jahat kalo nggak mau dibalas orang!" ucap salah satu penculik Angel.


"Apa maksud kalian. Heh, jangan sembarang kalian! Orang tua gue orang berpengaruh di negeri ini. Kalian pasti culik gue pengen minta tebusan kan?" cibir Angel yang masih bergerak sana sini, berusaha melepaskan ikatan tangannya.


"Hahaha... kita nggak butuh uang bapakmu!" Tawa salah satu penculik.


"Iya, kayak duit bapak mu halal aja. Alah, paling juga hasil korupsi," cibir yang lainnya.


"Kurang ajar, kalian semua Lepasin gue!" jerit Angel lagi.


"Udah lakban aja mulutnya. Berisik banget," cetus penculik.


"Jangan, Om! Lepasin saya," ucap Angel yang ketakutan. Dia mulai menangis.


"Nah, nangis kan lu! Masih sekolah, beuh, udah punya otak kriminal!" hardik penculik.


"Pikir sendiri. Salah kamu apa? Coba ingat kesalahan kamu!" omel sang penculik.


"Nggak ada, Om. Saya anak baik-baik," lirih Angel masih sambil gue!" jerit Angel lagil sambil nangiss.


Seorang penculik menoyor kepala Angel.


"Gemes banget sama nih bocah. Udah salah nggak ngerasa salah lagi," rutuk penculik.


"Emang kudu dikasih pelajaran nih bocah!" rutuk yang lainnya.


"Kali karena makan duit nggak halal jadi gini efeknya. Anaknya jadi nggak punya hati nurani. Jahat banget dah," sembur penculik.


"Kalian ngomong apa sih? Kalian yang jahat udah culik gue. Kenapa jadi gue yang jahat," sewot Angel yang mulai lelah melawan. Tubuhnya bersandar di kursi belakang mobil.


Tubuh Angel terasa sakit. Tali yang melilit tubuhnya tak terlepas sama sekali meski dia sudah berusaha sedari tadi.


"Udah, cepetan lakban!" ucap penculik satunya. Akhirnya, mulut Angel di lakban.


Suasana mobil jadi tak berisik lagi. Mobil terus melaju membelah malam. Hingga sampai di sekolah.

__ADS_1


Penculik itu memakai peralatan khusus hingga gembok pagar sekolah terbuka. Mereka kemudian melajukan mobilnya ke dalam sekolah.


Penjaga sekolah bahkan sudah diberi obat tidur. Berpura-pura diajak minum kopi oleh salah satu dari mereka sebelum ini.


"Mmmpphhh... mmphhh...' Angel masih berusaha berbicara meski mulutnya dilakban.


Dia sudah ditarik keluar dari mobil, digiring ke suatu tempat. Mata Angel masih tertutup kain. Dia tak tahu dibawa ke mana dia.


Bulir-bulir keringat membasahi tubuh Angel. Dia sungguh takut luar biasa.


Sesampainya di jalan yang berumput, tubuh Angel dijatuhkan.


"Begini ya caramu menarik adik gue?" satu suara lain bicara. Suara yang terlihat lebih muda, bukan suara berat khas bapak-bapak seperti sebelumnya.


Angel ditarik sepanjang jalan rerumputan. Tubuhnya terseok-seok kesakitan. Dia hanya bisa menangis dan tak bisa bicara.


Sesampainya di gudang, tubuh Angel dihempaskan ke lantai yang kotor dan berdebu.


Tubuh Angel terasa sangat sakit. Dia terisak menangis. Perih di sekujur tubuhnya. Sepertinya tubuhnya penuh luka goresan.


"Nikmati tidur lu disini. Selamat bermimpi yang buruk!" ucap suara itu.


"Lepaskan ikatan talinya. Biar dia bisa melihat indahnya dunia yang sekarang ada di hadapannya!" perintah suara itu.


Segera setelah anak buahnya melepaskan ikatan. Pintu gudang ditutup.


Angel dengan cepat membuka tutup kain matanya dan membuka lakban mulutnya. Matanya menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Hanya ada remang cahaya yang sangat tipis. Hampir tak ada cahaya di ruangan itu.


Suara pintu yang digembok membuat Angel menjerit.


"Jangan... jangan tinggalin gue disini. Tolong... tolong..." jerit Angel menggedor-gedor pintu.


Tak ada suara sahutan dari luar. Angel dibiarkan sendiri.


"Siapapun diluar tolong saya. Please, Papa, Mama, tolong Angel," jerit Angel meraung dan menangis.


Tangan Angel berkali-kali berusaha mendorong pintu, tapi tetap tak bisa.


Angel semakin menangis dia


Memperhatikan sekeliling ruangan. Rasanya tak asing.


"Bukankah ini gudang sekolah?" tanya Angel sendiri.


Hati Angel semakin cemas. Seharusnya disini ada Laura. Tapi, gadis itu bahkan tak ada.

__ADS_1


"Da-darah... ada darah? Apa Laura mereka habisi? Kenapa ada darah? Apa ada penculik di sekolah ini? Huaaa... tolong," jerit Angel ketakutan. Dia kembali meraung dan menangis.


Dua orang penculik yang ditugaskan menunggu Angel cekikikan mendengar suara Angel di dalam.


__ADS_2